
Claire tidak tau dimana lokasi tepatnya pada alamat ini. Dia mencarinya dari buku-buku perpustakaan, peta tentang kota ini. Agak sulit dicari namun pada akhirnya berhasil ditemukan.
Lokasi pada alamat itu sangat jauh dari sini. Jika ditempuh dengan jalan kaki maka Claire akan menghabiskan banyak waktu. Para agen lain akan mengira di menghilang lagi seperti sebelumnya.
Namun jika dia meminjam mobil seseorang, setiap mobil memiliki alat pelacak. Itu juga tidak aman bagi Claire. Dia belum ingin melibatkan banyak orang dalam hal ini.
Tapi bagaimana jika dia menaiki transportasi umum? terdengar lebih baik. Atau mungkin memang jalan terbaiknya begitu sehingga dia tidak bisa dilacak oleh siapapun.
Bulan sabit memancarkan sinar tipisnya dilangit malam. Tidak ada bintang yang bertaburan seperti malam sebelumnya. Malam ini mendung. Langit ditutupi oleh awan hitam.
Pertama-tama Claire harus memikirkan alasana untuk pergi. Tidak akan ada yang mempercayainya jika alasan yang digunakannya tidak masuk akal. Justru mungkin semuanya akan hancur berantakan. Dia tidak bisa pergi ke alamat itu.
Tunggu sebentar, bagaimana jika bilang ingin pergi ke bar? ini mungkin terdengar konyol tapi alasan inilah yang tidak mengundang rasa curiga.
Walaupun ini alasan ringan tapi memiliki tingkat keberhasilan tersendiri. Tidak akan ada yang akan mencampuri hal seperti ini. Ini aman.
Claire berjalan menuruni anak tangga. Dia tidak sengaja berpapasan dengan Claude. Bulu kuduk Claire berdiri. Seolah dia takut melakukan kebohongan ini.
"Claire, kau mau pergi kemana?" Claude memegang lengannya saat mereka bersisian.
"Aku... aku ingin pergi ke... bar"
"Wow sepertinya menarik. Bagaimana jika aku mengantarmu? sekaligus kita minum bersama"
Claire terkejut dengan jawaban itu. Dia tidak berencana mengajak seorang pun dalam hal ini. Tapi jika dia menolaknya... apa alasannya?
"..." Claire terdiam sejenak. Pikirannya bergulat memikirkan alasan yang tepat. Tidak mudah mengelabui orang yang selalu bersamanya dalam misi apapun.
"Claire? apa ada masalah?"
"T-tidak ada"
"Kenapa bicaramu gagap?"
"Aduh gawat" Claire merasa dipojokkan oleh Claude. Keadaan memaksanya berbicara yang sebenarnya. Alam tidak mengizinkannya berbohong.
Tuan Astra, entah bagaimana dia bisa ada disini. Dia juga sepertinya hendak naik ke Rooftop. Claire dan Claude bertemu dengan Tuan Astra.
"Claire, Claude"
"Tuan" Claire dan Claude reflek membungkukkan badannya.
"Hahaha ini bukan saat latihan. Santai saja. Ngomong-ngomong kalian hendak kemana?"
Claude melirik Claire sekilas. Meminta persetujuan darinya.
"Claire bilang dia ingin pergi ke bar. Aku menawarinya jasa mengantar tetapi... Claire hanya diam sedari tadi"
"Oh ya? apa ada masalah Claire?"
"Tidak ada Tuan"
"Kau hendak pergi ke bar, benar?"
"Ya Tuan"
"Biarlah Claude mengantarmu. Kota ini luas. Setidaknya dia bisa melindungimu dari seorang penjahat. Jangan pergi sendirian. Mengerti maksudku? tapi aku tidak memaksamu untuk menerima penawaran Claude. Itu tergantung dirimu sendiri"
"Penjahat ya? sepertinya Tuan Astra benar. Aku harus mengajak seseorang untuk melindungiku. Baiklah"
__ADS_1
"Baiklah Claude antarkan aku kesana"
"Oke!" Claude memberikan instruksi dengan membentuk jari telunjuk dan jempol menyerupai lingkaran dan tiga jari lainnya dibiarkan lurus.
Claire dan Claude berjalan keluar gedung. Memasuki kendaraan beroda empat dengan warna hitam pekat yang terparkir dihalaman gedung Markas Kepolisian Negara.
***
Gerimis turun membasahi jalan raya. Awan hitam menumpahkan isinya. Remang-remang bulan sabit terlihat. Claire dan Claude masih dalam perjalanan menuju bar yang dijadikan tujuan oleh Claire.
Bar itu memiliki rating tinggi. Ditambah lokasinya tidak begitu jauh dari alamat yang akan ditujunya. Mungkin nanti Claire harus mengelabuhi Claude sebentar.
Butuh sekitar tiga puluh menit untuk tiba di bar tersebut. Claire turun lebih dulu kemudian segera berlari masuk sebelum pakaiannya basah kuyup. Disusul oleh Claude.
Mereka memesan minuman dilanjutkan dengan duduk di meja kosong.
Claire mengamati hujan yang tak lebat juga tak reda diluar sana. Dia ingin segera pergi ke alamat tersebut tetapi masih memikirkan alasan untuk pergi dari tempat ini.
