
Sore hari itu dikala hujan turun. Claire dan Claude pergu menemui Hana di bar Gogo. Seperti janji Claude tadi siang.
Ditempat yang sama seperti pertemuan Claire dan Hana pada waktu itu. Meja VIP.
"Jangan terburu-buru, duduk saja dulu. Hana akan datang beberapa menit lagi" Claude menarik kursi untuk diduduki Claire.
Claire sore ini mengenakan jaket hitam putih dengan bawahan rok perpaduan warna coklat dan hitam. Dia menyuruh Claude mempertemukannya dengan Hana karena tidak percaya jika Claude adalah saudara sepupu Hana.
Beberapa menit kemudian. Tidak terasa hujan telah berlalu. Menyisakan hawa dingin. Hana tiba di lantai 2 meja VIP tempat Claire dan Claude berada.
"Maaf aku terlambat, apakah kalian sudah menunggu lama?" Hana menutup payung.
Claire bisa melihat jika beberapa anak rambut Hana basah. Dia segera menghampiri Hana lalu mengelus surai Hana yang basah terguyur hujan.
"Seharusnya tidak perlu sampai datang kemari jika tidak bisa"
"Aku hanya tak enak hati membuat kalian menunggu"
"Silahkan duduk, Hana" Claude berdiri menarik kursi dari bawah meja, kali ini untuk Hana.
"Maaf Hana, aku mengajakmu bertemu hari ini karena... Claire tidak percaya jika kau saudara sepupuku" Claude memelankan suaranya diakhir kalimat.
Claire memukul permukaan meja. Tidak terlalu keras. Tetapi berhasil membuat dua temannya yang sedang berbisik terkejut.
"Hana, apakah Claude benar-benar saudara sepupumu?" tanya Claire tegas.
"Ah, eh, tentu saja. Kenapa kau tidak percaya padanya Claire?"
"Aku tidak bisa mempercayai orang seperti dia" Claire menunjuk wajah Claude dengan jari telunjuknya.
"Kenapa?"
"Astaga Hana. Aku hanya khawatir denganmu. Tadi pagi menjelang siang dia bilang jika kau sugar baby nya"
"Hahaha~" Hana dan Claude lantas tertawa mendengar kalimat Claire.
"Kenapa kalian tertawa?"
"Seorang Claire rupanya bisa menjadi bodoh ya. Usia kami tidak berjarak jauh. Secara logika pun mana mungkin aku menjadi sugar baby nya. Hahaha~"
"Oh, ya. Pikiranku sedang kacau. Sampai tidak menggunakan logika"
"Tidak masalah Claire. Setidaknya sekarang kau percaya padanya bukan?"
"Sedikit"
"Oh ya ngomong-ngomong bagaimana kalian bisa saling mengenal? apa kalian mempunyai hubungan spesial?" Hana bertanya lebih santai. Meletakkan kedua punggung tangannya dibawah dagu.
Claire melirik Claude sekilas. Claude juga melirik Claire sekilas. Keduanya bingung harus menjawab apa. Hana tidak tau apa-apa tentang organisasi rahasia tempat mereka bekerja.
"Ehm, kami hanya teman kerja" ucap Claire tidak seyakin biasanya.
"Oh ya? apa kalian ada hubungan tertentu?"
"Apa maksudmu?"
"Seperti kekasih mungkin"
Claire dan Claude berdiri bersamaan. Kemudian berkata, "Tidak ada!" bersamaan dengan meletakkan kedua telapak tangan diatas meja.
"Hahaha~. Kalian ini lucu sekali"
__ADS_1
"Apanya yang lucu?" Claude memasang wajah merajuknya.
"Tapi kenapa? kalian sepertinya teman dekat. Claire kau harus mencoba menyukai lawan jenismu. Hanya karena luka dimasa lalumu bukan berarti hingga hari ini kau harus menutup pintu hatimu" Hana menasehati dengan nada penuh makna.
"Aku hanya ingin berfokus pada karirku dulu, Hana" balas Claire lembut.
"Baiklah. Claude, Claire ini orangnya memang keras kepala. Berperilaku dingin. Tapi percayalah, dulu dia tidak seperti ini. Perubahan sikapnya itu dikarenakan dia kehilangan sesuatu yang dianggapnya berharga"
Claude sedikit membelalakkan matanya. Dia pikir sejak lahir Claire memang gadis yang dingin. Tetapi ternyata tidak. Hana mengatakannya sendiri di depan Claire juga. Claire dulu tidak seperti ini. Lalu seperti apa?
"Aku tidak tau hubungan kalian sejauh mana. Tapi aku harap hubungan kalian baik" Hana tersenyum khas.
"Bagaimana jika kita sekalian menghabiskan waktu di sini hingga malam tiba?" tawar Claude bersemangat.
"Aku tidak masalah. Tapi kau harus menraktirku" ujar Hana diiringi gelagak tawa.
"Claire, apa kau ingin pulang duluan?" Claude bertanya memastikan. Sudah menjadi tugasnya untuk mengantar-jemput Claire.
