
Pagi yang terasa seperti malam terasa berjalan lambat. Claire seolah diingatkan kembali dengan kesedihan yang pernah menimpanya.
Saat itu Claire kehilangan seekor kucing kesayangannya. Seekor kucing berbulu belang telon yang menggemaskan dan selalu menemani Claire setiap saat setiap waktu.
Kucing itu bagi Claire adalah segalanya. Claire menganggapnya lebih dari seekor kucing biasa melainkan seorang teman yang selalu berada di sampingnya.
Hingga pada suatu pagi, niat Claire mengajak kucingnya berjalan-jalan di taman kota. Hari itu dia sangat gembira. Kucing itu adalah sumber dari kebahagiaan Claire.
Persimpangan. Claire tidak memperhatikan lampu lalu lintas. Dia pikir saat jalanan sepi warna lampu sudah berubah menjadi merah untuk pengendara dan hijau untuk penyebrang jalan. Usianya masih anak-anak saat itu. Dia tidak mengerti.
Tepat di pertengahan jalan. Sebuah truk bermuatan berat melaju dengan kecepatan tinggi. Dia telah melanggar ketentuan yang sebenarnya. Seharusnya truk bermuatan berat tidak boleh melaju terlalu cepat.
Sang sopir segera menyadari ada seorang gadis kecil berjalan menyebrang jalan. Dia membanting setir berusaha membelokkan truk agar tidak menabrak Claire.
Namun karena kecepatan kendaraan itu terlalu tinggi, truk itu bukannya berbelok malah terjatuh miring dan hampir mengenai Claire. Kucing kesayangan Claire itulah yang telah menyelamatkan nyawanya dari kecelakaan maut ini.
Kucing itu melompat tinggi hingga mendorong tubuh Claire. Kucing itu menggantikan posisi Claire. Dialah yang tertindas truk bermuatan berat itu. Dia menggantikan nyawanya dengan nyawa Claire.
Mengingat kembali perjuangan kucing kesayangannya yang telah tiada membuat Claire tanpa sadar meneteskan air matanya. Selby segera menyadarinya. Dia segera menghapus jejak air mata di pipi Claire.
Menepuk-nepuk punggungnya pelan. Selby terlihat lebih tegar sekarang. Dia tidak ikut menangis seperti Claire. Sepertinya dia benar-benar sudah melepaskan semua kesedihannya.
"Tenanglah Claire, jangan menangis lagi"
"A-aku, hanya teringat seorang yang telah meninggalkanku"
Selby tersenyum. Senyuman damai dan menenangkan hati. Claire teringat pada wajah Senno yang terakhir kali dilihatnya. Senyuman itu.... sama.
Claude segera mengajak semuanya turun kebawah. Disini auranya terasa begitu sesak dihati karena harus mendengar orang menangis dimana-mana.
Selby dan Haran meninggalkan Claire dan Claude sebentar. Katanya akan membeli minuman dan beberapa camilan dari swalayan terdekat.
Tinggallah Claire dan Claude hanya duduk berdua di bangku panjang. Ekspresi wajah Claire tetap berusaha tenang. Walau sebenarnya dia masih ingin menangis. Semua itu tidak bisa dia tutupi dari Claude.
"Kau kenapa?" Claude menatap langit-langit tinggi markas utama.
"Tidak apa-apa"
"Aku tidak pernah melihatmu menangis. Katakan saja kau kenapa?"
"Sudah kubilang aku hanya teringat seorang yang telah meninggalkanku" Claire tetap berusaha menutupi air matanya.
Claude tersenyum tipis. Kemudian dia pergi. Claire pikir mungkin Claude akan pergi agak lama. Tetapi rupanya hanya lima menit kemudian dia kembali.
Claire terkejut tiba-tiba ada yang menyodorkannya minuman soda kaleng dari samping. Itu pemberian Claude.
"Bukankah minuman ini kesukaanmu?"
__ADS_1
"Bagaimana kau tau itu?" Claire membuka tutup kaleng. Meneguk isinya beberapa tegukan.
"Dari teman lamamu..."
"Teman lama?"
"Hana, gadis cantik dengan wajah menggemaskan di wajah para pria"
"Kau mengenal Hana?!!!" Claire berdiri, hampir melempar wajah Claude dengan kaleng minumannya.
"Tentu saja. Dia adalah..."
"SIAPA??!! ADA HUBUNGAN APA DIA DENGANMU??!!!" Claire mencengkeram kera baju Claude.
"Dia sugar baby ku"
"APA???!!! JANGAN MEMANFAATKAN SAHABATKU!!! HANYA KARENA DIA MENGGEMASKAN BUKAN BERARTI DIA MILIKMU" Claire berseru kencang hingga terdengar orang-orang yang berlalu lalang.
