Agen Polisi Rahasia

Agen Polisi Rahasia
Komisaris


__ADS_3

Setelah tiba di cabang markas organisasi, mereka berangkat menuju ibukota. Tadi saat Claude menjemput Claire masih sore hari, sekarang matahari telah sempurna tenggelam. Menyisakan kegelapan malam yang mencekam.


Claire hanya diam selama berjam-jam. Tidak ada obrolan didalam mobil mereka. Claude memutuskan membuka topik pembicaraan.


"Eh, bagaimana perasaanmu sekarang Claire?"


"Biasa saja" jawab Claire singkat dengan terus menatap lurus kearah jalanan.


"Begitu ya, baiklah" beberapa jam lagi masih tetap hening. Suasana seperti ini membuat seseorang cepat mengantuk.


Mata Claude sesekali terpejam. Dia sepertinya mengantuk. Claire melirik kearahnya.


"Apa kau mengantuk?"


"Iya, sangat. Sejak kemarin aku begadang. Tidak disangka malam ini kita diajak pergi ke ibukota. Hoam~"


Jarak beberapa meter kedepan, tidak ada lampu jalanan yang menyala. Pandangan Claude murai buram. Dia mengantuk. Tepat saat hanya ada cahaya kendaraan disana, rupaya ada tikungan tajam.


Claude tidak begitu memperhatikan rambu jalanan yang menunjukkan ada tikungan tajam didepan.


"Awas!" Claire berseru. Dia juga baru menyadari ada pagar pembatas. Claude buru-buru membanting setir berbelok kanan.


"Astaga apa kau benar-benar mengantuk berat?" Claire memastikan.


"Iya, maaf. Aku tidak begitu memperhatikan tadi"


"Berapa jam lagi perjalanan kita?"


"Kurang lebih tiga jam"


"Kalau begitu, bagaimana jika aku saja yang menggantikanmu? sementara kau bisa beristirahat dibelakang"


"Tunggu kau bisa menyetir mobil?"


"Lalu siapa yang melakukaan saat kau dan Senno diburu oleh para mafia?"


"Oh iya. Maaf aku lupa. Tapi apa kau bisa menyetir dalam gelap gulita? jauh didepan sana baru ada lampu jalanan yang menyala"


"Jangan remehkan kemampuanku. Sudah beristirahatlah dulu. Jangan dipikirkan"


"Baiklah-baiklah"


Keesokan paginya. Pukul empat dini hari, mereka telah sampai di ibukota. Tetapi belum sampai di tempat yang ingin ditujukan.


Jalanan kota lengang. Hanya ada beberapa kendaraan yang melewatinya. Claire membuka sedikit kaca mobil. Angin pagi yang sejuk langsung masuk kedalam mobilnya.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama untuk sampai di lokasi tujuan. Matahari mulai menampakkan dirinya. Siratan cahayanya masih sangat tipis.


Mobil terparkir didepan gedung kaca pencakar langit. Claire keluar dari mobilnya. Sedangkan Claude masih tertidur pulas dibelakang.


"Mari kita masuk dulu. Dimana Claude?" Tuan Astra dan Tuan Shibe juga turun dari mobilnya.


"Dia sedang tidur di mobil"


"Sejak kapan?"


"Beberapa jam yang lalu, Tuan"


"Bangunkan saja dia. Kami harus bergegas. Kalian menyusul saja ya. Lantai lima ruang Komisaris"


"Baik Tuan"


Claire membuka pintu mobil. Untuk kedua kalinya Claire melihat wajah damai Claude saat tertidur pulas. Hatinya tergerak untuk tidak membangunkannya. Tetapi mereka sudah sampai. Dan mereka harus pergi keruang komisaris.


"Claude, kita sudah sampai. Cepat bangun" Claire membiarkan udara pagi yang dingin masuk kedalam mobil dengan membuka pintu mobil lebar-lebar.


"Hm, kita sudah sampai? baiklah aku akan segera bangun. Bisa beri aku waktu sebentar?" Claude merenggangkan tubuhnya yang terasa kaku setelah tidur dimobil semalaman.


"Tentu" Claire meninggalkan Claude. Memandangi pemandangan kota saat pagi hari dengan udara sejuk melengkapinya. Jarang sekali Claire pergi kekota besar seperti ini.


Ditengah Claire sedang melamun, Claude tiba-tiba menepuk bahunya. Claire sedikit tersentak kaget dengan hal itu. Tetapi dia selalu berhasil menenangkan diri.


"Sudah selesai?" tanya Claire berbasa-basi.


"Sudah. Udara pagi ini sejuk sekali. Airnya jadi ikutan dingin"


"Baiklah. Mari kita masuk"


Claire dan Claude masuk kedalam gedung dengan sebuah huruf raksasa diatasnya bertuliskan 'Markas Kepolisian Negara'. Meja informasi, tempat pertama yang dikunjungi oleh Claire dan Claude.


