After 5 Years Apart

After 5 Years Apart
A5YA 46. Curiga.


__ADS_3

Andra sudah mulai merasakan kejanggalan beberapa waktu terakhir ini. Semua yang dikatakan Denada semaunya terasa sangat membingungkan. Kini ditambah dengan keanehan Denada yang selalu memberinya obat.


Dulu saat ia bertanya, Denada mengatakan kalau obat itu untuk dirinya yang baru saja kecelakaan. Lalu, kenapa sampai sekarang ia harus terus meminumnya?


"Saya tidak tahu, Tuan. Tolong jangan lakukan apapun kepada keluarga saya. Sungguh saya tidak tahu apapun." Han mengatupkan kedua tangannya memohon seraya menahan sakit yang luar biasa dilehernya karena Andra terus mencekik lehernya.


"Oh, sepertinya ancaman saja tidak cukup bagimu ya? Baik, setelah ini lihat saja apa yang terjadi," tukas Andra semakin kesal, ia menghempaskan tubuh Han dengan kasar.


Disaat bersamaan, ada sesuatu benda yang jatuh dari dalam baju Andra, mungkin karena pria itu banyak bergerak jadi benda itu terjatuh melalui jas yang dipakainya.


"Apa ini?" Andra mengerutkan dahinya, ia memungut sebuah alat kecil yang tidak sengaja terjatuh itu.


Ternyata sebuah alat, Andra sangat mengenali alat itu. Ia kemudian tersenyum sinis seraya melirik Han dengan sangat tajam.


"Masih ingin berbohong padaku juga? Siapa yang sudah menaruh alat pelacak ini di tubuhku selain kamu, ha!" bentak Andra begitu murka.


"Maaf Tuan, saya hanya menjalankan tugas. Maafkan saya, ampuni saya, Tuan." Han kembali memohon ampun agar Andra mau memaafkannya.


"Sial!" umpat Andra begitu geram. "Apa yang sudah dia perintahkan padamu?" tanya Andra kemudian.


Han menatap Andra sekilas, ia kemudian menunduk. Terlihat sekali kalau pria itu sangat ketakutan.


"Jika kamu jujur padaku, aku bisa menjamin keselamatanmu," kata Andra, tapi hal itu masih membuat Han ragu. "Termasuk keluargamu," sambungnya kemudian, sangat tahu jika Han begitu menyayangi keluarganya.


"Tuan, saya benar-benar mohon jangan lakukan apapun pada keluarga saya. Saya disini murni bekerja, tidak bermaksud jahat pada Anda," ucap Han.


"Maka dari itu, katakanlah! Apa yang sudah diperintahkan istriku?" bentak Andra, rasanya tidak bisa berbicara pelan disaat emosinya meledak seperti ini.


"Saya ... Memang disuruh oleh Nyonya Denada menaruh alat pelacak itu di baju Anda agar beliau bisa memantau kemana saja Anda akan pergi. Beliau ingin memastikan kalau Anda tidak menemui Nona Rexha," ucap Han.


"Brengsek!" Andra menendang kursi yang tadinya didudukinya karena sangat emosi saat tahu akal licik Denada.


Pantaslah selama ini ia merasa selalu diawasi, ternyata Denada benar-benar licik sekali. Sekarang Andra jadi ragu, apa yang dikatakan oleh Denada itu adalah kebenaran.

__ADS_1


"Lalu, mengenai obat itu?" tanya Andra lagi.


"Mengenai obat itu, saya tidak tahu apapun, Tuan. Saya hanya diperintahkan untuk selalu memberikannya pada Anda dan memastikan Anda meminumnya sendiri," sahut Han, ia menjelaskan dengan tubuh bergetar hebat karena ia bisa merasakan kemarahan yang luar biasa dari diri Andra.


"Kamu masih ingin berbohong juga? Katakan obat apa itu sebenarnya?!" Hardik Andra hampir saja mencekik Han lagi karena rasa marah yang luar.


"Saya benar-benar tidak tahu apapun, Tuan. Saya hanya ditugaskan untuk hal itu selama ini," kata Han berusaha meyakinkan, jika ada pintu ajaib Doraemon, ia pasti akan meminjamnya agar ia bisa secepatnya pergi.


"Oh shittttt!" Andra kembali mengumpat marah, tidak menyangka jika wanita yang ia percaya justru telah melakukan hal licik seperti ini.


Terdengar suara ponsel yang berdering membuat keduanya langsung teralihkan. Andra melirik Han yang kini sangat ketakutan itu. Ponsel yang berdering itu adalah milik Han, membuat pria itu sangat takut sekali.


"Siapa?"


"Sepertinya ... Nyonya Denada, Tuan," jawab Han.


"Angkat!" titah Andra.


