Agen Polisi Rahasia

Agen Polisi Rahasia
Misi Pertama dan Terakhir


__ADS_3

Berhari-hari telah berlalu. Dua minggu kemudian telah tiba. Saatnya misi pertama bagi tim K-2 dimulai. Memblokir akses jalan pada markas utama mafia.


Markas utama para mafia itu terletak diantara hutan lebat yang mengerikan. Untuk masuk kedalam markasnya pun harus melewati goa panjang terlebih dahulu.


Semua itu berhasil dikonfirmasi oleh partner C-C yang diberikan misi khusus oleh pimpinan organisasi. Claire dan Claude dipercaya mahir dalam teknik penyamaran maupun penyerangan.


Dua hari yang lalu partner C-C berhasil menyelesaikan misi terakhir sebelum tim dikerahkan.


Haran pun telah mahir dalam menggunakan senjata 'Shotgun'. Kini ada keyakinan besar didalam hati dan pikirannya. Itu semua tercipta berkat ucapan motivasi Claire. Gadis dingin itu terkadang bisa menjadi seorang motivator yang baik.


Malam ini seluruh anggota organisasi baik polisi maupun mata-mata menggunakan seragam hitam pekat lengkap dengan persenjataan.


"Kalian siap?" Claire memastikan anggota timnya tidak ada lagi yang takut menjalankan misi berbahaya ini.


"Siap Nona!" jawab mereka serentak.


"Walaupun organisasi rahasia telah mengerahkan timnya, ingatlah para mafia juga bukan orang-orang lemah. Mereka juga pasti mahir dalam menggunakan pistol jenis apapun. Bahkan juga termasuk serangan jarak dekat. Berhati-hatilah. Saling mengingatkan dan menolong" nasehat terakhir Claire sebelum mereka semua berangkat menuju markas utama mafia.


Mereka semua berangkat dengan terbagi menjadi beberapa kendaraan. Mobil Claude siap digunakan. Claire satu mobil dengan Selby, Senno, Claude, dan Haran. Walaupun rasanya juga sempit. Tapi tidak masalah.


"Kita berangkat" Claude menyalakan mesin mobilnya. Melaju cepat menyusul anggota lain yang berangkat duluan.


Selby menatap lamat-lamat pepohonan di hutan lebat. Gelap. Hanya itu yang bisa dilihatnya. Sepertinya ada sesuatu yang sedang membebani pikirannya.


"Ada apa Selby? kau terlihat cemas" Claire bersimpati kepada temannya. Dia tidak mau ada anggota yang berperang dengan setengah hati yang masih ragu-ragu.


"Aku... aku khawatir Claire. Jika hutan ini saja gelap apa kita akan berperang dalam keadaan gelap lupa? aku takut tidak bisa melihat dan malah berkorban nyawa"


"Apa maksudmu? kau takut mati?"


"Soal itu, aku tidak takut. Hanya saja aku tidak mau menjadi beban tim. Teman-temanku harus menjagaku yang ceroboh ini"

__ADS_1


"Singkirkan pikiran itu dari kepalamu. Tenang dan ikuti alurnya saja"


"Aku mengerti. Tapi..."


"Berhati-hatilah"


Tidak ada lagi yang berbicara dalam mobil. Senyap seketika. Masing-masing dari mereka sepertinya mempersiapkan ketenangan hati untuk berperang setelah ini.


Mobil Claude diparkirkan tersembunyi diantara pepohonan tinggi berdaun lebat. Warna hitam kendaraan beroda empat itu membuatnya hampir tidak terlihat oleh mata.


Claude turun dari mobil paling akhir. Entah apa yang dilakukannya terlebih dahulu. Yang jelas ia terlambat turun dari mobil.


"Pergilah, kalian bertiga segera bergabung dengan tim kalian!" Claude berbicara kepada Claire, Selby, dan Haran.


Setelah percakapan singkat berakhir, Mereka langsung memasang pelindung kepala. Pelindung kepala itu melindungi dari serangan berbahaya. Warnanya sama dengan pakaian mereka.