Tiba-tiba terlintas sebuah ide di kepalanya.
"Claude apa kemari kau membawa payung?"
"Payung? sepertinya ada di bagasi mobil"
"Boleh aku meminjamnya?"
"Untuk apa? kau mau pergi kemana? diluar hujan"
"Yah aku ingin membeli sesuatu di minimarket depan. Justru karena hujan aku ingin meminjam payungmu"
"Bagaimana jika aku saja yang membelikanmu sesuatu itu"
Detak jantung Claire berdegup kencang. Dia takut alasannya gagal. Jika dia mencari alasan lain maka Claude akan curiga padanya. Bagaimana ini?
"Tapi... sesuatu yang akan kubeli ini,... barang wanita"
"Eh?"
"Jadi jangan repot-repot. Tunggulah disini sebentar. Aku akan segera kembali"
"Tapi..."
"Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja"
"Tapi... hu... jan..."
"Itu hanya gerimis. Hujannya tidak lebat, tenang saja. Bolehkah aku meminjam kunci mobilmu untuk membuka bagasi mobil?"
"Aku tidak menguncinya"
"Oh baiklah itu lebih tidak merepotkan. Tunggu disini"
Claire segera keluar bar sebelum Claude mencegahnya karena berubah pikiran. Melihat Claire sudah berlari keluar maka Claude hanya bisa duduk dan menunggu seperti ucapan Claire.
Claire bergegas membuka bagasi mobil. Entah kenapa saat berada diluar, hujan terasa lebih lebat daripada yang terlihat. Claire pun segera mengambil sebuah payung dari bagasi mobil.
Dia berjalan menyusuri jalanan basah searah dengan minimarket tempat dia beralasan akan pergi kesana. Namun ia terus berjalan lurus hingga beberapa meter kemudian ia berbelok masuk kedalam lorong diantara rumah-rumah penduduk.
Claire membolak-balik kertas itu. Sedikit basah karena air hujan sesekali tidak sengaja mencipratinya.
__ADS_1
"Disinikah?" Claire menatap sebuah bangunan tanpa pencahayaan menyala dan tak berpintu.
Keadaan hujan diluar menambah aura mencekam saat hendak masuk kedalam bangunan tersebut. Claire berjalan tanpa mengetuk pintu karena memang bangunan ini tidak memiliki pintu.
Dia mengamati sekitarnya sekilas. Di pojok-pojok ruangan terdapat jaring laba-laba. Sesekali suara cicak terdengar.
Didepan sana ada sebuah kursi yang membelakangi Claire. Sepertinya ada orang sedang duduk disana.
"Permisi... apakah kau...?" Claire mencoba bertanya sopan saat sebelumnya menelan saliva dengan susah payah.
"Bwahh" Minota yang duduk dikursi tersebut berniat mengageti Claire.
"Haha. Kupikir aku bisa sesekali membuatmu terkejut" ucapnya.
Ekspresi Claire terlihat tenang seolah dia baik-baik saja, namun dibalik ketenangannya ada jantung yang berdetak lebih kencang karena hal itu.
"Akhirnya kau memutuskan datang kemari, apa yang mendorongmu melakukannya? apakah hanya karena rasa penasaran?" Minota menaikkan satu kakinya untuk bertumpu diatas kaki lainnya.
"Tebakanmu benar, hanya kurang tepat" jawab Claire dengan nada tenang. Minota membalas jawaban itu dengan seringai mengerikan.
"Jadi... seperti yang kubilang saat itu, aku akan menjawab tiga pertanyaan awalmu tapi dengan satu syarat"
"Katakan"
"Kau yakin, heh? ini mudah tapi kau tidak akan mudah menyetujuinya"
"Baiklah. Katakan syarat apa itu"
"Satu syarat itu adalah bantu kami membebaskan rekan kami yang ditahan oleh para polisi"
"Membantu membebaskan rekan kalian?"
"Ya, dengan itu aku anggap kau layak mengetahui tentang kami"
"Apa kau tau siapa aku?"
"Yang kutahu kau adalah Office Girl teman kerja adikku. Namun aku percaya kau cukup cerdik untuk memulai ini. Siapapun kau, walau kau rakyat biasa kau tetap bisa melakukannya"
"Rupanya dia tidak tau, syukurlah" Claire menghela nafas, lega.
"Pertama siapa rekanmu itu? dan apa latar belakang mereka ditahan oleh para polisi?" Claire bertanya seolah tidak mengetahui apa-apa.
"Rekanku adalah anggota mafia"
"Sudah kuduga" batin Claire.
"Mereka ditahan karena mereka kalah dari para polisi itu"
"Jika begitu sepertinya aku tidak bisa membantumu, aku menolak terima kasih atas penawarannya"
"Apa?!! setelah kau tau jika rekanku adalah mafia kau menolak membantu?!!"
"Tentu saja. Mafia adalah organisasi gelap yang melakukan segala hal ilegal dan merugikan negara"
"Jangan sok tau jika tidak tau"
"Apakah aku salah? itu hanya sebatas pengetahuanku"
"Semua itu tentu memiliki latar belakang. Kau tidak bisa menganggap ini suatu ketidak adilan dan merugikan negara! kau bahkan tidak tau apa-apa tentang ini"
__ADS_1