
Tiga hari berlalu, Claire masih belum mendapat panggilan kerja. Dia selalu ada dirumah beberapa hari terakhir. Tetapi Claire tetap siap kapanpun mendapat panggilan darurat.
Suara ponsel berdering diatas meja saat Claire masih sibuk mempelajari buku pinjaman dari perpustakaan kota. Panggilan dari Claude.
"Halo, ada apa Claude?"
"Claire aku ada didepan rumahmu"
"Depan rumah? ada apa?" Claire mulai berjalan menuruni anak tangga. Hendak menuju depan rumahnya.
"Akan kuceritakan secara langsung"
"Baiklah"
Sebuah mobil terparkir tepat didepan gerbang rumah Claire. Claire masih memakai pakaian santai rumahan. Dia siap kapanpun mendapat panggilan kerja, pakaiannya sudah disiapkan dengan rapi dikamarnya.
"Ada apa Claude? apa Tuan Astra memanggil kita?" tanya Claire dengan wajah datar.
"Tuan Astra dan Tuan Shibe akan pergi ke ibukota. Kita diperintah untuk ikut dengan mereka"
"Lalu latihannya?"
"Bukankah Tuan Matsumoto selalu meng-handle untuk kita?"
"Tetapi selalu mengandalkan orang lain rasanya tidak enak hati"
"Biarlah. Ini perintah atasan"
"Kapan kita pergi?"
"Nanti sore"
"Dimengerti. Baiklah" Claire berbalik kembali masuk kedalam rumahnya. Sedangkan Claude masuk kedalam mobil. Melajukannya sedang diantara pemukiman warga.
Sore harinya Claire bergegas turun. Tetapi satu langkah sebelum dia terlihat, Claire mendengar kedua orang tuanya tengah membahasnya dalam suatu pembicaraan.
"Claire suka pergi malam hari belakangan ini. Selalu bersama lelaki itu. Sebenarnya dia pergi kemana? tidak mungkin suatu perusahaan mempekerjakan karyawannya hingga melewati tengah malam kan?" Ibu yang sedang mengusap piring mulai membuka topik.
"Entahlah, Bu, Claire tidak pernah bilang pergi kemana. Ya benar. Tidak mungkin perusahaan mempekerjakan karyawannya hingga melewati tengah malam. Apalagi Claire bilang bekerja sebagai office girl disana" ayah Claire menimpali.
Sejenak Claire menghentikan langkahnya menuruni anak tangga. Dipunggungnya telah terpasang sebuah tas ransel. Claire menunduk murung.
"Bagaimana jika mereka curiga? pekerjaanku bisa terhambat. Aku harus membujuk mereka. Sebentar lagi Claude akan datang" ungkap Claire dalam hati.
"Ayah, apakah lebih baik Claire mencari pekerjaan lain saja?" celetuk ibu Claire kemudian.
__ADS_1
"Kenapa?" sahut ayah Claire sambil membalik halaman koran yang sedang dibacanya.
"Ibu hanya,... khawatir dengan putri kita. Bagaimana perasaan ayah melihat Claire pergi tengah malam bersama seorang lelaki?" ibu menghentikan gerakan mengusap piring. Menunduk murung.
"Ayah mengerti maksud ibu. Tetapi selama ini Claire tidak pernah diterima kerja ditempat manapun. Tempat itu satu-satunya yang menerimanya" ayah Claire mendengus ringan.
"Tapi..." belum genap ibu Claire mengucapkan kalimat berikutnya, Claire telah menampakkan dirinya. Turun kelantai bawah.
"Claire..." ibu Claire terkejut mengetahui keberadaan putrinya.
"Ibu, aku pamit. Malam ini sepertinya aku tidak pulang" Claire berkata dengan wajah datar.
"Kali ini kau mau pergi kemana?" ibu Claire meletakkan piring-piring yang telah dibersihkan dengan perlahan.
"Ke luar kota, bu"
"Claire..." ibu menghampirinya. Mencengkeram kedua lengan Claire.
"Kali ini ibu tidak mengizinkanmu" mata Claire melebar sejenak. Kepalanya terus berpikir mencari alasan agar dia diizinkan oleh kedua orang tuanya.
"Kenapa-"
"Karena ibu khawatir terjadi sesuatu padamu. Kau pergi bersama lelaki itu kan?"
"I-iya bu"
"Tapi ibu... Claude pria yang baik. Dia akan bersikap sewajarnya. Lagipula dia adalah teman baikku. Pernahkan aku memiliki seorang teman lelaki selama ini?"
"Sebaik apapun dia, dan siapapun dia, tetap saja tidak menghalangi kemungkinan jika dia akan melalukan sesuatu yang tidak sewajarnya kepadamu Claire. Turuti kemauan ibumu kali ini saja"
"Ibu..."
