
Dini hari Claire baru tertidur pulas dan terbangun pukul tujuh pagi. Matahari sudah bersinar terang diatas gedung.
"Kenapa tidak ada yang membangunkanku?!!" Claire bergegas membersihkan diri kemudian berganti pakaian menjadi pakaian latihan lainnya.
Ia berjalan menuruni anak tangga dari Rooftop ke lantai teratas yang beratap. Entah dimana semua orang, setiap ruangan yang dilalui Claire sepi dan sunyi. Tidak ada orang.
Semalam saat dia baru saja sampai di Markas Kepolisian Negara, dia ditanyai seperti pertanyaan Selby saat baru bertemu dengannya didepan bar.
Claire masih akan menyelidiki tentang siapa Minota sebenarnya sendirian tanpa memberitahu siapapun termasuk Claude. Sehingga dia membuat alasan sendiri untuk menjawab pertanyaan atasannya.
"Darimana saja kau Claire? tim senior mencarimu dimanapun tidak ada. Bagaimana bisa kau berada di jalanan dekat bar tempat Selby menjalankan misinya? tidak mungkin kau bisa berpindah tempat secepat itu"
"Saya saat itu sebenarnya sudah keluar bersama beberapa agen wanita yang keluar dengan lift"
"Oh ya? lalu bagaimana bisa tidak ada seorang pun yang melihatmu keluar dari lift?"
"Itu karena saat saya baru saja keluar saya melihat sekelompok pria mencurigakan. Saya mengikuti mereka namun saya kehilangan jejaknya. Mereka melarikan diri terlalu jauh. Saat itu juga saya tanpa sengaja bertemu dengan Agen 201 di bar"
"Begitukah? baiklah masuk akal. Silahkan kau beristirahat di tendamu"
"Baik terima kasih"
Sebenarnya tidak semudah itu para atasan Claire mempercayainya. Lalu mengapa bisa mereka percaya dengan mudah? tentu karena Selby memperkuat pernyataan Claire dengan kesaksian jika Claire benar-benar tersesat. Padahal dia juga tidak tau apa yang sebenarnya terjadi. Dia hanya bisa percaya pada Claire, temannya.
Pagi ini Claire bangun kesiangan. Dia menuruni anak tangga tanpa sadar telah sampai di lantai dua. Kepalanya mencoba menebak siapa sebenarnya Minota. Dia pusing memikirkannya.
"N-nona Claire" sapa seorang gadis berkuncir dua dengan aksesoris pita yang terpasang didekat poni rambutnya.
"Namamu... Ren?"
"Ah iya benar, rupanya nona Claire masih mengingatnya ya?"
"Hm, tentu saja"
Dibelakang punggung gadis itu terdapat ruangan kubus putih berukuran raksasa. Salah satu sisi kubus transparan sehingga bisa melihat hal yang terjadi didalamnya.
Didalam kubus putih itu terdapat beberapa agen pria dan wanita sedang bertarung melawan robot-robot pintar yang telah berhasil dikembangkan. Mereka bertarung dengan hebat layaknya manusia.
"Apa itu?"
"Oh itu adalah ruang simulasi untuk latihan. Tuan komisaris menawarkan simulasi latihan bersama para robot militer"
"Robot militer?"
"Yah mereka ahli dalam pertarungan. Alat yang canggih"
"Kenapa kau tidak ikut dengan mereka?"
__ADS_1
"Aku? ah setelah ini aku dan temanku yang lain akan melalukan simulasi"
"Siapa saja?"
"Shoera, Naomi, Keiko, Selby, serta aku Ren. Sebenarnya untuk agen wanita masih kurang satu lagi. Seharusnya masing-masing kelompok simulasi berjumlah enam"
"Lalu agen pria siapa saja yang akan melakukan simulasi?"
"Kalau tidak salah Tuan Claude dan lima agen pria lainnya. Waktunya bersamaan dengan kami"
"Waktunya bersamaan ya? bagaimana jika aku mengisi anggota simulasi yang kekurangan orang? bukankah kau bilang seharusnya berjumlah enam tetapi hanya lima?"
"Benarkah? Nona Claire mau melakukan simulasi latihan bersama kami?"
"Kenapa tidak? aku berencana menunjukkan beberapa teknik yang mungkin belum kau ketahui"
"Baik!!!" Ren membungkuk hormat dengan perasaan riang gembira.
Beberapa menit menunggu, akhirnya tiba saatnya dua tim simulasi dari agen pria dan wanita berikutnya berlatih.
"Claire sejak kapan kau disini?" Claude menyapa beberapa detik sebelum masuk kedalam ruangan simulasi.
