
Rexha tidak bisa menjawab saat Andra berkata seperti itu. Ia sudah memaafkan Andra, bahkan sebenarnya ia tidak pernah membenci pria itu. Tapi entahlah, untuk percaya lagi membangun sebuah hubungan dengan Andra, kenapa rasanya susah sekali?
"Ibu, ayo dengarkan cerita Ayah." Dara menarik tangan Ibunya yang sedang melamun.
Kini mereka bertiga sudah berada dikamar Rexha yang ranjangnya tidak terlalu besar itu. Dara berada ditengah orang tuanya dan bersiap untuk mendengarkan cerita.
"Mau cerita apa memangnya? Bukannya buku Dara sudah dibaca semua?" tanya Rexha mengelus lembut rambut putrinya.
"Ini cerita Ayah sendiri, katanya punya cerita seru, seorang pangeran yang mengejar putri keras kepala," ujar Dara yang sudah diberitahu Ayahnya tentang judul cerita yang akan diceritakan.
"Cerita apa itu? Memangnya ada?" Rexha mengernyit heran.
"Ada dong, kamu dengerin aja sama Dara. Aku yakin kamu bakalan suka," sahut Andra mengulas senyum tipisnya.
"Ya Ayah, ayo cepetan cerita, aku keburu ngantuk," celetuk Dara yang mengundang tawa kedua orang tuanya.
"Baiklah, Ayah akan cerita. Dulu, disebuah sekolah, ada seorang putri yang baru saja pindah. Dia sangat galak kepada semua pangeran yang ingin mendekatinya, setiap ada yang mendekat, dia selalu masang wajah garang seolah dia yang paling kuat-"
"Stop, stop, cerita apa itu? Nggak banget tahu, cerita yang lain aja," sergah Rexha malu sendiri karena tahu Andra akan menceritakan kisah mereka berdua waktu SMA.
"Ibu, aku penasaran, nanti pangeran yang mana yang mendapatkan putri keras kepala. Biarkan saja Ayah bercerita, ayo dengarkan saja Ibu," protes Dara.
Rexha mendengus kecil, ia akhirnya kembali bungkam dan melirik sebal pada Andra yang tertawa kecil itu.
"Selanjutnya, putri keras kepala ini tidak punya teman karena dia sangat keras kepala, terus ada satu pangeran yang mau berteman dengannya. Akhirnya mereka selalu bersama-sama," lanjut Andra mengenang masa-masa sekolahnya dengan Rexha dulu.
"Wah, pangeran itu keren sekali. Andai saja ada pangeran lagi, aku pasti sudah punya teman sekarang," ucap Dara dengan polosnya.
"Suatu saat nanti, pasti ada pangeran yang benar-benar mencintai Dara. Yang mau menjadi teman sekaligus sahabatnya selama hidup. Ayah berharap, pangeran Dara tidak pernah mengecewakan Dara seperti pangeran ini," ucap Andra terdengar lirih diakhir kalimatnya.
Andra mengelus pipi Dara sampai anak itu tertidur, ia menatap lekat-lekat wajah anaknya dengan sorot mata berubah-ubah.
Rexha tahu jika Andra masih merasa bersalah jika mengingat masa lalu mereka. Ia ingin mengatakan kalau ia sudah tidak memikirkannya lagi. Tapi sepertinya Andra masih belum puas jika ia belum menerima pria itu kembali.
"Dara sudah tidur, aku akan keluar sekarang," kata Andra ingat jika Rexha melarangnya untuk masuk kedalam kamar wanita itu.
__ADS_1
"Andra," ucap Rexha ingin mengatakan sesuatu, ia menahan tangan Andra.
"Hm?" Andra menoleh.
"Tidur disini saja tidak apa-apa," kata Rexha, mengabaikan rasa malunya.
"Kamu yakin?" tanya Andra memastikan kembali.
Rexha mengangguk sebagai jawaban, ia hanya ingin mengikuti kata hatinya saat ini. Ia sudah merasa lelah menentang takdir dengan terus menolak Andra, hatinya pun sangat menginginkannya berada sangat dekat dengan Andra.
"Baiklah, jika aku melakukan kesalahan, kamu pukul aja aku," kata Andra bercanda.
"Aku yakin kamu nggak kayak gitu, Ndra." Sahut Rexha menarik sudut bibirnya.
