
"Apa rencana kalian sebenarnya?" bisik Mino ditelinga Claire saat wajah mereka suda berdekatan.
Claire bingung dengan pertanyaannya. Dia mulai curiga. Pikirannya kembali pada ucapan Claude sebelum pergi membeli makanan.
Tapi... apa maksudnya berhati-hati? Sebenarnya siapa kakak Claude ini?
"Apa maksudmu?" Claire memastikan.
"Apa maksudku, heh? kau masih belum mengerti ya? bukankah adikku sudah memperingatkanmu?" Claire terkejut. Bagaiamana mungkin Mino mengetahui peringatan Claude yang disampaikan padanya dalam bisik-bisik?
"Siapa kau sebenarnya? Sekali lagi aku bertanya, apa maksudmu?" Claire memberanikan diri bertanya. Pendiriannya tidak berubah, tenang.
Mino menyeringai. Seringai mengerikan. Claire bisa melihatnya dari jarak begitu dekat. Tubuhnya bergidik ngeri. Dia masih belum memahami situasi.
"Jangan khawatir... aku tidak akan melukaimu" Mino menyelipkan surai Claire kebelakang telinganya. Ini seperti intimidasi.
"Kau perlu waktu untuk mengerti. Untuk saat ini kau tidak perlu mengetahui apapun" Mino menyeringai. Seringaian itu tidak seseram sebelumnya. Dia juga sangat tenang.
"Apa maksudnya semua ini?" Claire berkata dalam hatinya. Dia tidak suka terjebak dalam situasi yang membingungkan. Apalagi tidak ada petunjuk sama sekali kali ini.
"Dengarkan aku,... jauhi Claude"
"Kenapa aku harus melakukan itu?" Claire memberontak. Menjauhkan wajahnya dari Mino. Tetapi Mino mencengkeram lengannya dengan kuat.
"Karena dia ancaman bagimu"
"Apa maksudmu ancaman? dia bukan dirimu yang suka mengancam"
"Apa kau yakin dengan itu? jangan bilang jika... kau menyukai Claude"
"Sekarang apa lagi?"
"Jujur saja. Mengapa kau tidak mau menjauhinya?"
"Karena dia pria yang baik. Dia menjagaku bukan mengancamku sepertimu!"
"Oh ya? benarkah begitu?"
"Tentu saja. Lagipula aku mengenalnya lebih dulu daripada mengenalmu"
"Terserah kau saja"
"Penilaianku tidak akan salah"
"Baiklah. Mari kita lihat apa yang terjadi selanjutnya. Ingat kata-kataku, Claude adalah ancaman bagimu!"
"Bagaimana bisa seorang kakak mengatakan adiknya seperti itu?"
"Karena itu fakta. Beritau aku rencana kalian. Aku juga bisa melindungimu seperti dia melindungimu"
__ADS_1
Claire terbungkam sejenak. Dia semakin tidak mengerti. Seolah-olah setiap kata yang diucapkan Mino adalah misteri, peringatan, dan ancaman.
Claire mencoba berpikir jernih. Menata kalimat yang hendak dia ucapkan kali ini. Pikirannya bergulat. Claire terus berpikir.
"Sebenarnya aku... tidak membutuhkan perlindungan dari siapapun"
"Oh, benarkah? kau yakin tentang itu?"
"Iya"
"Kalau begitu mari kita lihat. Sebagaimanapun kau adalah wanita. Sejatinya wanita tetap memerlukan perlindungan dari orang lain sekuat apapun dirinya"
Claire mencerna setiap kata-kata yang diucapkan Mino. Dia mencoba menghubungkan setiap kalimat demi bisa membuat perkiraan yang tepat.
Mino melepaskan cengkeraman tangannya pada lengan Claire. Dia melipat kedua tangannya. Tidur. Yah sepertinya kali ini dia benar-benar tidur.
Claire kembali duduk disofa. Dia mengantuk tetapi tidak bisa tidur karena bayang-bayang ucapan Mino seperti menghantuinya. Memaksanya untuk berpikir.
Tidak lama kemudian Claude datang. Tidak ada yang terlihat diruang rawat inap itu selain Mino yang sudah benar-benar tertidur dan Claire yang duduk termenung. Tampak berpikir keras.
"Claire..."
"Oh, kau sudah datang? kapan kau tiba?"
"Baru saja. Apa kau sedang melamun?"
"Ti-tidak. Aku hanya sedang... berpikir"
Claire dan Claude segera sarapan. Claire menguap beberapa kali. Dia tidak jadi tidur karena Mino mengejutkannya.
"Kau tidak tidur sedari tadi?" tanya Claude sembari menyendok makanannya.
