
Satu pekan telah berlalu. Claire telah kembali pulang kerumahnya. Jika menurut para agen lainnya seharusnya tinggal disana selama sebulan. Ini hanya upaya untuk menepati janji kepada ibunya waktu itu.
Claire duduk diatas kursi dengan menghadap kearah layar laptop sewaannya. Dia menyewa laptop itu untuk membuka situs-situs yang tidak dapat dibuka di ponsel.
Claire menggeser halaman sebuah situs dengan malas. Sedari tadi isinya hanya pengertian dan semacamnya pada hal yang dia cari.
'Bagaimana cara menjinakkan bom waktu?' begitu ketiknya.
Akhirnya muncul penjelasan panjang pada situs itu. Claire antusias membaca per katanya. Tidak mudah memahami maksudnya, tetapi dia tetap harus belajar untuk mengatasi hal ini.
Cara menjinakkan bom waktu hanya ada dua cara. Pertama yaitu menggunakan remot kontrol yang juga dapat digunakan untuk menyalakannya. Tentu saja hanya pemiliknya yang memilikinya. Tapi tenang saja, masih ada cara lain yang juga ampuh untuk menjinakkan bom waktu ini. Yaitu dengan memutus salah satu kabeh antara kabel yang berwarna merah atau biru yang menjadi menerima sinyal dari remot kontrolnya.
Claire membaca kalimat itu berkali-kali. Dia bukan ahli mesin sehingga tidak tau hubungan sebuah kabel secara spesifik dengan sebuah benda.
"Ini rumit" gumamnya.
"Harus memutus salah satu kabel diantara kabel berwana merah dan biru ya? apa hubungan keduanya?" gumamnya lagi.
Otak Claire terus berputar mencari maksud dari kabel tersebut. Sekuat apapun otaknya mencari jawaban tetap saja tidak bisa. Sekalipun Claire tidak pernah mempelajari hal seperti ini.
"Claire! cepat jemur pakaian!" seru ibu dari bawah. Dia baru saja selesai mencuci pakaian. Menjemur pakaian diserahkan kepada Claire.
"Iya bu!" Claire balas berseru. Dia bergegas turun kebawah. Terlambat satu menit saja biasanya ibunya akan marah-marah.
Saat Claire sedang menjemur pakaian, ayahnya tidak sengaja masuk kedalam kamar Claire. Claire lupa menjinakkan laptopnya sehingga layar laptop masih menampilkan situs yang sebelumnya ia baca.
"Apa ini?" ayah Claire duduk diatas kursi kemudian menggeser halaman situs kebawah. Ia menemuka pengertian dan cara menjinakkan bom waktu. Ekspresinya sedikit keheranan.
"Untuk apa anak itu mencari hal seperti ini?" ayah Claire tetap menggeser halaman situs kebawah hingga halaman situs itu habis.
Seusai menjemur pakaian Claire langsung naik kembali ke kamarnya berniat mencari pengetahuan tentang kabel merah dan biru.
Dia melihat ayahnya yang duduk di kursi belajarnya. Claire tetap terlihat tenang namun matanya tidak bisa berbohong. Dia terkejut juga panik. Bagaimana jika ayahnya akan bertanya tentang situs itu? jawaban apa yang harus kuberikan? pertanyaan demi pertanyaan mulai muncul di benaknya.
Ayah Claire berdehem.
"Claire"
"I-iya ayah, ada apa?"
"Untuk apa kau mengunjungi situs ini? ayah sudah membaca semuanya. Apakah kau berniat mencari cara untuk menjinakkan bom waktu? tentu saja. Untuk apa kau mempelajarinya?"
"C-Claire h-hanya iseng saja"
__ADS_1
"Oh ya? situs ini tidak bisa dibuka dengan ponsel melainkan harus menggunakan laptop. Ayah tau sekali tentang hal ini. Inikah tujuanmu menyewa laptop?"
"T-tidak, bukan begitu"
"Lalu?"
Claire memainkan jemarinya. Dia bingung harus menjawab apa. Mencari alasan disaat seperti inipun juga terasa sulit. Keheningan menyelimuti.
"Lalu untuk apa Claire?" ayah Claire mengulangi pertanyaannya. Kali ini dengan menekan suaranya saat menyebut namanya.
"I-itu... untuk..."
"Untuk apa, hm?"
Kepala Claire terus berpikir menjadi jawaban hingga terasa berdenyut. Dia merasa kepalanya pusing sekarang. Lagi-lagi suasana menjebaknya.
Entah ini keberuntungan atau bukan. Tiba-tiba terlintas dikepalanya sebuah jawaban. Dia tidak pernah memikirkan hal ini. Mungkin karena terdesak jawaban ini bisa terlintas. Memang agak konyol. Tetapi seharusnya ini akan berguna.
