After 5 Years Apart

After 5 Years Apart
A5YA 35. Skidipapappppppp .....


__ADS_3

Rexha memejamkan matanya saat merasakan hembusan napas Andra menerpa lehernya, ia merasakan pria itu menyusuri pipinya dengan bibirnya yang basah. Sesaat kemudian Andra menyesap bibirnya perlahan, tidak lama hanya mengecupnya lalu melepaskannya, berkali-kali seperti itu seraya tangannya yang memeluk pinggang Rexha dengan mesra.


"Aku minta maaf," bisik Andra tiba-tiba.


"Hem?" Rexha membuka matanya, menatap Andra sendu.


"Jika ada hal yang paling aku sesali adalah masa lalu kita. Aku yang selalu melukaimu dan membuat kamu kehilangan masa depan. Jika aku bisa mengulangi waktu, aku tidak akan melakukan hal itu padamu. Andai aku bisa menjagamu waktu itu," kata Andra mengambil tangan Rexha lalu menciumnya begitu lama.


Andra benar-benar menyesal, andai dulu ia bisa menahan sedikit saja gelora masa mudanya, ia mungkin tidak akan merusak Rexha dan membuat wanita hancur sampai kehilangan masa depan. Sedangkan ia malah sibuk mengejar cita-cita dan Rexha yang berjuang keras mengurus anak mereka.


"Semuanya sudah terjadi, Andra. Jika aku bisa mengulang waktu, aku juga tidak mau melakukan hal itu. Tapi nasi sudah menjadi bubur, kita tidak bisa mengulanginya lagi. Kita hanya bisa menerima dan mengikhlaskan, bukankah kamu bilang kita membuka lembaran baru dengan cerita baru?"


Rexha sudah tidak ingin mengungkit-ungkit masa lalu mereka yang sangat menyedihkan itu. Sekarang ia dan Andra sudah menikah, ia ingin membuka lembaran baru dan melupakan segalanya.


Andra tersenyum, ia memegang kedua pipi Rexha. "Terima kasih, terima kasih udah mau menerima cowok brengsek kayak aku lagi," kata Andra tersenyum tulus.


"Ya gimana, udah terlanjur juga sih," goda Rexha memasang wajah pura-pura tidak berminat.


"Ck, lihat aku, Xha. Kamu beneran nggak serius nerima aku?" kata Andra sedikit cemberut.


"Kalau boong nggak mungkin aku mau nikah sama kamu. Udah ah, aku mau ganti baju dulu," kata Rexha mendorong Andra menjauh tapi pria itu justru menahannya.


"Siapa bilang yang kamu boleh ganti baju?" Andra memandang Rexha sangat serius, ia merangsek maju dan kian menghimpit wanita itu di meja rias.


"Ka-mu mau apa? Nanti Dara bangun," kata Rexha terbata-bata, ia memegang pinggiran meja rias itu untuk pertahanannya akan godaan Andra.


"Sekarang dia belum bangun," ucap Andra, ia semakin menghimpit Rexha, tangannya tidak tinggal diam menyentuh pinggang Rexha dengan lembut.


"Lalu?" Rexha memberanikan diri untuk menatap mata hitam Andra. Dan sialnya ia langsung terjebak oleh sorot mata itu hingga ia seperti berhenti bernapas.


"Aku belum punya anak laki-laki," kata Andra.


"Eh?"


"Ayo membuatnya satu."


Rexha membesarkan matanya mendengar permintaan frontal Andra itu. Ia terdiam menatap Andra yang wajahnya sangat dekat dengannya itu. Pria itu tersenyum dan mendekatkan wajahnya membuat Rexha memejamkan matanya rapat.

__ADS_1


Beberapa detik kemudian, Andra sudah menempelkan bibirnya diatas bibir Rexha dengan lembut. Tapi lama-kelamaan ciuman itu semakin cepat membuat Rexha cukup kewalahan mengimbanginya. Padahal seingatnya dulu Andra tidak seagresif ini.


"Andra!" Rexha memekik pelan saat Andra menciumi lehernya, terkadang menjilatinya dan menggigitnya sehingga menimbulkan bercak-bercak kemerahan.


"Pukul saja aku jika keterlaluan. Xha, aku minta izin, bolehkah aku melakukannya?" Andra bertanya meksipun saat ini gairahnya sudah di ubun-ubun. Napasnya kian memburu tapi tidak ingin gegabah dan menyakiti istrinya itu.


Rexha tersenyum, ia memegang pipi Andra sebelum mengangguk sebagai tanda persetujuan.


Mendapatkan lampu hijau, Andra tidak membuang waktunya, ia kembali mencium Rexha lebih panas dari sebelumnya lalu menggendong wanita itu dan membawanya ke ranjang. Andra sangat berhati-hati, ingin membuat pengalaman Rexha sangat berkesan.


"Sakit?" tanya Andra saat melihat Rexha meringis begitu ia melakukan penyatuan pertama kali setelah menikah.


"Sedikit," jawab Rexha menahan malu, ternyata meksipun sudah tidak gadis lagi rasanya sangat sakit seperti saat pertama kali melakukannya.


