
Ternyata Elmira tidak main-main dengan ucapannya, wanita itu langsung bersikap sangat baik pada Rexha dan juga Dara. Bahkan Elmira yang meminta Andra dan Rexha segera menikah. Wanita itu tidak sabar sekali sehingga pernikahan Andra dan Rexha diadakan dua hari setelah Elmira pulang dari rumah sakit.
Rexha senang, tapi seperti ada yang mengganjal. Terutama akan sosok wanita yang pernah hadir dalam hidup Andra itu tidak menunjukkan batang hidungnya sama sekali. Tidak mungkin Denada langsung lenyap bagai ditelan bumi. Rexha takut jika wanita itu tiba-tiba datang dan akan membuat ulah.
"Rexha, coba kamu pakai anting ini. Ini adalah anting warisan dari nenek buyut Andra."
Pagi itu Rexha tengah bersiap dengan ditemani oleh Elmira karena acara pernikahan nanti akan diselenggarakan di kantor pencatatan sipil. Andra dan Rexha memang sengaja tidak melakukan pesta pernikahan karena anak mereka sudah besar, terasa sangat aneh jika orang tahu mereka baru menikah tapi sudah memiliki anak sebesar itu.
"Eh? Anting apa, mi?" Rexha cukup terkejut karena Elmira memberikannya anting.
"Ini anting turun-temurun, dulu neneknya Andra yang ngasih ke mami. Sekarang kamu 'kan akan menjadi istri Andra, mami berikan padamu," kata Elmira menyerahkan sepasang anting kecil yang berbentuk sangat elegan pada Rexha.
Rexha tidak banyak memprotes, sejak pagi tadi ibu mertuanya sudah datang dan membantu Rexha bersiap. Padahal Rexha hanya ingin berdandan biasa saja sebelumnya, tapi ternyata Elmira sudah memesankan gaun dan memanggil MUA untuk mendadani Rexha menjadi sangat cantik.
"Ibu sangat cantik sekali," puji Dara yang baru saja masuk ke dalam kamar ibunya. Gadis kecil itu juga sudah cantik dengan gaun kecil yang berwarna putih senada dengan ibunya.
"Dara sini sama nenek, ibu cantik karena bajunya nenek yang pilih. Dara juga cantik gini," ujar Elmira meraih tangan kecil Dara, wanita setengah baya itu tampak sangat gemas sekali melihat cucunya yang kecil dan cantik.
"Tidak, nek, ibu memang sudah cantik. Sekarang ibu semakin cantik karena baju dari nenek," protes Dara tidak setuju, wajahnya cemberut dan imut sekali membuat Elmira semakin gemas.
"Iya iya ibumu cantik, dasar cerewet. Sekarang coba hubungi Ayahmu, dia sudah siap belum? Kenapa belum menjemput juga," kata Elmira setengah menggerutu.
"Ayah tidak mungkin terlambat, tunggu saja, nek. Sudah tua jangan marah-marah, nanti bisa struk," celetuk Dara asal saja.
"Dara, tidak boleh seperti itu," tegur Rexha menggelengkan kepalanya karena tingkah putrinya itu.
"Kenapa, Bu? Dara benar 'kan? Neneknya teman aku aja ada yang struk karena sering marah, nenek tidak boleh seperti itu ya," kata Dara memandang Elmira dengan serius.
Elmira tergelak, bukannya kesal dengan ucapan cucunya, ia justru merasa sangat senang. Ia langsung menjawil pipi Dara dengan gemasnya.
"Iya Nona Dara kecil, apa sekarang kamu puas?" ucap Elmira dengan gayanya yang begitu gemas dengan Dara.
Dara mengangguk seraya memberikan jempolnya, hal itu tentu saja membuat Elmira semakin senang, seulas senyum dan tawa tidak pernah berhenti dari dari bibirnya.
Tak lama kemudian terdengar suara ponsel Rexha yang berbunyi, terlihat nama Andra disana membuat ia segera mengangkatnya.
"Halo?" ucap Rexha mendadak sangat gugup sekali, padahal hanya telepon biasa. Apakah karena mereka akan segera menikah?
__ADS_1
"Halo Rexha, aku udah kirim supir ke apartemen ya. Aku tidak bisa menjemput karena ban aku pecah, nanti kita bertemu disana, tidak apa-apa 'kan?" Suara Andra terdengar panik bercampur kesal.
Pria itu sama sekali tidak menyangka jika dihari pentingnya ia justru harus mengalami musibah seperti itu.
"Oh tidak apa-apa, aku akan berangkat bersama mami dan Dara nanti," sahut Rexha tidak keberatan sama sekali.
"Ya, maaf tidak bisa menjemputmu. Nanti bertemu Kak Aleen juga disana, kamu hati-hati," kata Andra lagi.
"Iya, kamu juga." Rexha mengangguk mengiyakan.