Andra tersenyum tipis, ia lalu merebahkan tubuhnya disisi Dara kembali sedangkan Rexha disisi lainnya. Keduanya saling pandang dengan seulas senyum manis dibibir mereka.
"Tidurlah, aku akan menjaga kalian," kata Andra mengusap rambut Rexha perlahan-lahan.
"Iya." Rexha mengangguk, tapi ia masih terus saja menatap Andra.
"Semoga mimpi indah ya," ujar Andra kembali mengusap rambut Rexha dengan lembut.
Rexha begitu menikmati elusan rambut itu, perlahan-lahan matanya mulai berat sekali dan wajah Andra mulai kabur.
"Andra ... Ayo menikah."
"Kamu ngomong apa, Xha?" Andra terkejut mendengar suara Rexha. Ia ingin memastikan lagi, tapi Rexha ternyata sudah lebih dulu terlelap.
Andra menggelengkan kepalanya, merasa mungkin salah dengar. Baru tadi pagi Rexha menolaknya, tidak mungkin Rexha mengajaknya menikah.
Andra lalu mencium kening putrinya lalu memeluk kedua wanita terpenting dalam hidupnya itu. Memejamkan matanya untuk menjemput mimpi yang sangat indah.
_______
Keesokan harinya, Rexha terbangun terlebih dulu karena matahari sangat silau mengenai wajahnya. Ia mencoba meraba-raba sampingnya untuk mencari remot agar gorden kamarnya kembali tertutup, tapi ia justru terkejut saat merasakan sesuatu yang keras dipelukannya.
__ADS_1
Rexha membuka matanya, hampir saja ia berteriak karena kaget melihat wajah Andra, tapi ia segera menutup mulutnya. Diliriknya Dara yang sudah melorot dibawah karena anak kecil itu merasa sesak dipeluk oleh dua orang.
Rexha kebingungan, ia ingin pergi tapi ia justru menutup matanya kembali dan memeluk Andra.
'Sial, apa yang aku lakukan?!'
Tak lama kemudian Andra terbangun, ia mengernyitkan dahinya saat silau akan matahari. Ia ingin bangun tapi tangannya sangat berat, ia melihat Rexha masih meringkuk di pelukannya.
"Ayah ..." ucap Dara.
"Sssstt, pelan-pelan saja. Ibu sedang tidur," bisik Andra memberikan gestur untuk putrinya diam.
"Ish, Ibu yang pura-pura Ayah. Tadi Ibu sudah bangun kok," kata Dara yang tadi sempat melihat Ibunya bangun.
Rexha ingin sekali mengumpat karena ucapan anaknya yang sangat jujur itu. Tapi ia hanya diam untuk menjalankan pura-puranya.
"Mungkin Ibu tadi sempat terbangun, Dara ayo mandi. Nanti kesiangan ke sekolah," kata Andra percaya saja karena Rexha terlihat tidak bergerak sama sekali.
Andra perlahan-lahan memindahkan kepala Rexha lalu menyelimuti wanita itu dengan benar. Ia juga membenarkan gorden kamar agar wanita itu tidak silau, barulah ia pergi untuk bersiap-siap.
Rexha langsung membuka matanya begitu Andra pergi. Ia pikir Andra akan bertingkah macam-macam, tapi pria itu memanglah sangat baik sekali. Ia bahkan tidak bisa menolak setiap apa yang dilakukan Andra padanya. Sekarang apalagi yang harus diragukannya dari Andra?
________
Hari ini Rexha datang ke bengkel cukup siang karena tadi masih membersihkan Apartemen. Biasanya Andra yang membereskan, tapi tadi Rexha melarang karena tahu jika Andra juga sibuk dikantor. Beberapa kali ia juga melihat Andra sering menerima panggilan dengan wajah yang sangat serius.
Rexha turun kebawah melalui tangga darurat karena lift yang digunakan penuh. Ia paling tidak bisa jika harus menunggu terlebih dulu. Lebih baik naik tangga darurat saja.
Awalnya Rexha melangkah tanpa rasa curiga, tapi saat ia sampai di basemant, langkahnya tiba-tiba dihadang orang yang membuat ia langsung berhenti. Rexha mengangkat pandangannya hingga melihat sosok orang yang telah menghadangnya.
"Kamu?"
Happy Reading.
TBC.
__ADS_1