
Setelah kejadian semalam, Claire berhasil tidur saat pukul 4 dini hari. Tapi tidak lama. Pukul 6 pagi ia sudah bangun.
Mata pandanya terlihat mencolok saat ia baru bangun tidur. Ibunya marah-marah karena kemarin ibunya juga sudah menunggu hingga pukul 10 malam tetapi Claire belum pulang.
Pikiran negatif telah menguasai pikirannya. Ibu pasti sudah berpikir yang tidak-tidak. Jangan sampai tetangga tau hal ini. Apa kata orang nanti.
"Kemana saja kau semalam?" tanya ibu
"Aku sudah bilang kan ibu, Aku dan Claude pergi karena ada keperluan mendadak dengan teman" jawab Claire dengan pandangan mengantuk
"Keperluan apa hingga pulang tengah malam, hah?"
"Ibu tidak perlu tau keperluan apa itu"
"Ouh, jangan-jangan kau bermalam dengan lelaki yang selalu menjemputmu itu ya?"
"Mana mungkin. Aku tidak melakukan apa-apa. Singkirkan pikiran negatif ibu"
"Jangan berbohong" bentak ibu pada Claire
"Aku tidak berbohong. Dia menjemputku karena kami punya teman yang sama. Dan aku pulang malam karena urusan kami panjang"
"Bagaimana kau bisa membuktikan ucapanmu?"
"Kau bisa bertanya langsung padanya, bu"
"Oh ya?"
"Tentu saja"
"Jangan coba berani berbohong pada ibu"
"Percaya atau tidak percaya tergantung ibu sendiri. Aku sudah berkata jujur"
"Kali ini ibu percaya padamu, Claire. Lain kali jangan seperti ini lagi"
"Itu tergantung juga bu"
"Terserah. Ibu sudah menyiapkan makanan untukmu. Segera sarapan atau perutmu akan sakit" ucap ibu meninggalkan Claire sendirian di kamarnya
Claire segera mendi untuk membersihkan dirinya dan sarapan masakan ibu. Masakan ibu selalu sempurna di lidahnya. Dan selalu jadi yang terbaik.
Saat Claire kembali ke kamarnya untuk rebahan, ia mendapati ponselnya bergetar menandakan ada pesan masuk. Pesan itu berasal dari nomor tidak dikenal. Kira-kira siapa ya?
^^^"Selamat pagi, Claire. Apa kabarmu?"^^^
^^^"Baik, siapa ini?"^^^
^^^"Aduh. Apa kamu tidak tau? tebak saja deh kalau begitu"^^^
^^^"Yang jelas kau buka atasanku. Karena atasanku selalu memanggilku nona Claire"^^^
^^^"Tepat sekali. Lalu siapa aku?"^^^
^^^"Mungkin Selby atau Haran"^^^
^^^"Tebakanmu benar. Aku Selby, bukan Haran"^^^
^^^"Sudah kuduga. Pasti salah satu dari kalian"^^^
^^^"Hahaha, instingmu bagus. Apa kau sudah dengar, Claire?"^^^
^^^"Apa?"^^^
__ADS_1
^^^"Besok malam kita diletakkan pada satu misi oleh Tuan Shibe"^^^
^^^"Oh ya?"^^^
^^^"Ya!! dia bilang itu misi mencari tau identitas seorang profesor rahasia"^^^
^^^"Oh"^^^
^^^"Aku senang sekali saat mendapatkan kabar itu. Sampai bertemu nanti malam"^^^
^^^"Iya"^^^
Aktivitas bertukar pesan antara Claire dan Selby berakhir. Ternyata ini yang disebut oleh Tuan Shibe kemarin. Bantuan partnernya ternyata adalah Selby. Baguslah, melakukan misi pada orang yang dikenal akan lebih mudah.
...****************...
Ibu menyuruh Claire pergi berbelanja ke supermarket terdekat. Claire pergi berjalan kaki. Letak supermarket tidak terlalu jauh. Bisa juga dibilang dekat.
Saat ia sudah sampai di supermarket, ia sibuk memilih rasa makanan.
"Rasa soto atau kari ayam ya?" gumamnya
Seseorang tidak sengaja menenggor punggung Claire. Tidak terlalu keras. Tapi berhasil membuat barang yang dipegang Claire terjatuh.
"Maaf nona"
"Tidak mengapa"
Orang yang menenggornya adalah seorang pria. Usianya masih muda. Pria itu membantu Claire mengambil barang-barang yang berjatuhan.
Pandangan Claire terpaku pada paras pria itu. Bukannya terkejut kerena ketampanannya, tetapi...
"Allan" ucap Claire memasang ekspresi terkejut
Claire segera pergi meninggalkan Allan. Pergi keluar supermarket. Hendak kembali kerumahnya. Ekspresinya seperti malas melihat Allan. Ada konflik diantara mereka berdua.
Saat ia hendak pergi. Allan menarik tangannya. Claire semakin risih melihat hal ini. Ia menarik tangannya kembali dengan kasar.
"Apa yang kau inginkan?" tanya Claire memalingkan muka dari Allan
Allan masih terdiam ditempat. Tidak berkata sepatah kata pun. Kemungkinan besar ia bingung harus berkata apa untuk menjawab pertanyaan Claire.
"A-ano" jawab Allan patah-patah
"Jika tidak ada yang perlu dibicarakan, lebih baik aku pergi" Claire hendak meninggalkan Allan lagi. Tetapi Allan menarik tangannya
"Apa kau mau menjadi kekasihku lagi?" ucap Allan dengan nada cepat
"Apa maksudmu?"
