Agen Polisi Rahasia

Agen Polisi Rahasia
Tidak Ada Air


__ADS_3

Claire bertemu dengan partner Tuan Matsumoto di toilet. Dia sedang menyisir surai panjangnya yang indah. Seharusnya dia tidak tau kedatangan Claire namun ada cermin yang memantulkan bayangannya.


Selesai dari toilet Claire berniat mencuci tangan di wastafel. Dia tidak tau nama partnernya Tuan Matsumoto sehingga jika ingin menyapa pun tidak akan dinilai sopan jika tidak menggunakan namanya.


"Halo Claire" sapa wanita itu sambil menguncir surai panjangnya menjadi kuncir kuda.


"Hai" jawab Claire singkat. Dia juga sedang membenahi kepangan surainya yang hanya ada disebelah kanan dari belahan surainya.


Wanita itu tersenyum. Itu tidak mengartikan apa-apa. Dia hanya tersenyum untuk menyapa Claire.


"Apa tadi kau gugup saat berada di ruang komisaris?" tanyanya menghadap ke cermin toilet.


Claire sempat menghentikan gerakan tangannya yang mulai mengepang kembali. Bagaimana dia tau? ekspresi Claire saat disana begitu tenang.


"Kau tidak bisa berbohong, Claire"


"Iya" Claire melanjutkan mengepang surainya.


"Haha, kau tau seniormu juga begitu"


"Siapa?"


"Matsumoto. Dia juga gugup. Tidak, dia selalu gugup jika berhadapan dengan para atasannya"


"Rupanya dia juga bisa gugup juga. Tetapi dari luar dia tenang sekali"


"Sama sepertimu" ucap wanita itu sambil tersenyum melihat dirinya dicermin.


Claire telah selesai mengepang surai di belahan kanannya. Dia menyalakan kran air pada wastafel. Air mengalir keluar dari kran. Claire mencuci tangannya. Kemudian dia membasuh tangannya dengan sabun cuci tangan.


Namun setelah itu, saat kran hendak dinyalakan lagi tiba-tiba saja tidak mengeluarkan air. Claire memutar kran kekanan dan kekiri. Tetap tidak ada setetes air pun keluar dari sana.


Claire merasa bingung. Telapak tangannya dalam kondisi masih diluluri sabun cuci tangan.


"Ada apa?" wanita itu menoleh melihat kran air yang diputar kekanan dan kekiri oleh Claire.


"Airnya tidak keluar"


"Oh ya? coba kran yang ini" wanita itu memutar kran air yang lainnya. Sama saja, tidak ada air. Mereka berdua dikerubungi banyak pertanyaan dikepala mereka masing-masing.


"Nona..." Claire hendak meminta tolong namun tidak tau siapa namanya.


"Miu, namaku Miu" wanita itu menyebutkan namanya.


"Ah maksudku nona Miu, boleh aku meminta tolong?"

__ADS_1


"Ada apa? oh iya tanganmu masih bersabun ya. Eh.. sebentar" Miu mencari air dalam toilet. Ember air itu kosong.


Tapi untunglah di ember air lainnya masih berisi air walau sedikit. Setidaknya cukup untuk membasuh tangan Claire yang masih bersabun.


"Pakai air ini saja" Miu mengambilkan air dari ember air dengan gayung. Kemudian disiramkan sedikit demi sedikit hingga sabun ditangan Claire tidak ada lagi.


"Huh, terimakasih nona Miu" Claire mencipratkan air di tangannya diatas wastafel.


"Jangan panggil aku nona. Maaf bukannya aku tidak mau, tapi aku hanya.... risih mungkin?"


"Oh maaf"


"Tidak apa-apa, panggil saja aku-"


"Senior Miu" Claire memotong kalimat Miu.


"Senior?"


"Benarkan? anda adalah partnernya Tuan Matsumoto jadi anda juga adalah seniorku"


"Sebutan itu agak..."


"Tidak apa-apa"


Claire dan Miu pun menyusul mereka. Ikut berlari dengan cepat hingga sampai ditempat yang hendak dituju. Mereka tiba di aula yang luas sekali. Seluas lapangan sekolah jika kalian pernah melihatnya.


Di barisan paling depan, ada Claude dan Tuan Matsumoto berdiri dengan sikap istirahat ditempat. Suasana serius sekali. Claire dan Miu menyelinap diantara barisan para agen untuk menuju kedepan.


