
Claire menatap debu jalanan yang beterbangan di jalan raya yang padat akan kendaraan beroda empat. Lampu merah menghentikan laju kendaraan.
Claire telah melakukan perjalanan dengan Claude menuju ibukota. Ini akan memakan waktu yang cukup lama. Udara di jalan raya terasa menyengat. Itu dikarenakan mesin-mesin kendaraan yang telah memanas dan menebarkan udara panas disekitarnya.
"Berapa jam lagi kita akan sampai disana?" Claire merenggangkan otot-otot tubuhnya yang terasa kaku. Matahari hampir berada tepat diatas kepala. Itu juga menjadi faktor mengapa udara terasa seperti meyengat kulit.
"Tujuh jam lagi" sahut Claude tanpa menoleh. Dia tetap fokus mengendarai mobil. Lampu merah telah berganti menjadi lampu hijau. Semua kendaraan yang berhenti kembali melaju.
Claire menyalakan pendingin didalam kendaraan. Dia berangkat pagi-pagi sekali. Sehingga beberapa jam lalu udara masih dingin. Namun sekarang tanpa pendingin dirasa-rasa udara didalam mobil terasa pengap.
Beberapa anak rambut Claire terterpa karena ia menyalakan pendingin dengan kecepatan tinggi agar udara menjadi sejuk.
Tidak lama kemudian, Claire tertidur. Dia bersandar pada kaca mobil. Berjam-jam Claude mengendarai mobilnya sendiri hingga ia kelelahan. Dia tidak berencana membangunkan Claire karena Claire tampaknya tidur dengan nyenyak.
Saat Claire bangun tiba-tiba saja sudah sampai disana.
"Claude, Claude, kau dimana?" Claude meninggalkannya di mobil. Claire terbangun. Ada sebuah jaket yang dipasangkan di badannya.
"Ini, ini bukankah...?" Claire segera turun dari mobil. Dia sudah mengenakan jaketnya sehingga jaket lain yang tadi menyelimutinya ia lipat dengan rapi namun tetap ia bawa.
Claire tau ia tepat berada di depan Markas Kepolisian Negara. Namun... saat ia hendak melihat jalan raya yang lebar dengan dipenuhi kendaraan berlalu lintas, yang ia lihat....
Berbeda.
Hanya ada tanah gersang dengan jalan aspal yang sudah berantakan wujudnya. Jalan aspal itu tampak seperti bongkahan batu yang ada dimana-mana.
Begitu juga dengan gedung-gedung berteknologi yang pernah ia lihat sebelumnya. Kini telah menjadi gedung kosong tak berpenghuni. Kaca-kacanya beberapa pecah.
Claire terkejut hebat. Dia mengatupkan rahangnya. Menelan ludah. Kemana keramaian jalan raya yang dulu pernah ia lihat? kemana gedung-gedung berteknologi tinggi dengan penangkap sinyal satelit diatasnya?
Semua telah berbeda hari ini. Apakah ledakan bom di kota ini separah itu, hingga merubah wujud seharusnya dari ibukota ini?
Seseorang menepuk pundaknya ringan.
"Hei" ucap seseorang tersebut.
Claire tersentak kaget. Membuat jantung hampir lepas saja.
"Kenapa? apa kau terkejut?" ucap Claude mengerti maksud dari tatapan Claire.
"Sangat"
Claude menghela nafas, "Awalnya aku juga begitu. Namun inilah dampak dari ledakan bom massal itu"
Claire terdiam. Dia juga telah melihat berita siaran langsung mengenai ledakan bom massal di ibukota. Namun tidak disangka akan separah ini.
__ADS_1
Claude menatap Claire. Dia tersenyum. Senyumnya lembut seperti kapas. Claude seolah tau bagaimana perasaan Claire saat ini.
"Ayo, Tuan Astra menunggumu" Claude menepuk pundak Claire sekali lagi. Kemudian berlalu meninggalkannya.
"Oh iya, aku lupa. Jaketku?" Claire memberikan jaket yang telah ia lipat kepada Claude. Wajahnya masih murung. Tapi dia tidak bisa menangis.
Claude menghela nafas sekali lagi. Dia mengingatkan Claire, "Jangan terlambat. Aku tunggu kau di ruang Komisaris" Claude pergi berlalu masuk kedalam gedung.
Untuk mendalami keadaan, Claire menatap kehancuran kota itu. Dia merasa sangat bersalah karena hal ini. Jika sudah begini, bukankah masyarakat sipil yang akan terkena imbasnya juga? Claire mengepalkan telapak tangannya. Hatinya bersumpah akan mengembalikan semuanya lagi. Dia tidak bisa menjebak dirinya sendiri dalam rasa bersalah.
