
Hanya tinggal hitungan detik langkah kaki itu mendatangi mereka. Jantung mereka berdetak kencang. Bagaimana ini? apakah mereka akan ketahuan secepat ini?
Claude tiba-tiba menarik tangan Claire. Menutupi seluruh tubuh mereka dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan kain hitam polos.
Mereka berdua minggir dan mendekat ke dinding saluran air. Hal itu juga dilakukan oleh Selby dan Senno. Suara langkah kaki terdengar berjalan melewati mereka tanpa rasa curiga sedikitpun. Terlihat terburu-buru.
"Huft~ untung saja" Selby lega sekali setelah mereka berhasil melewati tantangan pertama.
"Darimana kau mendapatkan kain hitam polos itu, Claude?" tanya Claire menatap lurus kearah mata Claude yang terlihat samar tanpa penerangan.
"Senno membawanya" jawabnya singkat,
"Dia membawa kain di saku jaket hitamnya. Walaupun warna dinding saluran air ini putih polos, tetapi terlihat hitam tanpa cahaya lampu. Maka kain hitam polos cocok untuk bersembunyi. Tidak perlu mencari ruang lain. Tidak akan ada" jelasnya kepada Claire yang juga menatap lurus matanya.
"Ayo kita segera bergerak. Disaat kita diam mereka bergerak. Waktu sangat berharga" Senno mengingatkan. Tiga kalimat itu berhasil membuat teman-temannya seketika melupakan tanda tanya di kepala masing-masing.
Tidak jauh dari posisi mereka sekarang, terdapat pintu kecil berwarna merah menyala. Terlihat diantara kegelapan. Mungkin ini pintu yang tadinya... entah dibuka atau ditutup oleh orang tadi.
Dengan cepat Claude membuka pintu itu. Kriekk...
Sama seperti sebelumnya, ruangan tersembunyi itu menyajikan pemandangan gelap gulita. Mereka sengaja tidak memberikan ruangan lampu, agar siapapun yang masuk tidak bisa melihat isi dalam ruangan.
Mereka berempat menyusup kedalam. Di ruangan berbeda, tiga orang sedang berbincang. Terdengar serius sekali. Kalau begini sih mirip rapat. Secercah cahaya lampu bersinar di tengah meja kayu.
Mereka berempat bersembunyi di satu sisi. Mendengarkan apa yang diucapkan oleh tiga orang itu.
"Kenapa kau menjualnya?" tanya seorang pria dengan kaos putih berbalutkan jaket hitam
"A-aku tidak tau" sahut pria yang duduk di bangku di depan pria itu
"Apa maksudmu tidak tau? malam sebelumnya kan aku sudah memberitahumu"
"A-aku lupa. Kepalaku tidak bisa mengingatnya"
"Dasar bodoh! sekarang bagaimana? bagaimana kau akan bertanggung jawab?" wanita disebelah pria berjaket hitam menampar pria yang duduk di bangku
Plak...
"A-aku akan mencarinya"
"MENCARINYA?!!" sentak pria berjaket hitam dan wanita di sebelahnya bersamaan
"I-iya, mencarinya"
"Kau pikir ini seperti mencari barang yang hilang dirumahmu?"
"La-lalu bagaimana?"
"Cih, kenapa sekarang kau bertanya padaku? pikirkan sendiri. Itu kesalahanmu"
Pria berjaket hitam dan wanita itu pergi berlalu meninggalkan pria yang duduk di bangku. Wajah pria itu terlihat sedih. Terus menundukkan wajahnya.
Mungkin dia dimarahi oleh atasannya atau apalah. Wanita tadi bisa jadi sekretarisnya. Ikut membentak bahkan menampar pria yang duduk di bangku.
Claire, Selby, Claude, dan Senno berjalan di belakang pria yang duduk di bangku dengan mengendap-endap.
Di tengah jalan, terdengar suara isak tangis seseorang. Rupanya pria yang sedang duduk dibangku sedang menangis tanpa suara.
