
Tuan komisaris Hirofumi berdiri dari kursinya kemudian berjalan dengan badan tegap. Tatapan matanya sejatam elang. Ekspresinya tampak serius.
Claire menjadi gugup. Berbeda dari sebelumnya. Suasana tiba-tiba saja menjadi menegangkan.
"Ekhem, kalian sepasang partner bukan?" tanyanya menggerakkan pandangan mata kepada Tuan Matsumoto dan partnernya, juga komandan C-C.
Mereka berempat mengangguk tegas. Claire, walau ia gugup tetapi ekspresinya tetap tegas dan datar seperti biasanya. Gugup itu hanya didalam benaknya saja.
"Baiklah, Tuan dan nona. Mungkin kalian sudah tau tentang rencana kami tapi mungkin juga tidak"
"Rencana?" Claire keceplosan. Dia terlalu penasaran dalam keadaan serius ini. Claude langsung memelototinya. Claire menutup mulutnya, 'ups'.
"Iya. Kalau begitu kau salah satu yang belum tau Claire" sahut Tuan komisaris Hirofumi kembali ketempat duduknya. Suasana kembali terasa santai.
"Ledakan bom massal, kalian pasti sudah tau kan?" mereka berempat mengangguk bersamaan.
"Tahanan berhasil melarikan diri karena rupanya disana juga ada bom waktu yang dipasang. Mereka licik sekali. Sebenarnya mereka tidak mengebom rakyat sipil namun mereka hanya mengebom markas-markas kami saja" Tuan komisaris Hirofumi meletakkan tangannya dimeja dengan posisi terangkat. Telapak tangannya membentuk segitiga.
"Itulah sebabnya, kami rasa sudah saatnya bertempur kembali. Kami sudah bersiap dengan seluruh angkatan. Yang aku takutkan hanya satu. Pertempuran akan memakan banyak korban jiwa"
Claire termenung menunduk. Berpikir sejenak. Pertempuran ya? angkatannya banyak yang gugur hanya karena menangkan sekelompok mafia. Lalu bagaimana jika ini melibatkan seluruhnya? sulit untuk dipikirkan.
"Kenapa anda tidak memilih cara aman saja?" celetuk Claude bertanya.
"Maksudmu negoisasi? itu memang layak dicoba tetapi... sepertinya tidak akan berguna. Lagipula pihak organisasi mereka sendiri yang menginginkannya kan? mereka memasang bom dimana-mana. Menyusup kemudian menyelamatkan rekannya. Separuh kota ini hampir hancur"
"Saya mengerti maksud anda, Tuan komisaris. Tetapi bagaimana jika mereka hanya memancing kita kemudian mereka memiliki rencana lain?" Tuan Matsumoto mengutarakan pendapatnya.
"Itu... entahlah"
"Sebaiknya tidak perlu bertempur. Selain akan menggugurkan banyak nyawa, hal ini juga merugikan ibukota yang menjadi medan perangnya. Perbaikannya akan membutuhkan biaya besar" komentarnya lagi.
"Akan kupikirkan lagi nanti" Tuan komisaris Hirofumi memilih untuk memikirkannya lagi.
"Baik"
Semuanya bubar. Hanya tingga Tuan komisaris Hirofumi, Tuan Astra, dan Tuan Shibe didalam ruangan tersebut. Para atasan lain yang tidak dikenal Claire telah berlalu meninggalkan ruangan.
Claire naik ke Rooftop gedung. Disana masih berdiri tenda-tenda yang sebelumnya ditempatinya tidur.
"Nona Claire!" Ren berseru. Bermaksud menyapanya.
__ADS_1
Tidak lama para gadis-gadis yang dikenalnya segera mendatanginya. Claire tidak menunjukkan ekspresi apapun.
"Apa yang terjadi, nona Claire? saya dengar atasan akan mengirim kita untuk bertempur melawan para mafia itu" Shoera bertanya lebih dulu.
"Iya nona, apa itu benar? tapi mengapa mereka langsung mengambil keputusan? menurutku itu beresiko terlalu tinggi" Keiko mengutarakan pendapatnya. Claire masih diam. Tidak berkomentar ataupun menjawan pertanyaan mereka.
"Apa mereka bermaksud membunuh bawahannya sendiri? itu tidak mungkin kan? tapi jika memang itu keputusan mereka, aku tidak akan pernah siap melakukannya" sahut Ren.
Para gadis itu menunggu Claire menjawab serbuan pertanyaan mereka. Namun Claire masih diam. Merangkai kalimat yang tepat untuk diucapkan.
Selby memegang kedua lengan Claire. Dia menghela nafas. Namun tatapan matanya memohon.
"Apa yang terjadi, Claire?"
