
Karena Ren terus menatap Claire kagum, ia hampir saja terkena tembakan peluru robot. Tetapi Keiko menyelamatkannya dengan cara mendorong Ren hingga terjatuh.
"Aduh..." Ren memegang kepalanya yang terbentur alas ruangan cukup keras.
"Maaf, tapi robot itu tadi hampir melukaimu"
"Oh ya? terima kasih"
Robot itu berlari mendekat kearah Ren dan Keiko dengan terus menembakkan pelurunya bertubi-tubi dan sembarangan.
Ren dan Keiko menelungkup kepalanya sambil merangkak berusaha menjauh dari robot itu.
Claire mengalihkan tembakan robot itu kepadanya.
"Aku disini"
Robot itu menoleh kemudian menembakkan pelurunya bertubi-tubi lagi. Claire bergerak dengan gesit mendekati robot itu. Beberapa peluru berhasil melukainya hingga merobek seragam latihannya pada bagian lengan.
"Cih, siapapun kau aku tida akan memaafkanmu!" Claire berlari mendekat melawan peluru itu dengan gerakan yang gesit.
Kemudian Claire mengangkat tubuh robot itu. Membantingnya dengan keras hingga beberapa rangka tubuhnya remuk.
Nafas Claire menderu. Dia lelah jika harus bertarung dengan fisiknya.
"Nona Claire!" Ren dan Keiko mendekat kearahnya.
"Nona baik-baik saja?" Claire hanya mengangguk tegas.
Disisi lain Shoera sedang menyerang robot-robot itu dengan shotgunnya. Gerakannya juga gesit seperti Claire. Ditambah lagi kebanyakan tembakannya akan selalu mengenai target. Itu bisa menghemat peluru.
"Shoera!" Shoera jatuh karena satu peluru mengenai pistolnya. Robot lain hendak menembaknya pada bagian kepala seperti Claire sebelumnya.
Tanpa berpikir panjang Claire mengambil shotgun yang tergeletak didekatnya, entah miliki siapa itu. Kemudian Claire berlari cepat beberapa meter.
Claire berjongkok, mengarahkan shotgunnya pada robot yang hendak menyerang Shoera.
Door... Door...!!!
Robot itu jatuh bergelimpang bahkan sebelum ia sempat menembakkan satu peluru pun kearah Shoera. Shoera menoleh kepada Claire. Dari matanya, tampak jika dia kagum.
Claire dan Shoera pun bersamaan menembakkan peluru kepada beberapa robot yang mendekat kearahnya. Jarak mereka tidak berdekatan tetapi shotgun bisa digunakan dalam jarak jauh.
Tinggal beberapa robot lagi yang belum dikalahkan. Jumlahnya bisa dihitung dengan jari. Semua anggota simulasi dalam ruangan itu mengepung para robot.
Claire merangsek maju. Memutuskan kabel salah robot dengan belatinya yang tajam. Robot lain yang mendekat kearahnya segera ditembak oleh Claude dengan shotgunnya.
Sisa-sisa robot berhasil dikalahkan secara keseluruhan oleh Shoera. Dia mahir dalam hal seperti ini. Sama seperti Claire.
Simulasi selesai. Pintu keluar dibuka. Beberapa dari mereka terluka. Yah tentunya karena terkena tembakan peluru. Tetapi tidak ada bagian tubuh dari mereka yang putus. Hanya terluka berat.
***
Claire sedang duduk di alas salah satu tenda di Rooftop. Ia sedang membalut lukanya dengan kain perban. Tetapi sedari tadi dia gagal membalutnya karena balutannya tidak rapi.
"Nona Claire" Shoera tiba-tiba masuk kedalam tenda Claire.
"Uh... maaf jika saya tiba-tiba masuk"
__ADS_1
"Tidak masalah"
Shoera duduk dengan sopan ala-ala wanita jepang duduk dialas lantai atau disebut Seiza. Shoera duduk didekat Claire.
Claire hendak meminta tolong Shoera untuk membalutkan luka dilengannya dengan kain perban. Tetapi dia tidak mau merepotkan orang lain. Claire tetap bersikeras mencoba membalut lukanya terus-menerus walau selalu gagal.
"...Nona Claire, apakah ada yang perlu saya bantu?" tanya Shoera sopan.
"Eh... bisakah kau membalutkan lukaku dengan kain perban ini?"
"Tentu saja, saya bisa" Shoera tersenyum hangat. Tangannya bergerak gesit membalut luka Claire.
"Sudah selesai, nona"
"Terima kasih. Oh ya sebaiknya jangan panggil aku dengan sebutan nona jika tidak disaat latihan atau dalam misi"
"Dimengerti"
"Kau agen nomor..."
"092"
"Iya itu maksudku. Namamu kalau tidak salah Shoera kan?"
