Agen Polisi Rahasia

Agen Polisi Rahasia
Sebelum Hari Keberangkatan


__ADS_3

Besok adalah hari dimana Claire akan kembali menuju Markas Kepolisian Rahasia. Satu hari sebelum besok tiba, seharian Claire berpikir untuk mencari alasan yang tepat.


Orang tuanya belum tentu mengizinkannya pergi kesana lagi dalam waktu sedekat ini setelah baru saja kembali. Kenapa juga misi diletakkan di ibukota? tempat itu jauh sekali. Pergi kesana membutuhkan izin lebih dulu.


Coba saja kalau misi itu berada di sekitar markas utama organisasi, tempatnya bisa ditempuh dengan kisaran waktu dua sampai tiga jam. Dan juga lebih mudah untuk pergi kesana.


Claire tidak sepenuhnya memahami maksud ibunya tidak mengizinkannya pergi. Andaikan saja dia tau ini soal pekerjaan masih memungkinkan ibunya mengizinkan. Sayangnya Claire beralasan pergi menjenguk kakak Claude yang sedang sakit.


Awalnya dia hanya beralasan namun rupanya kakak Claude, Minota benar-benar sakit. Yah walaupun disisi lain Claire tau itu hanya rekaan belaka. Kakak Claude hanya berakting. Tetapi begitu yang terlihat.


Malam sebelumnya Claire telah mempelajari pengetahuan tentang cara menjinakkan bom dan meretas jaringan lokal. Dia juga menguji pemahamannya dengan pengetahuan yang dia ketahui.


Keduanya menarik. Patut dicoba saat dalam misi berbahaya atau menegangkan. Bagi Claire hal ini memiliki sisi keseruannya tersendiri. Dia punya pandangan berbeda dari pada umumnya sejak memasuki jenjang sekolah menengah pertama.


Entah bagaimana otaknya mengolah informasi, Claire selalu memiliki pandangan berbeda dari teman-temannya. Pandangan Claire ini bisa dibilang diluar nalar sehingga mendapat tentangan dari teman-temannya.


Sejak saat itu Claire lebih memilih menyendiri, hingga salah satu gadis mendekatinya. Dialah Hana. Teman sekaligus sahabat baiknya yang selalu bisa diajak berdiskusi dan seseorang yang bisa menerima pandangan Claire. Hana tipe gadis yang mewajarkan keunikan setiap orang.


Siang ini Claire sedang duduk diatas kursi meja belajarnya. Tangannya memegang bolpoin dan diatas meja terdapat sebuah buku jurnal.


Sedari tadi Claire hanya memainkan bolpoin tersebut dengan jemari tangannya. Seharusnya dia menulis sesuatu dibuku jurnal tersebut tetapi Claire bingung harus memulai dari mana.


Tiba-tiba terpikir olehnya untuk menuliskan catatan mengenai pekerjaan dan jabatannya. Walaupun mungkin ini sedikit berbahaya karena masyarakat sipil seperti ayah dan ibunya bisa tahu, tetapi ini juga akan berguna nantinya.


Jika Claire tidak bisa menjelaskan tentang pekerjaannya nanti mungkin jika mereka membaca catatannya maka mereka akan mengerti. Buku yang akan menjelaskannya. Menggantikan posisinya yang seharusnya.


Claire mulai menuliskan bagaimana ia masuk kedalam organisasi rahasia tersebut, misi apa saja yang telah ia lakukan dan keberhasilan apa saja yang telah ia capai, masa dimana dia menjadi komandan angkatan junior.


Itu catatan yang cukup panjang namun akan menjadi berguna jika dibaca diwaktu yang tepat.


Claire menutup buku jurnal miliknya setelah selesai menuliskan begitu banyak paragraf. Dia juga menyisipkan pesan dan kesan diakhir paragraf. Surat khusus untuk ayah dan ibunya. Ini terasa menyedihkan.


Claire menyimpan buku jurnalnya di sebuah kotak yang beberapa centimeter lebih panjang dari ukuran buku. Diatasnya dia menyimpan bolpoin yang dia gunakan untuk menulis catatan jurnal tersebut.


Kotak tempat buku disimpan dihias sesuai dengan selera Claire. Ayah dan ibunya mengetahui bagaimana selera Claire dalam menghias. Kotak berwarna biru pekat dengan hiatas pita putih di penutupnya.


"Buku ini akan menjelaskan semuanya pada saatnya nanti, buku ini juga yang akan menggantikanku yang seharusnya berperan untuk menjelaskan semuanya yang telah kusembunyikan dari kalian" Claire menyimpan dengan baik kotak tempat buku itu disimpan.


***

__ADS_1


Malam harinya Claire bersama ayah dan ibunya sedang menikmati hidangan makan malam yang sudah pasti dimasak oleh ibu tercinta.


Malam yang membahagiakan, jarang sekali ayah Claire membuka topik pembicaraan dengan gurauan ringan. Malam ini terasa berbeda dari biasanya. Entah kenapa.