Claire segera memperbaiki posisi duduknya. Lebih dekat dengan Claude karena Claire ingin membisikkan sesuatu ketelinganya.
"Ingat Claude, walaupun kau adalah partnerku, jika kau berani melakukan hal macam-macam kepada Hana. Nyawamu hanya bertahan semalam" bisik Claire tepat di telinga Claude.
"Cla-Claire. Aku hanya bercanda. Aku bukan orang seburuk itu hingga memiliki sugar baby. Maafkan aku... maafkan aku"
"Oh ya? kau mengatakannya sendiri loh"
"Hm, apa ucapanmu bisa dipercaya Claude???"
"Claire, kali ini aku berkata yang susungguhnya"
"Bisa kau buktikan?"
"Sore ini aku akan mengajaknya bertemu. Kau bisa menanyakannya langsung kepadanya, Claire"
"Bagus kalau begitu. Antar aku pulang dulu. Baru nanti sore kau jemput aku lagi" Claire berlalu meninggalkan Claude. Wajah marahnya sirna.
...****************...
Selby dan Haran pergi meninggalkan Claire dan Claude dengan sengaja. Mereka tidak hanya pergi sebentar. Melainkan lama, sangat lama.
Awalnya keduanya ingin pergi ke swalayan terdekat. Namun Haran tidak begitu mengenali daerah sekitar sini. Sehingga Selby dan Haran tersesat entah dimana.
"Haran, kau membuat kita tersesat. Bagaimana jika kita tidak bisa kembali?"
"Ah, eh, jangan khawatir. Kita pasti akan menemukan jalan keluarnya" Haran dengan ragu memilih jalanan berbelok kekanan pada jalur persimpangan.
Sejauh ini yang terlihat hanyalah perbukitan kecil. Tidak ada kendaraan yang melewati jalan ini. Jangan-jangan Haran salah memilih jalan lagi.
__ADS_1
"Haran, apa kau tidak salah jalan?" Selby mulai ragu melihat jalanan sepi.
"Entahlah"
"Kau ini bagaimana? jika kita semakin tersesat bagaimana kita bisa kembali?!!" Selby mencengkeram lengan atas Haran.
"Aku yakin ini benar Selby, tenang saja" sebenarnya Haran pun tidak yakin dengan ucapannya sendiri.
Beberapa meter kedepan. Sesuai dengan ucapan Haran sebelumnya. Jalan raya terbuka luas dengan banyak kendaraan berlalu lalang melintasinya.
"Tumben kau benar, Haran? hahaha~" Selby menepuk-nepuk kepala Haran.
"I-iya. Sekarang kau mau kemana?"
"Dua jam sudah kita meninggalkan markas. Claire dan Claude pun sepertinya sudah pulang. Daripada hanya membeli makanan dan minuman di swalayan, bagaimana jika kita sekalian makan siang di restoran?" mata Selby berbinar-binar. Tanda jika dia senang.
Haran sebagai teman prianya tidak mungkin merusak kebahagiaan Selby yang baru kehilangan partnernya. Dia hanya bisa menuruti permintaan Selby yaitu makan siang di restoran terdekat dari lokasi mereka.
"Selamat datang di restoran Raisu Kafe', selamat menikmati menu kami. Anda mau pesan apa?" sapa seorang pelayan dengan sopan santun
"Selby" Haran menoleh kearah Selby yang berjalan sambil menoleh kekanan, kekiri, dan keatas.
"Ah, iya, aku mau chicken katsu. Minumannya soda saja"
"Oke. chicken katsu dua porsi dan minuman soda dua"
"Baik Tuan, silahkan duduk di meja yang tersedia"
Selby dan Haran beralih duduk di meja kosong. Dekat dengan kaca besar yang menyajikan pemandangan di luar. Selby yang meminta duduk di dekat kaca besar.
Tidak lama hujan turun membasahi jalanan di luar. Baik kendaraan roda dua ataupun roda empat basah. Bersamaan dengan datangnya pesanan Selby dan Haran.
Dua orang itu segera menikmati bagian mereka masing-masing. Entah kenapa Haran ikut memesan makanan dan minuman yang sama dengan Selby.
"Bagaimana? enak kan?"
"Hm, iya" Haran sedang mengunyah makanan di mulutnya.
"Kenapa kau memilih menu yang sama denganku?" Selby memotong bagian chicken katsu di piringnya.
"Ehm, karena aku bingung akan memesan apa. Lagipula selera makananmu cukup bagus. Dan pilihanmu tidak buruk. Hanya saja kenapa kau memilih soda sebagai minumannya?"
"Soda adalah minuman favorit Claire. Dikala dia tidak ikut makan bersama, aku ingin mengingatnya"
"Hah? tidak masuk akal"
"Begitulah, Haran. Lanjutkan memakan"
__ADS_1