"Iya no... maksud saya Claire"
"Ada perlu apa datang kemari?"
"Itu... anda sangat hebat Claire"
"Oh ya? kau juga hebat Shoera, tembakanmu hampir tidak ada yang meleset" Shoera menggelengkan kepalanya beberapa kali.
"Aku?"
"Iya anda bisa menggunakan teknik melompat, bergerak gesit, dan pastinya anda juga mahir menggunakan shotgun"
"Ah.. tidak kemampuanku biasa saja. Claude yang mahir melakukannya"
"Tuan Claude juga hebat. Kalian pasangan partner luar biasa"
"Jangan terlalu berlebihan. Mereka memasangkan kami kupikir hanya karena inisial nama"
"Tidak Claire. Kalian terlihat layak dipasangkan sejak pertama kali bergabung dalam agen polisi rahasia"
"Oh ya? aku tidak pernah memikirkannya lebih jauh lagi"
"Sejak awal anda memang hebat dalam kemampuan bertarung. Saya masih ingat pernah melihat anda memotong rumput hanya dalam hitungan detik. Teknik yang anda gunakan saat itu... luar biasa"
"Terima kasih. Kau juga luar biasa. Aku banyak belajar dari caramu menepatkan sasaran"
"Sepertinya akan lebih baik kita saling belajar dari kemampuan satu sama lain"
"Ya"
"Baiklah. Kita harus turun, mereka menunggu kita" ajakan Claire mendapat anggukan dari Shoera.
Mereka berdua berjalan berdampingan turun kelantai teratas gedung kemudian turun ke lantai satu dengan lift. Itu lebih cepat dan menghemat tenaga daripada harus menuruni anak tangga yang jika ditotal dari lantai teratas hingga terbawah bisa berjumlah ratusan.
__ADS_1
"Claire, kau telah menunjukkan kepada semua teknik bertarung dan kerjasama yang sesungguhnya. Simulasimu pelatihanmu sangat hebat" sapa Tuan Astra sekaligus memuji Claire.
"Terima kasih, Tuan Astra" Claire membungkukkan badannya, hormat.
Claude berjalan kearah Claire. Langkah kakinya santai, tetapi seperti ada yang salah saat dia berjalan.
"Bagaimana dengan lukamu, Claire?"
"Kau tau jika aku terluka?"
"Tentu saja"
"Shoera membantuku membalut lukaku. Dia mahir melakukannya" Claire menoleh kearah Shoera. Kemudian menunjukkan senyum tipisnya yang jarang ia tunjukkan kepada seseorang.
"Ti-tidak. Saya tidak mahir melakukannya. Saya hanya terbiasa sehingga bisa melakukannya dengan baik dan benar"
"Kebiasaan yang bagus. Kau bisa mengasah kemampuanmu dengan itu"
"Terimakasih atas sarannya" Shoera membungkukkan badannya.
Claire berjalan mendekati Claude. Dia berjongkok didepannya. Kemudian memukul kakinya agak keras.
"Aduh..." Claude merintih kesakitan.
"Sudah kuduga, kau juga terluka. Jangan menutupinya dariku karena itu percuma"
"Kau memang gadis cerdik. Bagaimana kau tau?"
"Cara jalanmu, seperti ada yang salah. Jadi luka apa yang ada dikakimu?"
"Tidak ada, hanya... terkilir"
"Terkilir ya? bagaimana jika..."
crakk...
"Begini saja?" Claire membengkokkan kaki Claude kemudian menekannya.
"Ini... agak... sakit"
"Tidak apa-apa. Mari aku antar ke tendamu untuk beristirahat"
Claire membawa Claude naik ke Rooftop gedung. Sebelum itu ia juga sempat berpamitan kepada Tuan Astra dan Shoera.
"Kau tau Claire? teknikmu itu luar biasa sekali"
"Jangan bercanda. Itu biasa saja. Aku yakin semua orang bisa melakukannya jika mereka mau berlatih dan tau tekniknya"
"Aku serius"
"Kau juga hebat karena kau menjadi tumpuan yang tepat untukku"
"Itu biasa saja" Claire melirik tajam kearah Claude. Tadi dia tidak boleh berbicara begitu tetapi sekarang Claude-lah yang merendah.
Claire dan Claude tiba di Rooftop. Claude berjalan sendiri dengan terpincang-pincang masuk kedalam tendanya.
"Beristirahatlah"
__ADS_1
Matahari memancarkan sinar berwarna jingga. Tanpa terasa ini sudah sore hari. Sebentar lagi matahari akan tenggelam. Kegelapan akan segera tiba.
Claire tiba-tiba teringat pada selembar kertas bertuliskan sebuah alamat yang diberikan Minota kepadanya. Dia ingin memecahkan misteri siapa dia sebenarnya. Tapi dugaan pertama adalah dia bagian dari organiasi gelap itu, mafia.