After 5 Years Apart

After 5 Years Apart
A5YA 07. Apa Dia Anakku?


__ADS_3

Bekerja dengan membawa anak memang hal yang cukup merepotkan. Terkadang anak minta ini, minta itu dan entah apalagi. Tapi Andara merupakan anak yang sangat pintar, ia sangat mengerti keadaan Ibunya dan tidak pernah rewel. Mungkin hanya banyak bertanya, menjadi hal yang wajar untuk anak seusianya.


Sepanjang perjalanan mereka berdua menuju tempat dimana pelanggan sedang ada masalah, Andara juga asyik berceloteh. Membicarakan hal-hal yang menyenangkan dengan ibunya. Sampai tidak terasa mereka berdua sudah sampai di lokasi tersebut.


"Nah, kita sudah sampai, Sayang. Kamu tunggu disini dulu, Ibu akan melihatnya," titah Rexha.


Tidak mau gegabah, ia harus memastikan apakah orang yang akan dibantunya ini aman atau tidak. Dilihatnya seorang pria yang duduk bersandar di bagian depan mobil. Rexha mendekatkan langkahnya dengan perlahan tanpa rasa curiga sedikitpun.


"Permisi Tuan, apa benar Anda yang menghubungi bengkel AHAS?" ujar Rexha dengan suara yang cukup keras.


Pria itu bangkit dari duduknya saat mendengar suara Rexha. Ia yang semula bermain ponsel langsung menoleh. Dan untuk sepersekian detik, ia mendadak blank saat melihat sosok wanita mungil yang ada didepannya.


"Rexha ...." Bibir Andra menyebut nama wanita itu tanpa suara.


Rexha sendiri tak kalah terkejutnya, ia sampai mundur kebelakang saat bertatapan langsung dengan manik mata Andra yang gelap itu. Keringat dingin mendadak menyergap punggungnya. Ia ingin berlari, tapi kakinya tidak bisa digerakkan.


Andra terdiam, ia menatap lekat-lekat wajah Rexha yang masih cantik seperti yang dia ingat. Sorot matanya yang tidak pernah berubah, selalu sendu dan teduh. Andra ingin berbicara, menanyakan bagaimana kabar wanita itu, tapi mulutnya terkunci.


Hingga kemudian terdengar suara nyaring anak kecil yang memutus kontak mata antara keduanya.


"Om!" Andara berseru riang saat melihat Andra, ia yang tadinya disuruh diam saja diatas motor langsung turun dan berjalan cepat menghampiri Andra.


Rexha tersentak, ia melihat putrinya yang berjalan kearah mereka. Jantungnya berdetak sangat kencang, menatap Andara dan Andra bergantian. Ia ingin menahan putrinya, tapi Andara sudah lebih dulu sampai disana.


"Om Andra, Om masih ingat aku 'kan?" ucap Andara memberikan senyum manisnya.


"Andara? Iya Om ingat, kamu disini sama siapa?"


Andra mengalihkan sejenak pandangannya dari Rexha, beralih menatap gadis kecil menggemaskan yang sedang tersenyum manis itu.


"Aku sama Ibu," jawab Andara seadanya, ia juga memandang Ibunya.

__ADS_1


Rexha menahan nafasnya saat Andara mengatakan hal itu. Ia menunggu bagaimana respon Andra yang pastinya sangat kaget.


"Ibu? Siapa Ibu kamu?" Andra bertanya seperti orang bo doh. Sudah jelas disana hanya ada Rexha.


"Ehm, ban mobilmu katanya pecah, aku akan memperbaikinya sekarang, ini sudah malam." Rexha langsung menyela sebelum Andara mengatakan apapun.


Andra mengerutkan dahinya, memandang Rexha dengan tatapan aneh. Tapi Rexha mengabaikannya, wanita itu langsung berjongkok seraya memegang lengan putrinya.


"Dara, Ibu akan kerja dulu. Dara tunggu disana boleh? Ibu hanya sebentar," titah Rexha menunjuk tepi jalanan yang dekat dengan motornya.


Andara memainkan mulutnya, gadis kecil itu malah sibuk melihat kearah Andra.


"Dara, pergi kesana sekarang," ujar Rexha lagi.


"Iya, Ibu." Kali ini Andara menurut meski sebenarnya tidak rela, ia ingin mengobrol dengan Om tampan, tapi Ibunya sepertinya tidak suka. Akhirnya ia pun berjalan menjauh dan meninggalkan mereka berdua.


Rexha menungggu sampai Andara pergi, lalu ia mengambil alat-alatnya yang akan digunakan untuk mengganti ban mobil.


