
Claire terburu-buru dalam mengendarai mobil milik Claude. Tepat di persimpangan jalan, ia mengerem dadak. Kepalanya hampir terbentur setir.
"Tuan Astra?" batinnya.
Claire pun turun dari mobil. Hendak bertanya pada pria bernama Astra itu.
"Selamat malam Tuan Astra" sapanya.
"Malam, Claire" balasnya singkat.
"Maaf Tuan, kenapa anda disini?"
"Kami dengan partner C-C dan S-S dalam bahaya. Sebab itu kami kemari. Akhirnya bertemu. Dimana yang lain?"
"Selby ada di dalam mobil hitam itu. Claude dan Senno menghadang para mafia. Saya tidak tau dimana mereka berdua sekarang"
"Ck! Kalian semua! cari keberadaan mobil hitam dengan plat nomor ****. Jangan sampai kehilangan jejaknya!" perintah Tuan Astra kepada bawahannya.
"Baik Tuan!" jawab para bawahan serempak.
"Lalu bagaimana dengan kotak informasinya?" lanjutnya bertanya.
"Ada bersama Selby"
Selby turun dari mobil. Masih dengan posisi memeluk erat kotak informasi bercat hitam. Dia tidak membukanya sama sekali karena tidak sempat.
"Syukurlah kalian berhasil membawanya" Tuan Astra menghembuskan nafas lega. Menerima uluran kotak informasi dari Selby.
"Jika kalian berdua disini sangat berbahaya. Ikut denganku saja. Kita akan mengepung para pengawal mafia itu!" pintanya membalikkan badan. Kembali menuju mobilnya.
Claire hanya mengikuti perintah atasannya. Begitu juga dengan Selby. Mereka berdua kembali mengendarai satu mobil bersama.
...****************...
Kota Zea, gedung blok A1.
Ini adalah kota kosong tanpa penduduk satupun. Tidak diketahui alasan apa yang membuat oara penduduk memutuskan pindah ke kota lain.
Disinilah tempat perburuan Claude dan Senno oleh para mafia bersenjata. Dan disinilah tempat pengepungan para mafia bersenjata itu oleh organisasi polisi rahasia.
"Semuanya! pasang bom waktu di sekitar area pengepungan!" pinta Tuan Astra. Sang pemimpin dari rencana ini.
"Kita akan tunggu di gedung ini saja. Untuk kau Claire! gunakan senjata ini untuk menembak jarak jauh jika kau melihat ada yang kabur dari area pengepungan"
"Baik"
__ADS_1
Hanya tinggal Claire dan Selby di atas lantai gedung. Mereka ditugaskan untuk menyerang yang kabur. Itu saja.
Beberapa menit lengang. Menunggu komplotan mafia itu juga membutuhkan waktu.
Tiba-tiba...
BOOOM...!!!
Suara ledakan bom waktu di area pengepungan meledak bersamaan. Tanda bahwa ada orang yang lewat di jalanan itu. Asapnya mengepul dimana-mana. Itu jelas bukan ledakan kecil.
Dari ketinggian 300 meter diatas permukaan tanah pun asap masih mengepul. Lebih mirip terjadi kebakaran. Dan memang iya. Setelah bom diledakkan maka area sekitarnya akan terbakar.
Kepulan asap tidak kunjung berhenti. Dari atas sini tidak terlihat apapun dibawah. Sepertinya para mafia bersenjata itu juga kesulitan melihat karena mata mereka akan pedih terkena percikan api.
Dua orang terlihat melarikan diri dari area pengepungan dengan menyeret kakinya yang terluka. Sesuai perintah, Claire harus menembak mereka dari atas gedung.
Door...!!! Door...!!!
Dua tembakan cepat langsung melesat melewati udara. Mengenai punggung dua orang yang akan melarikan diri. Mereka tidak akan bisa kabur lagi karena selain punggungnya terluka, kakinya juga terluka.
Sedikit demi sedikit kepulan asap mulai hilang. Mobil-mobil yang awalnya terlihat berwarna hitam pekat kini tampak seperti rongsokan. Hangus terbakar.
Abu-abu bertebaran. Api telah padam. Kepulan asap telah hilang. Claire tidak tau apa yang terjadi di bawah sana. Tetapi yang jelas ia telah memenuhi misi dan menjalankan tugasnya sebagai salah satu agen dalam organisasi rahasia.
Fajar telah datang. Siratan cahaya mentari pagi terlihat di langit-langit. Sebentar lagi matahari akan terbit. Saatnya mengakhiri misi ini.
"Terimakasih telah membantu. Istirahatlah setelah ini. Kalian pasti lelah. Oh ya, Claude dan Senno berada di rumah sakit di kota kita. Sampai bertemu lagi" Tuan Astra pergi meninggalkan lokasi.
