
Sesampainya dirumah sakit, Andra berteriak-teriak memanggil tenaga medis agar Andara segera ditangani. Pria itu tahu bagaimana sakitnya saat rasa sesak yang begitu menghimpit di dada. Seharusnya Andara tidak boleh terlalu lama terkena angin malam, hal itu memang bisa mempengaruhi kondisinya.
"Suster, suster, tolong bantu anak ini," ucap Andra dengan nada paniknya.
"Apa yang terjadi?" Tenaga medis juga langsung sigap, meminta Andra meletakkan Andara di ranjang rumah sakit lalu memberikan oksigen untuk membantu pernapasan gadis kecil itu.
"Apa pasien memiliki penyakit jantung?" tanya Suster itu.
"Ya, dia punya, Dokter." Andra yang menyahut karena Rexha masih terlihat sangat syok.
"Baik, kami akan memanggilkan Dokter dulu, orang tua pasien bisa menunggu diluar," ujar Suster itu seraya berlalu pergi.
Andra dan Rexha menurut tanpa memprotes, tetap disana juga tidak akan membuat Andara sembuh. Mereka justru akan membuat Dokter merasa terganggu nantinya.
"Dara ..." Rexha sejak tadi masih tidak berhenti menangis, setiap melihat putrinya sakit, hati wanita itu seperti hancur. Ingin sekali menggantikan rasa sakit itu agar putrinya tidak lagi merasakan sakitnya.
"Dara pasti baik-baik saja," tutur Andra mengusap pelan lengan Rexha, bermaksud memberikan wanita itu kekuatan.
Rexha tidak menyahut, pikirannya benar-benar sangat kacau sekali sekarang ini. Otaknya hanya dipenuhi dengan bayangan tentang putrinya didalam sana.
Tak lama kemudian, Dokter yang menangani Andara langsung keluar, membuat Andra dan Rexha langsung bangkit.
"Dokter, bagaimana keadaan putriku?" tanya Andra.
"Nyonya Rexha, bukankah saya sudah mengatakan sebelumnya, Andara harus segera dioperasi dan kondisinya harus selalu dijaga untuk selalu tetap vit," tutur Dokter Gilbert, yang memang sudah menangani kasus Andara.
Rexha mengigit bibirnya bersamaan air matanya yang kembali meleleh. Rasanya tidak habis air matanya ini untuk terus mengalir.
"Dokter, beri aku waktu. Aku sedang mengusahakannya. Kondisi putriku baik-baik saja 'kan?" ucap Rexha dengan raut wajah sedihnya.
"Untuk saat ini masih bisa tertolong, tapi suatu saat nanti Andara akan tetap seperti ini jika kondisinya memburuk. Saya tahu Andara masih muda, tapi umur tidak ada yang tahu bukan? Kita harus segera mengobatinya sebelum terlambat," ujar Dokter itu lagi, ia juga merasa kasihan melihat Rexha yang bertahun-tahun menahan kesedihan jika penyakit putrinya kambuh.
"Berapa biayanya?" Andra langsung menyela begitu saja karena Rexha bungkam.
__ADS_1
Rexha terkejut mendengar suara Andra, ia lupa jika pria itu masih ada disana.
"Andra, kamu tidak-"
"Dokter, berapa biaya yang dibutuhkan untuk operasi jantung?" Andra tidak menghiraukan Rexha, ia hanya bertanya pada Dokter yang menangani kasus Andara itu.
"Biayanya 200 juta, itu belum termasuk biaya rawat inap dan juga pacemaker untuk digunakan pada tubuh Andara pasca operasi," sahut Dokter.
"Aku akan menyiapkan uangnya, kapan operasinya bisa dilakukan?" ucap Andra tanpa pikir panjang.
Andra tahu bagaimana sakitnya punya penyakit jantung, dan ia tidak mau membuatkan anak manis seperti Andara juga merasakannya.
"Andra." Rexha memberanikan diri untuk memegang tangan Andra, ia menggeleng tidak setuju karena uang itu sangat banyak sekali. "Aku akan mengusahakan uangnya ada untuk biaya operasi itu," kata Rexha.
"Maksudmu ingin membuat Andara tersiksa semakin lama?" Andra cukup kesal dengan keputusan Rexha itu. "Rexha, kamu terkadang terlalu egois. Jika kamu memang tidak menyukaiku, itu adalah masalahmu. Jangan terlalu memikirkan dirimu sendiri sampai kamu tidak berpikir kalau saat ini Andara kesakitan. Dan aku tegaskan padamu, aku melakukan ini untuk Andara bukan untukmu," bentak Andra dengan nada yang cukup emosional.
