
Dalam kegiatan evakuasi pada siang hari, Claire menemani Selby untuk datang ke lokasi yang semalam merupakan medan pertempuran sekaligus pembantaian besar antara para agen dengan para mafia.
Mengingat kejadian semalam pula, Selby bilang ingin melihat wajah partnernya yang telah ikut gugur. Dia jelas sedih namun juga lega setelah membalaskan kematian partnernya.
Tepat di lokasi terakhir perpisahan Claire, Selby, dan pria yang semalam ditolongnya jatuh dari lantai atas sebuah gedung yang telah roboh, terlihat lebih dari satu mayat tergeletak diatas tanah.
Wajah mereka terkena ledakan granat sehingga menimbulkan luka bakar. Walau agak sulit dikenali tetapi Selby mengingat lekat dikepalanya mana wajah seorang pria yang ditolongnya kemarin.
Senno yang merupakan salah satu korbannya telah dibawa oleh mobil Ambulance menuju rumah sakit untuk diperiksa lebih lanjut. Claire yang menemani Selby pun juga ikut pergi kesana.
Claire bisa menangkap kesedihan Selby dalam matanya. Juga getaran kecil di tangannya yang hampir tak kasat mata. Dia sedih. Dia ingin mencurahkan air matanya sekali lagi seperti semalam.
Claire merangkul Selby dari belakang punggungnya. Mencoba menenangkan teman gadisnya tersebut. Walau Claire sendiri tau jika dia tidak memiliki kemampuan menghibur orang lain.
"Senno telah tenang diatas sana, Selby. Dia tidak lagi merasa kesakitan karena luka dalam di punggungnya itu. Kau seharusnya juga ikut senang. Kebahagiaan partnermu adalah kebahagiaanmu juga, kan?" Claire memulai kata-katanya untuk menghibur Selby.
Selby hanya diam sambil menangis tanpa suara. Hal itu tidak dapat ia sembunyikan dadi Claire yang duduk di sampingnya. Dia hanya tidak bisa menerima kenyataan seseorang yang berharga baginya harus pergi dalam peperangan dengan para mafia.
Beberapa jam menunggu, salah satu perawat yang juga membantu dalam evakuasi mempersilahkan Claire dan Selby untuk masuk kedalam kamar mayat. Sebentar lagi mayat Senno akan di makamkan.
Dengan langkah berat, Selby masuk kedalam kamar mayat ditemani oleh Claire. Claire tidak berani meninggalkannya karena takut terjadi sesuatu kepada Selby.
Perawat itu menunjukkan sebuah ranjang dengan seseorang yang telah tiada diatasnya diselimuti kain putih hingga menutupi seluruh tubuhnya.
__ADS_1
Semakin berat langkah Selby mendekati ranjang itu. Dengan tangan gemetar dia membuka kain penutup di kepala Senno. Terlihat wajah damai mantan partnernya itu.
Matanya menutup sempurna seperti orang yang sedang tertidur pulas. Hanya ada luka-luka kecil diwajahnya yang tidak merubah bentuk wajahnya. Karena luka utamanya ada di punggung.
Selby semakin terasa sesak di dadanya. Bukan karena apapun tetapi karena dia berusaha tidak menangis dihadapan Senno yang telah tiada itu. Hati seorang wanita lebih lembut daripada sehelai kapas. Selby tetap menangis dengan kepala menunduk tanpa suara.
"Selby..." Claire menatap sendu wajah teman gadisnya. Dua tetap mengelus lembus lengan atas Selby. Bermaksud menguatkan.
Selby berhenti menangis. Fisiknya memang sudah terlihat lebih tegar. Namun mentalnya masih meragukan. Dia beranjak berdiri. Menatap sekali lagi wajah Senno untuk terakhir kalinya.
Dia memberanikan diri mengelus pipi pria yang kemarin juga dielusnya. Sebentar lagi mereka akan berpisah. Tidak akan bertemu lagi untuk selama-lamanya.
"Senno, terima kasih selama ini telah menemaniku... hiks... terima kasih selama ini telah bersedia melindungi dan menjagaku. Kelembutan sifatmu kepadaku itu... hiks... akan selalu kuingat. Aku yakin sekarang jiwamu sudah tenang diatas sana... hiks... seharusnya aku juga senang. Terima kasih juga... hiks... telah berbagi suka duka ini bersama-sama... hiks" Selby mengeluarkan kata-kata yang memberati hatinya sejak semalam.
Walau berkali-kali terisak dalam tangisnya, dia tetap berusaha mengucapkannya sejelas mungkin. Diakhir kata, hatinya sudah tidak kuat lagi. Dia menumpahkan air matanya ke lantai karena dia tidak ingin mayat Senno dibasahi oleh air matanya.
Claire membawa Selby keluar dari kamar mayat. Diluar mungkin keadaan akan lebih menenangkan.
"Kau puas setelah melihat wajah damai terakhirnya?" tanya Claire tanpa melihat kearah Selby.
"Hiks... aku seharusnya bahagia melihat dia tidak lagi tersiksa dengan lukanya. Tetapi aku malah... hiks... bersedih seperti ini" bukannya menjawab pertanyaa Claire, Selby malah mengeluarkan uneg-unegnya yang lain.
"Kau merasa kehilangan, bukan? karena Senno telah memperlakukanmu dengan baik selama kalian berpartner. Jika salah satu dari kalian tiada, rasanya pasti menyakitkan"
__ADS_1
"Kau pernah mengalami ini, Claire?" seketika Selby mengubah topik pembicaraan. Melupakan sedihnya sejenak.
"Hanya sekali" Claire menatap langit biru dengan awan putih melalui jendela di lorong-lorong rumah sakit.
"Apakah rasanya memang sesakit ini?"
"Ya. Aku bahkan sampai mengurung diri di kamar berhari-hari saat itu"
"Oh ya? tidak kusangka seorang Claire pernah mengalami hal menyakitkan ini sebelumnya" Selby mencoba tersenyum sambil menyeka air matanya.
"Kurasa, itulah yang membuatku menjadi diriku yang sekarang kau kenal"
Hening. Selby berusaha mencerna kata-kata Claire barusan. Dia tidak tau maksudnya. Apakah Claire dulunya sosok orang yang periang?
"Setelah kejadian menyedihkan itu, aku berjanji kepada diriku sendiri untuk tidak menangis lagi. Hatiku membeku. Mati rasa. Hingga hari ini tiba, akhirnya aku kembali sadar tentang apa arti kesedihan yang sesungguhnya"
"Claire... kau dulu adalah gadis periang?"
Seolah ada angin berlalu menerpa wajah dan surai kedua gadis itu dalam ruangan lorong-lorong rumah sakit. Claire hanya tersenyum tipis kearah Selby. Itu senyuman pertama yang dilihat oleh Selby.
"Menurutmu?" Claire kembali mengalihkan pendangannya kearah luar melalui jendela.
"Aku tidak pernah tau kau pernah mengalami masa-masa pedih seperti itu, Claire. Maafkan aku membuatmu mengingat masa lalumu" Selby merasa bersalah kepada Claire.
__ADS_1
"Tidak apa-apa. Aku sudah tidak sedih lagi meski diingatkan dengan kejadian yang sama"
Lewat cerita masa lalu Claire, Selby pun melupakan kesedihannya tentang kematian Senno. Mereka berdua pergi meninggalkan rumah sakit. Sore nanti Selby sendirian akan datang pada acara pemakaman massal para agen organisasi di TPU.