"Tidak"
"Kenapa?" Claude menatap Claire curiga. Claire memberikan intruksi agar tidak bertanya. Dia menggerakkan matanya perlahan kearah Mino.
"Kakakku?" Claude mengangkat salah satu alisnya. Dia tidak berbicara, tapi demikianlah maksud tatapannya.
Claire memejamkan matanya beberapa detik. Bukan mengantuk. Tapi menjawab pertanyaan Claude 'Iya'. Jika dia mengangguk bisa jadi Mino mengetahuinya lagi.
Ruangan hening. Claire dan Claude pun melanjutkan makan. Berhenti menggunakan instruksi gerakan tubuh untuk berbicara satu sama lain.
***
Siang hari menjelang sore ayah dan bunda Claude datang.
"Selamat siang semuanya" ekspresi wajah bunda Claude tampak sangat bahagia. Claire bisa membacanya. Dia juga menyapa dengan riang.
"Siang bunda"
__ADS_1
"Apa ada hal yang terjadi selama kami pergi?" gilian ayah Claude bertanya. Claire dan Claude kompak menggelang. Mereka tidak mungkin memberitahu tentang ini.
"Aku membawakan coklat manis untuk kalian" ucap bunda Claude menunjukkan sebuah tas yang mungkin berisi coklat seperti ucapannya.
"Tapi... kami akan segera pergi" sahut Claude ragu-ragu.
"Eh, apakah buru-buru sekali?" ibu Claude merasa ini terlalu cepat. Claude menoleh kearah Claire, meminta dukungan.
Claire menggeleng. Mereka tidak buru-buru. Ada baiknya meluangkan waktu sebentar untuk mereka. Lagipula Claude dan orang tuanya hanya bertemu sebentar.
"Tidak bunda"
"Kalau begitu duduklah sebentar. Kita nikmati coklat ini. Bunda rasa terlalu manis jika kami memakannya hanya berdua. Minota tidak diperbolehkan mengonsumsi yang terlalu manis"
"Baiklah"
Mereka kembali duduk di sofa panjang secara berhadap-hadapan. Claire memakan beberapa buah coklat yang dicetak dengan bentuk hati sambil menyimak pembicaraan Claude dengan orang tuanya.
Tidak lama kemudian Claire dan Claude memutuskan untuk pamit pergi.
"Baiklah, kalian hati-hati dijalan" ucap bunda Claude melambaikan tangannya riang saat mengantar Claire dan Claude hingga didepan ruangan.
Claire bisa menyimpulkan jika bunda Claude adalah wanita periang. Dia ramah dan murah senyum kepada siapapun. Yang pasti juga tidak pelit untuk berbagi.
Sedangkan ayah Claude pria yang pendiam namun berhati sabar. Jikalau bunda Claude adalah orang yang menjengkelkan maka ayah Claude adalah sosok yang tepat untuk menghadapinya dengan kesabarannya. Dia juga pria yang ramah.
Mereka menikah kemudian memiliki dua anak laki-laki berparas tampan. Minato adalah sosok penuh misteri dimata Claire. Dia pria yang tenang dalam situasi apapun. Dan untuk mengancam dia biasanya menambahkan seringai mengerikan.
Berbeda dengan kakaknya, Claude adalah pria yang tampan dan berhati mulia. Dia hanya akan tersenyum untuk orang-orang yang dikenalnya dengan baik. Dan dia orang yang terbuka. Itulah penilaian Claire untuk anggota keluarga partnernya.
Claire dan Claude masuk kedalam mobil. Suasana lebih santai sekarang daripada berada diruangan tempat Minota dirawat.
"Apa yang terjadi saat aku pergi?" tanya Claude.
"Minota, kakakmu itu, siapa dia? kenapa dia bertanya rencana kita? dia seolah mengetahui semuanya"
Claude diam sejenak. Menata kalimat yang hendak dikatakannya.
"Sepertinya dugaanku benar"
"Dugaan? dugaan apa?"
"Maaf Claire aku tidak bisa memberitahumu. Karena aku harus memastikannya dulu"
"Oh... begitu ya? baiklah tidak masalah"
"Lalu sekarang kita akan pergi kemana?"
"Tuan Astra bilang para agen akan datang ke gedung yang kemarin kita kunjungi. Kita disuruh pergi kesana"
__ADS_1
"Baiklah. Kita pergi"
Claude melajukan mobilnya. Menuju gedung 'Markas Kepolisian Negara'. Sore ini jalanan sudah padat oleh orang-orang yang pulang dari kantornya masing-masing. Jalan raya dipenuhi oleh kendaraan beroda empat.