After 5 Years Apart

After 5 Years Apart
A5YA 38. Aku Menunggumu Pulang.


__ADS_3

Rexha pikir kabar buruk yang baru saja didapatkannya itu hanya mimpi buruknya saja. Tapi ternyata semuanya adalah nyata, dimana pesawat yang ditumpangi Andra terjatuh ke lautan. Semua rentetan kejadian kemarin bergerak cepat memenuhi otak Rexha, kebahagiaan pasca pernikahan yang diidam-idamkan akhirnya jadi kenyataan.


Namun, dalam sekejap saja kebahagiaan itu hancur tanpa sisa. Yang ada ratapan dan kesedihan yang mendalam.


"Semua penumpang sepertinya tidak bisa diselamatkan, tim SAR hanya menemukan serpihan bagian pesawat yang meledak ditengah lautan."


"Lanjutkan pencarian, meksipun kemungkinannya kecil, mungkin dari mereka masih ada yang bertahan."


Rexha tidak sanggup mendengar percakapan yang menambah rasa sedih dihatinya, tapi itu tidak mungkin, ia harus ada disana menunggu Andra yang mungkin saja kembali lagi padanya.


"Andra, kamu sudah berjanji padaku untuk kembali pulang. Sekarang dimana kamu?" lirih Rexha memandang lautan yang begitu tenang seolah tidak sedang menyembunyikan apapun.


Rexha mengaitkan semua peristiwa itu dengan kejadian saat Andra pulang dan mengatakan kedinginan. Apakah itu karena Andra ada didalam sana?


"Andra, kembalilah pulang. Aku menunggumu dan putri kita. Bertahanlah untukku."


Rexha tidak henti mengumandangkan doa terbaik untuk suaminya, meski hatinya hancur dan harapan itu nyaris tidak ada, tapi Rexha tetap percaya kalau Andra selamat dari kecelakaan itu meksi sangat mustahil terjadi.


_______


Hari terus berganti dengan cepat tanpa bisa dicegah. Pagi berganti malam lalu kembali ke pagi, terus saja seperti itu tanpa ada waktu untuk berhenti.


Ini adalah hari ke-10 pencarian korban jatuhnya pesawat di lautan. Hampir semua korban sudah ditemukan tapi sampai saat ini belum ada tanda-tanda tentang Andra. Menurut laporan yang beberapa yang selamat dan lainnya dinyatakan meninggal.


Setiap hari Rexha tidak pernah absen untuk datang ke tempat penampungan menunggu suaminya kembali dan ia berusaha keras menipu dirinya sendiri jika semuanya terlihat baik-baik saja terutama jika di depan putrinya Dara meskipun hatinya hancur berkeping-keping.


Setiap hari juga, Dara selalu saja menanyakan tentang ayahnya yang tak kunjung kembali. Hal itu hampir saja membuat Rexha gila karena tak tega melihat wajah berharap putrinya. Apa yang harus dikatakannya nanti pada Dara jika ayahnya sampai sekarang belum juga kembali.


"Rexha, kayaknya hari ini kita harus pulang," kata Aleen yang hari itu datang untuk menemani Rexha, sedangkan Elmira masih terlalu syok dan saat ini sedang dirawat di rumah sakit.

__ADS_1


Aleen menghampiri Rexha yang masih terduduk di samping tenda pengungsian.


"Aku masih ingin disini, kak,," sahut Rexha begitu enggan untuk pergi.


Rexha terus saja memandang lautan yang begitu tenang dan indah. 'Apa disana lebih nyaman, Ndra? Sampai kamu tidak mau kembali padaku?'


"Kita harus pergi, Xha. percuma kita disini, karena Andra kemungkinan besar tidak ada didalam sana," tukas Aleen dengan suara tegasnya.


Rexha langsung menoleh, ia memandang Aleen dengan bingung. "Maksud kakak apa? Andra masih hidup, kak? Dimana dia sekarang?" Rexha memberondong Aleen dengan berbagai pertanyaan.


"Ini hanya kemungkinan, ada salah satu warga menemukan mobil Andra jatuh ke jurang dan mereka menemukan, Tom. Jika Tom ada disana, artinya Andra ada disana bukan?" ujar Aleen mengutarakan informasi yang baru didapatkannya.


"Kak Aleen benar-benar serius? Andra masih hidup, kak?" Rexha mengusap air matanya kasar, hatinya yang semula gelap mendadak diberikan secercah harapan.


