
Kemarin komandan C-C pulang tidak terlalu larut malam karena rapat tepat selesai setelah matahari sempurna tenggelam tidak terlihat lagi.
Kemarin malam juga Claude mengajak Claire untuk mampir ke sebuah restoran dekat markas utama untuk makan malam sebelum menempuh perjalanan pulang yang dipastikan mengalami kemacetan seperti tadi pagi.
Hari ini, sinar matahari menyambut makhluk bumi yang baru terbangun dari tidur lelapnya. Claire bangun kesiangan. Dia kelelahan kemarin setelah latihan harus mengikuti rapat dengan seniornya.
"Kenapa kau bangun kesiangan?" ibu melontarkan langsung pertanyaan saat Claire baru turun ke lantai bawah.
"Maaf ibu, aku kelelahan kemarin"
"Kelelahan? apa saja yang kau lakukan kemarin?"
"Eh, itu, kemarin aku lembur karena perusahaan mengadakan event pembangunan baru"
"Oh..."
Claire berpikir jika sedikit membohongi ibunya tidak akan menjadi masalah. Lagipula ibunya bukan seorang pemikir hingga ke akar-akarnya. Dia akan percaya dengan ucapan orang lain terutama yang akrab dengannya.
Claude berjanji akan mengajak Claire jalan-jalan hari ini. Mereka dibebas tugaskan setelah kemarin ditunjuk menjadi pemimpin latihan rutin. Hari ini Tuan Matsumoto yang memimpin bersama partner wanitanya yang juga seorang senior.
Mereka akan berjalan ke taman kota, restoran terkenal untuk mencicipi rasa masakannya, dan yang pasti mereka berdua akan pergi ke perpustakaan kota untuk meminjam beberapa buku.
"Selamat pagi nak Claude" sapa ibu Claire yang menantar Claire hingga depan rumah.
"Selamat pagi bibi" untuk kali ini Claude turun dari kendaraannya. Menyalami tangan ibu Claire.
"Pagi ini nak Claude tampan sekali" puji ibu Claire.
"Terima kasih, bibi"
"Saya boleh meminjam putri bibi sebentar?"
"Boleh-boleh. Kenapa tidak boleh? kalau perlu, jadikan dia kekasihmu saja" ibu Claire berbisik diakhir kata. Didengar samar oleh Claire.
"Hubungan kami sebatas teman kerja, bi. Kalau begitu saya pamit dulu ya bi"
Claude membukakan pintu mobil untuk Claire. Kemudian berbalik menuju pintu mobil disebelahnya. Duduk dikursi pengemudi. Claude sempat membuka kaca mobil untuk berpamitan kepada ibu Claire.
Belum apa-apa juga, Claire sudah menginterogasi Claude dengan pertanyaan yang lebih terdengar seperti ancaman.
"Claude, apa yang ibuku bisikkan kepadamu tadi?" Claire menatap tajam mata Claude. Tatapan membunuh.
"Kenapa kau sepenasaran itu?" Claude mengelak untuk menjawab pertanyaan Claire.
"Karena itu pasti ada hubungannya denganku. Iya kan? Claude?"
"I-iya iya. Kau benar. Memang ada hubungannya denganmu"
"Sudah kuduga. Jadi, apa yang dia bisikkan kepadamu?"
"Tidak terlalu penting. Ibumu hanya menyuruhku untuk menjadikanmu kekasihku. Itu saja"
__ADS_1
Lagi-lagi Claire menatap tajam mata Claude. Lebih tajam dari sebelumnya. Seolah ada ratusan bahkan diribuan jarum yang hendak membunuh Claude.
Claire tiba-tiba berbalik ekspresi. Dia memasang wajah sedih. Menangis seperti bocah lima tahun. Claude tidak terlalu mengerti perasaan Claire.
"Kau kenapa?" Claude mengelus lengan atas Claire dengan satu tangan. Sedangkan tangan lainnya memegang kendali mobil.
"Kenapa ibuku selalu ingin aku memiliki kekasih? bukankah jika aku punya karir yang bisa membanggakan keluarga dengan gaji yang besar sudah cukup?" Claire menyeka ujung matanya yang tidak berair.
"Eh, mungkin ibumu hanya ingin kau segera menikah setelah mengejar karir"
"Kenapa begitu? jika aku ingin hidup single apakah mereka memaksaku menikah?"
"Single? yang benar saja. Kau adalah putri tunggal mereka. Jika kau memilih tidak menikah hingga usia dewasa nanti, lalu siapa yang akan meneruskan keluargamu? kau bahkan tidak memiliki keturunan"
"Entahlah. Aku pikir jika aku memilih hidup sendiri untuk selamanya tidak akan bermasalah besar. Aku hanya,... trauma dengan sifat lelaki yang egois"
Claude tersenyum. Menatap lurus kejalanan yang hendak dilewati kendaraannya. Dia tau banyak lelaki diluar sana yang tidak menghargai seorang wanita. Tidak jarang wanita juga diperlakukan kasar oleh kaum pria.
