Agen Polisi Rahasia

Agen Polisi Rahasia
Duka Cita


__ADS_3

Kemarin sore acara pemakan Senno dan banyak agen lain yang telah gugur para pertempuran senjata telah terjadi malam sebelumnya telah dilaksanakan.


Selby melarang Claire untuk ikut daam acara pemakaman ini karena Selby tau dengan jelas alasan kedatangan gadis bersurai putih itu tidak lain hanyalah untuk mendampinginya.


Hingga pagi berikutnya tiba. Tuan Astra memberitahu Claire untuk datang di markas utama organisasi untuk ucapan duka cita terhadap semua pihak keluarga yang bersangkutan.


Tuan Astra juga mengatakan bila ia akan dijemput langsung oleh lelaki yang hingga hari ini masih menjadi partnernya dalam beberapa menit kemudian. Tunggu saja.


Claire segera bersiap kemudian turun ke lantai bawah dengan anak tangga. Ia hendak meminta ijin kepada orang tuanya dahulu namun sebelum ia tiba di bawah, ia mendengar percakapan singkat orang tuanya.


"Aku kemarin dengar ada pertempuran senjata, yah. Katanya juga pertempuran senjata itu menyisakan banyak korban jiwa serta mobil-mobil yang terbakar hangus. Ibu khawatir dengan Claire yang suka pergi malam-malam"


"Huft~ ibu kan tau sendiri jika Claire putri kita bekerja pada shift malam di perusahaan Central U. Jadi ibu tidak perlu khawatir terjadi sesuatu dengannya. Dia aman berada di dalam perusahaan"


"Iya juga sih yah. Tapi ibu masih khawatir saja. Bagaimanapun Claire adalah putri tunggal kita. Dia adalah harapan kita satu-satunya. Ibu hanya tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dengannya"


"Jangan terlalu dipikirkan bu. Itu hanya akan membuat kepalamu semakin pusing saja"


"Maksud ayah apa? ibu memikirkannya karena khawatir dengan putri kita. Apa ayah ini tidak pernah berfikir bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Claire?"


"Bu-bukan begitu ibu. Menurut ayah dia sudah bekerja di tempat yang tepat dan aman walau jam kerjanya pada malam hari"


"Kalau begitu bagaimana jika ayah kembali bekerja saja? biar Claire tidak perlu pergi malam-malam?"


"Eh ibu, kenapa jadi begitu? dulu ibu bilang ayah sebaiknya pensiun saja kan? sekarang saat ayah sudah pensiun ibu malah menyuruh ayah untuk bekerja lagi"


"Ini demi keselamatan putri kita"


Perdebatan antara ayah dan ibu Claire langsung berakhir ketika Claire turun dari anak tangga menghampiri keduanya.


"Ibu, ayah, selamat pagi"


"Eh, Claire. Selamat pagi"


"Kau mau kemana?" ibu Claire memperhatikan pakaian yang dikenakan Claire seperti orang yang hendak pergi keluar rumah.


"Ada urusan penting bu. Urusan pekerjaan"

__ADS_1


"Begitu ya? kalau begitu hati-hati dijalan ya"


"Iya, sampai jumpa ayah dan ibu" Claire melambaikan tangannya kepada orang tuanya. Sembari berlari keluar rumah.


Memang benar pakaian yang dikenakan Claire seperti orang yang hendak pergi keluar rumah. Ia mengenakan jaket tebal berbulu dengan warna coklat cerah. Juga rok hitam sepanjang paha dilengkapi sepatu dan kaos kaki hitam hingga menutupi lutut.


Sebentar lagi musim akan berganti menjadi musim salju. Saat ini masih pergantian musim gugur menjadi musim salju. Sejauh ini sudah terasa hawa-jawa sejuk buih-buih es.


Tidak lama Claire menunggu di depan gerbang rumahnya, sebuah mobil berwarna hitam menuju tempat Claire berdiri sekarang.


Mobil itu berdiri di depannya. Kemudian kaca mobilnya terbuka. Pemandangan wajah pertama yang dilihat Claire adalah Claude. Senyumnya sudah terlihat sejak kaca mobil sempurna terbuka.


Claire segera masuk ke mobil hitam di depannya. Menghadap lurus kedepan jalan. Pandangan sejauh mata memandang dengan hiasan daun berguguran menantinya.


