
Andra terbangun dengan merasakan nyeri di seluruh tubuhnya. Ia sedikit kebingungan saat melihat dirinya sudah berbaring di ranjang. Pandangannya lalu menyoroti sekitarnya dimana ia menemukan Han yang tengah berbicara serius dengan seroang Dokter.
"Han," panggil Andra dengan suara serak.
Han yang tadinya bercakap-cakap langsung menoleh, ia bergegas mendatangi Andra untuk mengecek keadaan pria itu.
"Anda baik-baik saja, Tuan? Apa yang Anda rasakan?" tanya Han.
"Aku tidak apa-apa, kenapa aku ada disini?" Andra sepertinya lupa jika semalam ia baru saja pingsan dan ia justru bertanya kepada Han.
"Anda semalam pingsan di depan kamar. Saya yang memindahkan Anda kemari dan memanggil Dokter ahli syaraf untuk mengobati, Anda," ujar Han menunjuk seorang dokter yang terlihat sudah berumur yang sengaja ia panggil dari rumah sakit yang terkenal di kota mereka.
"Apa hasilnya?" tanya Andra, sudah siap menerima kabar terburuk yang akan disampaikan.
"Sebelumnya perkenalkan, nama saya Dokter Djaja. Saya sudah mendapatkan lampiran berkas Anda dari Dokter yang sebelumnya menangani Anda, Tuan Andra. Dari yang saya baca, Anda saat ini masih dalam efek penghapusan memori Anda. Dari yang saya baca, kasusnya cukup rumit," ujar Dokter Djaja diiringi hembusan napas berat.
"Apa itu artinya aku tidak bisa sembuh?" Andra langsung paham dengan ucapan Dokter itu.
"Bukan tidak bisa, tapi sedikit sulit. Semua prosedur kedokteran pasti ada efek sampingnya. Dan untuk kasus Anda saat ini 1 banding 1000 dari seluruh orang di dunia ini. Jika Anda berhenti mengkonsumsi obat itu, akan sangat berbahaya untuk nyawa Anda. Tapi jika Anda terus mengkonsumsinya, Anda tidak akan pernah mengingat masa lalu Anda yang telah dihapus," ujar Dokter Djaja juga masih mencoba memahami kasus Andra.
"Jadi, tidak ada obat untuk penyakitku?" tanya Andra to the point saja.
__ADS_1
"Saat ini memang belum ada, Tuan Andra. Yang bisa kami lakukan adalah memberikan terapi kepada Anda agar bisa mengingat sedikit demi sedikit memori ingatan Anda yang hilang. Tapi masalah utama disini, saya lihat dari ronsen dokter, jaringan otak Anda yang dirusak cukup banyak. Saya khawatir nanti jika ...." Dokter Djaja tidak sanggup mengatakan lebih lanjut karena hal itu bisa membuat pasien down.
Andra mengulum bibirnya, perasaannya campur aduk tidak karuan. Siapa yang tidak ingin hidup lama bersama keluarga kecilnya? Bahkan sampai sejauh ini Andra belum pernah merasakan bagaimana kebahagiaan itu. Tapi Tuhan sudah memberikannya ujian yang sangat berat sekali.
"Tapi Tuan?" Dokter Djaja kembali berbicara, membuat Andra menatapnya kembali.
"Ada apa?"
"Rumah sakit kami sedang bekerjasama dengan mahasiswa kedokteran yang sedang magang ditempat kami. Untuk kasus Anda ini memang belum ada obatnya selain terapi, tapi rumah sakit kami kemarin sedang melakukan uji coba pembuatan serum untuk memulihkan ingatan seseorang. Awalnya untuk penyelidikan polisi, kadang ada seseorang yang sengaja menghilangkan ingatan seseorang agar bisa menyembunyikan bukti. Dan saya rasa-"
"Maksudmu Tuan Andra harus mencoba serum yang belum teruji bagaimana hasilnya itu?" tukas Han, tampak tidak setuju sekali karena sudah bisa menebak arah pembicaraan dokter itu.
"Saya memang tidak menyarankan, tapi tidak ada salahnya mencoba jika Tuan Andra memang ingin mengingat masa lalunya," ujar Dokter Djaja.
"Benar, sebenarnya metode ini seperti operasi, Tuan. Kita hanya berusaha memberikan yang terbaik, tentang hasilnya nanti, itu tergantung pada yang maha kuasa," ujar Dokter Djaja.
Han terlihat ingin membantah lagi, tapi Andra mengangkat tangannya pertanda untuk diam.
"Berapa kemungkinannya untuk sembuh?" Andra langsung bertanya ke pokok intinya.
"60 banding 40."
__ADS_1
"Tidak ada gunanya, itu sama saja menyerahkan nyawa Tuan Andra dengan cuma-cuma." Han langsung bersuara begitu mendengar pernyataan dokter itu.
60 banding 40? Itu jelas sangat-sangat diragukan keberhasilannya. Bagaimana nanti jika Andra benar-benar meninggal karena prosedur itu gagal? Apalagi serum itu belum pernah diberikan kepada orang lain. Andra sama saja akan menjadi tikus percobaan.
"Ya, tapi Anda tahu sendiri bagaimana rumah sakit kami, Tuan Han. Kami pasti akan bertanggungjawab penuh jika ada kegagalan dalam operasi," kata Dokter Djaja.
"Ini bukan masalah uang, tapi masalahnya adalah nyawa!" seru Han dengan suara yang cukup keras.
Han mungkin terlihat sangat emosional, tapi sebenarnya ia memang tidak ingin melihat Andra kenapa-kenapa. Alasannya mungkin terdengar klise, karena Han begitu peduli dengan Andra karena sejauh ini Andra satu-satunya atasannya yang paling baik selama ia bekerja.
"Cukup, Han." Andra mengangkat tangannya sebagai tanda Han untuk diam.
"Aku tidak butuh apapun, cukup lakukan yang terbaik untuk penyembuhanku nanti," ucap Andra seraya menarik napasnya yang terdengar sangat berat.
"Tuan?" Han menggelengkan kepalanya tidak setuju.
Andra tidak menghiraukannya, pandangannya lurus kearah dokter Djaja.
"Jika memang prosedur itu nanti gagal, artinya memang umurku hanya sebatas waktu itu ...." Andra berkata lirih.
Happy Reading.
__ADS_1
TBC.