"Sejak tadi, hanya kau saja yang tidak menyadarinya"
"Sepertinya benar begitu. Jadi kau ikut melakukan simulasi latihan?"
"Baiklah, mohon kerjasamanya"
"Kau juga"
Kedua tim simulasi masuk kedalam ruang simulasi. Pihak pengendali memberikan beberapa detik untuk bersiap. Kemudian...
Drap... Drap... Drap...
Langkah kaki robot militer terdengar. Mereka juga memiliki senjata yang sudah menyatu dengan diri mereka. Mereka diprogram untuk menyerang yang ada didalam ruang simulasi itu. Bukan bagian dari mereka sendiri melainkan para anggota yang melakukan simulasi.
"Bersiap!" perintah Claude memposisikan shotgunnya.
Jumlah robot militer itu pukulah. Rangka tubuhnya yang terbuat dari besi membuatnya seperti tameng yang memantulkan peluru.
Kedua tim simulasi mulai bergerak. Berlari maju.
Claire menatap lurus. Dia berada dalam mode kefokusan tinggi. Jarak beberapa meter Claire mulai menembakkan pelurunya beberapa kali. Mengenai kepala robot. Tetapi mereka hanya terjatuh kemudian berdiri lagi.
Setelah mereka terjatuh robot-robot itu tampak berbeda. Mereka mengeluarkan pistolnya. Mulai menembak kesembarang arah.
Claude berlari menghindar ke pojok ruangan. Dia dan Haran yang berada dalam satu tim melindungi dirinya dengan tameng besi. Itu sulit sekali ditembus peluru.
__ADS_1
Disisi lain Haran melihat Selby bersusah payah melarikan diri dari robot yang telah mengunci tembakan padanya. Haran segera berlari kearah Selby. Hendak melindunginya.
Bommm....!!!
Sebuah peluru meledak didekat mereka berdua. Untunglah Haran masih sempat melindungi Selby dengan tamengnya.
"Kau tidak apa-apa?"
"Iya, terima kasih Haran"
Claire yang melihat semua itu tiba-tiba merasa seluruh tubuhnya diselimuti aura kemarahan dan balas dendam. Walau itu hanya simulasi dan yang menyerangnya hanya sebuah robot tetap saja dia hampir melukai temannya.
Claire tidak sengaja menjatuhkan pistolnya. Dia tidak sadar. Yang dia tau hanya berlari kearah robot yang tadi menyerang Selby.
Beberapa robot menghalanginya. Claire mengeluarkan senjata jarak dekatnya, belati. Dia menendang beberapa robot dan robot dia banting ke alas ruangan.
"Beraninya kau!!" Claire memutus kabel dileher robot itu. Robot itupun otomatis ternonaktifkan.
"Claire!!!" Claude berteriak, dibelakang Claire ada sebuah robot yang mengarahkan pistolnya kearah kepala Claire.
Claire berguling kedepan beberapa meter. Memang benar robot itu hendak menembak kepalanya. Tapi karena Claire cepat bergerak maka tembakannya hanya mengenai temannya yang sudah ternonaktifkan.
"Untung saja masih sempat. Tadi itu nyaris sekali" Claude memasang tamengnya melindungi Claire.
"Tidak masalah" Claire menatap sisi kubus berwarna putih yang sudah terkotori oleh debu.
"Apa sisi kubus ini kokoh?"
"Sepertinya begitu"
"Baiklah kalau begitu layak dicoba"
"Apa?"
"Kau harus membantuku. Jadilah tolakan kakiku untuk melompat" ide Claire itu tersampaikan ke pikiran Claude.
"Aku mengerti"
Claude berlari kedepan cukup jauh dari Claire. Dia berjongkok membelakangi tamengnya yang telah ia pasang berdiri dengan kokoh.
Claude mengangguk memberikan instruksi kepada Claire bahwa ia siap. Claire berlari kearahnya sekaligus bersiap untuk melompat. Semakin cepat simulasi ini berakhir maka semakin bagus.
Telapak tangan Claude ia jadikan sebagai tolakan untuk melompat. Kini Claire melompat cukup tinggi. Beberapa meter diatas para robot yang sibuk menembak anggota simulasi lain.
Kemudian saat Claire hampir mendarat robot itu menoleh kearahnya. Baru sadar jika ada yang mendekatinya. Sepertinya robot itu juga dibelaki sensor jarak dekat.
Tapi terlambat. Claire menginjak perut depannya. Menjadikannya sebagai tumpuan pendaratan.
__ADS_1
"N-nona Claire?" Ren yang sibuk menembak kearah robot-robot lain sejenak mengagumi teknik Claire melompat tinggi.