"Baiklah, kita akan bertemu disana nanti," ujar Andra.
"Ehm, Andra?"
"Ya?"
"Aku menunggumu, cepatlah datang," ucap Rexha mengigit bibirnya, mendadak perasaan begitu tidak rela dan ingin sekali melihat Andra.
"Aku pasti datang, Rexha."
Jawaban dari Andra itu membuat Rexha bernapas lega. Ia akhirnya segera keluar dan memberitahu Elmira kalau Andra tidak bisa menjemput mereka.
"Mami," ucap Rexha memberanikan diri untuk memegang tangan ibu mertuanya.
"Ada apa?" Meski sedikit terkejut Elmira mencoba bersikap biasa saja.
"Terima kasih, mi, terima kasih sudah menerimaku, aku-"
"Rexha, jangan berkata seperti itu. Mami memang salah dan tidak seharusnya mami bersikap egois. Sudah jangan memikirkan apapun lagi ya, sekarang kita sudah baik-baik saja bukan?" sela Elmira sebelum Rexha menyelesaikan ucapannya.
Rexha mengigit bibirnya, matanya mendadak berkaca-kaca karena ia akhirnya bisa diterima oleh Elmira.
"Bolehkah, aku memeluk mami?" Rexha tahu permintaannya itu lancang, tapi ia ingin sekali melakukannya.
Elmira tersenyum tipis, ia membuka kedua tangannya. "Kemarilah, putriku."
Rexha tersenyum tapi juga menangis, ia segera masuk ke dalam pelukan Elmira. Dalam hatinya tidak henti mengucap syukur karena penantiannya akhirnya membuahkan hasil yang menyenangkan.
__ADS_1
"Jangan menangis, Rexha. Nanti mami rugi sudan menyewa MUA mahal-mahal," kata Elmira mencoba bercanda untuk menutupi perasaannya.
Rexha tertawa kecil seraya mengusap air matanya pelan, ia benar-benar sangat senang sampai menangis haru seperti itu.
"Udah siap 'kan? Kita berangkat sekarang ya?" ujar Elmira lagi.
"Iya." Rexha mengangguk mengiyakan.
Rexha segera mengangkat gaunnya sedikit tinggi lalu berjalan keluar untuk menjemput kebahagiaan baru.
_________
Andra mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, ia sangat takut sekali terlambat dihari pentingnya kali ini. Ia berusaha secepat mungkin sampai ditempat pernikahannya dengan Rexha akan dilangsungkan.
Namun, sejak tadi Andra merasa janggal. Ada satu mobil hitam yang seperti mengikutinya. Karena tidak ingin mengambil resiko, akhirnya Andra secepat mungkin mengendarai mobilnya agar segera sampai.
Setelah rasa khawatir yang luar biasa, Andra akhirnya bisa sampai di kantor pencatatan sipil bersamaan dengan taxi Rexha yang datang. Andra terdiam saat melihat sosok Rexha yang turun dari mobil dengan sangat anggun. Semua gerakan itu seperti lambat, seroang wanita yang berjalan dengan gaun putih yang cantik. Andra seperti merasakan getaran yang luar biasa, ia seperti jatuh cinta lagi pada wanita yang sama.
Rexha sedikit terkejut melihat Andra, ia mencoba tersenyum meski mendadak dilanda kegugupan yang luar biasa. Ia berjalan mendekat kearah Andra dan pria itu langsung menyambut dirinya.
"Always beautiful," bisik Andra dengan senyum indahnya.
Rexha tersipu-sipu, ia ingin menjawab tapi Dara menarik-narik tangannya membuat ia menoleh.
"Kata nenek jangan pacaran dulu, Ayah nikahi Ibu dulu, biar kita bisa sama-sama terus nanti," celetuk Dara memandang kedua orangtuanya dengan raut wajah menuduh.
Andra tergelak, ia langsung meraih putri kecilnya lalu menciumi pipinya berkali-kali. "Anak Ayah memang paling pinter, setelah ini kita akan sama-sama terus, Dara pasti suka," kata Andra.
"Suka, nanti aku bisa tidur sama Ayah sama Ibu terus," sahut Dara dengan begitu bersemangat.
"Hahaha, Dara benar, nanti kita tidur sama-sama terus ya," ucap Rexha mengelus lembut pipi putrinya.
Andra mengerutkan dahinya, jika Dara tidur bersama mereka terus, kapan ada waktu buat skidipapappppppp?
"Andra! Malah melamun lagi, ayo masuk. Penghulunya sudah menunggu. Jadi menikah tidak?" tegur Aleen.
"Jadi dong kak, Nona Rexha, let's get married," ujar Andra segera meraih tangan Rexha lalu mengajak wanita itu masuk ke dalam kantor pencatatan sipil untuk meresmikan hubungan mereka secara sah dimata hukum dan negara.
__ADS_1
Happy Reading.
TBC.