"Itu... belakangan ini banyak terjadi kehancuran gedung-gedung dikarenakan ada penyusup memasang bom. Banyak nyawa yang melayang karenanya. Claire hanya... berniat mempelajari cara menjinakkan bom itu supaya nantinya Claire bisa menolong banyak nyawa"
Ayah Claire menunjukkan ekspresi tertegunnya sesaat, "Tidak bisa dipercaya. Kau... kau..."
"Apa caraku salah?"
"Jika tidak begitu, suatu saat juga bisa berdampak pada diri dan keluargaku juga"
"Benar sekali. Lanjutkan niatmu" ayah Claire hendak berlalu pergi meninggalkan kamar Claire. Tetapi Claire memanggilnya lagi.
"Ayah..."
"Iya? ada apa?"
"Tadi Claire sempat membaca caranya. Disana tertulis mengenai kabel berwarna merah dan biru, apakah itu?"
Ayah Claire hanya tersenyum. Ekspresinya telah berubah sejak Claire mengemukakan alasan palsunya.
"Kau tidak tau?"
"Claire tidak pernah mempelajarinya. Wajar bukan jika tidak tau? ayah, bukankah ayah lulusan teknik mesin? seharusnya ayah tau"
"Iya, ayah memang tau. Tapi ayah tidak akan memberitahumu" dada Claire berdegup kencang lagi. Muncul pertanyaan dibenaknya apakah ayahnya tidak percaya dengan alasannya.
"Maksud ayah, ayah tidak akan memberitahumu jika kau akan menyalahgunakannya. Gunakan ilmu ini dijalan yang benar"
__ADS_1
"Baik" Claire menghembuskan nafas lega. Untung saja.
"Baiklah, begini..." ayah Claire mulai menjelaskan pengetahuan berdasarkan pertanyaan Claire sebelumnya.
Itu penjelasan yang cukup panjang dan membingungkan.
*Maaf ya author tidak menuliskan penjelasannya 🙏🏻😁.*
***
Matahari telah berlalu tenggelam di barat. Bulan menampakkan wujudnya. Bentuk bulannya kurang lebih masih dalam fase bulan sabit. Cahayanya tidak terlihat terang.
Claire menatap layar laptopnya dalam kegelapan. Lampu kamarnya sengaja tidak dinyalakan. Ini hampir tengah malam tetapi Claire belum memutuskan untuk tidur. Matanya sedikit terlihat merah karena terus menatapi layar laptop.
Dia sedang memperdalam ilmu tentang kabel merah dan biru. Ayahnya memang sudah menjelaskannya tetapi dia perlu memperdalam pengetahuannya supaya bisa mengantisipasi kesalahan tahap.
Ditemani dengan secangkir teh hijau, dia masih mencari informasi tentang kabel merah dan kabel biru. Sudah banyak situs yang dibacanya. Kurang lebih memuat infomasi yang sama.
Layar ponselnya menyala. Terlihat terang karena keadaan kamarnya gelap. Pesan dari Claude.
^^^"Claire, dua hari kedepan kita akan pergi ke Markas Kepolisian Negara di ibukota lagi. Tuan Shibe mengonfirmasi adanya ledakan bom-bom disekitar tempat itu. Kita harus pergi kesana"^^^
^^^"Lagi?"^^^
^^^"Jangan mencoba lari dari tanggung jawabmu, Claire!"^^^
^^^"Bukan begitu, aku tidak tau apakah ayah dan ibuku mengizinkanku pergi lagi dalam waktu sedekat ini"^^^
^^^"Aku akan membantumu"^^^
^^^"..."^^^
Claire bingung harus mengetikkan pessan apa. Dia tidak bisa berjanji tapi juga tidak bisa lari dari tanggung jawabnya sebagai komandan junior disana.
^^^"Tidak perlu, aku akan mencobanya sendiri. Kita pergi dua hari kedepan"^^^
^^^"Oke"^^^
Pertukaran pesan itu berakhir begitu saja. Claire menyesap secangkir teh hijaunya. Udara malam masuk kedalam kamarnya lewat jendelanya yang masih terbuka.
Claire menggeser kursor berharap bisa menemukan situs lain yang memuat informasi berbeda. Terlintas sebuah situs dengan judul 'Mau meretas jaringan lokal? berikut caranya'.
Claire berpikir sejenak. Jaringan lokal bisa berarti jaringan negara atau jaringan suatu daerah tertentu. Tanpa berpikir panjang, Claire meng-klik situs tersebut untuk membaca caranya. Baginya ini adalah wawasan tambahan.
__ADS_1