
Dihari yang berbeda dengan hari dimana ia berjumpa dengan Claude dijalan, ia membuat janji dengan seseorang yang disebutnya teman lama.
Sejak usai sekolah, mereka jarang bertemu. Padahal sebelumnya mereka itu sangat akrab seperti saudara. Sempat hilang kontak beberapa saat karena ia pergi ke luar kota. Tapi untunglah mereka bisa terhubung kembali.
"Ibu, aku pergi dulu ya"
"Kemana?"
"Ada janji dengan teman"
"Pulanglah sebelum matahari terbenam"
Tanpa menghiraukan ucapan ibunya lagi, Claire berlari meninggalkan rumah yang tampak kian menjauh darinya saat ini. Tujuannya adalah bar milik paman teman lamanya. Lokasinya dekat sini.
Beberapa menit kemudian, ia sudah sampai di bar bertuliskan...
Bar Gogo
Terpapar jelas diatas pintu masuk bar tersebut. Ini adalah bar yang dimaksud oleh teman lamanya. Tanpa membuang waktu lagi, Claire melangkah masuk kedalam bar dan menanyakan sesuatu kepada salah satu pelayan.
"Maaf, meja nomor 42 dimana ya?"
"Nomor 42?"
"Iya, dimana ya?"
"Nomor 42 kalau tidak salah meja VIP. Coba tanyakan ke kakak-kakak kasir saja. Saya kurang tau"
"Baik, terimakasih"
Claire beralih ke meja yang pada umumnya merupakan tempat pengunjung memesan makanan dan minumannya.
"Maaf mau tanya, meja nomor 42 dimana?"
"Nomor 42?"
"Iya"
"Tunggu sebentar. Namamu Claire?"
"Iya"
"Meja nomor 42 ada di lantai atas"
"Baik, terima kasih"
Jika ada di lantai atas berarti Claire harus menaiki anak tangga. Disini tidak ada lift. Lagipula bar ini hanya memiliki 2 lantai. Tidak perlu lift.
Saat ia sampai diatas, terlihat hanya satu meja saja yang ada. Meja nomor 42. Dan ada seorang gadis bersurai coklat pendek duduk di salah satu kursi yang tersedia.
"Hana" sapa Claire
"Eh, Claire. Sudah datang ya?" balas seorang gadis bernama Hana itu
"Lama tidak bertemu, Claire" Hana mencoba berbasa-basi terlebih dahulu
"Bagaimana kabarmu, Claire?"
"Baik. Seperti yang kau lihat. Lalu bagaimana kabarmu, Hana?"
"Tentu saja Baik"
"Syukurlah"
"Kau mau pesan apa?"
"Minuman bersoda saja, seperti biasa"
"Baiklah"
Seorang pelayan naik keatas setelah mendapat panggilan dari Hana. Pelayan itu mencatat pesanan dan mengambil buku menu.
"Terimakasih" ucap Hana pada sang pelayan
Pelayan itu pun pergi menuruni anak tangga. Ia harus segera menyelesaikan pesanan keponakan pemilik Bar.
"Hana, kenapa kau memilih meja VIP?"
"Soal itu karena di meja VIP tidak terlalu ramai"
"Kalau cuma masalah ramai saja kan tidak apa-apa"
"Ya, pemilik bar ini kan juga pamanku. Jadinya kalau aku tidak memesan meja VIP, pamanku sudah menyarankannya untukku"
"Begitu ya?"
Pertanyaan Claire dibalas dengan anggukan oleh orang yang dulu merupakan sahabatnya hingga kini.
Sajian makanan telah siap. Seorang pelayan yang tadi mengambil buku menu dan mencatat pesanan, sekarang membawa piring saji dengan dua gelas minuman soda diatasnya.
"Silahkan dinikmati" ucap sang pelayan dengan badan sedikit membungkuk
__ADS_1
"Terima kasih" sahut Hana dan Claire kompak
Mereka dari dulu memang kompak. Dengan sifat yang bertolak belakang, mengisi kekurangan satu sama lain.
Hana adalah seorang gadis dengan tubuh gendut dan tinggi badan tidak terlalu tinggi. Sifatnya seorang periang, jarang sekali cemberut. Tapi memiliki kekurangan mudah ketakutan oleh cerita horor dan mudah terkejut.
Sedangkan Claire adalah seorang gadis dengan tubuh kurus seksi dan tinggi badan bisa dibilang cukup tinggi dengan orang-orang seusianya. Memiliki sifat dingin, jarang tersenyum, tapi jarang menangis. Memiliki kekurangan apabila ia seorang pendendam.
"Claire"
"Hm?"
"Kau masih sama seperti dulu ya, hahaha~. Dingin sekali jawabanmu itu"
"Aku sedang malas berbicara"
"Oh, baiklah"
"Ngomong-ngomong apakah kau sudah dapat pekerjaan?"
"Sudah. Masih baru-baru ini"
"Oh ya?"
"Ya"
"Apa pekerjaanmu sekarang?"
"Eh, pekerjaanku? aku s-sekarang menjadi Office Girl di perusahaan Central U"
"Perusahaan terkenal itu?"
"I-iya"
"Waw, kau keren sekali Claire, bisa bekerja disana"
"Tapi ingat, hanya menjadi Office Girl"
"Ya, tidak apa-apa"
"Untung saja" batin Claire
Selain mudah ketakutan dan mudah terkejut, Hana juga adalah pribadi yang mudah dibohongi orang lain. Selama mereka masih bersama, Claire mencegah apabila sahabatnya dibohongi seseorang. Claire memiliki sifat memandang dengan logika bukan dengan hatinya. Karena baginya orang yang suka memandang dengan hatinya adalah orang yang mudah dibohongi orang lain.