"Mobil baru?" Claire mengawali pembicaraan. Dia sudah jauh lebih akrab dengan partnernya.


"Iya, pemberian Tuan Astra. Katanya spesial buat antar-jemput Nona Claire. Hahaha~"


"Hahaha~" Claire ikut tertawa.


"Mobilmu yang kemarin kebakar?"


"Namanya kebakar juga kena api, Claude. Hahaha~"


"Padahal mobilmu yang kemarin itu bagus. Tapi sayangnya kebakar. Hangus deh"


"Tidak masalah. Tuan Astra ganti dengan mobil yang lebih bagus lagi"


"Oh ya?"


"Mobil yang kita kendarai ini 4-5 persen lebih bagus daripada mobil yang udah kebakar itu"


"Nice gift"


Pasangan partner itu menghabiskan waktu perjalanan dengan canda tawa di dalam mobil. Suasana terasa lebih mencari dari sebelumnya. Claire juga terlihat sedikit berubah.


...****************...

__ADS_1


Claire dan Claude telah sampai di markas utama organisasi rahasia mereka. Hamparan rumput hijau luas atau bisa disebut padang savana selalu menjadi pemandangan alam kesukaan Claire.


Sebenarnya Claire ingin sering-sering datang ke markas utama ini. Namun tidak setiap saat dia mendapat perintah untuk datang ketempat itu.


Di depan sebuah pintu masuk, terlihat dua sosok laki-laki dan perempuan yang sedang berbincang. Mereka adalah Selby dan Haran. Haran menyapa duluan.


"Selamat pagi Tuan Claude dan Nona Claire" sapaan Haran terasa bersemangat di telinga keduanya.


"Selamat pagi Claire, Claude" Selby ikut menyapa.


Claire dan Claude pun balas menyapa dua sosok yang tepat berada di depannya itu.


"Hari ini kau merasa lebih baik, Selby? raut wajahmu terlihat senang" tanya Claire bersimpati pada teman gadisnya.


"Yah, seperti yang kau lihat. Aku sudah melepaskan semuanya. Aku juga berharap Senno bahagia di sana"


"Dia pasti bahagia, Selby. Pasti bahagia" Claire tersenyum. Kemudian Selby dan Claire berpelukan.


"Terima kasih kau sudah menemaniku sejak kemarin" bisik Selby di telinga Claire.


"Sama-sama"


Mereka berempat masuk kedalam bangunan setengah bulat dengan warna putih mengkilap itu. Di dalamnya ada banyak ucapan bela sungkawa untuk keluarga korban yang telah pergi.


Di masing-masing ucapan bela sungkawa itu juga terdapat wajah masing-masing agen yang tertulis namanya. Entah bagaimana acara ucapan duka cita yang dimaksud Tuan Astra.


Hawa duka langsung terasa di hati Claire. Inilah yang dulu pernah dirasakannya. Ini juga yang telah merubah sifatnya menjadi gadis dingin seolah tak memiliki hati.


Beberapa menit berjalan, dua pria dan dua wanita itu diarahkan menuju ruangan paling atas yang tertutup dari bawah. Hanya satu jalur terbuka yaitu tangga.


Gelap. Hanya ada beberapa lampu lilin yang dinyalakan di pojok-pojok ruangan. Hampir sama dengan pelantikan agen baru beberapa bulan lalu.


Claire kembali teringat pada masa awal dimana dia dan semua agen merasa gembira karena lolos dalam dua tes dan diterima oleh organisasi rahasia. Waktu itu, dia bersama Selby dan Haran.


Hari ini, di tempat yang sama. Dengan keadaan ruangan yang sama pula. Membuat Claire merasakan duka yang mendalam. Dulu tempat ini ramai dengan suara kegembiraan agen baru.


Namun sekarang, semua telah berbalik. Sebagian besar agen organisasi rahasia telah gugur dalam perang senjata dengan para mafia tempo hari lalu.

__ADS_1


Ruangan ini senyap. Beberapa keluarga yang bersangkutan sengaja diundang oleh pimpinan organisasi, Tuan Shibe. Isak tangis terdengar dimana-mana. Para orang tua itu tidak pernah tau dimana sebenarnya anak-anaknya bekerja. Yang mereka tau anak mereka terlibat dalam perang senjata dengan mafia dan gugur. Itu saja.


__ADS_2