
Setelah pidato panjang lebar berupa ucapan terimakasih Claire untuk orang-orang tertentu, Claire dan Claude mendapatkan salam dari beberapa temannya dengan berjabat tangan tanda selamat.
"Selamat bro, sis" ucap pria yang dikenal Claire sebagai ketua kelompok.
"Thanks bro" Claude menepuk pelan punggung pria itu.
Keduanya beralih menemui Selby dan Haran yang telah menunggu mereka sejak tadi. Selby terlihat menyeka air matanya. Mungkin dia terharu dengan ucapan terima kasih Claire.
"Hai Selby, Haran" Claire sedikit berubah. Dia tidak lagi menjadi gadis dingin yang dikenal banyak orang selama ini.
"Hai Claire, waw, sekarang kau sudah menjadi seorang komandan. Selamat!" Haran dan Claire melakukan tos.
"Selby..."
Sepersekian detik, Selby langsung memeluk Claire. Dia begitu terharu dengan ucapan terima kasih Claire dihadapan banyak orang di atas panggung.
"Selamat Claire" Selby mengakhiri pelukannya kepada Claire.
"Thanks Selby"
"Oh ya kok kalian berduaan terus?" Claire mulai mengerjai kedua sahabatnya.
"Tidak tau. Haran tadi menjemputku di rumah saat aku baru turun dari taxi"
"Wah wah, ada gerangan apa ini bro?" Claude meletakkan sikutnya diatas bahu Haran.
"Huh, kalian ini. Tidak ada apapun"
"Kok aku tidak percaya ya???" Claire mengekspresikan diri dengan menggerak-gerakkan jari telunjuk dan jempol dibawah dagunya.
"Benaran tidak ada apapun kok" Selby mencoba membuat keduanya percaya.
"Tuan Claude, Nona Claire, kalian dipanggil oleh ketua organisasi" seorang pria tiba-tiba datang mengganggu drama mengerjai partner C-C.
"Jangan malu-malu bro" sebelum pergi, Claude sempat membisikkan kalimat itu ditelinga Haran.
Claire dan Claude diarahkan ke ruang kerja Tuan Shibe. Disana ada beberapa atasan lainnya yang berkumpul. Entah kenapa mereka memanggil sang komandan baru untuk datang.
"Selamat siang semuanya" sapa Claire ramah.
__ADS_1
"Inikah yang bernama Claire itu? berarti pria dibelakangnya adalah Claude" suara bisik-bisik terdengar tidak terlalu jauh.
"Selamat siang Claire. Silahkan duduk dulu" di depan meja kerja Tuan Shibe ada dua kursi tersedia menghadap kearah Tuan Shibe.
"Ada apa Tuan memanggil kami?" Claude membuka pertanyaan.
"Begini, karena kalian telah resmi menjadi komandan, kami akan memberikan kalian wewenang untuk mengubah beberapa peraturan yang mungkin terlalu mengganggu"
Claire dan Claude saling tatap. Masih setengah paham maksud ucapan Tuan Shibe.
"Kami tidak ingin terlalu mengekang para agen. Kalian berdua usianya sebaya dengan mereka. Seharuskan kalian tau peraturan mana yang bila dihapus atau diubah akan menciptakan kebebasan baru"
"Kalau soal itu akan saya pikirkan nanti. Saya tidak bisa mengambil keputusan langsung" ujar Claire bijak.
"Baiklah, baiklah. Tidak harus sekarang. Kalian berdua bisa berdiskusi terlebih dahulu. Kapanpun kalian mengambil keputusan tidak harus datang kemari. Hubungi aku atau Astra"
"Dimengerti Tuan"
"Kalian sudah boleh pergi"
Claire dan Claude berjalan berdampingan meninggalkan ruang kerja Tuan Shibe. Diluar ada banyak agen seangkatan mereka menunggu. Ingin mengucapkan selamat.
"Selamat siang komandan" beberapa pria lain juga memanggil partner C-C sebagai komandan.
Yang membuat Claire terkejut, saat dia berjalan dengan menyapa teman-temannya, seseorang tiba-tiba berdiri di depan Claire dan Claude.
Memberi hormat layaknya gerakan PBB. Seraya mengucapkan, "Salam untuk komandan baru"
"Thanks bro" ujar Claude menepuk-nepuk bahu pria itu santai.
