Agen Polisi Rahasia

Agen Polisi Rahasia
Tempat Terindah


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, bahkan sebelum matahari menampakkan dirinya, Claude sudah datang menjemput Claire di rumahnya. Semalam dia telah mengirimkan pesannya kepada Claire.


Claire, sebenarnya dia merasa terdesak karena baru kemarin malam Claude mengatakannya. Ia pun sedikit terburu-buru. Saat Claude sudah di depan rumahnya, ia juga sudah siap.


"Pagi banget" cara bicara Claire terdengar lebih enjoy. Seolah akrab sekali dengan pria di hadapannya.


"Iya, kalau siang jalanan macet"


"Jadi tujuannya biad cepet nyampe?"


"Iya, tempatnya jauh dari sini. Sekitar 3 jam an lah perjalanannya"


"Wuihh~ lumayan tuh. Oke ayo kita berangkat" Claire selesai memasang sabuk pengaman di pinggang. Sebelum berangkat dia juga membawa koper.


Koper itu isinya antara lain hanyalah pakaian-pakaian, obat-obatan, kosmetik, kebutuhan wanita, dll. Kopernya diletakkan di belakang. Tidak di bagasi karena kursi tengah kosong.


Perjalanan dimulai. Sejak hari sebelum hari ini Claire banyak berkhayal mengenai tempat yang akan dikunjunginya. Seperti apa? ini semua karena ia jarang berlibur. Lebih tepatnya tidak pernah.


Ekspresi cool yang biasa Claire pasang, kini berubah menjadi sosok periang. Entahlah atau memang sifatnya begitu. Dia tidak seperti Claude yang mudah terbuka dengan orang-orang baru.


"Claude, bukannya kemarin kau bilang mengajak temanmu?"


"Rumahnya dekat wisata. Jadi dia langsung berangkat kesana"


"Oh begitu"


"Dia juga yang memesankan tempat penginapan karena dia sudah mengenal tempat mana yang bagus disana"


"Penginapan? kita menginap?"


"Iya hanya 2 hari 1 malam kok, Claire"


"Tidak lama. Baiklah"


Mobil berwarna hitam pekat berjalan dengan kecepatan agak tinggi di jalanan kota yang padat dilalui para pengendara.


Pemandangan bangunan rumah kaca atau bahkan bangunan percakar langit yanng tingginya bisa mencapai ratusan meter, segera tergantikan oleh pemandangan alam luar biasa menakjubkan.


Seperti sawah di kaki-kaki gunung, atau hutan singkat. Burung-burung beterbangan diatas tumbuhan hijau. Menambah keindahan pemandangan.


"Hei lihatlah!" Claire menunjuk pada sebuah kerbau yang sedang mandi di lumpur.


"Itu kerbau. Kau pasti tau"


"Iya aku tau. Hanya saja jarang melihatnya. Lucu sekali, tubuhnya dipenuhi lumpur begitu"


"Namanya juga mandi lumpur"


Perjalanan yang awalnya dataran rendah kini menanjak disertai berliku-liku. Yah, mereka akan berlibur di puncak. Disana sangat dingin, tetapi juga banyak yang minat.


Mobil hitam yang dikendarai Claude melesat cepat melewati lika-liku jalanan aspal. Kadang kala ada juga jalanan yang rusak. Membuat sopir bisa dibilang terkejut sehingga membelokkan sedikit kendaraannya.

__ADS_1


Mobil hitam Claude berhenti tepat di sebuah bangunan villa yang terlihat luas dari luar. Warna cat kuning keemasan menambah kemencolokan sehingga menambah daya tarik.


"Luas sekali. Apa menyewanya tidak mahal?"


"Soal biaya tidak perlu di pikirkan. Tinggal merasakan sensasi liburan dan bersantai saja. Tidak terlalu mahal juga"


"Aku hanya merasa tidak enak jika biaya liburan ini mahal. Bagaimana jika aku mengganti biayaku disini?"


"Sangat tidak perlu. Ayo masuk!"


Claude menarik dua koper sekaligus milik Claire dan dirinya sendiri. Bukan karena Claire tidak mau menarik kopernya, tetapi dia juga membawa bahan lainnya.


"Selamat datang di villa puncak gunung" sapa seorang lelaki muda di depan pintu masuk.


"Hei Chanda"


Chanda, nama lelaki muda itu. Mungkin dialah teman yang sengaja diajak oleh Claude untuk ikut liburan bersama mereka. Ini juga adalah permintaan Claire.


"Selamat datang bro" sapanya lebih enjoy


"Good morning" lanjutnya


"Good morning too, my friend" balas Claude.