"Aku akan melakukannya perlahan," bisik Andra.


Sebuah cakaran yang mendarat sempurna dipunggung Andra itu menjadi saksi pergumulan mereka yang panas setelah sah menjadi suami istri. Meksipun mereka pernah melakukannya, tapi bercinta setelah hubungan yang resmi membuat rasa puas dan bahagia itu bertambah berkali-kali lipat.


Sepanjang pergumulan mereka, tidak sedikitpun Rexha memejamkan matanya. Ia ingin selalu mengingat sosok pria pertama yang telah merebut seluruh hatinya itu.


Dara terlihat sedang bersendakap seraya memasang wajah yang sangat serius. Ia memandang kedua orang tuanya yang tampak salah tingkah karena tatapan Dara yang seperti menuduh.


Tadi ketika bangun tidur, Dara tidak menemukan kedua orang tuanya dan malah melihat kedua orang tuanya tidur saling berpelukan. Membuat Dara merasa cemburu tentunya.


"Dara sudah lapar belum? Kita makan di luar ya?" bujuk Andra merasa mati kutu juga ditatap seperti itu oleh anaknya sendiri.


Mereka berdua benar-benar seperti maling yang tertangkap basah.


"Orang dewasa itu memang sangat pintar berbohong ya. Tadi katanya mau tidur bareng aku, tapi kenapa ayah sama ibu malah meninggalkan aku sendiri?" protes Dara dengan wajah yang bersungut-sungut kesal.


"Tidak, siapa bilang ayah meninggalkan Dara, ayah tadi ada kok, tapi ibu kamu itu katanya takut tidur sendirian. Jadi ayah temani dulu, jangan marah ya anak manis," kata Andra mencari-cari alasan.


Rexha menatap Andra tidak percaya, apa-apaan? Sejak kapan ia tidak berani tidur sendiri? Bukannya Andra yang sibuk mengajaknya skidipapappppppp sampai ia lelah dan ketiduran?


"Oh, itu yang menjadi alasan ayah dan ibu keramas?" celetuk Dara masih dengan sikapnya.


Andra dan Rexha saling pandang, mereka benar-benar seperti sedang diulti oleh anaknya hingga tidak punya bahan untuk membatah.

__ADS_1


"Kenapa kalau keramas, Sayang? Bukannya itu sah saja?" tanya Rexha mengernyitkan dahinya bingung.


"Ya, pasti sebentar lagi ayah dan ibu akan memberikanku adik. Seperti ibunya Rara, katanya Rara setiap hari ayah ibunya itu keramas dan dia punya adik," ceplos Dara jujur saja.


"Jadi benar 'kan kalau ayah dan ibu akan memberikanku adik?" tanya Dara memandang kedua orang tuanya begitu serius.


Andra salah tingkah sendiri, ia menggosok rambutnya yang tidak gatal itu.


"Kamu yang jawab, Xha," kata Andra benar-benar mati kutu dibuat putrinya.


"Kenapa aku? Ya kamulah, itu anak kamu," cetus Rexha juga bingung harus menjawab apa, putrinya ini terlalu pintar untuk dibohongi.


Andra meringis, memang benar jika anak genius seperti Dara ini sangat susah untuk dibohongi. Jadi lebih baik jujur saja dari pada bingung, mereka juga bisa menjelaskannya perlahan-lahan.


"Kalau ayah dan ibu kasih Dara adik, Dara setuju nggak?" tanya Andra.


"Mau, tapi kalau adiknya perempuan, adiknya nggak boleh lebih cantik dari aku. Terus kalau laki-laki nggak boleh lebih pinter dari aku, pokoknya ayah dan ibu nggak boleh bagi kasih sayang, semuanya harus nggak boleh lebih dari aku."


Tawa Andra pecah mendengar jawaban putrinya. "Kamu lihat Rexha? Dia sangat licik sepertimu," celetuk Andra melirik Rexha dengan tatapan menggodanya.


Rexha hanya mencibir pelan, ia juga heran kenapa putrinya bisa berpikiran jauh seperti itu.


"Dara tenang saja, Dara itu anak pertama ayah dan ibu. Anak pertama adalah cinta pertama orang tuanya, nama Dara akan selalu ada disini," ujar Rexha menunjuk ke arah dadanya dan Andra.


"Yes, kalau begitu aku mau punya adik," kata Dara sudah merasa tenang mendengar ucapan ibunya.


Andra dan Rexha hanya bisa tertawa melihat tingkah Dara yang mengemaskan itu. Mereka sibuk menciumi Dara dengan penuh cinta sembari bercanda pada sore yang cerah. Rexha benar-benar bahagia karena memiliki keluarga yang utuh. Tidak ada yang yang lebih membahagiakan dari hal itu semua bagi Rexha.


Namun, kehangatan itu harus terusik saat ponsel Andra berdering. Pria itu melihat siapa yang menghubunginya lalu mengangkatnya.


Rexha tidak tahu apa yang sedang dibicarakan, tapi beberapa saat kemudian Andra memandangnya dengan raut wajah yang tidak biasa.


"Malam ini kayaknya aku harus pergi."


Happy Reading.


TBC.

__ADS_1


__ADS_2