Rexha tidak bisa berkata-kata mendengar ucapan dari Andra. Ia seperti tertampar oleh ucapan pria itu. Apakah benar dirinya terlalu egois?
"Dokter, kapan Andara menderita penyakit ini?" tanya Andra saat ia sedang berdua dengan Dokter, sementara Rexha sedang menemani Andara dikamarnya.
"Saya sudah menangani kasus Andara dari anak itu berumur 1 tahun. Bukannya Ayahnya sudah lebih tahu?" Dokter itu mengerutkan dahinya, merasa aneh dengan pertanyaan Andra.
"Oh bukan, aku hanya temannya," sahut Andra meski tidak keberatan jika disebut sebagai Ayahnya Andara, tapi ia tetap harus memastikan segalanya.
"Saya pikir Anda Ayahnya Andara, wajah kalian sangat mirip." Dokter itu mengerutkan dahinya semakin dalam.
Andra semakin curiga, karena bukan satu orang yang mengatakan ia mirip dengan Andara. Ia harus mengorek informasi dari Dokter itu lagi.
"Apa sebelumnya Rexha tidak pernah datang bersama Ayahnya Andara?" Satu pertanyaan yang cukup menggelitik dibenak Andra langsung ia tanyakan.
"Seingat saya Nyonya Rexha memang selalu sendiri jika kemari." Dokter itu menyahut singkat.
Andra mengangguk mengerti, dugaannya semakin menjadi-jadi. Dari mulai wajah mereka yang mirip serta suami Rexha yang tidak pernah datang ke rumah sakit untuk menemani Andara berobat. Bukankah jika memang pria itu ada, pria itu pasti menemani anak dan istrinya bukan?
__ADS_1
"Saya sudah melakukan pengecekkan kepada Andara, saya rasa besok operasinya sudah bisa dilakukan," kata Dokter itu mengembalikan Andra dari lamunannya.
"Baiklah Dokter, bolehkah aku menanyakan satu hal?" ujar Andra dengan raut wajah seriusnya.
"Apa itu?"
"Bagaimana anak sekecil Andara bisa mempunyai penyakit itu? Bukankah usianya terlalu dini untuk memiliki penyakit itu?" tanya Andra benar-benar sangat serius kali ini.
"Ya, semua itu bisa terjadi karena penyakit Andara ini adalah penyakit jantung bawaan, Tuan. Biasanya hal seperti ini turunan dari Ayahnya karena 99 persen gen yang mengalir dalam diri anak adalah darah sang Ayah."
Andra langsung menghempaskan tubuhnya ke belakang mendengar jawaban lugas dari Dokter itu. Dadanya mendadak sakit sekali karena kini semua semakin terang benderang.
Bukan hanya wajah yang mirip, tapi juga penyakit yang diderita Andara memang sama persis seperti penyakitnya waktu kecil. Dan semua itu karena keturunan dari Ayahnya langsung. Serta ucapan dokter yang mengatakan kalau Rexha tidak pernah didampingi suaminya saat membawa Andara berobat. Jadi kemungkinan besar jika Andara itu adalah anaknya memang benar.
Andra harus segera memastikannya dan ia yakin Rexha tidak akan bisa mengelak kali ini.
"Tuan, apakah Anda baik-baik saja?" Dokter itu tampak panik melihat Andra yang seperti kesusahan bernafas.
"Tidak apa-apa, Dokter. Aku akan menemui Andara dulu. Operasinya akan dilangsungkan besok bukan? Apa aku perlu menyiapkan persediaan stok darah untuk operasi itu? Siapa tahu golongan darah Andara langka dan sulit didapatkan." Andra pintar untuk menggali informasi tanpa kentara, ia menggunakan otak jeniusnya untuk mencaritahu satu poin penting lagi agar meyakinkan hatinya.
"Oh tidak perlu, Tuan. Stok darah untuk Andara masih sangat cukup. Golongan darahnya pun tidak langka," sahut Dokter itu.
"Apa golongan darahnya?"
"Golongan darah Andara, A Rhesus negatif."
Andra terkejut, tapi sesaat kemudian ia tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat.
"Rexha ... Alasan apalagi yang akan kamu katakan sekarang?"
Happy Reading.
TBC.
__ADS_1