Andra mendesis pelan, ia tiba-tiba memegang tangan Rexha dengan cukup kuat. "Dia anakmu?" Satu pertanyaan yang sejak tadi sudah memenuhi otaknya Andra katakan.


Rexha menipiskan bibirnya, kenapa hatinya sakit sekali saat Andra mengatakan kalau Andara adalah anaknya. Ia ingin mengatakan kalau anak itu adalah anak mereka.


"Bukan urusanmu," sahut Rexha menarik tangannya dengan cukup kasar.


Andra tersenyum sinis, ia kembali menarik tangan Rexha, kali ini sangat kuat hingga Rexha jatuh kepelukannya. "Kenapa kamu terlihat ketakutan, Rexha? Apa kamu sedang menyembunyikan sesuatu dariku?" ucap Andra begitu dingin, sorot matanya yang tajam itu terus menatap wajah Rexha sangat dekat dengannya.


"A-aku tidak tahu apa yang kamu katakan. Lepaskan, aku harus menyelesaikan tugasku," sentak Rexha mencoba melepaskan dirinya, sungguh ia belum siap jika harus sedekat ini dengan Andra, kini tubuhnya bahkan sudah gemetaran.


"Kau tahu jelas maksudku. Anak siapa itu?" Andra tidak menyerah, ia merasa semua ini bukan sebuah kebetulan.


'Kenapa Rexha bisa memiliki anak yang wajahnya sangat mirip dengannya? Apa mungkin ....'

__ADS_1


"Apa waktu itu kamu?" Andra membulatkan matanya saat memikirkan kemungkinan besar Rexha benar-benar hamil saat mereka berpisah, karena mereka berdua sering melakukan hal itu dulu waktu sekolah.


'Tidak, tidak sering. Tapi pernah, beberapa kali. Tujuh atau sembilan, ah .... Kami memang sering melakukannya dulu.'


"Apa dia anakku?" Andra bertanya dengan menahan degupan keras di jantungnya. Entah kenapa ia memang berharap kalau Andara adalah putrinya dengan Raya.


"Jangan berbicara omong kosong, Andra. Cepat lepaskan aku, aku harus bekerja." Rexha langsung mendorong Andra dengan kasar agar pegangan pria itu terlepas. Ia lalu segera mengerjakan tugasnya untuk mengganti ban mobil Andra.


"Kalau kamu menghindar, itu artinya memang iya. Apa benar, Andara adalah putriku?" Andra tidak menyerah semudah itu, ia bertanya kembali dengan suara tegasnya.


"Apa kamu mengandung saat aku pergi?" Lirih Andra menatap punggung Rexha.


Rexha mengigit bibirnya, sial sekali air matanya sudah tumpah hanya karena mendengar pertanyaan Andra. Ia benci sekali situasi seperti ini. Ia menjadi lemah hanya karena Andra. Kenapa Andra tidak membencinya saja, kenapa Andra bersikap baik padanya.


"Rexha ..."


"Dia anakku dengan pria lain," sahut Rexha menahan napasnya saat mengatakan hal itu.


Hati Andra langsung remuk setelah mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Rexha. Ia merasa tidak terima, tapi kenapa? Bukannya hubungannya dengan Rexha sudah berkahir?


'Tidak, tidak, hubungan kami tidak pernah berakhir. Aku tetap mencintainya seperti saat pertama kali aku mengenalnya. Apa perasaannya padaku sudah berubah?'


"Oh ... Kamu sudah menikah? Ini benar-benar diluar dugaanku. Hahaha, dunia memang sangat lucu, untuk apa aku menanyakan hal bodoh seperti ini. Hahaha, wanita sepertimu pasti mudah mencari pengganti setelah kepergianku, bodoh sekali ...."


Andra tertawa hambar, menertawakan kebodohannya sendiri yang selama ini menganggap kalau Rexha masih mencintainya. Tapi nyatanya wanita itu justru sudah bahagia dengan pria lain, bahkan sudah memiliki anak.


Rexha menggigit bibirnya untuk menyamarkan tangisnya. Memang seharusnya seperti ini 'kan? Andra sudah punya keluarga lain dan juga memiliki anak. Rexha tidak mau menjadi penghancur rumah tangga orang lain hanya karena masa lalunya.


Biarkan saja rasa cinta itu ia genggam sendiri, merasakan sakit itu sendiri. Karena sampai kapanpun Rexha tidak akan pernah pantas bersanding dengan Andra.


Happy Reading.

__ADS_1


TBC.


__ADS_2