
Deg
Jantung Denada terasa seperti ingin copot melihat anak buahnya ternyata lebih berpihak pada Andra. Ia juga sangat terkejut, kenapa ia tidak tahu apa yang telah Andra lakukan sampai menyusun rencana serapi ini. Ia yakin jika ada seseorang yang telah mengkhianatinya.
"Aku tidak bersalah, aku melakukan ini gara-gara kamu, Andra. Aku mencintaimu, tapi kamu tidak pernah menghargaiku dan terus mengejar-ngejar ja lang sialan itu. Ini semua gara-gara kamu, Andra!" teriak Denada mencari celah agar Andra tidak menyalahkan dirinya.
"Manusia memang bertindak sangat bodoh dengan mempercayai seseorang yang tidak seharusnya ia percayai. Mulutmu dengan mudah mengatai orang lain dengan kata-kata yang seharusnya pantas untuk dirimu sendiri," ucap Andra mengepalkan tangannya dengan erat.
"Memang itulah dirinya, Andra! Wanita murahan, sampah yang mau saja kamu tiduri sampai punya anak. Aku jadi ragu kalau anak itu adalah anakku, mungkin saja kamu adalah laki-laki ke ser arghhhhhhhh!"
Denada tidak melanjutkan ucapannya, tatkala tiba-tiba saja Andra langsung menamparnya dengan keras. Belum puas sampai disitu saja, Andra menambah rasa sakit itu dengan mencekik Denada sampai wanita itu terhempas ke sofa yang ada dibelakangnya.
"Andra ... Sa-kit ...," Denada merintih kesakitan, matanya terbuka lebar melihat Andra yang dalam sekejap berubah menjadi pria yang mengerikan.
"Aku sudah mencoba bersabar karena kamu adalah wanita. Tapi sepertinya kesabaranku tidak berarti apapun untukmu, ya. Sekarang ... Aku akan menunjukkan siapa diriku yang sebenarnya," kata Andra dengan wajah bengisnya.
"Pegang dia!" titah Andra pada Han dan anak buah lainnya.
Han langsung bergerak, memegang kedua tangan Denada agar tidak bergerak.
"Andra! Apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku!" teriak Denada seraya berontak, ketakutan itu sangat jelas dari sorot matanya.
"Kamu yang telah memulai semuanya, jadi jangan salahkan aku jika aku membalasnya," ucap Andra dengan senyum sinisnya.
"Buka mulutnya!" titah Andra lagi.
__ADS_1
Denada menggelengkan kepalanya, kepanikan itu semakin meningkat tatkala melihat Andra mengambil obat yang selama ia berikan kepada pria itu.
"Andra, jangan ...." Denada begitu ketakutan, ia takut Andra akan bertindak nekat.
"Kenapa kita tidak sama-sama merasakan efek obat ini? Aku jadi penasaran bagaimana efeknya untuk orang normal. Mungkin saja bisa membuatmu gila," kata Andra.
"Brengsek! Ba ji ngan kamu Andra! Aku tidak-"
Hap
Andra langsung memasukkan tiga pil obat yang selama ini diberikan Denada saat mulut wanita itu terbuka. Denada terlihat ingin memuntahkannya, tapi Andra langsung menutup mulutnya dan hidungnya secara bersamaan.
Denada membesarkan matanya, dadanya mendadak sesak karena tidak bisa bernapas. Matanya bahkan sampai berair karena rasa sakit itu.
"Telan, jika kamu ingin bernapas," ucap Andra mengulas senyum liciknya.
Melihat Denada sudah menelan obat itu, Andra baru melepaskannya dan wanita itu terbatuk-batuk.
"Kurang ajar! Baji ngan kamu Andra, aku akan membalasmmu!" Denada mengamuk, ia menyerang Andra dengan memukuli pria itu.
Andra langsung sigap menahan tangan Denada lalu memelintirnya ke belakang dan mengunci pergerakannya.
"Akhhhhhhh, sakit!" teriak Denada meringis.
"Aku tidak bermaksud jahat kepadamu, tapi kamu sudah dengan lancang telah merusak hidupku. Sekarang kamu harus merasakan bagaimana rasanya hidup dengan kebodohan." Andra berbisik lambat-lambat ditelinga Denada, seolah seorang malaikat maut yang siap mencabut nyawa orang kapanpun yang dia inginkan. Setelah itu ia langsung memukul tengkuk Denada sampai wanita itu pingsan.
__ADS_1
"Bereskan dia!" Andra mengibaskan tangannya seolah jijik setelah bersentuhan dengan Denada.
Han mengangguk, ia memberikan gestur kepada anak buahnya yang lain untuk menyingkirkan Denada terlebih dulu. Karena setelah ini ada hal lain yang perlu mereka urus.
"Tuan," ucap Han.
"Ada apa?" tanya Andra.
"Tom sedang perjalanan menuju kota, beliau ingin menemui Nyonya Denada," lapor Han.
"Besok aku akan mengurusnya, malam ini aku akan istirahat sebentar," tutur Andra dibalas anggukan singkat oleh Han.
Andra sendiri segera berlalu dari ruangan itu, ia berjalan cepat menuju kamarnya. Sejak tadi ia merasakan ada yang tidak beres dengan tubuhnya, terutama di area kepalanya yang sangat sakit sekali. Andra sampai tidak tahan rasa sakit itu.
"Arghhhhhhhh!" Andra mengerang, ia memegang tembok yang ada disisinya sebagai tempat berpegangan.
Kepala Andra benar-benar sakit sekali, bukan sakit hanya berputar-putar layaknya sakit kepala biasa. Tapi sangat sakit hingga menembus ke dada dan bagian tubuh lainnya. Andra mencoba bertahan, mengepalkan tangannya erat untuk menahan rasa sakit itu.
Namun, tubuhnya ternyata tidak mampu untuk bertahan lebih lama. Beberapa saat kemudian darah kental kembali keluar dari hidungnya, dan tangannya yang tadinya berpegangan pada tembok tidak sanggup lagi untuk terus bertahan.
Hingga akhirnya Andra tumbang ke lantai dengan darah yang mengalir dari hidungnya.
Happy Reading.
TBC.
__ADS_1