Claire menatap Selby sejenak. Kemudian beralih menatap sang surya yang hampir sepenuhnya tenggelam.
"Entahlah" ucap Claire singkat.
"Apa benar mereka merencanakan itu, nona Claire?" Naomi bertanya dengan tutur kata lembut.
"Awalnya begitu. Tapi mereka bilang akan memikirkannya lagi. Jadi, jangan khawatirkan tentang itu" gadis-gadis itu merasa lega.
Namun Shoera, Naomi, Ren, dan Keiko yang merupakan agen baru tidak mengerti. Tentu saja karena mereka tidak ikut dalam peperangan senjata di hutan itu.
"Yah" Selby membalas ucapan Claire. Dia teringat kembali pada partnernya yang gugur dimedan perang, Senno.
Empat gadis itu menatap Claire kemudian menatap Selby yang ekspresinya berubah murung. Mereka tidak tau apa-apa. Mereka bertanya-tanya dibenak mereka.
Claire segera menyadari apa yang Selby rasakan. Tentu saja itu karena secara tidak langsung ia telah mengingatkannya kembali pada Senno. Padahal tepat pada hari evakusasi itu Selby tidak bisa berhenti menangis karena melihat mayat Senno terbaring di ranjang medis.
"Maaf, Selby. Aku tidak bermaksud-"
"Tidak apa-apa. Aku mengerti" walau perasaannya sedih, dia tersenyum lebar kepada Claire. Claire menjadi tak enak hati menyaksikan ini.
Selby masuk kedalam tenda. Entah apa yang akan dia lakukan didalam sana. Sepertinya dia akan kembali menangisi Senno. Astaga, Claire semakin merasa bersalah.
"Nona Claire, apa yang-" Ren hendak bertanya, tetapi...
"Tidak ada apa-apa" Claire mengelak dari pertanyaannya. Lebih baik mereka tidak tau seperti saat ini.
Claire hendak pergi ke toilet. Namun Haran yang berada dalam satu tenda dengan Claude memanggilnya.
__ADS_1
"Claire...!"
Claire menoleh kepadanya. Berhenti melangkah. Lagipula ia tidak buru-buru.
"Ya, ada apa?"
"Dimana Selby? kenapa kau tidak bersamanya?"
Claire berhenti sejenak, "Selby ada di tendanya. Yah aku memang tidak bersamanya karena aku hendak pergi ke... toilet" Claire ragu-ragu mengatakan 'toilet'.
"Oh, maaf aku menghentikanmu. Baiklah silahkan" Haran merasa tidak seharusnya ia menghentikan Claire yang hendak pergi ketoilet. Dia menggaruk surai belakangnya, mengakui kebodohannya.
"Baiklah, sampai jumpa" Claire pergi meninggalkan Haran. Dia agak mempercepat langkahnya agar terkesan buru-buru.
Dalam langkahnya, dia berkata dalam benaknya
"Temui dia Haran, dia membutuhkan tempat bersandar"
***
Saluran Air bawah Tanah.
"Ayo bergegaslah" ucap seorang pria memakai masker hitam dan pakaian serba hitam. Dia meneriaki rekannya yang berpenampilan sama dengannya.
"Baik pak, maaf" ucap rekannya tersebut. Dia juga seorang pria. Dia membawa tas ransel besar di punggungnya. Tetapi entah apa isinya.
Sekelompok orang berpakaian hitam-hitam sedang berjalan didalam saluran air dengan diameter tidak kurang dari lima meter. Mereka memakai sepatu boot yang juga biasa digunakan seorang petani saat sedang bertani.
Diujung saluran air tersebut, ada banyak tombol yang entahlah apa gunanya. Namun sistem saluran air itu dibuat otomatis. Setiap ada yang menyalakan kran air maka air akan masuk melalui saluran air yang lebih kecil yang tidak bisa dilalui manusia.
"Cepat lakukan!" pria itu meneriaki rekannya lagi.
Rekannya yang membawa tas ransel membuka tasnya kemudian megeluarkan alat-alat mekanik. Alat-alat itu agak berat karena terbuat dari logam besi.
Rekannya yang lain menggunakan alat-alat mekanik tersebut untuk... memutar sebuah mur. Mur itu berukuran agak besar. Sehingga butuh tenaga lebih banyak untuk memutarnya.
Gunanya memutar mur tersebut adalah untuk membuka tombol lain yang tertutup. Kemudian salah satu dari mereka memencet beberapa tombol. Air tidak lagi mengalir. Ini adalah trik menghentikan aliran air dari saluran airnya.
"Ayo cepat kita pergi"
Sekelompok orang-orang itu segera meninggalkan saluran air. Tugas mereka selesai. Mereka memiliki rencana lain, sebenarnya.
__ADS_1