Villa ini sangat luas. Halaman dengan rumput hijau yang terpotong rapi melengkapi indahnya mata yang memandang. Pintu utama untuk masuk ke villa juga berukuran jumbo.


"Apa kau datang sendirian, Chanda?"


"Bukan, dia partner kerjaku"


"Ohh. Kenapa nih liburan bareng? ada rasa ya?"


Dalam hati Claire merasa geli. Seperti ada yang menggelitik. Siapa juga yang memiliki rasa pada Claude, partnernya.


"Nggak lah. Sekedar partner doang"


"Partner kerja apa partner hidup? hahaha" Chanda hanya ingin mencairkan suasana. Sidingin-dinginnya Claire tetap tau apa itu bergurau.


Matahari mulai naik. Hawa panas mulai terasa di daerah ini. Tadi pagi masih dingin, tapi kalau siang rupanya bisa panas juga.


Waktu berlalu begitu cepat. Dia mengajak Claude dan Claire nge teh bersama. Padahal hanya di teras villa. Tapi vibes nya terasa berbeda.


Angin sepoi-sepoi berhembus kencang menerpa wajah-wajah yang sedang asyik menikmati secangkit teh bersama. Teh itu masih hangat. Jadi cocok diminum disaat seperti ini.


Matahari condong di arah barat. Senja tiba. Mereka bertiga berkemas dan mulai membersihkan diri masing-masing. Claire memasak makanan untuk dua pria itu.


Masakannya tidak terlalu buruk. Ia sering melihat ibunya masak di dapur rumah. Jadi setidaknya dia sedikit tau cara memasak.


"Yakin gk mau sama dia? cantik lho"


"Udah ku bilang cuma partner kerja"

__ADS_1


"Barangkali mau nyenggol, hahaha"


Samar-samar Claire mendengar gurauan Claude dengan temannya di ruang makan. Ia sedang mencuci piring di wastafel dapur. Letaknya agak jauh dari ruang makan.


Malam tiba. Kini villa terasa sunyi sekali. Hanya ada suara hewan jangkrik di dekat saluran air. Berbeda sekali dengan beberapa jam yang lalu.


Claude dan Chanda sedang berdua bermain game di kamarnya. Mereka tidur satu kamar. Sedangkan Claire tidur sendirian.


Gelagak tawa terdengar di telinga Claire yang sedang mendengarkan alunan musik. Suara siapa lagi kalau bukan dua pria itu?


Jujur saja, Claire merasa kesepian karena sendirian di kamarnya. Tapi disisi lain ia juga mengagumi indahnya tempat dimana Claude mengajaknya liburan bersama.


Mungkin besok dia akan dapat teman sekamar. Tidak lain adalah kekasih Chanda.


...****************...


Matahari terbit dari timur. Kehangatan cahayanya seolah menyapa penghuni bumi.


Claire sudah bangun sebelum matahari terbit. Sehingga ia bisa menikmati sunrise hanya dari teras villa.


Villa ini berbatasan dengan jalanan menjorok kebawah. Dibawah sana ada perkampungan penduduk. Sungguh indah sekali. Ditambah lagi perkampungan penduduk berbatasan dengan lautan biru yang indah.


Jika kalian melihatnya kalian pasti akan kagum.


Agak siang, burung-burung berkicauan diatas lautan biru. Terlihat dari atas sini. Jika ingin ke pantai tinggal berjalan lurus kebawah beberapa kilometer.


"Apa kau tidak ingin ke pantai, Claire?"


"Tentu saja"


"Ayo kita pergi bersama-sama"


"Hm"


Dengan mobil Claude, mereka bertiga pergi ke pantai. Jalanan terus menerus meluncur kebawah. Lebih sering menggunakan rem daripada gas.


Claude yang membawa setirnya. Chanda duduk di sebelahnya, dikursi depan. Sedangkan Claire duduk di belakang Claude.


Chanda sepertinya sedang menelepon kekasihnya. Karena kemarin katanya akan datang ke villa. Mungkin Chanda bilang akan menemuinya di pantai saja.


"Halo, sayang"


"Aku dan teman-temanku mau ke pantai di bawah"


"Iya, kamu jangan ke villa dulu ya. Nggak ada orang"


"Kamu ke juga kepantai aja"


"Nanti kita ketemu disana"


Ucap Chanda terus menerus berbicara tanpa orang disebelahnya bisa mendengar suara orang yang ditelfonnya.

__ADS_1


Yang penting mereka akan ke pantai begitu saja.


__ADS_2