
Terkejut? Tentu saja iya. Rexha sama sekali tidak menyangka jika Andra akan menciumnya dengan sangat lembut seperti ini. Rexha tahu harusnya ia menolak, tapi kerinduannya pada pria ini membuat ia membuka mulutnya dan membalas ciuman Andra hingga ciuman mereka semakin dalam.
Andra seperti mendapatkan lampu hijau, ia mencium Rexha dengan panas seraya sesekali mengusap tengkuknya. Matanya perlahan melirik kearah belakang mobilnya, dimana Tom yang berdiri dengan raut wajah terkejut itu.
Tom pastinya terkejut karena Rexha berciuman dengan pria lain. Meskipun dari jauh, tapi ia bisa melihat jelas kalau Rexha sedang berciuman panas. Tangannya mengepal begitu emosi, ingin sekali memukuli pria itu tapi akan terasa sangat lucu jika ia tiba-tiba marah sedangkan ia bukan siapa-siapa. Ia pun akhirnya pergi meninggalkan tempat itu.
Andra tersenyum, ia melepaskan ciumannya lalu mengusap bibir Rexha yang basah karena ulahnya.
"Dia sudah pergi," kata Andra.
Rexha membuka matanya, menandang Andra tidak mengerti.
"Pria yang tadi ada di rumahmu, dia sudah pergi setelah melihat apa yang kita lakukan," ujar Andra lagi.
"Apa?" Rexha semakin kaget.
Jadi Andra menciumnya hanya karena ingin memanasi Tom saja? Hati Rexha sakit sekali rasanya.
'Sial! Kenapa aku malah terlena seperti ini.'
"Tentang ciuman tadi, aku memang ingin melakukannya," kata Andra melirik wajah Rexha yang berubah itu.
"Terserah, kalau memang tidak butuh apapun, aku ingin pulang," ucap Rexha seraya membuang pandangannya.
Andra tidak langsung menyahut, ia menarik lengan Rexha dengan lembut. "Kenapa terburu-buru? Apa ada seseorang yang menunggumu di rumah?" tanya Andra.
"Tidak, aku hanya ingin pulang saja," sahut Rexha tanpa mau menatap wajah Andra.
Andra tersenyum tipis, ternyata Rexha masih ingin belum jujur padanya.
"Kalau begitu, temani aku malam ini," kata Andra.
"Temani apa? Bukannya kamu bilang sudah tidak butuh sesuatu?" Rexha memandang Andra tidak mengerti.
"Aku membutuhkanmu."
Rexha berdecak pelan. "Kenapa sih kamu tidak pernah ingin melepaskan aku? Apa kamu begitu suka menyiksaku seperti ini? Tolong, beritahu aku agar aku bisa berhenti mencintaimu," kata Rexha dengan suara kesalnya.
__ADS_1
"Jangan pernah berhenti, Rexha. Mungkin saat ini aku belum mengingat semuanya. Tapi aku ingin kita memulai lagi semuanya dari awal. Aku tidak perduli dengan masa lalu kita, sekarang aku hanya tahu jika aku memang menyukaimu. Kalau kamu tidak keberatan, kita bisa menikah lagi," ucap Andra tanpa keraguan sama sekali.
"Kamu gila? Kamu sudah punya istri Andra!" seru Rexha.
"Dia membohongiku 'kan? Sekarang aku lebih percaya padamu. Kamu bilang kita pernah menikah dan aku melupakannya. Sekarang aku akan menikahimu lagi, Rexha," kata Andra memandang Rexha tajam tapi penuh harap.
Rexha mengalihkan pandangannya, ia ingin menangis karena rasa terharunya.
"Rexha, aku memang pria bodoh yang ada di dunia ini karena tidak bisa mengenali istriku sendiri. Sekarang aku sedang berusaha mengumpulkan semua buktinya dan saat ini satu-satunya orang yang aku percaya adalah kamu," ujar Andra menarik lengan Rexha kembali agar menatap dirinya.
"Apa kamu yakin dengan keputusan ini? Apa kamu bisa berjanji untuk tidak membuat hatiku terluka lagi?" lirih Rexha dengan air mata yang tak henti mengalir.
"Jika aku tidak mengingatmu lagi, bunuh saja aku agar aku tidak melihat kesedihanmu," ucap Andra mengusap pelan air mata Rexha.