Claude merasa kasihan kepadanya. Ia berhenti dan mencoba berbicara dari belakangnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Claude dengan nada setenang mungkin. Menyeimbangkan dengan cahaya suram di sekitarnya.
"Apanya yang baik-baik saja?!! jelas-jelas aku ditampar olehnya tadi" pria yang duduk dibangku tidak bisa berbicara dengan tenang. Ia marah pada dirinya dan melampiaskannya dengan membentak-bentak.
"Itu tidak sepenuhnya salahmu" suara Claude terdengar lebih tenang dari sebelumnya.
"Apa maksudmu? jika mereka tau anjing itu istimewa, mereka bahkan bisa menggali informasi darinya"
__ADS_1
*anjing? batin Claude
"Mereka belum mengetahuinya"
"Darimana kau tau? kau pastilah berbohong"
"Aku tidak berbohong"
"Hahaha~, hahaha~" pria yang duduk di bangku kini berdiri dan membalikkan badannya.
Claire melihat wajahnya ngeri. Bekas jejak air mata tertinggal di pipinya. Matanya membelalak merah. Tawanya mengerikan. Apa dia sudah gila?
"Jangan berbohong, JANGAN BERBOHONG KEPADAKU!" ucapnya lantang sambil memegang erat bahu Claude.
"Salahkan saja, SALAHKAN SAJA AKU SEMAUMU!"
"AKU MEMANG ADALAH KAMBING HITAM MEREKA. AKU LAYAK UNTUK SELALU DISALAHKAN!"
Cengkeraman tangannya di bahu Claude terasa semakin kuat. Kuku-kukunya yang tajam menyobek jaket hitam yang dikenakam Claude. Bahu Claude terluka.
"Claude!" sentak Claire ingin menolong Claude tetapi dihadang oleh tangan Senno.
"Biarkan saja, Claire. Bukan saatnya" Senno berusaha mengingatkan Claire.
Pria yang mencengkeram bahu Claude sepertinya mabuk. Dia tidak sadar melakukannya. Wajahnya sudah terlihat seperti orang gila saja.
Pria itu hendak memukul Claude. Tetapi tangan kekarnya ditangkis langsung oleh tangan Claude.
"Hentikan ini" pinta Claude masih dengan posisi tangan menangkis serta menahan serangan dari pria itu.
"ARGGHHHH!!!" Pria itu mengamuk kejam. Memukul Claude dengan arah sembarangan.
Sesekali Claude berhasil menghindar dan pria itu tersungkur ke lantai. Tetapi dengan segera ia bangkit lagi dan menyerang sebelum Claude kabur darinya.
Salah satu serangan pria itu hampir mengenai Claire. Dengan cepat dan tepat Claire menangkis, memutar tangannya, kemudian berakhir dia mengunci tangan pria itu.
Tidak disangka pria itu menjatuhkan diri kemudian menendang perut Claire dengan kakinya. Claire terbanting beberapa senti. Punggungnya terbentur pojok meja.
"AKHHH!!" rintih Claire meringis kesakitan. Barusan itu adalah sebuah tendangan kaki membelakanginya, tetapi tendangan itu kuat dan berhasil membuat perutnya kesakitan.
Claude berlari mendekati Claire, segera membantunya.
"Kau baik-baik saja?"
Sebagai balasan, Claire hanya mengangguk. Dia masih menahan rasa sakitnya. Menggigit bibir bawahnya kesakitan.
"Ini berbahaya, kita segera pergi!" Senno tetap mengingatkan teman-temannya.
Pria itu sudah mabuk berat. Kepalanya tersungkur di lantai ruangan. Sepertinya dia tidak akan sanggup untuk bangkit lagi.
Mereka berempat berlalu meninggalkan ruangan yang menjadi medan perkelahian singkat beberapa menit lalu. Ruangan ini sempit. Tapi ada tangga memutar menuju ke loteng mungkin.