Claire beserta Selby dan Haran segera bersiap di pintu utama. Di depan dinding goa panjang melorong.


"Tenang saja Claire, tim J-7 juga bertugas sama seperti timmu" bisik Tuan Astra tepat di telinga Claire yang tertutup pelindung kepala.


Seluruh tim dikerahkan. Satu persatu dari mereka masuk kedalam goa tanpa menimbulkan suara sedikitpun. Tetap senyap. Goa pun perlahan didatangi hawa hangat karena banyak orang didalamnya.


Beberapa menit mereka tiba di sebuah gedung tinggi berlantai 5. Inilah markas utama para mafia itu. Tim lain yang diberi tugas memasuki gedung segera beraksi. Melangkah cepat.


Tim K-2 dan J-7 berjaga di pintu. Tidak hanya pintu masuk tapi juga semua pintu yang bisa digunakan sebagai akses keluar-masuk gedung ini. Gedung ini terlihat sudah tua. Sepertinya memang para mafia memilihnya agar tidak mudah diketahui bila itu sebuah markas.


Claire menyusup masuk kedalam bersama Selby. Masih termasuk area luar. Dia hanya akan memblokir gerakan musuh lebih awal.


Tidak sampai 10 menit. Dentuman keras terdengar di lantai teratas. Sepertinya tim lain mulai beraksi. Tidak ada alat pendeteksi yang canggih di sekitar gedung ini. Jadi mereka tidak mengetahui kedatangan para polisi dan mata-mata rahasia.


"Cepat sekali" ujar salah satu anggota tim K-2.

__ADS_1


"Semunya, bersiap!" ketua tim J-7 seorang lelaki. Jati diri seorang lelaki lebih tegas dibandingkan wanita.


Tidak lama kemudian. Dentuman bertubi-tubi terdengar. Kali ini lebih dekat dari sebelumnya. Mungkin lantai 4 atau 3.


Detik demi detik berjalan. Dentuman terakhir yang terdengar tepat berada di lantai 2. Seluruh gedung langsung roboh. Teman-teman Claire dari tim lainnya berjatuhan dari lantai atas.


Rasanya seperti gempa. Atap lantai tempat Claire berada hancur berkeping-keping. Hampir menimpa kepalanya. Ia dan Selby segera pergi keluar gedung yang roboh ini.


"HEI KAU BAIK-BAIK SAJA?" sebelum sempat Claire dan Selby kabur. Di depannya jatuh seorang pria dari lantai atas.


Wajahnya dilumuri darah segar. Seragam hitam-hitamnya robek. Robekan di pinggangnya meninggalkan luka yang cukup dalam.


Pria itu berusaha bangkit berdiri lagi. Dia meringis kesakitan. Anggota tim yang lain juga menyusul untuk berjatuhan ke lantai terbawah.


Selby membantu pria di hadapannya untuk berdiri. Dengan susah payah akhirnya pria itu sempurna berdiri tegak.


"Kita harus segera pergi dari tempat ini!" Claire bergegas membantu pria itu dan teman gadisnya berdiri.


"T-tunggu! Senno!"


Claire dan Selby menoleh bersamaan kebelakang. Seorang Senno, partner Selby selama ini, terjatuh dari entah lantai berapa.


Claire bisa melihat tubuh Senno terbanting jatuh. Punggungnya mengenai batu dari runtuhan gedung.


"Kau baik-baik saja, Senno?" Claire berlari kebelakang.


Senno tidak menjawab. Wajahnya meringis kesakitan. Punggungnya berdarah karena terbentur keras dengan batu runtuhan gedung.


"Kita segera pergi dari sini, ayo, aku akan membantumu!" Claire membawa Senno pergi.


Selby dan pria itu sudah berjalan didepan mereka. Beberapa detik yang lalu siapa yang meledakkan bom bertubi-tubi hingga gedung ini runtuh?

__ADS_1


Teman-teman anggota tim K-2 dan J-7 telah pergi. Entah kemana. Gedung ini sudah hancur. Hampir setengah dari seluruh agen organisasi rahasia telah tamat riwayatnya karena terkena runtuhan bangunan.


__ADS_2