
Rexha harus datang ke vila tempat Andra menginap terlebih dulu untuk membuatkan pria itu sarapan. Setelah itu ia akan kembali lagi bekerja di restoran seperti biasa.
Sebenarnya Rexha enggan sekali melakukan pekerjaan ini, ia merasa hatinya selalu tidak baik-baik saja jika bertemu dengan Andra. Rexha ingin sebentar saja mengistirahatkan hatinya yang benar-benar lelah dengan kesakitan ini.
Namun, sepertinya Tuhan masih belum memberinya izin untuk hal itu.
"Ya, aku akan kesana sebentar lagi."
Rexha menoleh saat mendengar suara Andra, pria itu terlihat sudah sangat rapi sekali. Tentu seperti biasa, tampan dan mempesona. Membuat Rexha tidak bisa mengalihkan pandangannya.
"Sudah datang sepagi ini?" Andra langsung menyapa begitu berada didekat Rexha, kali ini suaranya terdengar sangat ramah sekali.
"Iya, kamu biasanya suka sarapan jam 7 pagi," jawab Rexha seadanya.
Andra langsung melihatnya, tapi tidak mengatakan apapun. Ia memberikan gestur kepada Rexha untuk duduk disampingnya.
"Apa?" Rexha bertanya seperti orang bodoh.
"Makan," sahut Andra begitu dingin.
"Tidak usah, aku akan kembali ke restoran saja. Kalau kamu sudah selesai, tinggalkan saja. Nanti aku akan membereskan semuanya," ujar Rexha beranjak dari sisi Andra.
Sejak tadi Rexha begitu bingung mengingat permintaan putrinya. Ia bisa saja meminta pada Andra, tapi apakah pria itu bersedia? Sedangkan Andra saja tidak mengingat mereka.
"Siapa yang mengizinkanmu pergi," kata Andra menatap Rexha tidak suka.
"Memangnya masih butuh apa lagi?" Rexha mencoba bersabar.
"Duduk," titah Andra kembali menunjuk kursi disampingnya.
Rexha berdecak pelan, sumpah demi apapun ia ingin sekali memaki Andra dengan kata kasar. Tapi jika semakin dilawan, Andra akan semakin ngotot nantinya. Lebih baik ia menurut dan diam saja, tapi ia tidak menurut untuk duduk disamping Andra, ia memilih duduk di ujung meja satunya.
Yang jelas jangan berdekatan dengan Andra.
__ADS_1
Andra semakin tidak suka dengan sikap Rexha ini. Tapi ia menahan dirinya, ia segera mengambil ponselnya lalu menyerahkan foto pada Rexha.
"Apa pria ini yang bernama Tom?" tanya Andra dengan wajah serius.
"Ya, kenapa? Kamu tidak mungkin lupa dengan orang yang sudah berjasa dalam hidupmu 'kan?" sahut Rexha dengan gaya malasnya.
"Jauhi pria itu." Andra memerintah dengan nada suara yang padat dan sangat jelas.
"Apa hakmu menyuruhku melakukan hal itu? Bukannya kamu sendiri yang sudah menyuruhku pergi?" kata Rexha, sinis saat mengatakannya.
"Saat aku terbangun, dia mengatakan kalau dia adalah istriku. Dia punya foto kami bersama, dan menunjukkan bukti buku pernikahan. Mungkin saat ini aku belum bisa mengingatnya, tapi aku minta padamu, jauhi pria itu. Aku merasa ... dia bukan pria yang baik," ujar Andra mencoba menekan egonya, ia tahu semakin ia bersikap keras, Rexha akan semakin melawan dirinya.
"Lalu siapa yang baik? Apakah kamu pria baik itu?" tukas Rexha.
Jika melihat wajah Andra, mengingatkannya akan kesakitan saat anaknya harus pergi sebelum melihat dunia. Disaat itu, Andra sama sekali tidak berada disampingnya. Lalu, kenapa sekarang harus ia lagi yang mengalah?
"Aku punya alasan yang membuat aku seperti ini. Yang jelas jangan mendekatinya, bila perlu kalian pindah rumah agar pria itu tak datang menemuimu lagi," kata Andra, terlihat begitu emosional karena Rexha dekat dengan pria lain.
"Aku juga punya alasan untuk tetap bertahan. Kamu hanya bisa menuduh orang dan bersikap sesuai keinginanmu tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku. Kenapa kamu sekarang harus peduli padaku? Dimana saja saat aku membutuhkanmu? Dimana Andra? Bahkan disaat aku sendirian menangisi kepergian anak kita, apakah kamu ada disana? Sama sekali tidak, Andra. Siapa yang ada disana menemaniku? Dia! Dia yang selama ini selalu ada untukku dan putriku!" jerit Rexha tak tahan lagi memendam rasa sakit dihatinya.