Seusai makan Claire memberanikan diri meminta izin kepada orang tuanya karena besok dia akan berangkat pagi-pagi sekali. Sebenarnya Claire tidak yakin orang tuanya akan mengizinkan. Dia takut akan mengacaukan suasana hati orang tuanya disaat malam yang entah kenapa terasa membahagiakan ini.


"Ayah, ibu. Bolehkah aku berbicara dengan kalian sebentar?" Claire sedang duduk berhadapan dengan ayahnya di sofa ruang tamu. Dia memanggil ibunya yang baru selesai mencuci piring.


"Tentu saja, ada apa?" ibu Claire duduk didekat suaminya. Orang tua dan anak itu duduk berhadapan sekarang.


"Um... bolehkah Claire pergi ke ibukota lagi?" ucap Claire langsung pada tujuannya.


"Ibukota? untuk apa lagi kau pergi kesana?" jelas saja ibu Claire bertanya-tanya karena baru kemarin dia kembali besok sudah akan pergi lagi.


"Itu... soal itu..." belum genap Claire menyelesaikan kalimatnya, ayahnya telah memotongnya.


"Kenapa kau hendak pergi kesana? ayah membaca berita dikoran pagi ini katanya ada banyak ledakan bom disana. Pemerintah sedang mengamankan seluruh ibukota. Jadi walaupun kau pergi kau seharusnya tidak diperbolehkan masuk"


"Tragedi itu sudah masuk berita?" gumam Claire dalam hatinya.


"Kau dengarkan, Claire? tidak perlu pergi. Lagipula apa urusanmu disana" ibu Claire menimpali.


"Tapi... Claire..."


"Ini urusan pekerjaan"


"Urusan pekerjaan? mustahil atasanmu mengirim karyawannya pergi ke tempat yang berada dalam isolasi pemerintah. Jangan berbohong pada kami"


"Aku tidak berbohong, ini benar"


"Apa kau bisa menunjukkan surat perpindahan tugas? jika memang begitu seharusnya ada"


Claire mengangguk. Dia membuka sebuah file di ponselnya yang menunjukkan surat perpindahan tugas dan telah ditandatangani oleh atasannya, Tuan Shibe dan Tuan Astra.


Itu sebenarnya adalah surat perpindahan tugas palsu. Tanda tangannya Claire menyalinnya dari surat penerimaan kerja saat dia menjadi agen baru di organisasi rahasia.


Ayah dan ibu Claire meneliti surat perpindahan tugas tersebut. Mereka merasa janggal tetapi tidak memiliki alasan untuk tidak percaya. Jelas sudah ditandatangani oleh atasan Claire disana. Pernyatannya juga sudah jelas.


"Apa tidak boleh jika kau tidak pergi?"

__ADS_1


"Jika aku tidak pergi untuk menjalankan pekerjaan di ibukota maka posisiku sebagai karyawan akan dicabut. Atau dengan kata lain Claire akan dipecat dari perusahaan dan akan digantikan oleh orang lain yang mau menggantikannya"


"Kenapa begitu?"


"Karena perusahaan kebetulan baru saja membuka kantor cabangnya disana. Setelah adanya isolasi daerah karena banyaknya bom tersebut maka perusahaan terpaksa ditutup. Tenang saja ayah, ibu Claire hanya sebentar. Disana Claire hanya ditugaskan untuk mengemasi peralatan. Pastinya Claire tidak sendirian"


"Siapa saja yang akan ikut denganmu?"


"Teman-teman Claire, salah satunya Claude"


"Claude juga? kenapa kalian rasanya selalu berada dalam satu tugas yang sama?"


"Soal itu... tidak tau. Mungkin kolaborasi kinerja kami bagus"


"Hm..." ayah Claire meneliti surat perpindahan tugas palsu yang ditunjukkan oleh Claire.


"Baiklah tidak masalah, orang yang bertanda tangan ini akan bertanggung jawab jika sesuatu terjadi"


"Kalau begitu ibu dan ayah mengizinkanmu Claire, berhati-hatilah saat berada disana ya. Berapa lama waktu yang mau butuhkan?"


"Tidak lebih dari satu bulan"


"Baiklah. Siapa yang akan menjemputmu?"


"Seperti biasa"


"Claude?"


"Iya siapa lagi"


"Baiklah. Sekarang sebaiknya kau istirahat saja. Ibu akan menyiapkan perlengkapanmu untuk pergi besok"


"Tidak perlu, aku bisa melakukannya sendiri"


"Kalau begitu baiklah, terserah kau saja. Kau memang keras kepala. Ada kalanya kau harus menurunkan ego-mu"


"Aku mengerti. Terima kasih"


"Selamat malam, segera siapkan perlengkapan yang akan kau bawa besok"

__ADS_1


"Baik bu"


Claire kembali kekamarnya. Dia tidak menghiraukan ayahnya yang berkata siapa yang bertanda tangan maka dia akan bertanggung jawab. Ini hanya tentang dirinya sendiri.


__ADS_2