After 5 Years Apart

After 5 Years Apart
A5YA 54. Waktunya Telah Tiba.


__ADS_3

Andra langsung menjauhkan dirinya, ia mengambil boxernya lalu buru-buru memakainya dan pergi ke kamar mandi. Ia tidak henti mengumpat dalam hatinya, kenapa hal seperti itu terjadi diwaktu yang sangat tidak tepat sama sekali. Ia tidak akan membiarkan Rexha tahu kondisinya yang sebenarnya.


Rexha semakin khawatir, setelah tadi pingsan, Andra sekarang mimisan. Rexha takut dengan keadaan Andra, apakah pria itu baik-baik saja?


Setelah 10 menit berlalu, akhirnya Andra keluar dari kamar mandi. Rexha segera menghampirinya, ia memandang wajah Andra yang lebih pucat dari sebelumnya.


"Aku baik-baik saja, jangan berpikir terlalu berlebihan. Sebentar lagi jam 8, ayo pergi sekarang," kata Andra seraya berlalu untuk memakai bajunya.


Rexha mengigit bibirnya, ia menatap punggung Andra yang berjalan menjauh. Ia segera memeluknya dari belakang, menangis entah karena apa.


"Rexha?" Andra sangat terkejut.


"Ayo kita pergi bersama. Aku tidak peduli kamu akan mengajakku kemana, aku tidak mau kamu pergi lagi," kata Rexha menangis sesenggukan dibalik punggung Andra, ketakutan itu kian besar sekali rasanya.


Andra mendongak untuk menyembunyikan air matanya sendiri yang ingin jatuh. Ia melepaskan tangan Rexha lalu memutar tubuhnya.


"Aku benar-benar berjanji untuk kali ini, berikan aku waktu. Aku pasti datang," kata Andra dengan sorot mata penuh tekadnya.


"Jika kamu tidak datang, aku pastikan kamu tidak akan melihatku dan Dara lagi," ancam Rexha mulai kesal dengan keputusan Andra ini.


"Rexha, dengarkan aku-"


"Kamu yang harus mendengarkan aku, Andra. Jangan kamu pikir aku sedang bercanda, jika memang kamu mencintaiku, kamu harus kembali pulang dan menemuiku. Tapi jika kamu tidak datang, maka jangan harap kamu akan bertemu kami lagi, entah itu besok, nanti, atau selamanya," sergah Rexha.


"Kamu akan membawa Dara kemana? Aku pasti datang," ujar Andra meyakinkan.


"Membawanya pergi sangat jauh. Dimana kamu tidak akan menemukan kami, kecuali kematian."


Andra menahan napasnya saat Rexha mengatakan hal itu. Ia mengerti kenapa Rexha jadi seperti ini, wanita itu begitu mencintainya sampai tidak mau kehilangannya lagi. Rexha lebih memilih mati daripada mereka harus berpisah lagi.


"Itu tidak benar, kita akan selalu bersama selamanya, tidak akan pernah bisa memisahkan kita, meksipun itu kematian."

__ADS_1


Rexha bukannya tenang, tapi semakin gusar, ia kembali memeluk Andra sangat lama sebelum mereka berpisah kembali.


"Sepertinya waktunya sudah tiba."


________


Suara deru helikopter terdengar sangat keras di malam yang dingin itu. Andra berdiri disana bersama Rexha dan juga Dara yang masih terlelap di gendongannya. Seorang pria yang cukup berumur tak lama turun dari helikopter itu lalu berjalan ke arah mereka.


"Selamat malam, Andra. Bagaimana?" ujar pria itu.


"Malam Paman Gilbert, perkenalkan, dia adalah istriku," ujar Andra merangkul bahu Rexha agar berdampingan dengannya.


Rexha mengangguk sebagai salamnya, ia masih terlalu takut dan gugup saat ini.


Paman Gilbert tersenyum pada Rexha, ia lalu mengalihkan pandangannya kepada Dara yang masih terlelap itu.


