
Andra terpaksa menunda pertemuannya dengan klien. Pasalnya Maminya mengatakan ingin membicarakan sesuatu yang penting. Jadi ia langsung pulang setelah mengajak keponakannya Clayton makan di McD sesuai keinginan anak itu.
"Akhirnya kalian pulang juga, Mami nggak sabar mau ngomong," kata Elmira menyambut kedatangan putra dan calon menantunya dengan heboh.
"Iya Mi, Mami apa kabar?" Denada sendiri langsung memberikan pelukan hangat serta cipika-cipiki kepada calon ibu mertuanya tersebut.
"Baik Nada, ayo duduk sini. Kalian ini emang cocok banget jadi pasangan. Mami nggak sabar buat melihat kalian menikah." Elmira meraih tangan menantunya lalu mengajaknya duduk.
"Masih lama Mi, kita juga kenal baru sebentar," sahut Andra, terlihat enggan untuk membahas hal yang menyangkut tentang hubungannya.
Jujur saja sejak tadi Andra tidak bisa fokus, ia terus kepikiran gadis kecil yang wajahnya sangat mirip dengannya. Serta Ibu gadis itu yang tidak bisa dilihatnya, padahal sudah sangat dekat.
'Sebenarnya siapa dia? Kenapa aku sangat penasaran?'
Andra tidak pernah seperti ini sebelumnya, yang seperti merasakan perasaan yang sangat aneh, dan ia sendiri pun tidak mengerti kenapa bisa seperti ini.
"Dua tahun itu waktu yang lama loh, Andra. Kamu ini gimana sih, selama ini Nada yang setia menemani kamu. Apalagi yang membuat kamu ragu?" tukas Elmira.
"Mi, menikah itu bukan sekedar menyatukan seorang pasangan. Tapi semuanya, Mi. Aku hanya merasa ini terlalu cepat, dan umurku baru 25 tahun. Aku masih punya mimpi yang pengen aku capai," kata Andra.
"Menikah juga bukan hal yang akan menjadi penghalang mimpi kamu. Justru dengan kehadiran Nada setiap hari dalam hidup kamu, dia bisa memberikan dukungan penuh," omel Elmira, merasa cukup kesal karena jika Andra disuruh menikah pasti jawabannya selalu seperti itu.
"Mami nggak bakalan ngerti apa maksud aku. Semua keputusan yang diambil secara terburu-buru, pasti tidak akan baik hasilnya," ujar Andra menghela nafas lelah.
"Andra benar Mi, sebaiknya kita jalani saja dulu, nanti kita-"
"Mami ngerti kok maksud kamu, tapi Mami juga ingin yang terbaik untuk kalian berdua. Mami cuma ingin melihat kalian menikah, apakah itu susah untuk dikabulkan?" ujar Elmira dengan suara lirihnya, tatapan penuh permohonan itu membuat Andra menghela nafas panjang.
"Terserah Mami saja. Aku menolak pun tidak akan ada gunanya." Andra langsung berlalu begitu saja, mood-nya langsung berubah buruk jika membahas tentang pernikahan yang menurutnya hal yang harus ia hindari.
"Mami, kayaknya Andra marah," kata Denada memandang kepergian Andra.
"Nggak apa-apa, bukannya dia memang seperti itu? Dia pasti setuju kok, nanti Mami yang bakalan ngomong sama orang tua kamu. Kamu mau kapan acaranya diadakan, Sayang?" ujar Elmira, mengabaikan Andra yang bersikap acuh, putranya memang selalu seperti itu.
"Aku sebenarnya nggak enak sama Andra, Mi. Tapi niat baik tidak boleh ditunda-tunda bukan?" Denada berbicara dengan nada lemah lembutnya, padahal saat ini ia ingin sekali melompat kegirangan karena sebentar lagi akan menjadi Nyonya Dewanata, istri sah Andra.
"Kamu benar, bagaimana kalau bulan depan?"
__ADS_1
"Secepatnya lebih baik, Mi."
_____****_____
Malam sudah datang, menggerus cahaya matahari bergantian sinar rembulan. Andra terlihat sudah rapi dengan pakaian kasualnya. Pria itu rupanya sedang ingin keluar karena merasa suntuk dirumah. Apalagi sejak tadi Maminya terus membahas tentang pernikahan.
"Mau kemana kamu?" tegur Elmira begitu melihat Andra melintas diruang tamu.
"Keluar." Andra menyahut singkat.
"Bulan depan."
Andra mengerutkan dahinya saat mendengar suara Maminya, ia menoleh seraya mengangkat alisnya.
"Mami sudah berbicara dengan orang tua Nada, dan mereka setuju kalau pernikahan kalian diadakan bulan depan," ujar Elmira tanpa perasaan sama sekali.
Andra mengepalkan tangannya erat, emosi langsung muncul dari raut wajahnya. Ia lalu memandang Maminya dengan cukup tajam. "Selalu begini 'kan? Aku yang hidup, tapi Mami yang sibuk mengatur. Tidak bisakah Mami membiarkan aku menentukan pilihanku sendiri? Mau sampai kapan, Mi?" bentak Andra.
"Kamu ini, kenapa malah bentak-bentak Mami? Sekolah tinggi-tinggi nggak ada gunanya. Yang sopan sama orang tua," sergah Elmira.