"Berdoa saja, Rexha. Sekarang polisi sedang menyelidiki kasus ini, semoga Andra baik-baik saja," tutur Aleen tersenyum kelu. Hatinya sendiri belum terlalu yakin adiknya akan selamat karena Tom saja saat keadaannya sangat kritis.


Rexha mengigit bibirnya, nyatanya berharap lebih pun ia tidak boleh. Tapi ia tetap berdoa kalau Andra masih hidup dan pria itu baik-baik saja.


_______


"Bagaimana kondisinya?"


Disebuah ruangan yang redup, terlihat Andra sedang berbaring dengan tubuh yang terluka dibeberapa bagian. Pria itu sangat pucat sekali nyaris seperti mayat. Darah terlihat tidak henti keluar dari tangan Andra yang terluka lebar, tapi pria itu masih bernapas.


"Sangat mengkhawatirkan, kita tidak bisa melakukan tindakan itu sekarang. Dia harus sembuh dulu."


Seorang dokter yang berada didamping Andra menggeleng pelan, pertanda saat ini kondisi Andra benar-benar buruk.


"Membiarkannya sembuh hanya akan menambah masalah baru. Aku mau kamu melakukan tindakan itu sekarang juga!"

__ADS_1


"Denada, jangan gila kamu! Dia terluka parah, bagaimana bisa kita melakukan operasi yang jelas akan beresiko sangat besar. Dia bisa mati." Dokter itu menatap Denada kesal, ia seorang Dokter yang sudah disumpah untuk mementingkan keadaan pasiennya terlebih dulu.


"Kamu pikir aku peduli, Dav? Kalau Andra mati itu lebih baik, dari pada dia bahagia dengan perempuan sialan itu!" Denada membentak marah, lebih baik ia melihat Andra mati daripada ia tidak bisa memilikinya.


"Kenapa kamu jadi egois seperti ini, Nada? Jika pemerintah tahu kalau kamu yang sudah menyebabkan jatuhnya pesawat itu, kamu bisa dalam masalah besar," tuka David tak habis pikir dengan jalan pikiran Denada ini.


"Jika kamu punya uang, kamu punya kuasa, Dav. Aku sedang tidak butuh basa-basimu, aku hanya minta ketika Andra bangun, dia sudah lupa dengan perempuan sialan itu," kata Denada dengan gigi gemeletuk menahan amarahnya.


Sudah cukup selama ini Denada bersabar, sekarang tidak akan lagi. Andra harus menjadi miliknya apapun yang terjadi. Jika ia tidak bisa memilikinya, Rexha pun tidak boleh memilikinya.


Rasa cinta dan patah hati membuat Denada nekat untuk menyuruh salah satu penjahat khusus agar bisa membuat pesawat yang ditumpangi Andra jatuh. Tadinya ia hanya ingin Andra mati, tapi ternyata baginya terlalu mudah untuk melepaskan Andra begitu saja.


Denada memutar otaknya dan menemukan cara bisa merebut Andra kembali dengan menculik pria itu sebelum sampai ke Bandara dan menggantikannya dengan orang lain. Tapi sialnya saat penculikan itu terjadi Andra terjatuh dan mengalami luka parah.


"Ck, berapa lama yang harus aku hilangkan?" David berdecak, tidak bisa lagi membatah perintah Denada karena ia tahu wanita itu bisa melakukan apa saja termasuk menghancurkan karir kedokterannya.


"Hapus memori ingatannya selama 5 tahun terakhir, aku ingin dia melupakan semua tentang perempuan sialan itu dan anaknya," ujar Denada dengan sorot mata yang begitu kejam.


"Baiklah, tapi kamu harus ingat kalau tindakan ini sangat beresiko dan efeknya nggak main-main," kata Denada.


"Memangnya apa efeknya?" tanya Denada.


"Yang paling ringan kerusakan otak, dia bisa gila kalau berhenti mengkonsumi obat yang bakalan aku kasih. Obat itu berfungsi untuk menjaga dia tetap berada diingatan yang belum terhapus, tapi kalau berhenti ...." David tidak sanggup jika harus mengatakan kalau resiko terbesar penghapusan memori ingatan adalah meninggal dunia.


"Tidak masalah, yang jelas Andra harus menjadi milik aku."


Keputusan final sudah diambil dan Denada sudah siap dengan segala resiko apapun yang akan terjadi nantinya. Untuk saat ini ia hanya ingin Andra melupakan Rexha dan kembali padanya.


'Selamanya kamu hanya milikku, Andra. jangan coba-coba berpaling apa lagi berharap akan pergi meninggalkanku.'

__ADS_1


Happy Reading.


TBC.


__ADS_2