
Claire diam sejenak. Dia tidak berpikir panjang untuk mengucapkan kalimatnya. Dan dia tidak berniat untuk benar-benar menyalahkan para mafia. Sepertinya Minota benar, mereka punya alasan tersendiri untuk melakukannya.
Minota berjalan mendekatinya. Setelah dekat dengan Claire, Minota memegang dagu Claire. Menyuruh Claire agar menatap matanya.
"Apa kau yakin menolak penawaranku?"
"Tentu"
"Padahal ini kesempatan untuk kau mendapat jawaban dari pertanyaanmu. Tapi kau menolaknya. Apa kau tidak bisa melihat peluang?"
"..." lagi-lagi Minota berkata seolah membungkam Claire.
"Itu memang menarik tetapi aku menolaknya"
"Cih kau memang keras kepala. Sebaiknya pikirkan lagi jawabanmu, dan kembalilah saat kau benar-benar sudah yakin"
Minota berbalik pergi. Entah kemana dia pergi. Dia pergi memasuki lorong dalam bangunan itu. Tidak terlihat jelas karena disini gelap.
Claire pun keluar dari bangunan tersebut. Dia tidak habis pikir jika dia tau dia akan menolak penawaran Minota lalu untuk apa dia jauh-jauh datang kemari? bahkan dia harus mengelabui beberapa orang lebih dulu.
Claire merasa dirinya begitu bodoh. Dia awalnya hanya penasaran. Hanya demi rasa penasaran itu dia harus berkorban dengan mengelabui atasannya dan partnernya. Orang yang paling dia percaya.
Lorong diantara rumah-rumah terlihat gelap. Padahal ada lampu disana tetapi lampu itu padam. Sekitar Claire menjadi gelap gulita. Claire membuka payungnya, gerimis belum juga reda.
Dia mulai berjalan menyusuri jalanan gelap. Saat dia sudah berada didekat jalan raya, Claire menyadari jika bukan hanya lampu lorong yang padam namun semuanya. Bahkan minimarket yang sebelumnya terang kini lampunya juga padam.
Listrik dipadamkan.
Kini hanya ada pencahayaan dari lampu kendaraan yang melintas di jalan raya. Dari kejauhan Claire seperti sosok mengerikan. Dia memakai pakaian berwarna gelap dengan membawa payung dalam kegelapan.
Kalian mungkin bisa membayangkannya seperti sosok misterius yang berjalan dalam gelapnya malam tanpa penerangan dan dibawah guyuran air hujan.
Terdengar langkah kaki cepat berlari kearah Claire. Claire tidak bisa melihat sosoknya dengan jelas. Kemudian sosok itu berhenti didepannya.
"Kau berbohong!" ucapnya. Claire mengenali suara tersebut.
Entah kenapa Claire merasa seperti dikelilingi rasa kecewa dan sakit hati. Baru kali ini dia berbohong kemudian tertangkap basah hanya dalam beberapa waktu.
Rasanya seperti dia telah berubah menjadi seorang pembohong. Mengakuinya terasa menyakitkan. Dia selalu berkata jujur dan apa adanya selama ini.
"Maaf" Claire tidak berani menatap matanya. Dia terus menunduk. Pandangannya menjadi suram.
"Darimana saja kau, hah?" Claude memegang kedua bahu Claire kemudian menggoyangkannya.
__ADS_1
Claire hanya diam tidak menjawab. Tidak mungkin dia memberitahu Claude tentang kakaknya.
"Jawab aku Claire!" Claude sekali lagi membentak Claire.
Hati wanita itu rapuh. Setegar apapun terlihatnya Claire, tetap saja hatinya rapuh. Rasanya dia sedang menahan air mata untuk tidak menetes.
"Claire... kenapa kau diam saja? Darimana saja kau Claire? jawab aku!"
"Aku... aku..."
Claude menunggu jawaban Claire dengan antusias. Claire terus menunduk. Tidak memperlihatkan matanya.
"Kenapa kau pergi sejauh ini? kenapa kau tidak mengatakannya kepadaku?"
"Aku..."
"Kenapa kau berbohong bilang pergi ke minimarket padahal sebenarnya tidak? kenapa Claire? apa yang telah terjadi?" Claude menghujam Claire dengan banyak pertanyaan.
"Karena aku seorang pembohong" hanya kalimat itu yang mampu Claire katakan.
Claude menggelengkan kepalanya tidak percaya, "Tidak Claire, kau bukan pembohong. Apa yang terjadi? katakan"
"Tidak ada. Aku memang seorang pembohong"
"Claire..."