"Orang yang dihargai tergantung sikapnya, Mi. Apa aku juga harus menghargai Mami yang suka mengatur?" kata Andra untuk pertama kalinya melawan Maminya sendiri.
"Denada baik karena dia kaya, kalau dia miskin apa Mami akan mengatakan seperti itu juga?" sergah Andra dengan segala emosinya.
Elmira langsung bungkam, karena memang pada dasarnya wanita itu menyetujui hubungan Andra dan Denada karena wanita itu dari keluarga terpandang.
Andra tersenyum sinis, tanpa mengatakan apapun, ia langsung pergi begitu saja meninggalkan Maminya. Ia tidak peduli jika Maminya marah nanti, kali ini ia hanya ingin bebas.
Andra lalu mengambil mobilnya, mengendarainya dengan kecepatan cukup tinggi. Cuaca malam itu sebenarnya sangat tidak bersahabat karena awan tebal menyelimuti. Tapi Andra tetap memutusakan pergi, mencari tempat yang bisa membuatnya nyaman.
Namun, entah kenapa hari itu adalah hari yang sangat sial untuk Andra. Karena tiba-tiba saja ban mobilnya pecah ditengah jalan, membuat ia hampir terjatuh.
"Brengsek!" Andra mengumpat kesal seraya menendang ban mobilnya, mau tidak mau ia mengubungi montir untuk memperbaiki mobilnya.
"Halo?" kata Andra begitu panggilan tersambung.
"Halo, dengan bengkel AHAS disini. Ada yang bisa kami bantu?"
__ADS_1
"Ya, aku mengalami pecah ban di jalan Xxxx, bisa kirimkan montir untuk membantu?"
"Baik Tuan, kami akan segera mengirimkan pegawai kami. Mohon menunggu sebentar."
Andra mendengus kesal, hari ini benar-benar hari yang sangat sial untuknya. Kenapa harus menunggu lagi, ia sudah muak sekali rasanya jika mengingat terus masalah hidupnya.
_____****______
Menjadi seorang single mom bukanlah hal yang mudah untuk Rexha. Wanita itu masih sengat muda saat dirinya hamil dan masih tidak punya pengalaman apapun selain mengenal rasa cinta yang membuat ia buta akan segalanya. Rela menahan malu demi anak yang dikandungnya, dan yang lebih parah ia rela terusir dari rumahnya sendiri karena Ayahnya menolak dirinya saat ia hamil waktu itu.
Setiap hari Rexha harus bekerja keras untuk biaya hidupnya dan juga putrinya yang semuanya tidaklah murah. Ia bahkan rela bekerja kotor-kotoran dengan oli dan mesin demi biaya hidup mereka berdua.
Ya benar, Rexha bekerja sebagai seorang montir di bengkel yang dekat dari rumahnya. Ia bekerja sesuai kemampuannya, karena dulu pun ia juga pernah bekerja di bengkel waktu sekolah.
"Ibu, Ibu, lihat deh gambar aku. Bagus nggak?" Terdengar suara teriakan Andara, membuat Rexha yang tadinya sibuk langsung menoleh.
"Bagus, gambar siapa itu?" Rexha menanggapinya dengan senyuman, rasa lelah setelah bekerja seharian seolah langsung lenyap begitu melihat wajah putrinya.
Memang Rexha diizinkan membawa putrinya jika ia bekerja lembut. Karena jika malam hari Andara takut dirumah sendirian, jadi ia ikut Ibunya bekerja.
"Gambar Ayah," sahut Andara kembali menekuri buku gambarnya.
Rexha tersenyum kecut, setiap hari yang dibicarakan putrinya ini memanglah hanya tentang Ayahnya saja. Tapi Rexha begitu bangga dengan putri kecilnya, anak itu padahal saat ini sedang sakit, tapi putrinya sangat bersemangat. Andara seolah sedang menyembunyikan sakitnya dengan sikapnya yang manis, gadis kecil itu hanya tidak ingin membuat Ibunya sedih jika melihatnya sakit.
"Rexha, malam ini kamu tinggal aja dulu ini. Aku ada tugas diluar," ucap Gallen sang pemilik bengkel tempatnya bekerja.
"Dimana, Ko?" Rexha mengerutkan dahinya, disana masih banyak montir lain, tapi pemilik bengkel ini memang sering mempercayakan padanya jika ada tugas luar.
"Ada pelanggan mobilnya pecah ban. Kamu sendiri pasti bisa 'kan ngatasin sendiri?" ujar Gallen lagi.
"Ehm boleh, tapi aku boleh mengajak putriku 'kan, Ko?" tanya Rexha menyetujui saja, toh jika ada tugas luar upahnya lumayan banyak.
"Selama dia tidak merepotkan, boleh saja. Kamu kesana langsung ya, pakai motor bengkel. Pelanggan udah nunggu dijalan Xxxx."
"Baiklah, Ko. Aku akan langsung berangkat sekarang." Rexha mengangguk-angguk mengerti, ia harus bersemangat demi biaya operasi anaknya nanti.
'Aku harus semangat supaya biaya operasi Dara cepet ke kumpul. Ayo Rexha, semangat!'
__ADS_1
Happy Reading.
TBC.