"Yang ini pasti Dara, sayang sekali dia tidur. Pasti sangat senang kalau diajak naik Heli," ujar Paman Gilbert dengan senyuman khas dirinya yang mengayomi.


"Tenang saja, disana mereka aman. Bibimu juga sudah menunggu," sahut Paman Gilbert.


"Baiklah Paman, terima kasih atas bantuannya," kata Andra lagi.


"Santai saja Andra, kamu ini seperti dengan siapa. Nak Rexha pasti bingung dengan situasi ini, tapi Paman sudah mengenal Andra dari kecil, kali ini dia pasti kembali," ujar Paman Gilbert seolah tahu apa yang sedang Rexha pikirkan.


Rexha hanya diam, ia memandang Andra dengan raut wajah sendunya.


"Paman akan membawamu ke rumahnya yang ada di Batam, disana kamu aman. Tugasku disini belum selesai," ujar Andra mengusap pelan pipi Rexha.


"Kamu janji akan menjemputku kembali?" Meksipun sudah berulang kali bertanya, Rexha rasanya masih belum puas.


"Ya. Sekarang pergilah bersama, Paman. Saat ini keadaan kita belum aman, doakan saja agar aku bisa menyelesaikan ini dengan cepat," kata Andra menggenggam tangan Rexha, untuk sekedar menyakinkan wanita itu lagi.

__ADS_1


Rexha balas menggenggamnya tapi tak lama kemudian ia melepaskannya karena Paman Gilbert mengatakan jika helikopter mereka harus secepatnya pergi.


Rexha mau tak mau harus melepaskan pegangan tangan itu, rela tidak rela ia harus melakukannya dan mendoakan yang terbaik untuk Andra. Ia kemudian naik keatas Helikopter dengan pandangan yang tak lepas dari Andra yang masih berdiri disana.


"Tenang saja Rexha, Andra pasti baik-baik saja," ujar Paman Gilbert ikut menenangkan Rexha.


Rexha hanya mengangguk pelan, mau sebanyak apapun orang yang menenangkannya, hatinya tetap tidak akan tenang sebelum memastikan Andra benar-benar baik-baik saja dan kembali kepadanya.


Beberapa saat kemudian helikopter yang ditumpanginya mengudara, ia masih terus menatap Andra sampai pria itu terlihat sangat kecil dan tidak terlihat lagi. Rexha menyandarkan kepalanya seraya memejamkan matanya singkat, sangat berharap jika situasi mencekam ini akan segera usai.


'Semoga hasilnya baik, aku sudah lelah kita terus berpisah. Jika memang tidak ingin memberikan kesempatan bahagia, setidaknya jangan pernah mempertemukan kami, Tuhan. Untuk kali ini saja, tolong berbaik hatilah padaku.'


Andra sendiri masih memandang Rexha sampai helikopternya tidak terlihat lagi. Ia kemudian mengembuskan napasnya lega, akhirnya orang-orang tercintanya sudah aman dari jangkauan Denada. Itu yang paling penting untuk dirinya.


"Tuan," ujar Han mendekati Andra.


"Ya?" Andra langsung menoleh.


"Tom sedang perjalanan kesini, sepertinya informasi kita sudah bocor," ujar Han.


"Itu memang rencananya 'kan? Apa kamu sudah memastikan kalau yang dia tahu pelakunya adalah Denada?" tanya Andra.


"Semua seperti perintah, Anda. Kemungkinan besar Tom akan langsung mendatangi Nyonya Denada nanti," kata Han.


"Bagus, sekarang kita lakukan rencana selanjutnya. Aku sudah tidak sabar ingin memberikan kejutan untuk istriku," ucap Andra dengan seringai liciknya, wajahnya yang biasanya kalem terlihat mengerikan, ia juga menekan kata 'istri' karena dendam dalam dirinya kini sudah mulai berkobar.


'Waktu kehancuranmu telah tiba, Denada.'


Happy Reading.


TBC.

__ADS_1



__ADS_2