Agen Polisi Rahasia

Agen Polisi Rahasia
Hana


__ADS_3

Dirumah Claire.


Seorang gadis bersurai kekuningan pendek membawa beberapa kantong tas. Dia berjalan dengan riang gembira hendak menuju rumah sahabat lamanya.


Ting...


Suara bel berbunyi, Hana, dia berkunjung kerumah sahabatnya. Namun dia tidak datang diwaktu yang tepat. Sahabatnya itu sedang berada pada misi berbahaya dikota lain.


"Siapa?" ibu Claire membukakan pintu rumah.


"Hana?!! lama tidak bertemu" dia mengenal sahabat Claire tersebut. Kemudian ibu Claire merangkulnya.


"Bibi, senang bertemu denganmu"


"Ah kau pasti kemari ingin bertemu dengan Claire, bukan?"


"Benar sekali. Apakah dia ada dirumah bibi?"


"Sayang sekali, dalam perusahaan tempat dia bekerja, Claire dipindah tugaskan ke ibukota"


"Ibukota? bukankah baru-baru ini sedang terjadi peledakan bom massal ya?"


"Iya, awalnya bibi juga tidak mengizinkannya namun... memang bibi akui dia keras kepala dan begitu nekat"


"Hahaha. Aku mengerti maksud bibi"


"Ah, kalau begitu masuk saja dulu. Bibi akan buatkan teh"


"Terima kasih bibi"


Hana dipersilahkan masuk keruang tamu rumah Claire. Hanya ada ibunya dirumah itu. Ayahnya? entah pergi kemana. Hana duduk menyandarkan punggungnya yang lelah kepunggung sofa.


Dia lelah setelah melakukan hobinya. Yah, hobinya berbelanja. Seperti saat dia bertemu Claire di bar Gogo. Sayangnya Claire tidak sama sepertinya. Dia tidak mau buang-buang waktu, uang, dan tenaga. Bagi Claire lebih baik duduk santai dirumah.


Hana tidak sengaja melihat foto Claire saat dipantai bersama Lyora. Dia memakai gaun pendek yang kontras dengan pemandangan pantai.


Hana mengambil foto tersebut. Setahunya Claire tidak pernah liburan ditempat-tempat seperti pantai atau semacamnya. Dia anak rumahan yang tidak pernah mengunjungi wisata alam. Melihat foto tersebut membuatnya heran.


"Itu saat Claire diajak liburan oleh teman kerjanya" ibu Claire tiba-tiba datang membawa segelas teh hijau diatas nampan.


"Claire liburan?"


"Ya. Itu masih baru-baru ini. Tidak juga, maksud bibi beberapa bulan yang lalu"


"Pantas saja. Setahuku dia tidak pernah liburan" Hana ikut duduk disofa.


"Begitulah. Claire tampak begitu akrab dengan teman kerjanya. Hingga saat dipindah tugaskan pun bersamanya" Hana menyesap teh hijau.


"Bibi kadang khawatir kepadanya. Karena Claire sering pulang malam-malam setelah mengenal teman kerjanya itu"


"Pulang malam-malam?" Hana tertarik dengan topik pembicaraan yang diajukan ibu Claire.


"Iya. Kadang tengah malam, kadang dini hari, kadang juga semalaman tidak pulang. Baru pulang saat matahari terbit"


"Apa bibi tidak menanyainya dia darimana?"


"Dia selalu bilang jadwal pekerjaan padat sebab itu dia pulang malam"

__ADS_1


"Apa teman kerjanya seorang pria?"


"Iya, itu lebih membuat bibi khawatir lagi. Bagaimana jika temannya itu punya niat buruk lalu melakukan sesuatu yan tidak-tidak kepada Claire?" ibu Claire menepuk kedua pipinya.


"Mereka terlalu akrab. Pekan lalu bibi sempat tidak mengizinkannya pergi namun, Claire yang keras kepala selalu melawan permintaan bibi"


"Astaga, anak itu"


"Begitulah sahabatmu itu. Apa saat masa-masa sekolah dia sekeras kepala itu?"


"Iya, sama saja dengan yang sekarang. Satu persen pun tidak berubah"


"Jika kau bertemu dengan Claire, bisakah kau menasehatinya agar tidak lagi pulang malam-malam bersama seorang pria?"


"Kenapa harus aku bi? ibunya akan lebih didengarkan"


"Tidak, dia selalu melawan. Tidak ada gunanya bibi melarangnya. Dia akan selalu melakukan pelanggaran"


"Tidak masalah. Tapi aku yakin Claire lebih menyayangi orang tuanya"


"Baiklah-baiklah, lupakan saja soal itu"


Hana untuk yang keberapa kalinya menyesap teh hijau buatan ibu Claire. Biasanya, saat ada Claire dirumah, mereka suka menikmati teh hijau ini bersama-sama. Sayangnya hari ini dia berada diluar kota.