"Claire"
"Hm?"
"Tidak"
"Arti dari gogo sendiri adalah sore hari. Pamanku mengagumi keadaan di sore hari. Dia bilang nuansa sore itu sangat terasa. Sedangkan bibiku adalah pengagum bulan. Otomatis dia juga adalah pengagum malam"
"Oh"
"Apa hanya itu jawabanmu?"
"Kalau kau pengagum apa, Hana?"
"Kalau aku, adalah pengagum pagi. Dimana matahari terbit dengan indahnya. Suasana pagi hawanya sangat segar dan baik untuk kesehatan"
"Itu benar"
"Aku yakin kau pasti pengagum malam kan, Claire?"
"Bagaimana kau tau?"
"Tentu saja aku tau. Aku kan sahabatmu"
"Tidak usah berpura-pura. Katakan, seperti apa pandanganmu padaku?"
"Oh. Pandanganku padamu itu seperti. Sulit menjelaskannya"
"Katakan saja, cepat!"
"Ah, oh, itu, menurutku kau adalah orang yang tidak suka berisik dan suka kesunyian. Maka dari itu malam adalah waktu terbaik dan aku percaya kau mengagumi malam serta keindahannya"
"Begitu ya?"
Hana mengangguk kuat disertai dengan senyuman khasnya. Dia memang periang. Kapanpun dia akan menunjukkan senyuman manisnya.
...****************...
Claire dan Hana pergi dari bar Gogo. Mereka hanya sekejar jalan-jalan menjadi udara segar saja. Seperti orang jalanan yang berjalan tanpa tujuan.
"Kau mau belanja?" tanya Hana
"Belanja apa?"
"Ya, seperti pakaian-pakaian, sepatu model terbaru begitu"
"Kenapa kita harus pergi ketempat seperti itu hanya untuk menghabiskan uang?"
__ADS_1
"Ayolah Claire, ini bukan acara menghabiskan uang, tapi ini adalah cara seseorang menciptakan kebahagiaan"
"Oh ya?"
"Jawabannya, Ya!!!"
"Tapi kenapa aku tidak bahagia?"
"Karena kau berbeda, Claire. Tenang saja"
"Maksudmu aku berbeda apakah aku aneh?"
"Hah? aku tidak bilang kau aneh. Kau adalah sahabatku yang paling baik"
"Tidak usah berpura-pura. Katakan saja kalau aku aneh"
"Tidak kok, Claire"
Setelah perdebatan singkat antara Claire dengan teman lamanya, Hana. Mereka melintasi sebuah toko pakaian. Hana memaksa Claire untuk ikut masuk kedalam toko pakaian dan ikut berbelanja.
Baru saja bertemu, sudah banyak perdebatan yang mereka lalui. Tapi mereka langsung kembali akrab. Mungkin karena ikatan kasih sayang antar sahabat.
...----------------...
"Lihatlah atasan ini. Cocok sekali untukmu" ucap Hana saat memilih atasan baju yang kebetulan cocok dengan Claire
"Huft, tidak juga"
"Aku akan membelikannya untukmu" Hana mempertahankan senyuman khasnya
"Sudahlah Hana"
"Tidak apa-apa. Ah, ada sepatu tinggi juga"
"Aku tidak mau kalau yang itu!"
"Kenapa? ini cocok sekali untukmu. Aku masukkan keranjang saja"
"HANA!!!"
"Hm? ada apa Claire?"
"SUDAH KUBILANG AKU TIDAK MAU YANG ITU!!!"
"Oh, lalu kau mau yang mana? yang ini? yang ini? atau yang ini?" sahut Hana dengan menunjuk semua sepatu tinggi model terbaru. Membuat Claire semakin jengkel padanya
"Sudahlah, Hana. Aku pergi saja"
"Eh, eh, kau mau kemana?"
"Kubilang aku pergi saja! aku tidak suka belanja"
"Hmp. Begitu ya? Baiklah. Aku tidak akan memaksamu lagi" Hana menyadari kesalahannya
Claire sebenarnya merasa kasihan pada sahabatnya. Ia melakukan hal ini dengan tujuan seharusnya Hana tidak memaksakan hal yang tidak ia sukai. Apa boleh buat lagi. Claire pergi meninggalkan Hana yang merenungi kesalahannya.
Kini Claire jalan didepan. Hana mengekor dibelakangnya. Jaraknya lumayan jauh. Mereka seperti dua orang yang bermusuhan.
Entah apa yang telah Hana pikirkan, ia kemudian berlari mendekati Claire.
"Claire"
"..."
"Claire"
"Hm?"
"Apa kau masih marah padaku?"
"Seharusnya kau tidak memaksakan hal yang tidak kusukai"
"Maafkan aku. Aku salah. Kau benar. Seharusnya aku tidak memaksa kehendak orang lain"
"Kau sudah menyadarinya sekarang?"
"Ya, aku sangat menyesal"
"Aku minta maaf, Claire" Hana memasang wajah imutnya agar sahabatnya mau memaafkannya
"Huft~, aku sudah memaafkanmu Hana"
"Terimakasih sahabat terbaikku sedunia" kini Hana memeluk Claire erat hingga Claire sesak nafas
"Le-pas-kan" sahut Claire patah-patah
"Aku minta maaf Claire. Aku tidak bermaksud membuatmu sesak nafas"
"Sudahlah"
Claire dan Hana berjalan berdampingan menuju matahari tenggelam. Hari sudah hampir malam. Claire pamit kepada Hana untuk pulang, karena kalau ia terlambat pulang kerumah bisa jadi ibunya marah besar.
__ADS_1