"Permisi maaf saya ingin bertanya dimana tempat ruang komisaris?"


"Ada lebih dari satu ruang komisaris disini, Kak. Anda mencarinya di lantai berapa?" jawab petugas meja informasi itu ramah.


"Lantai lima"


"Silahkan menaiki lift untuk menuju lantai lima. Jika ingin menggunakan tangga letaknya ada dibelakang. Ruang komisaris berada disebelah barat"


"Terima kasih"


"Baik sama-sama"

__ADS_1


Claire dan Claude segera masuk kedalam lift. Menekan tombol angka lima didalamnya. Pintu tertutup. Tidak ada apapun yang terlihat selain ruang kubus itu sendiri. Tidak lama pintu kembali terbuka. Menyajikan pemandangan berbeda dari sebelumnya.


Lantai lima terhitung cukup tinggi. Disini Claire bisa memandangi kota dengan jelas. Indah sekali. Dari tiap gedung, masing-masing memiliki sebuah antena diatasnya. Entah apa fungsinya.


Mereka segera berjalan menuju ruang komisaris. Sebelum mereka mengetuk pintu ruangan, terdengar suara tawa kecil didalam. Mungkin mereka sedang bercanda.


Claude mengetuk pintu ruangan. Tiga kali sekaligus. Seketika suara tawa itu seakan lenyap. Meninggalkan keheningan. Pintu terbuka. Seorang pria dengan jas hitam dan kemeja putih membukakan pintu.


"Silahkan masuk. Tuan komisaris Hirofumi menunggu kalian" ucap pria itu setengah membungkukkan badannya. Kedua telapak tangannya diselimuti sarung tangan.


Claire hanya mendengarkan kalimat pria itu. Dia melangkah masuk menyusuri ruangan yang dikiranya kecil namun rupanya ruangan itu sebesar lantai bawah rumahnya.


Sebuah meja besar terpapar dilantai yang lebih tinggi dari lantai yang diinjak oleh Claire. Dibelakang meja ada kursi dengan sandarannya. Seseorang duduk dikursi tersebut sambil menyesap minuman dalam cangkir.


"Tuan... Hirofumi?" ucap Claire bermaksud menyapa namun takut salah nama.


"Hahaha. Benar sekali. Kau gadis yang cerdik seperti yang diceritakan oleh Astra" pria itu tertawa. Didalam ruangan rupanya juga ada Tuan Astra dan Tuan Shibe. Mereka bertiga menyesap minumannya bersama-sama.


"Duduklah dulu, Claire, Claude" ucap Tuan Astra menunjuk sofa panjang yang berhadapan dengan sofa yang didudukinya.


Hening sejenak. Tiga pria yang merupakan atasan Claire dan Claude itu sedang menikmati minumannya. Sedangkan Claire dan Claude hanya diam menunggu.


"Oh maaf seharusnya aku menyuruh seseorang membuatkan minuman untuk kalian juga. Tunggu sebentar" ucapnya, Tuan komisaria Hirofumi.


"Tidak perlu. Uh, maksudku kurasa kami hanya sebentar disini" tolak Claude sopan.


"Oh ya? kalian hendak kemana? buru-buru sekali"


"Sepertinya mereka memiliki keperluan pribadi, yah sebenarnya aku mengajak mereka kemari untuk memperkenalkannya denganmu sekaligus agar kau dapat bertemu dengannya Hirofumi. Tidak masalah kan jika mereka pergi dahulu?" sahut Tuan Astra sekaligus memintakan izin.


"Tentu saja. Sebelumnya apakah kalian mengenalku?"


"Bukankah nama anda, Tuan Hirofumi?"


"Maksudku jabatanku disini, kalian tau?"


Claire dan Claude saling pandang sejenak. Seharusnya jabatannya adalah sebagai komisaris karena tidak mungkin julukan itu tercampur dengan namanya jika tidak.


"Komisaris kepolisian" jawab Claire dengan wajah dingin dan datarnya.


"Hahaha. Kini aku benar-benar percaya kau gadis cerdik. Maaf jika pertanyaanku kurang jelas. Aku hanya ingin melakukan tes pada kecerdasan kalian secara spontan. Jika kalian pergi sekarang silahkan"


"Terimakasih Tuan" Claire dan Claude kompak berdiri kemudian membungkukkan badan sebelum meninggalkan ruangan. Suatu kehormatan bisa bertemu dengannya.


Claire dan Claude telah berada diluar gedung pencakar langit. Matahari mulai terlihat menampakkan dirinya, hampir utuh. Aktivitas di jalan raya memadat seketika. Pagi hari saatnya para pekerja untuk melakukan kewajibannya.

__ADS_1


__ADS_2