"Ibu tau Claude lelaki baik. Dia temanmu yang baik. Ibu tau itu. Tapi jangan habiskan waktumu terus dengannya"
"Ibu..."
"Kau memang keras kepala. Turuti kemauanku kali ini saja. Ibu mohon Claire, ibu mohon kepadamu"
"Ibu maaf tapi aku akan tetap pergi" Claire berbalik dengan menggendong tas ranselnya.
"CLAIRE! tidak bisakah kau menuruti kemauan ibumu? untuk kali ini saja?"
"Maaf bu,..."
"Jika aku bisa memberitahukan alasannya sudah pasti kuberitahukan sejak dulu" ucap Claire dibenaknya. Dia ingin menjadi anak yang berbakti pada orang tuanya, menuruti setiap kemauan mereka. Tapi permasalahan ini tidak mudah. Apalagi sekarang Claire bukan agen biasa melainkan seorang komandan dalam angkatannya.
__ADS_1
Claire berjalan cepat hingga keluar rumah. Claude berdiri bersandar pada mobilnya. Sejak kapan dia disana? raut wajahnya tidak berekspresi. Seolah mengerti keadaan.
"Claire!" seru ibu mengikuti Claire kedepan rumahnya. Kini mereka bertiga berdiri membentuk garis vertikal. Claire ada diantara Claude dan ibunya.
"Maaf ibu, tapi aku harus pergi" Claire melanjutkan berjalan cepat menghampiri Claude. Dia hendak masuk kedalam mobil tetapi dihalangi oleh Claude. Claude menggeleng tegas. Jika ibunya tidak mengizinkannya maka jangan pergi.
"Kenapa kau keras kepala sekali, hah? ibu hanya memintamu tidak pergi itu saja"
"Tapi ini penting bu"
"Penting apanya? memangnya kalian mau pergi kemana?"
"Kakak Claude sakit di ibukota, bu. Aku harus menemaninya pergi menemui kakaknya"
"Apa hubungannya semua ini denganmu? sekarang kembali masuk kedalam rumah" ibu Claire menarik tangan putrinya kasar. Dia terlanjur marah.
"Tidak mau!" Claire menarik tangannya kembali. Dengan cara yang kasar pula.
"Eh, Claire sebaiknya kau tidak perlu ikut pergi. Hormati keinginan ibumu" Claude mulai mengeluarkan pendapatnya.
"Kau tidak tau apa alasannya tidak mengizinkanku pergi" Claire mengelus-elus pergelangan tangannya yang terasa sakit karena cengkraman ibunya tadi.
"Claire, ibu hanya khawatir terjadi sesuatu padamu. Ayolah"
"Dengar bu, Claude adalah teman baikku, dia tidak akan melakukan hal buruk padaku. Justru dia akan menjagaku dan melindungiku. Tidak ada alasan lagi untuk ibu khawatir padaku"
"Tapi..." mata ibu Claire mulai berkaca-kaca. Dia tau putrinya akan selalu menentang setiap hal yang mengekangnya.
Claude memang adalah pria berwajah tampan yang mampu menaklukan setiap hati seorang gadis. Tetapi itu tidak akan berlaku untuk Claire. Claire memiliki sifat sebaliknya dari dia. Claude tidak tega melihat seorang ibu hendak menangis dihadapannya.
"Eh begini saja. Bi aku pinjam putrimu sebentar. Hanya untuk beberapa hari" Claude mewakili Claire mencoba meminta izin. Mata ibu Claire mulai memerah. Menatap Claude.
"Tapi... tapi kau akan menjaganya kan? nak Claude?"
"I-iya. Aku berjanji akan menjaganya dengan baik selama dia ikut denganku"
Air mata mulai mengalir dimata ibu Claire. Kedua tangannya kini mencengkeram lengan Claude.
"Kalau begitu kuharap kau menepati janjimu. Sekarang bibi sedikit lega karena mendengar kalimat itu langsung darimu. Bibi hanya khawatir putri semata wayang bibi ini akan dimanfaatkan oleh seorang pria br*ngs*k"
"Aku mengerti bibi. Apakah Claire boleh pergi denganku selama kurang lebih satu pekan?"
"Tentu, tentu saja. Claire jaga dirimu baik-baik"
"Ibu..." sebelum pergi Claire memeluk ibunya erat-erat. Beberapa hari kedepan ia tidak akan bertemu dengan seseorang yang selalu memasakkan makanan untuknya dan selalu memarahinya itu.
__ADS_1
Setelah momen mengharukan, Claire dan Claude menaiki mobil bercat hitam pekat menuju cabang markas organisasi yang telah disebutkan Tuan Astra.