Bukannya berhenti, air mata Rexha justru mengalir deras. Ia tidak memikirkan apapun lagi, ia langsung memeluk Andra sangat erat dan menangis sejadi-jadinya di pelukan pria itu.
Andra balas memeluknya erat, merasakan tubuh kecil Rexha terguncang, membuat ia semakin yakin kalau keputusannya ini sangat tepat.
"Kita harus menikah sekarang karena tugasku belum selesai," kata Andra memandang Rexha dengan serius.
"Tugas apa?" Kepala Rexha mendadak pening mendengar perkataan Andra.
"Andra ...." Rexha kepalanya berkali-kali, seketika firasat buruk menggelayuti dirinya, ia teringat akan dulu di mana Andra berpamitan pergi tapi pria itu justru tidak kembali.
"Aku pasti kembali, beri aku waktu. Kita menikah sekarang," ucap Andra dengan penuh tekad.
"Kalau kamu yakin akan kembali, nikahi aku lagi setelah kamu kembali," kata Rexha menatap Andra sangat serius.
"Rexha-"
"Andra, aku mohon," tukas Rexha menggenggam tangan Andra lebih erat dari sebelumnya.
Andra mende sah pelan, tidak tega melihat tatapan Rexha yang begitu berharap. Mungkin Rexha benar, ia harus menyelesaikan semuanya baru ia akan datang kembali untuk meminang wanita ini.
"Baiklah, aku akan mengantarmu pulang sekarang," kata Andra menyetujui dengan sangat terpaksa.
Rexha hanya mengangguk pelan, ia ingin menarik tangannya tapi Andra menggenggamnya sangat kuat dan menciumnya.
__ADS_1
"Jangan dilepas, teruslah genggam tanganku seperti ini."
Rexha tidak memprotes, ia membiarkan saja Andra memegang tangannya sampai mereka berdua tiba di rumah. Keduanya tidak saling mengobrol saat perjalanan itu, hanya sesekali Andra mencium tangannya tapi pandangannya tetap lurus ke depan.
"Sudah, sampai disini saja. Aku akan masuk," kata Rexha melepas sabuk pengamannya.
"Akan aku antar."
Rexha ingin menolak tapi Andra sudah lebih t turun dari mobil, membuat wanita itu pun hanya diam dan membiarkan Andra mengantarkannya sampai depan pintu.
"Masuklah, jangan keluar jika bukan aku yang menjemputmu," kata Andra terdengar sangat dingin tapi terselip nada perhatian di dalamnya.
"Iya," sahut Rexha mengiyakan. "Kamu juga, hati-hati," lanjut Rexha dengan wajah ragunya.
Andra tersenyum tipis, ia mengulurkan tangannya untuk mengusap rambut Rexha lalu mencium keningnya.
"Aku pergi dulu," ucap Andra berpamitan pergi.
Rexha memandang kepergian Andra sampai pria itu masuk ke mobil dan meninggalkan halaman rumahnya. Rasanya seperti sangat mustahil jika Andra menyukainya lagi setelah pria itu melupakannya. Apakah bisa, jika sudah lupa tentang dirinya, Andra akan kembali jatuh cinta?
_______
"Dimana? Apakah sesuai rencana?"
Malam sudah sangat larut saat Andra datang menemui Han. Pria itu baru saja mengantarkan Rexha pulang lalu ke vila sebentar, tapi Han sudah menghubunginya dan ia pun segera menyusul pria itu.
"Sesuai dugaan kita, Tuan. Dia pasti sakit hati dan langsung minum. Sepertinya sebentar lagi mabuk," sahut Han.
Andra tersenyum sinis, dugaannya tidak meleset sama sekali. Tom memang menaruh perasaan kepada Rexha, jadi pria itu pasti kini sedang sakit hati dan membuang waktu dengan hal sangat menyedihkan.
"Jangan biarkan dia terlalu mabuk, kita butuh informasi penting darinya. Ambil saja sekarang," titah Andra dengan aura dingin yang sangat kental.
"Baik, Tuan. Kemana kita akan membawanya pergi?" tanya Han.
"Aku akan mengirimkan alamatnya, bawa saja dia dulu. Terkadang kita harus sedikit kejam kepada musuh kita, agar mereka tahu siapa kita," kata Andra dengan seringai yang menyeramkan. Tidak ada lagi raut wajah ramah dan kalem seperti biasa, yang ada hanya dendam dan amarah.
Happy Reading.
__ADS_1
TBC.