"Ada apa?" Claire meniru Claude, berada dalam sikap istirahat ditempat. Dia berbisik bertanya.


"Nanti saja"


Tuan Shibe berdiri didepan. Postur tubuhnya tegap dan kekar. Hanya saja dia sudah berumur.


"Para agen sekalian, kami memanggil kalian kemari karena kami telah memutuskan. Bahwa pergerakan organisasi gelap tidak berhenti sampai disini. Mereka terus bergerak. Jika kita hanya diam mereka yang akan memukul mundur kita. Dengan ini kami nyatakan untuk melakukan serangan balasan. Mereka telah banyak menggunakan bom untuk menghancurkan kota" ucap Tuan Shibe lantang dan tegas.


"Setelah latihan rutin kalian, kami berharap kinerja kalian dapat berkembang lebih baik lagi. Selama kita bisa menangkap mereka maka semua akan baik-baik saja. Dalam serangan balasan ini, yang akan menjadi komandan dalam penyerangan adalah komandan C-C. Sedangkan komandan yang akan memimpin dalam garda pertahanan adalah komandan M-M. Terimakasih" dilanjutkan oleh Tuan Astra yang lebih terdengar seperti pengumuman.


Claire menghela nafas. Dia berpikir tidak akan terjadi serangan balasan seperti sebelumnya. Namun ini tidak bisa dihindari. Memang benar para mafia tidak berhenti hingga titik ini. Mereka bergerak dengan cepat. Menyurun strategi penuh teka-teki.


Tiba-tiba ada suara panggilan telepon berdering.


"Tuan, mereka ada disini sekarang. Mereka berhasil menghancurkan markas"


"Apa?!!"

__ADS_1


"Lapor butuh bantuan"


"Akan segera tiba. Tunggu beberapa menit"


Suasana menjadi genting. Si penerima telepon menyalakan mode speaker agar yang lainnya juga bisa mendengar suara si penelepon.


"Ada apa lagi ini?" batin Claire.


***


Seusai panggilan telepon itu, seangkatan Claire dikirim menuju lokasi yang diberitahukan. Entah ada apa disana. Yang jelas sudah pasti kerusuhan.


Claire, Claude, Selby, Haran berada pada satu kendaraan. Yah mereka memang selalu berada dalam satu kendaraan. Sedari tadi yang terdengar didalam mobil hanyalah suara perbincangan Claude dan Haran yang duduk didepan.


Claire menatap tanah gersang dari kaca mobil. Semua sudah berubah. Tidak sama lagi. Terlebih dia juga memikirkan apa yang terjadi di lokasi tujuannya nanti.


Mereka berempat, juga anggota seangkatan lain telah memakai seragam kepolisian. Khusus untuk komandan, Claire dan Claude memakai jubah tipis dengan lambang organiasasinya.


"Claire" Selby memecahkan keheningan di kursi belakang. Sedari tadi Claire dan Selby saling diam tidak berbicara.


Claire sedang melamun. Pikirannya tidak berada dalam mobil itu. Sehingga walau Selby memanggilnya dia tidak dengar.


"Claire, Claire" Selby mengulangi panggilannya. Hingga panggilan ketiga yang menyebutkan namanya, Claire baru menoleh.


"Eh, apa?"


"Kenapa kau diam saja dari tadi?"


"Aku? aku sedang-"


"Biarkan saja Selby, mungkin dia sedang memikirkan strategi. Jangan lupa sekarang dia adalah komandan Claire" Haran menimpali.


"Ah iya juga. Maaf mengganggumu"


Claude yang menatap kedua wajah gadis itu lewat kaca pemantul hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia menganggap ini sebuah gurauan ringan. Jika perjalanan tidak diringi gurauan semuanya akan menjadi tegang. Karena mereka hendak pergi bertempur bukan liburan.


"Maaf Selby, karena aku membahas soal perang senjata itu kau jadi sedih. Aku mengingatkanmu pada-"


"Tidak apa-apa. Lupakan saja tentang itu. Aku sedih karena aku mengingat kebaikannya. Bukan karena yang lain"


"Sekarang dia telah digantikan oleh seseorang" Claude membenahi kaca depan.


"Benar sekali" Selby tersenyum riang. Setiap dia tersenyum matanya selalu terpejam.


Melihat teman baiknya senang, hati Claire menghangat. Dia juga ikut senang dalam hatinya. Senyum tipis tersungging di bibirnya.

__ADS_1


__ADS_2