Rencananya Claire dan Claude tidak langsung pulang. Melainkan mengamati para agen terlebih dahulu untuk membuat keputusan.
Partner C-C duduk diatas padang rumput yang luas. Disana juga terdapat beberapa agen yang sedang berlatih. Baik lelaki maupun perempuan, berlatih bersama. Hanya saja mereka agak berjarak satu sama lain.
Salah satu larangan dalam organisasi adalah dilarang memiliki hubungan antara lelaki dan perempuan seperti hubungan kekasih. Itu yang membuat mereka saling membagi jarak.
"Claude, coba perhatikan mereka" Claire menunjuk dua orang dengan gender berbeda sedang berdiri berjarak dua meter.
Claude mengerti maksud Claire. Dia langsung menjawab perintah Claire barusan.
__ADS_1
"Lelaki dan perempuan dilarang memiliki hubungan kekasih dalam pekerjaan. Itukan maksudmu?"
"Kau memang selalu bisa membaca pikiranku, Claude"
"Tentu saja. Hanya dengan memperhatikan aku tau maksudmu"
"Tuan Shibe bilang tidak ingin terlalu mengekang para agen. Dia ingin menciptakan kebebasan baru. Jika larangan itu kita ubah, bukankah hubungan agen berbeda gender akan semakin dekat? dan itu juga bisa memunculkan kerja sama yang erat?"
"Kau benar, Claire. Tapi nanti kebanyakan mereka hanya mementingkan keperluan pribadi. Berhubungan dengan kekasihnya. Mengesampingkan pekerjaan mereka. Jika kau ingin mengubah larangan itu, jangan terlalu membebaskan. Tetap fokus dalam pekerjaan"
"Lalu bagaimana?"
"Mereka tetap boleh memiliki kekasih sesama agen. Bertemu saat jam kerja. Tetapi jangan terlalu mengesampingkan posisi mereka dalam organisasi. Sisi buruknya akan semakin terlihat"
"Aku yakin banyak agen berbeda gender yang memiliki rasa istimewa satu sama lain. Hanya saja karena larangan mereka tidak berani mengutarakannya. Demi pekerjaan mereka juga. Begitu saja juga tidak masalah"
"Baiklah, besok kita hubungi Tuan Astra"
Claude mengantar Claire pulang. Mereka tidak berbicara dalam kendaraan. Hanya saling diam. Sepertinya Claire berpikir banyak hal tentang pengubahan aturan. Wewenang baru yang ia dapatkan.
Itu pasti memusingkan sekali. Tetapi Claire banyak belajar setelah beberapa jam menjadi komandan. Bahwa seorang pemimpin harus mengambil keputusan demi bawahannya juga, demi kepentingan bersama bukan kepentingan pribadi.
Menjadi seorang pemimpin tidaklah mudah. Seorang pemimpin tidak boleh banyak mengeluh. Seorang pemimpin harus tegar seperti baja. Karena dia adalah orang yang diandalkan banyak orang.
...****************...
Malam harinya, sama seperti kemarin. Claire tidak bisa tidur dengan nyenyak. Terus memikirkan solusi jika seandainya setelah peraturan diubah banyak agen yang mengesampingkan pekerjaannya.
Itu tidak akan menjadi tantangan ringan. Salah melangkah maka hancur seluruh organisasi. Kebebasan yang dimaksud Tuan Shibe pastilah bukan kebebasan semacam itu.
Lalu bagaimana? terlalu rumit untuk dipikirkan.
Claire telah melupakan satu hal. Bahwa seorang pemimpin selain harus bisa mengambil keputusan untuk kepentingan bersama juga harus mempercayai bawahannya.
Claire terlalu takut agen bawahannya akan menyalah gunakan aturan yang diubahnya. Seorang agen pasti tau apa guna aturan itu diubah. Dan kebanyakan dari mereka tetap akan berpegang teguh pada pekerjaan masing-masing.
Para agen juga akan patuh terhadap perintah atasannya. Kebebasan yang dimaksud Tuan Shibe bukanlah berlaku sebebas-bebasnya seperti saat berada di club malam. Melainkan merasa nyaman menjadi agen dalam organisasi ini.
Terlalu lama berpikir membuat Claire merasa matanya sudah tidak kuat terbuka lagi. Ia pun terjatuh dalam tidur nyenyak tanpa disadarinya.
__ADS_1