Setelah membulatkan tekad, Claire masuk kedalam gedung menyusul Claude.
"Tunggu saatnya nanti..." ucap Claire dalam benaknya.
***
Claire tidak sengaja masuk dalam kamp pelatihan. Keadaannya masih sama seperti saat berada dalam ruangan kubus simulasi.
"Claire! akhirnya kau datang" seru Selby berlari kearah Claire.
"Selby..."
"Keadaan kota sangat hancur, kau tidak akan bisa membayangkan saat bom-bom itu meledak bersamaan. Semua berubah sekarang. Kota dikosongkan karena berpotensi berbahaya untuk tetap tinggal disini. Tapi entahlah" Selby bercerita tentang sebuah kengerian dengan nada cepat. Claire diam sejenak. Mencerna kalimat Selby.
"Claire! aku sudah menceritakannya tadi" Selby menghembuskan nafas lelah.
"Maksudku, lebih detailnya"
"Oh, soal itu...."
"Nona Claire" seseorang memanggil Claire.
Reflek Claire dan Selby menoleh kepadanya. Pria paruh baya mengenakan jas hitam lengkap dengan dasi memanggil Claire.
Claire seperti diingatkan oleh sesuatu. Dia baru ingat jika dia dipanggil oleh Tuan Astra. Ingatannya melemah.
Tapi... tunggu. Wajah pria itu seperti tidak asing baginya. Dia merasa pernah melihatnya. Tapi dimana?
"Tuan Astra telah menunggu nona sejak tadi. Bergegaslah pergi ke ruang komisaris"
"Aku mengerti. Terima kasih"
Claire berpamitan untuk pergi sebentar kepada Selby. Selby pun melanjutkan latihannya. Claire berjalan mengekor dibelakang pria itu.
Selama berjalan menuju ruang komisaris, kepalanya berusaha mengingat siapa pria ini. Dia merasa mengenalnya. Tapi dia lupa tentangnya.
__ADS_1
Hingga tiba ditempat tujuan, Claire baru mengingatnya.
Sebelum Claire masuk kedalam ruangan, dia berbalik kemudian membungkukkan badan kepada pria tersebut bersamaan dengan pria tersebut membungkukkan badannya juga.
"Nona..."
"Terima kasih telah mengantar saya hingga sini" ucapan Claire belum selesai.
"Iya nona, sudah menjadi kewajiban saya" pria itu tersenyum ramah.
"Saya tau tentang itu, terima kasih... Tuan Mizaka"
Pria yang disebut Claire sebagai Tuan Mizaka itu sangat terkejut.
"Nona, kau..."
"Benarkan anda Tuan Mizaka?"
"Maaf nona tetapi, apakah kita pernah bertemu dan mengenal"
"Tentu saja. Di markas organisasi yang berlokasi di jalan awan"
"Itu artinya, nona Claire adalah gadis bersurai putih yang saat itu?"
"Benar sekali"
Pria itu kemudian menangis karena terharu. Claire membalasnya dengan senyum tulus yang didalamnya mengandung banyak rasa terima kasih.
"Tidak kusangka. Sekarang anda adalah seorang komandan"
"Iya tuan. Saya permisi. Terima kasih" Claire masuk kedalam ruang komisaris.
Tuan Mizaka. Pria yang dulu pernah mengantarkannya menemui Tuan Shihe saat ia baru akan melamar kerja menjadi agen polisi rahasia. Kalian masih ingat?
Malam itu dia sempat menyebutkan namanya. Itu sebabnya Claire merasa mengenal pria tersebut. Memang dialah salah satu tokoh pria yang hadir dalam sebelum perjalanan karirnya saat ini.
Didalam ruang komisaris, ada Claude, Tuan Matsumoto dan partnernya, juga para atasan lain selain Tuan Astra dan Tuan Shibe. Claire menjadi gugup. Dia jarang menghadap para atasan itu. Lebih-lebih lagi kedatangannya terlambat karena ia lupa.
"Tuan-Tuan" Claire bermaksud menyapa. Dia berdiri disebelah Claude.
"Kenapa kau lama sekali, Claire?" Claude berbisik. Padahal ia sudah mengingatkannya tadi.
"Maaf, aku tadi sedang berbincang dengan Selby" Claire balas dengan berbisik pula.
"Baiklah, mari kita mulai" tuan komisaris Hirofumi berdiri dari tempat duduknya. Dari detik itu pula, suasana menjadi menegangkan. Ada apa ini?
__ADS_1