Tetapi, tidak semua lelaki seperti itu. Ada yag baik hatinya hingga menjunjung tinggi derajat wanitanya. Memperlakukan dengan lemah lembut. Itulah yang diinginkan kebanyakan wanita. Yang membuat wanita nyaman memiliki lelaki.
"Itu hanya beberapa, Claire. Tidak semua lelaki itu egois"
"Iya, aku tau. Tapi sulit mencari yang tidak egois"
"Oh ya?"
"Iya. Eh..."
"Kau... kau adalah pria baik yang kukenal selama ini. Tapi kau bukan satu-satunya. Haran juga pria yang baik bukan?"
"Iya"
"Aku sudah menemukannya. Tidak sulit. Yang kucari ada disini"
"Jika kau sudah menemukan yang kau cari lalu kau akan apa?"
"Hubungan kita cukup sebagai partner saja. Aku masih tidak ingin memiliki kekasih"
"Baiklah-baiklah"
Tanpa sadar, mobil Claude sudah terparkir di taman kota. Claire dan Claude turun dsri mobil. Hanya tas selempang kecil yang dibawa oleh Claire.
Mereka melangkah masuk kedalam wilayah taman kota. Pemandangan serba hijau langsung menyambut mereka. Dedaunan yang terpotong rapi. Air mancur yang terlihat tenang, suaranya terdengar seperti melodi.
Beberapa tanaman adalah jenis bunga. Aroma bunga semerbak harum menyapa para pengunjung. Ada bunga yang belum mekar. Ada bunga yang sudah bermekaran. Cantik sekali.
Tepat ditengah taman kota, terdapat air mancur setinggi lima meter yang didesain menyerupai kelopak bunga, ditengahnya air mancur menyemprotkan airnya. Jangkauan air mancur itu lebar. Dikelilingi dengan kolam luas.
Didalam kolam tersebut, warna-warni ikan terlihat indah menghiasi sekitar air mancur.
"Wah, indah sekali" Claire berjongkok ditepi luar kolam ikan.
__ADS_1
"Kalau tidak salah, saat malam kelopak bunga itu akan menyala terang"
"Oh ya?"
"Iya"
"Sayang sekali kita tidak datang saat malam hari"
"Tidak masalah kan?"
"Ah, kalau begitu ambil fotoku disini"
"Baik-baik"
Claire berdiri dengan sedikit memiringkan kepalanya kekiri. Memejamkan matanya. Satu tangannya memegang pergelangan tangan lainnya. Tidak lupa Claire juga tersenyum. Senyumannya semanis gulali. Atau bahkan lebih manis lagi.
Claude mengambil foto Claire yang bergaya didepan air mancur berdesain bunga tersebut.
Tidak lama kemudian pasangan kekasih datang menghampiri mereka. Allan, mantan kekasih Claire bersama dengan mungkin kekasih barunya.
"Wah... gadis dingin bisa tersenyum juga" Claire langsung menatap sinis kedua pasangan kekasih yang menghampirinya.
"Kenapa merengut? tersenyum dong. Apa perlu kuberitau caranya?" Allan tersenyum lebar. Memamerkan gigi putihnya.
"Dia siapa sayang?" wanita yang berdiri disebelah Allan bertanya.
"Oh... dia mantan kekasihku sayang. Dulu aku ngejar-ngejar dia setelah putus. Eh ternyata dia sudah punya kekasih lain"
"Pagi menjelang siang bro" Claude datang menghampiri tiga orang yang lebih terlihat seperti berdebat.
"Nah, sayang. Ini dia kekasih dari mantan kekasihku ini. Selamat pagi juga bro" pandangan Allan berganti pada Claude yang baru menghampiri mereka.
"Wah, hubungan kalian langgeng nih. Selamat selamat. Aku juga udah nemu kekasih baru kok" ucap Allan menyombongkan kekasih barunya.
"Sayang, mantan kekasihku ini orangnya dingin sekali!. Tidak sepertimu, hangat sekali"
"Hahaha~ bisa saja"
"Bisa lah. Mantan kekasihku ratu antartika, kamu sang pelita"
"Sampai jumpa, ratu antartika!" Allan dan kekasihnya pergi meninggalkan Claire dan Claude.
Claire sedari tadi hanya diam. Seumur hidupnya dia tidak ingin bertemu dengan pria seperti Allan. Kenapa lagi-lagi dunia mempertemukan mereka?
Hidup memang sial. Claire punya banyak kenangan busuk dengan Allan. Dia bahkan tidak ingin melihat wajahnya lagi. Wajah menyebalkan itu. Claire sedari tadi mengepalkan tangannya erat.
"Kau baik-baik saja Claire?" Claude yang menyaksikan semua itu menjadi kasihan kepada Claire.
"Ayo kita pergi dari sini" Claire berusaha bertutur kata lembut tetapi tidak bisa karena dirinya telah diselimuti amarah.
Claude menyusul Claire menuju tempat parkir. Setelah ini menuju tujuan berikutnya. Restoran terkenal.
__ADS_1