Tempat yang kemarin dipenuhi kepulan asap, rupanya ada mayat bergelimpangan di aspal. Bekas luka berdarah terpapar jelas di tubuh mereka. Pakaian yang mereka pakai tidak lagi utuh.
Tidak disangka pengepungan semalam akan menyisakan korban jiwa begitu banyak. Mereka semua adalah anggota dari mafia. Dua orang yang tadinya ditembak oleh Claire juga telah gugur. Mereka tersungkur. Seluruh tubuhnya terluka.
Claire berjalan menjauhi lokasi. Hendak pergi bersama Selby.
"Apakah kau akan pergi mengunjungi pasangan partner kita, Selby?" tanya Claire lebih tenang dari semalam.
"Tentu saja. Mereka telah melindungi kita. Jika mereka terluka, kita harus merawatnya"
"Kapan kau akan mengunjunginya?"
"Mungkin nanti siang, sore, atau malam. Tubuhku pegal sekali. Beberapa bagian terasa sakit. Sepertinya ada luka tertutup"
"Aku juga. Aku akan mengobati lukaku sendiri saja"
Matahari semakin naik. Tanda akan terbit. Mobil yang dikendarai Claire berjalan mulus di aspal jalan. Dia sekarang bisa berkendara lebih tenang.
__ADS_1
...****************...
Rumah Sakit Laudrez
Rumah sakit terbesar di kota tempat Claire tinggal juga rumah sakit tempat Senno dirawat setelah misi selesai.
Siang ini. Pukul 1 ia dan Selby pergi ke rumah sakit demi menjenguk partnernya masing-masing. Dan juga bagaimanapun mereka telah menjalankan misi bersama.
Claire membuka perlahan pintu ruang rawat. Takut menggangu yang ada di dalam. Ini adalah ruang VIP. Dipesankan khusus untuk agen yang terluka dalam misi.
"Selamat siang. Bagaimana keadaan kalian?" Claire berkata dengan tutur kata lembut.
Claude, dikepalanya ada ikatan perban. Mungkin kepalanya terbentur atau entahlah.
Sedangkan Senno, kakinya diperban melingkar tepat di betisnya. Sepertinya dia terluka lebih parah dibandingkan Claude.
"Claire, Selby. Kalian datang?"
"Tentu saja. Kenapa tidak?"
"Bagaimana keadaanmu, Senno?" Selby bertanya cemas melihat ikatan perban di betis Senno.
"Senno, dia terkena tembakan peluru saat mereka menembakkannya secara massal"
"Ceritakan keadaan semalam" Claire menarik kursi untuk duduk berhadapan dengan Claude. Sedangkan Selby duduk di pinggir ranjang pasien.
"Semalam. Setelah kalian berdua berhasil kabur dengan membawa kotak informasi itu, aku dan Senno menahan mereka. Kami berdua sempat masuk ke dalam hutan. Wujud hutan itu sekarang persis seperti bekas medan perang. Kami bersembunyi dibalik mobil salah satu mafia. Granat dilemparkan hingga terjadi ledakan. Di saat itulah Senno tertembak peluru. Aku segera membawanya pergi. Ada kesempatan walau hanya secuil. Saat kami sudah berhasil menjauhi lokasi, mereka mengejar kami. Bahkan saat kami sudah melewati sungai pun, mereka menggunakan serangan peluru jarak jauh. Kaca mobil percah. Pecahan kaca itu melukai kepalaku" Claude berkata sambil memegang perban di kepalanya pada akhir kata.
"Untunglah agen lain segera menemukan kami. Senno juga terselamatkan. Luka di betisnya pasti sangat sakit"
Selby menatap Senno dengan mata berkaca-kaca. Demi melindunginya dia sampai mengorbankan diri begini. Lebih baik jika semalam dia tidak kabur sendiri bersama Claire.
"Tidak apa-apa Selby. Dokter bilang jika peluru itu hanya menembus daging. Tidak sampai tulang. Sehingga peyembuhannya kurang lebih 1 minggu saja. Kita akan menjalankan misi bersama lagi" Senno menenangkan dengan iringan senyum khas yang jarang ditunjukkannya.
"Oh ya apa kalian sudah makan?" tanya Claire.
Keduanya menggeleng kompak. Selby juga menggeleng. Bahkan Claire pun juga belum makan. Astaga kenapa jadi kompak begini.
"Baiklah. Selby kau tetap disini saja. Aku dan Claude akan pergi mencari rumah makan sebentar" sarannya dibalas anggukan oleh Selby.
"Ayo Claude. Kau masih sanggup berjalan kan?"
"Tentu saja kenapa tidak?"
"Kepalamu itu tidak pusing kan?"
__ADS_1
"Ini kemarin hanya luka sedikit. Hehehe~"
Claire dan Claude pun pergi meninggalkan partner S-S berdua di dalam ruang rawat VIP. Mumpung rumah sakit ini dekat dengan rumah makan. Jadi mereka bisa lebih cepat membeli dan memakan bersama. Hihihi.