"Tidak. Aku disini saja bersama kalian"
Ketiganya langsung memesan makanan dan minuman kesukaan mereka. Menghabiskan waktu hingga malam tiba. Bersenang-senang layaknya seorang teman.
...****************...
Pagi-pagi sekali Claire pergi ke supermarkaet kemudian bertemu sosok teman bersurai merah terurai. Dia adalah Selby.
"Selby, kemarin kau kemana tidak kembali-kembali?" Claire langsung memberi pertanyaan.
"Ah, eh, anu, aku tersesat Claire"
"Tersesat? bagaimana bisa"
"Haran si sok tau itu ternyata tidak tau jalanan daerah situ. Jadi kami tersesat"
"Akhirnya kami berhasil menemukan jalan raya. Itu pun saat menjelang sore. Kemudian aku dan Haran memutuskan makan bersama di sebuah restoran"
"Oh..."
"Claire, kau tidak marah kan?"
"Yah tidak masalah. Untung kalian berhasil menemukan jalan raya. Jika tidak mungkin malamnya aku akan menghubungi tim pencarian"
"Hahaha~"
Claire dan Selby belanja bersama dalam supermarket tersebut. Mereka membagikan momen makan bersama mereka masing-masing. Claire pergi ke bar bersama dengan partner dan sahabatnya. Selby pergi ke restoran dengan Haran, teman barunya semasa menjadi agen organisasi.
"Kau benar-benar tidak sedih lagi tentang Senno?" Claire iseng bertanya memastikan.
"Aku bahagia jika dia bahagia Claire. Seperti ucapanmu saat di rumah sakit"
"Baguslah. Semoga kau mendapat gantinya"
"Gantinya?"
"Iya, sosok seorang yang akan menemanimu seperti Senno"
"Kurasa aku sudah menemukannya"
"Oh ya? kau sudah mendapat partner baru?"
"Kurasa orang yang kau maksud itu Haran. Dia berkali-kali mengirimiku pesan. Sepertinya dia mengkhawatirkanku. Beberapa hari setelah perang senjata itu juga Haran selalu menemaniku kemanapun"
__ADS_1
Claire tersenyum. Sesuatu yang hilang dan kita mengikhlaskannya maka sesuatu itu akan digantikan dengan yang baru. Bisa jadi gantinya lebih baik dari sebelumnya.
"Aku ingin tau apakah Haran bisa menggantikan Senno" kata Claire.
"Maksudmu?"
"Yah, ceritakan dia dimatamu kepadaku, Selby"
"Tentu saja" ucap Selby disertai anggukan kepala ringan.
Selby diundang oleh Claire untuk makan malam dirumahnya sekaligus bermalam disana. Sebenarnya ini langkah pertama Claire untuk menginterogasi Selby. Dan rumah Claire adalah lokasi pemilihan yang tepat.
Malam itu setelah makan malam, Claire mulai bertanya tentang Haran dimata Selby.
"Hei Selby"
"Hm?"
"Sekarang ceritakan menurutmu Haran itu orangnya seperti apa"
"Dia punya rasa simpati tinggi. Mudah berbelas kasih. Baik hati. Yang terakhir mungkin suka berbagi"
"Sebaik itu?"
"Iya. Kau tanya menurutku kan? kalau menurutmu bagaimana?"
"Kau yakin bertanya padaku?"
"Tentu saja"
"Haran itu orangnya menyebalkan. Dia memang mudah berbelas kasihan, tetapi senyuman yang ditunjukkannya setiap saat itu.... sungguh membuatku kesal! Hingga aku pernah merasa ingin sekali menampar wajahnya" diakhir kata Claire memperagakann kekesalannya dengan memukulkan kepalan tangan kanan ke telapak tangan kiri beberapa kali.
"Hahaha, benarkah begitu? aku bisa mengatakannya pada Haran lho"
Tawa keduanya berhenti setelah ada nada dering berbunyi dari balik selimut. Ponsel Selby. Panggilan dari Haran.
"Kenapa dia menelpon?" Claire berbisik.
"Tidak tau. Aku angkat dulu ya. Tenang saja kunyalakan speaker-nya"
"Halo" sapa Selby terlebih dahulu.
"Selby, syukurlah. Apa kau baik-baik saja?"
"Apa maksudmu? tentu aku baik-baik saja"
"Ah, tadi aku kerumahmu. Tapi kau tidak ada di rumah. Kupikir terjadi sesuatu kepadamu. Tapi syukurlah semua baik-baik saja"
"Kenapa dia datang ke rumahmu? tanya Claire berbisik.
"Tidak tau"
"Hah? apanya?" Haran ikut berbicara dalam telepon.
"Eh, bukan bukan. Bukan apa-apa"
"Kau berbicara dengan siapa?"
"Tentu saja denganmu"
"Oh baiklah. Aku tutup telponnya"
__ADS_1
Sambungan telepon diputus satu pihak. Dari pihak Haran. Percakapan Selby dengan Haran tadi juga didengar oleh Claire secara keseluruhan.