Senno menaiki tangga lebih dulu. Dia sudah siap jika ada sesuatu yang menghadang mereka nanti. Dan sudah menjadi kewajibannya untuk melindungi rekannya.
Setelah Senno menaiki tangga, diikuti oleh Selby, Claire, dan terakhir Claude.
Ruangan di lantai dua lebih luas dibandingkan dengan ruangan di lantai satu. Walaupun tidak ada cahaya apapun yang menyala disana. Tetapi tetap terlihat kemewahan serba hitamnya.
Ruangan ini luas. Entah dimana para mafia menyembunyikan kotak informasi itu.
Mereka berempat, berkeliling sejenak. Mengitari pintu-pintu berwarna hitam tertutup rapat. Markas ini kosong. Tidak berpenghuni. Mungkin penghuninya sedang sibuk mengirimkan barang-barang ilegal mereka seperti ucapan Tuan Shibe.
Tapi beberapa menit setelah mengitari ruangan itu...
"Tunggu sebentar" ucap Selby.
"Ada apa?" Claire langsung menyahutinya.
__ADS_1
"Dari sekian pintu hitam yang kita itari. Sepertinya ada satu pintu yang di dekor berbeda dari yang lain"
"Pintu ini, memiliki simbol entah berbentuk apa. Simbolnya dibuat dari emas berkarat. Bisa saja inilah tempat kotak informasi itu disembunyikan" lanjutnya.
Claire mencegah mereka masuk.
"Kenapa?" tanya Selby keheranan.
"Jika ini adalah ruang dimana kotak informasi disembunyikan, berarti ada sejenis cctv atau sebagainya yang sedia mengintai"
"Oh iya"
"Lalu bagaimana ini?"
"Aku akan melemparnya langsung dengan boomerang atau alat apa saja asalkan benda pengintai itu hancur. Pertama tama pastikan tidak ada mata-mata yang mematai kita"
Claude dan Senno melihat kanan dan kiri. Memastikan tidak ada orang selain mereka. Dan syukurlah. Memang tidak ada.
Claire terlebih dahulu memasuki ruangan. Membuka pintu perlahan. Kemudian...
Craang!
Kaca dalam cctv pecah. Terkena boomerang yang di lemparkan oleh Claire dengan cekatan.
"Kita aman, ayo segera bergerak" ucap Claire setelahnya.
Mereka berempat yang merupakan rekan mulai mencari keberadaan kotak informasi. Lebih tepatnya mencari keberadaan brankas file di ruangan itu.
Ada meja, lemari, dan beberapa lemari versi lantai alias dibawah tanah juga ada. Tapi hanya berisi berkas-berkas.
Tepat dibawah lemari kecil menggantung pada paku, ada lantai berkayu namun saat diinjak terdengar perbedaan suara. Sebenarnya tidak ada yang menyadari perbedaan suara tersebut.
Hanya Claire yang mendengarnya.
"Tunggu..."
"Ada apa?"
"Dengarkan ini"
Claire mengetuk perlahan lantai kayu itu dengan jemari tangannya. tak... tak... tak...
"Tidak terdengar apa-apa"
"Dengarkan baik-baik!"
Claire lagi-lagi mengetuk perlahan lantai kayu itu beberapa kali.
"Eh..."
"Kau mendengarnya?"
"Ya, ada perbedaan suara. Tapi sangat kecil sekali" Selby berpendapat.
Claude segera membongkar lantai kayu itu. Tidak mudah tapi pada akhirnya berhasil.
Sebuah brankas besi terpapar setelah Claude membuka tutup lantai kayu. Terlihat berdebu. Apakah brankas ini tidak pernah dibuka? entahlah.
Claude mengambil atau lebih tepatnya menarik keluar brankas itu.
"Ada paswordnya"
"Dibawah meja!"
******* kode.
Selby berhasil membuka brankas filenya. Tapi kemudian....
__ADS_1