"Aku sudah mengucapkannya barusan"
"Beberapa bulan lalu kau juga bertanya seperti ini. Jawabanku masih sama. TIDAK!!!"
"Aku mohon Claire. Waktu itu hanyalah kesalah pahamanmu saja" Allan memohon pada Claire dengan berjongkok dan memegang tangan Claire erat
"Apa alasanmu meminta semua ini?"
"Karena aku sangat mencintaimu, Claire. Kumohon terima permintaanku"
"Dengan cara mengemis? jangan harap aku mau menjadi kekasihmu!"
"Kenapa? kenapa kau selalu menolaknya?"
__ADS_1
"Karena... karena aku sudah memiliki kekasih"
Kini Allan memasang raut wajah terkejut. Ia sangat-sangat terkejut mendengar Claire gadis kesayangannya memiliki seorang kekasih dan itu bukan dia.
"Benarkah?" tanya Allan tak percaya
"Untuk apa aku berbohong? Kalau begitu aku pamit pergi dulu"
"Tunggu, bisa kau buktikan apabila kau sudah memiliki seorang kekasih, Claire?"
Claire memasang wajah datar dan dingin. Berusaha menyenbunyikan perasaan bingungnya. Siapa yang harus ia hubungi untuk membuktikan kepada mantan kekasihnya apabila ia memiliki seorang kekasih?
"Bagaimana ini? Siapa yang harus aku hubungi? Kenapa aku harus berbohong pada Allan? Sekarang aku terjebak dalam kebohonganku sendiri" ucap Claire dalam hati
Ia menghubungi Claude agar mau membantunya menyingkirkan mantan kekasihnya. Dan mencoba menciptakan keadaan yang bisa dipercaya.
"Dengan senang hati" Claire menjawab pertanyaan Allan sebelumnya
Sebelumnya ia telah mengirim pesan pada Claude. Kemudian ia menelponnya agar keadaan semakin terlihat nyata.
"Halo, sayang. Aku bertemu mantan kekasihku di supermarket dekat rumahku. Datanglah kesini untuk membuktikan apabila aku sudah memilikimu" ucap Claire di tengah telponnya dengan Claude
"Ya sayang. Aku akan segera datang ke sana"
Panggilan ditutup. Sekarang tinggal menunggu kedatangan Claude agar Allan percaya pada ucapannya. Dan agar Allan tidak lagi mengejar cintanya.
Menunggu kedatangan Claude juga membutuhkan waktu yang cukup lama. Sebenarnya Claire tidak mau merepotkan partner kerjanya di urusan pribadinya. Tapi apa boleh buat? dia tida memiliki nomor ponsel Haran, teman lelakinya.
Sebuah mobil datang menghampiri Claire dan Allan yang berdiri di tengah jalan. Lihatlah wajah Allan yang tidak percaya itu. Tenyata mantan kekasihnya benar-benar sudah memiliki kekasih lagi. Penggantinya.
"Halo sayang" sapa Claude
"Hallo juga sayang, ini dia pria yang aku ceritakan tadi. Dia mantan kekasihku. Namanya Allan. Allan terus mengerjar cintaku. Padahal aku sudah memilikimu" kata Claire dengan nada bermanja pada Claude
"Hai bro. Kau mantan kekasihnya Claire?"
"Iya bro. Ku kira Claire masih belum memiliki seorang kekasih. Ternyata sudah ya. Jaga dia baik-baik bro. Gantikan aku" Allan berkata pada Claude sambil menjabat tangannya
"Sudah pasti bro"
"Kalau begitu aku pamit pergi dulu. Terimakasih atas waktunya. Sampai jumpa Claire"
Allan meninggalkan Claude dan Claire. Drama kisah cinta mereka berhasil dijalankan. Sebagai sesama agen organisasi rahasia, memang seharusnya bisa membantu satu sama lain.
"Maaf Claude. Aku harus menarikmu pada urusan pribadiku"
"Tidak apa-apa Claire. Sesama partner harus saling membantu. Jika aku butuh bantuan, aku juga akan menghubungimu"
Claire mengangguk sebagai ucapan iya kepada Claude. Dia benar. Sesama partner harus saling membantu.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Sampai jumpa, Claire. Besok malam kita akan bertemu lagi" Claude pergi menaiki mobilnya. Meninggalkan Claire sendirian. Karena gangguan kecil tadi, ia jadi belum membeli bahan-bahan yang diperlukan ibu.
Claire kembali kedalam supermarket. Membeli barang yang tadi belum sempat ia beli. Sungguh merepotkan sekali. Jadinya harus membuang banyak waktu kan~ huft.
Di perjalanan pulang. Ia jadi kepikiran tragedi tentang Allan si mantan kekasihnya tadi. Claire terus merenung di jalan. Hingga ia memutuskan untuk berhenti dan duduk di sebuah tempat dimana ada padang rumput hijau luas dan pohon rindang ditengah-tengahnya.
"Apa yang membuat Allan selalu mengejarku ya?" gumam Claire di tengah lamunannya
"Aku yakin dia pasti sangat kecewa saat dia tau aku memiliki kekasih. Astaga. Andai dia tau yang tadi itu hanya drama antar partner kerja. Hahaha~"
"Lebih baik aku pulang. Tidak boleh membuang waktu terlalu banyak. Ibu pasti akan memarahiku lagi karena aku pulang terlambat"
Claire pergi meninggalkan pohon rindang yang sempat menjadi sandaran lamunannya. Mungkin tempat itu spesial bagi seorang Claire. Biarlah.
__ADS_1