Han menurut, ia mengangkat panggilan itu dengan tangan gemetar. Benar-benar ketakutan jika Andra akan melakukan hal nekat. Pria itu menyuruh ia mengangkat panggilannya dan menyuruh untuk menyalakan loud speaker.


"Halo, Han? Bagaimana, apakah Tuan sudah meminum obatnya?" Denada langsung bertanya to the point, wanita itu tidak boleh sampai membiarkan Andra tidak meminum obatnya.


"Sudah, Nyonya. Saya sudah memastikan Tuan meminum obatnya sendiri," jawab Han langsung, ia melihat gestur yang diberikan Andra untuk menjawab pertanyaan itu.


"Bagus, sekarang dimana kalian? Tuan tidak bertemu dengan siapapun 'kan?"


Seperti yang sudah-sudah, Denada langsung menanyakan hal yang selalu ia takutkan selama ini.


"Tidak, beliau tidak pergi kemanapun. Sekarang beliau sedang menghadiri pesta penyambutan, mungkin kami akan berada disini selama satu Minggu," kata Han, lagi-lagi mengikuti perintah Andra.


"Satu Minggu? Bukannya kalian hanya 4 hari disana?" tanya Denada begitu terkejut.


"Tuan Andra masih ada pekerjaan, Nyonya. Jadi kepulangan kami diundur," jelas Han.

__ADS_1


"Oh baiklah, ingat pesanku baik-baik, Han. Awasi kemana saja Tuan Andra pergi dan pastikan alat pelacak itu selalu ada di baju yang dia pakai, kamu mengerti?"


"Mengerti, Nyonya." Han langsung mengiyakan dan mematikan sambungan telepon itu, ia benar-benar sudah takut sekali melihat wajah Andra yang merah padam.


Andra mengertakkan giginya dengan sangat kuat, terlihat sekali emosi terpancar dari sorot matanya. Ia jadi curiga kalau Denada-lah yang disini sedang membohonginya. Ia harus segera mencaritahunya sebelum semuanya terlambat.


"Apa kamu masih ingin hidupmu tenang?" Andra tiba-tiba berbicara, kali ini ia memandang Han lebih tajam dari sebelumnya.


"Tentu, Tuan. Saya benar-benar minta maaf, saya akan melakukan apapun yang Tuan perintahkan, tapi saya mohon jangan ganggu keluarga saya," ucap Han.


"Aku akan memberikanmu tugas," kata Andra. "Dan jangan sampai gagal melakukannya, jika sampai gagal ...


"Aku pastikan kamu hanya tinggal nama."


________


Rexha terpaksa kembali lagi ke tempat kerjanya karena ia takut dengan ancaman dari Andra. Mungkin ia harus menuruti dulu permintaan pria itu sembari berpikir bagaimana caranya ia bisa kabur. Ia juga harus memikirkan nasib Dara yang harus berpindah-pindah tempat dan sekolah.


Pagi ini saja Dara cukup rewel, anak itu tidak mau sekolah karena semalam Dara merajuk meminta Rexha untuk mengubungi Ayahnya, tapi Rexha tidak bisa memenuhinya untuk saat ini. Rexha merasa lebih baik Andra tidak tahu tentang Dara, karena ia takut pria itu akan bertindak menakutkan.


"Hari ini ke sekolah bareng ibu ya? Nanti siang ibu ajak makan di ... mau nggak?" Rexha membujuk putrinya dengan mengajak anak itu makan ditempat favoritnya.


"Kenapa sih, ibu itu selalu saja berbohong padaku? Ibu mengatakan ayah akan datang, tapi kapan? Kenapa sampai sekarang ayah tidak datang juga? Apa ayah sudah melupakan kita?" tukas Dara, merasa sangat merindukan sekali sosok figur seorang ayah yang baru saja didapatkannya dalam waktu yang sangat singkat itu.


"Bukan seperti itu, ibu 'kan sudah bilang kalau ayah akan pulang kalau sudah waktunya tiba. Dara sabar ya," tutur Rexha mengusap lembut rambut anaknya.


"Baiklah, kalau begitu aku mau ayah datang di acara sekolah. Aku mau nunjukin sama ayah kalau aku bisa menari, pokoknya ayah harus melihat aku menari. Kalau ibu tidak membawa ayah datang, aku mau marah sama ibu."


Rexha mengigit bibirnya, sama seperti anak seumurannya, jika sudah dijanjikan, pasti akan terus menagih sampai dapat. Dara kembali seperti ini karena belum mendapatkan apa yang anak itu mau. Beberapa waktu lalu Dara sudah melupakan tentang ayahnya karena Rexha memberikannya komputer baru. Tapi sekarang anak itu mungkin sudah bosan dan menanyakan ayahnya lagi.


'Apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus memberitahu Andra?'


Happy Reading.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2