Gerimis turun lebih deras. Punggung Claire basah terkena air hujan. Dia tidak tau harus berkata apa kepada Claude. Dia telah berbohong dan itu faktanya.
Claude memegang gagang payung yang dipegang oleh Claire. Claire terkejut sejenak. Dia reflek mengangkat kepalanya. Diujung matanya terdapat sebutir air mata yang dia tahan untuk tidak menetes.
"Semua ini... kau lakukan karena suatu alasan. Aku tau itu. Kau tidak bisa menyembunyikannya dariku"
"Claude..."
"Aku percaya padamu. Kau bukan pembohong. Kau hanya terpojok. Tidak apa-apa jika kau tidak mau mengatakannya sekarang"
Claire menyeka sebutir air mata di ujung matanya. Claude tau dia sedang terpojok dan dia tidak memaksa Claire untuk mengungkapkan alasannya sekarang.
Kalimat Claude membuatnya terharu. Bahkan setelah dia membohonginya dia tetap percaya padanya. Seharusnya dia kecewa bukan? tapi kenyataannya tidak.
"Ayo kita kembali. Seluruh listrik kota dipadamkan. Bar tidak memiliki pencahayaan cadangan. Jadi ayo kita kembali" Claire mengangguk. Mereka berdua berjalan berdampingan dibawah payung yang melindungi mereka dari derasnya guyuran air hujan.
***
__ADS_1
Penjara Sementara.
Sekelompok orang berpakaian serba hitam dengan memakai masker wajah menyusup masuk kedalam penjara sementara tempat dipindahkannya para tahanan dari penjara bawah tanah.
"Cepat pasang disini" bisik salah seorang dari mereka. Seseorang yang disuruhnya segera mengeluarkan sebuah bom waktu dari tas ransel yang dipakainya.
"Selesai"
"Ayo kita segera pergi dari sini"
Percikan api terciprat dari kabel listrik di penjara bayangan. Percikan api itu terkena tetesan air. Berubah menjadi bara api yang menyala terang.
Salah seorang dari sekelompok itu menyemprotkan gas pada bara api itu agar tidak menyebabkan kebakaran.
"Bagus. Cepat kita pergi sebelum mereka menyadari keberadaan kita" seorang lain mengingatkan. Mereka berjalan dengan mengendap-endap keluar dari penjara sementara.
Di persimpangan lorong, para penyusup yang memakai masker wajah itu tidak sengaja bertemu dengan salah satu agen senior.
Dua agen senior tersebut ditugaskan untuk mengecek apakah keadaan penjara sementara aman atau tidak karena tingkat keamanan disini tidak setinggi di penjara bawah tanah.
Para penyusup itu langsung bersembunyi dibalik dinding blok penjara.
Salah satu orang mengisyaratkan untuk diam dengan meletakkan jari telunjut didepan bibirnya yang tertutup masker. Agen senior menyadari ada gerakan mencurigakan, tetapi kemudian temannya mengajaknya kembali setelah memastikan tidak ada apa-apa disini.
Penyusup itu bertemu dengan rekan yang hendak dia selamatkan.
"Shut" siul seorang pria bersurai hitam dari balik jeruji besi.
"Siapa?" para penyusup itu tampak panik, mereka belum siap diketahui secepat ini.
"Ini aku, apa kalian datang untuk menyelamatkan kami?"
"Pimpinan?" pria bersurai hitam itu berada dalam satu petak penjara dengan rekannya yang lain. Salah satunya wanita bersurai merah kecoklatan yang terurai panjang di punggungnya.
"Iya ini aku"
"Tuan tenang saja, kami pasti akan membebaskan anda dari sini tetapi tidak sekarang. Sebelumnya saya telah memasang bom waktu disekitar sini. Saat bom itu meledak segera kabur dari tempat ini"
"Aku mengerti. Kalian dengar juga?"
"Ya"
"Kami ingin segera membebaskan Tuan, tetapi ini cara terbaiknya"
__ADS_1
"Tidak masalah. Aku sudah terbiasa mendekam disini. Pergilah. Biasanya disaat seperti ini akan ada agen yang melakukan patroli" pria yang memakai masker wajah itu hanya mengangguk kemudian segera pergi bersama penyusup lainnya.
Pria yang disebut 'Tuan' tersebut menyeringai jahat. Dia seperti seseorang yang diberi kesempatan baru. Sebentar lagi... sebentar lagi dia akan bebas. Begitu pikirnya.