
Selang beberapa menit tiba dilokasi, bunyi ledakan bom terdengar seperti guntur di langit. Mengeluarkan asap tebal hingga menutupi tragedi dalam markas tersebut.
Ini adalah salah satu cabang markas organisasi yang menjadi targert para mafia untuk diledakkan. Seharusnya keadaan markas itu telah hancur lebur.
"Sial" jerit Claire dalam hatinya.
Agen bantuan yang dikirim langsung dari Markas Kepolisian Negara telah bersiap dengan perlindungan dan senjata masing-masing.
Claude sebagai komandan memberikan intruksi dengan menggerakkan telapan tangannya kedepan dan kebelakang (seperti melambaikan tangan namun berbeda arah).
Claire berjaga dibelakang. Dia juga dalam mode waspada tingkat tinggi. Memperhatikan setiap langkahnya. Berhati-hati.
Bommm....!!!
Lagi-lagi suara ledakan bom terdengar. Mereka semua segera berlari kearah sumber suara dikomando oleh Claude.
Setelah sampai pada sumber suara beberapa agen yang berada di barisan samping mulai berwaspada dengan mengarahkan pistolnya ke arah tertentu. Barangkali ada anggota mafia yang bersembunyi disekitar sini.
Entah apakah hanya Claire yang mendengarkan ada suara "Tolong....!!! tolong aku!!!" atau ada yang lainnya. Ia segera berlari kearah sembarangan.
Berharap menemukan sumber suara yang berteriak minta tolong.
Dari sebuah ruangan yang setengah dindingnya telah hancur ada beberapa orang yang terkapar tak berdaya disana. Tubuhnya bermandikan darah segar. Aroma amis darah pun segera tercium.
Namun pandangan Claire tidak berhenti disitu. Beberapa orang yang terkapar tidak berdaya itu telah tiada. Dan seseorang yang berteriak tadi seharusnya masih hidup atau setidaknya sekarat karena suara itu lirih sekali.
Memang benar dugaan Claire, ada seseorang yang tidur telungkup dengan kaki dan punggungnya yang dilumuri darah merah segar. Sebenarnya Claire agak takut karena orang tersebut masih hidup.
"Anda baik-baik saja?" Claire memberanikan diri mendekat. Dia sendirian disini, tidak akan ada yang mendorongnya maju selain dirinya sendiri.
"Tolong, tolong matikan bom ini" tangan seseorang itu menggapai sebuah bom waktu. Astaga, itu bom! Claire mulai merinding. Bukan karena takut namun bagaimana jika dia gagal menjinakkan bom tersebut?
Claire mengamati bom tersebut yang terlihat samar-samar dalam gelap. Semua lampu telah padam. Bahkan separuh dari markas ini telah runtuh.
Claire mengeluarkan gunting kecil yang efektif dibawa kemanapun dari dalam saku seragamnya. Dia mencari kabel merah dan biru dalam bom itu.
Detik demi detik berlalu. Tersisa lima belas detik untuk bom itu meledak. Claire gugup, dia sedari tadi membolak-balik bagian bom tersebut namun nihil, dia tidak menemukan kabel yang dicarinya.
Tiga belas....
Dua belas....
Sebelas....
Detik terus berlalu. Claire masih berusaha mencari kabel tersebut. Hitungan mundur bom ini hampir habis.
__ADS_1
"Ayo cepat temukan kabelnya Claire" jerit Claire dalam hatinya. Dia gugup. Benar-benar gugup. Dia tidak takut mati karena bom itu meledak, tetapi dia juga sedang melindungi nyawa orang lain.
Sepuluh...
Sembilan...
Delapan...
Akhirnya Claire menemukan kabelnya. Rupanya tertutup dalam sesuatu. Dia sulit menemukannya karena sekitarnya gelap gulita. Sepatunya dibasahi oleh darah yang tidak sengaja dia injak.
"Tunggu, lalu yang mana yang akan kupotong?" tanya Claire dibenaknya.
Waktunya semakin sempit. Hitungan mundur hampir habis. Jika dia gagal bukan hanya nyawanya yang menjadi taruhan, namun nyawa seseorang yang tidur telungkup dengan keadaan sekarat disebelahnya.
Tidak, itu salah. Dia tidak tau sebesar apa ledakan bom ini. Bisa jadi seluruh markas akan hancur dan itu artinya semua orang dalam markas ini juga akan tiada.
