
Dari banyaknya pemuda kemarin, sekarang hanya tersisa 50 persen saja. Tes kecerdasan dilaksanakan di markas utama organisasi rahasia. Tepatnya di timur tengah. Lokasi cukup jauh dari rumah Claire. Pagi ini Claire dijemput oleh pria muda bernama Claude. Pria yang sama yang menjemputnya kemarin.
"Namamu Claude?"
"Iya nona"
"Apa tugasmu hanya mengantarku selama tes saja?"
"Tidak nona"
"Lalu?"
"Saya adalah sopir pribadi anda mulai kemarin. Hingga anda diterima dalam organisasi, maka saya akan terus melayani anda"
"Seperti apa konsep dasarnya"
"Konsep dasarnya, semua agen dibagi dengan partner. Laki-laki dan perempuan. Yang berpartner harus bisa bekerja sama. Saya adalah pelayan anda. Sekaligus partner anda, Nona Claire"
"Padahal masih baru tes, tapi sudah ada pembagian partner"
"Ada beberapa konsep lainnya juga. Misi dibagi berdasarkan tim. Dan pemetaan tim berdasarkan hasil tes fisik dan tes kecerdasan. Setiap tim harus memiliki minimal 2 orang yang memiliki fisik bagus, serta 2 orang yang memiliki kecerdasan tingkat tinggi"
"Serumit itu"
"Semua itu dilakukan agar masing-masing tim memiliki potensi tinggi dalam menyelesaikan misi"
"Aku mengerti"
"Kita sampai nona"
Claire menoleh kearah kaca mobil. Sebuah bagunan tinggi dan besar berbentuk seperti setengah bulat. Bercat putih, mengkilap bagaikan perak yang bercahaya. Mewah sekali.
Di depan bagunan setengah bulat itu, ada lapangan hijau yang sangat luas. Mungkin jika dihitung luasnya 200 × 100 meter. Diantara lapangan hijau itu, ada jalan menuju lokasi utama tepat di pertengahan lapangan. Hijaunya rumput-rumput ini menambah kemenawanan markas utama.
Claude menghentikan mobilnya di tempat parkir. Sudah banyak mobil berjajar disana. Mungkin di dalam juga sudah ramai.
Claire diantar dengan Claude masuk ke markas utama. Ada lima lantai di dalamnya. Tidak terlihat dari luar. Megah sekali. Siapa arsitek yang membuat tempat ini?
"Nona Claire, selamat datang di markas utama kami" sapa Tuan Astra
"Tempat ini sangat megah"
"Terima kasih. Ruang untuk tes kecerdasan ada di lantai 4. Claude, tolong antar nona Claire"
"Baik Tuan. Mari ikut dengan saya"
Claude berjalan membelakangi Claire. Memasuki lift. Menekan angka 4 yang tersedia disana.
Mereka sampai di lantai 4. Keindahan markas utama ini bisa dinikmati dari lantai 4. Banyak orang berlalu lalang di bawah sana. Claude segera berjalan, menunjukkan ruang tes kecerdasan kepada Claire.
"Ini ruangannya nona"
"Terima kasih sudah mengantai sampai disini"
"Sama-sama nona. Sudah menjadi kewajiban saya"
__ADS_1
Claire masuk ke dalam ruangan, Claude pergi. Kembali ke lantai bawah.
Baru beberapa langkah memasuki ruangan, seseorang menyapanya.
"Claire, selamat pagi!!!" sahutan yang terdengar bersemangat
"Pagi juga" jawabnya singkat
"Ah, masih pagi jangan memasang raut sedih seperti itu" sumber suara itu mendekati Claire
"Pagi juga, Selby" jawab Claire dengan senyum yang lebar
"Gitu dong"
"Apa ruangan ini hanya untuk perempuan? yang laki-laki dimana?" gumam Claire
"Kita duduk bersebelahan loh, Claire" ucap Selby
"Iya"
Beberapa menit kemudian, pengawas ruangan datang. Duduk di meja pengawas. Membagikan selembaran kertas kepada masing-masing peserta tes kecerdasan.
"Baiklah semuanya, tes kecerdasan, DI MULAI!!!"
Semua peserta mengerjakan soal diatas selembaran kertas itu. Ada yang ekspresinya sinis, ada yang ekspresinya bahagia, ada juga yang ekspresinya kebingungan. Claire memasang ekspresi datar. Sehingga orang lain tidak tau dia sedang bahagia atau tidak dalam mengerjakan soal tes ini.