Melihat Rexha yang terpukul seperti itu, membuat Andra merasa bersalah. Ia belum mengenal wanita didepannya ini, tapi entah kenapa ia merasa sangat dekat sekali dengan Rexha. Melihat Rexha menangis, ia benar-benar tidak tega.
"Rexha aku-"
"Apa kamu tahu apa hal yang sangat menyakitkan untukku?" Rexha langsung menyela, ia mengusap air matanya dan memandang Andra dengan sayu.
"Apa karena kamu tidak mengingatku? Atau karena kamu telah mencampakkan aku?"
"Bukan itu, Andra. Tapi ... karena harus mengakhiri hubungan yang saat itu belum berakhir untukku. Itu benar-benar menyakitkan," ucap Rexha benar-benar tidak sanggup, ia menangis dengan menutup wajahnya dengan kedua tangan.
Nyatanya sekuat apapun Rexha menahan dirinya, ia juga merasa lelah dan ingin sekali menyerah.
Andra mengigit bibirnya, rasa bersalah itu kian nyata. Ia mencoba mengingat apa yang sebelumnya terjadi dalam kehidupannya, tapi ia tidak bisa menemukan jawabannya. Yang ada kepalanya justru semakin sakit.
__ADS_1
Namun, melihat bagaimana cara Rexha menatapnya, membuat Andra yakin kalau Rexha pasti wanita yang paling penting dalam hidupnya dulu.
Rexha mengusap air matanya kembali, ia kemudian bangkit tanpa mau menatap Andra. "Tugasku sudah selesai, aku pamit dulu," kata Rexha buru-buru pergi meninggalkan Andra.
Andra menghela napas panjang, bukan tidak ingin mengejar. Saat ini ia benar-benar harus memastikan segalanya sebelum mengambil tindakan. Ia juga tidak boleh gegabah mengingat betapa liciknya Denada. Jika ia salah langkah, ia takut jika Rexha dan anaknya akan tekena imbasnya.
'Tapi tunggu dulu? Tadi Rexha mengatakan harus kehilangan anak? Apa maksudnya?'
_______
"Jadi, obat apa ini sebenarnya? Apakah benar itu obat penghilang rasa sakit setelah kecelakaan?"
Setelah pulang menyelesaikan pekerjaannya, Andra langsung menemui Dokter khusus yang cukup terkenal di kota itu. Ia tentu tidak boleh melewatkan sedikit pun hal penting yang ditemuinya, karena kebenaran ini yang akan menentukan langkah Andra selanjutnya.
"Obat ini Antikolinergik, sejenis obat untuk menghilangkan memori ingatan."
"Obat untuk menghilangkan memori ingatan?" Andra langsung menegakkan tubuhnya mendengar jawaban dari dokter itu.
"Ya obat ini tidak dijual secara legal, Tuan. Kenapa Anda bisa memilikinya? Obat ini dapat menyebabkan kehilangan memori karena mereka menghalangi aksi asetilkolin, signal kimia yang terlibat dengan banyak fungsi dalam tubuh. Obat ini juga sangat berisiko penurunan kognitif diperburuk ketika pasien mengambil obat inkontinensia untuk jangka waktu tertentu. Bahkan obat ini bisa membuat pasien mengalami cidera otak yang cukup parah jika terus dikonsumsi, Tuan," ucap Dokter itu menjelaskan dengan terperinci.
"Jadi, jika obat ini terus dikonsumsi akan membuat kita hilang ingatan?" tanya Andra dengan tangan mengepal erat.
"Benar, Tuan. Apa sebelumnya Anda pernah hilang ingatan?"
"Ya, aku tidak mengingat kejadian selama lima tahun terakhir," sahut Andra langsung.
"Anda hanya tidak mengingat kejadian lima tahun terkahir?" tanya Dokter itu lagi memastikan dan dijawab anggukan oleh Andra.
"Cukup aneh, jika Anda mengalami amnesia dalam jangka waktu pendek, biasanya akan kembali setelah beberapa bulan. Dan biasanya ingatan yang hilang paling lama dua tahun terakhir. Untuk kasus Anda ini, cukup rumit. Seperti sengaja dihilangkan," ujar Dokter mengernyitkan dahinya.
Andra mengumpat dalam hatinya, semakin yakin jika semua ini benar-benar akal licik Denada. Jika benar semua terbukti Denada bersalah, ia pasti akan menghukum wanita itu dengan tangannya sendiri.
"Dokter, sebenarnya aku sendiri tidak tahu apa yang terjadi padaku. Aku hanya ingat aku terbangun dan aku lupa dengan kejadian lima tahun terakhir. Apakah Anda bisa mengembalikan sebagian memoriku yang hilang?"
__ADS_1
Happy Reading.
TBC.