Ukuran bom itu juga cukup besar. Tidak mungkin ledakannya kecil.
Lima...
Empat...
Tiga...
"Berhentilah membahas yang lain, Claire! ayo mulailah berpikir!" Claire semakin gugup. Bom itu akan segera meledak.
Dua...
Satu detik lagi, satu detik lagi bom itu akan meledak. Claire memejamkan mata, dia memotong salah satu kabel tanpa melihatnya. Dan...
Tidak terjadi apa-apa.
Claire dengan takut membuka matanya perlahan. Waktu dalam bom itu berhenti persis pada detik ke satu. Claire menghembuskan nafas lega.
Jantungnya tadi berdegup tidak terkendali. Dia takut disertai dengan rasa gugup. Namun lihatlah, dia berhasil menjinakkan bom waktu yang nyaris saja meledak.
Claire menarik nafas panjang beberapa kali untuk menenangkan dirinya. Ternyata apa yang pernah dia pelajari pada akhirnya berguna hari ini. Dia berhasil menyelamatkan nyawa banyak orang. Mungkin.
Claire segera beranjak berdiri. Jujur saja kakinya masih terasa bergetar. Tapi dia baik-baik saja. Claire membawa seseorang yang tadi meminta tolong yang rupanya merupakan seorang agen pria entah darimana asalnya.
"Nona Claire" Shoera berlari menghampirinya. Dia memakai masker yang didesain bisa mengeluarkan asap dari dalam masker kemudian menggantinya dengan oksigen segar. Shoera membawa pria sekarat yang dibawa Claire tersebut.
"Claire, darimana saja kau?" Claude menghampirinya. Melepas masker yang berteknologi sama dengan Shoera dan agen lainnya.
"Aku juga tidak tau"
__ADS_1
"Bagaimana kau tidak tau kau darimana?"
"Aku tidak mengenali ruangan disini"
"Ah, maaf. Aku mengerti maksudmu"
"Apa masih ada bom disini?"
"Ada, banyak sekali. Tim menemukannya di setiap sudut ruangan"
"Setiap sudut ruangan?" Claire mengingat jika ia menemukan bom itupun di sudut ruangan yang tidak dikenalinya.
"Iya. Tapi anehnya, saat beberapa agen hendak menjinakkan bom tersebut. Semua bom mendadak mati dengan sendirinya. Yang membuatnya aneh adalah semua berhenti tepat didetik yang sama. Detik satu"
"Detik satu ya?"
"Apa kau tau sesuatu tentang ini?"
"Kurasa... begitu"
"Semua bom disambungkan melalui rangkaian seri. Semua bom itu terhubung. Jika salah satu telah berhasil dimatikan maka yang lainnya akan ikut mati" Claire berjalan perlahan kedepan kemudian berbalik kembali kearah Claude.
"Apa maksudmu ada pihak yang mematikan semua bomnya?"
"Salah. Bom itu tidak sesimple rangkaian lampu yang bisa dipadamkan dengan menonaktifkan saklarnya. Menjinakkan bom itu hanya dengan menjinakkan salah satunya saja"
"Aku tidak memahami seutuhnya"
"Kau tau trik seseorang untuk memengaruhi banyak orang?"
"Tidak"
"Pengaruhi pemimpinnya dulu. Maka pengikutnya akan mengikuti. Konsepnya sama dengan ini. Jinakkan pusat bomnya, maka yang lain mengikuti"
Claude menyeringai, "Sekarang aku paham" ujarnya kemudian.
"Baiklah, semua sudah dievakuasi. Kita kembali!" pinta Claude kepada lainnya. Suaranya tegas dan lantang namun santai.
Claire berjalan biasa. Entah darimana asalnya, tiba-tiba ada selembas kertas terlempar kearah Claire. Surat misteri lagi. Dari siapa ini?
Claire mengehela nafas. Misinya belakangan ini terlalu berat bagi fisiknya. Dia hampir tidak beristirahat dengan cukup selama beberapa hari terakhir.
Soal selembar kertas yang baru didapatkannya itu, dia masih harus membaca dan memecahkan dan mengambil keputusan lagi. Tapi sepertinya ini surat dari orang yang sama.
Minota.
__ADS_1
Apakah dia juga anggota mafia?