"Aduh, ada soal memecahkan kode juga?!!" sahut Selby yang duduk disampingnya. Ia tampak kebingungan sekali. Belum pengalaman memecahkan kode
Claire menjawab semua soal dengan tenang. Soal-soal ini terhitung tingkat sulit. Tapi Claire sudah mempersiapkan dirinya. Bahkan cara memecahkan kode sekalipun. Hal yang mudah baginya.
Semua peserta beristirahat di lantai bawah. Memakan camilan yang mereka bawa.
"Tau gini tadi aku bawa camilan" sahut Selby yang memasang ekspresi lelah
"Aku juga tidak bawa"
"Aku pergi ke swalayan bersama partner ku dulu ya, sampai jumpa" Selby melambaikan tangannya pada Claire. Kini Claire sendirian. Duduk di kursi panjang tanpa ada orang lain yang mendudukinya
"Nona Claire" Seorang pria memanggil namanya
"Saya tadi baru pergi ke swalayan dekat sini. Jika nona ingin makan camilan, tadi saya beli. Dan juga, saya membelikan botol minuman. Masih dingin" sahutnya sambil menyodorkan sebotol minuman dingin
"Terima kasih, kau sangat perhatian pada partnermu ini" balas Claire
"Sudah menjadi kewajiban saya nona" sahut Claude disertai senyuman manisnya
Tanpa basa-basi, Claire meminum sebotol minuman pemberian Claude. Itu soda. Cocok dinikmati disaat seperti ini.
"Nona, pengumuman peserta tes yang diterima dalam organisasi ada di lantai 2"
"Bagitu ya?"
"Ya nona, nona tidak perlu pergi kesana. Biar saya saja yang pergi. Tunggu disini"
"Aku tidak ingin merepotkanmu lagi, Claude. Biar aku kesana sendiri"
__ADS_1
"Kalau begitu, saya akan menemani anda pergi kesana"
"Terserah kau saja"
Claire pergi menggunakan tangga ke lantai 2 dibuntuti dengan partnernya Claude. Rasanya agak risih, tapi dia ini orang baik. Tidak mungkin bila Claire mengusirnya, kan?
Papan Pengumuman
Tulisan itu terpapar di lantai 2. Dikerumuni banyak orang.
"Nona, anda yakin akan melihat pengumumannya sendiri?"
"Tentu saja"
Claire menerobos kerumunan itu. Ia terdesak di tengah-tengah. Sesak nafas. Hingga Claire memutuskan untuk mundur dulu saja. Tapi karena desakan itu, ia terjatuh ke lantai.
"Nona, baik-baik saja?" Claude menjulurkan tangannya kepada Claire. Menawarkan bantuan padanya
"Huft, lupakan saja" Claire menerima uluran tangan Claude
"Sudah saya bilang, biar saya saja yang melihatnya untuk nona"
"Yasudah, coba kau lakukan sana"
"Baik nona"
Claude memasuki kerumunan. Tapi anehnya, orang-orang itu langsung minggir. Memberi jalan untuk pria muda itu. Dengan mudah, Claude mencari nama Claire di papan nama. Menempati nomor 17 besar. Artinya lolos tes dan diterima dalam organisasi.
Ia kembali untuk mengabarkan hal ini pada Claire. Claire yang duduk memasang ekspresi melongo.
"Ada apa nona?" Claude melambaikan tangannya di depan wajah Claire
"BAGAIMANA BISA?!!!" teriak Claire membuat Claude terkejut
"Maaf, apanya nona?" tanya Claude polos
"Tadi aku menerobos kerumunan itu, tetapi mereka mendesakku hingga aku terjatuh. Tapi saat kau menghampiri kerumunan itu, mereka memberi jalan untukmu. Bagaimana bisa seperti itu???"
"Yah, saya sendiri juga tidak tau"
"Apa kau tidak pernah mencari tau alasannya?"
"Tidak nona, itu hanya akan membuang waktu saya"
"Terserah kau saja lah, huft"
"Oh iya, untuk pengumumannya, Nona Claire dinyatakan lolos tes. Maka untuk seterusnya, nona adalah partner saya" sahut Claude
"Bagus kalau aku lolos. Orang tuaku pasti akan sangat senang"
"Yah, kalau begitu antar aku pulang"
"Baik nona"
Claude dan Claire pergi meninggalkan markas utama organisasi. Disusul oleh beberapa orang lainnya. Markas utama pun sepi seketika.
__ADS_1