Hana menyerahkan beberapa kantong tas belanjaannya kepada ibu Claire.


"Ini bi, saat Claire pulang tolong diberikan kepadanya"


"Eh apa ini? tidak usah repot-repot"


"Tidak apa bi, Claire sering memberiku hadiah. Untuk kali ini aku saja yang memberinya"


"Ini sudah siang, bibi mau memasak dulu di dapur. Tunggu sini saja, nanti kita makan siang bersama"


"Iya bi, mari aku bantu juga"


"Tidak perlu, oh iya kalau kau mau masuk saja kekamar Claire. Dia mengoleksi kerang-kerang laut dikamarnya"


"Baik bi, terima kasih"


Hana segera beranjak berdiri kemudian menaiki tangga menuju lantai dua tempat kamar Claire berada. Pintunya ditutup namun tidak dikunci. Hana bisa membukanya dengan mudah.


Memang benar, didalam kamar Claire terdapat banyak sekali jenis-jenis kerang. Semua ini mungkin ia dapatkan saat dia sedang berlibur ke pantai.


Hana melihat-lihat koleksi kerang milik Claire. Di atas meja sesekali dia melihat foto-fotonya saat di pantai.


Ada satu foto yang menampilkan empat orang. Dua pria dan dua wanita. Satu wanita itu adalah Claire dan entahlah siapa wanita lainnya. Sedangkan satu pria adalah Claude.... tunggu Claude?


Ibu Claire bilang jika Claire diajak pergi berjalan-jalan bersama teman kerjanya. Lalu Hana mencoba mengingat pertemuan terakhir mereka di bar Gogo. Saat itu dia bertemu dengan Claire dan Claude.


Claire pernah berkata jika ia mengenal Claude karena Claude adalah teman kerjanya. Mungkin pria yang dimaksud oleh ibu Claire adalah Claude. Seseorang yang membuat orang tuanya khawatir kepada Claire adalah Claude.


Misteri terpecahkan. Tidak, ini hanya sebuah misteri kecil bagi Hana. Dia mungkin bisa membantu sahabatnya itu dengan berkata kepada ibunya jika Claude adalah saudara sepupunya yang baik.


Selang beberapa menit, kini Hana telah berada di meja makan bersama ibu Claire. Mereka hanya berdua saja sejak tadi.


"Baiklah, silahkan dinikmati, semoga kau suka ya Hana" ujar ibunya dengan senyum ramah.

__ADS_1


"Rasanya sudah pasti lezat. Tidak perlu diragukan lagi"


"Hahaha~ kau ini bisa saja. Baiklah segera dimakan. Keburu dingin"


"Iya bi"


Ditengah-tengah sedang makan, Hana membuka topik pembicaraan yang memang hendak ia sampaikan sejak tadi.


"Bibi tadi bilang, Claire sering keluar malam-malam bersama teman kerjanya bukan?"


"Iya, itu memang benar. Mereka terlalu dekat hingga hampir setiap malam keluar"


"Bibi tau? aku mengenal pria yang bibi maksud itu"


"Oh iya?"


"Namanya Claude, bukan?"


"Ya benar sekali. Apa Claire pernah memberitahumu?"


"Bahkan sebelum Claire memberitahuku, aku pun sudah mengenalnya"


"Jadi, Claude itu siapa?"


"Saudara sepupuku bi. Dia saudara sepupuku yang baik hati, ramah, amanah, jujur, serta bertanggung jawab"


"Oh iya?"


"Iya bi. Sebenernya banyak saudara-saudaraku yang juga meneladani sekaligus menyukai sifatnya tersebut"


"Berarti dia bukan pria yang akan berniat jahat kepada putriku?"


"Kurasa begitu. Karena kemungkinannya hampir tidak ada. Dia pasti akan menjaga Claire dengan baik bi"


Ibu Claire meneguk segelas air putih yang berada didekatnya. Memang sengaja ia siapkan karena itu sudah menjadi kebiasaannya.


"Jika dia menjaga Claire, itu bagus sekali. Bibi jadi tidak perlu khawatir lagi"


"Iya. Dari segi pandang, bukankah seharusnya mereka menjadi sepasang kekasih bi?"


"Entahlah. Claire tidak mau menjalin hubungan asmara lagi. Padahal seharusnya dia memiliki kekasih, sehingga setelah karirnya naik maka dia bisa menikah tanpa mencari calon suami lagi"


"Tapi bibi tidak terburu-buru kan?"


"Sebenarnya iya, tapi mau bagaimana lagi? tidak mungkin bibi memaksa Claire mencari kekasih"


"Benar juga. Nanti juga pasti dapat kok bi"


"Memangnya Claude itu masih single?"


"Setahuku iya karena dia tidak pernah memiliki kekasih sebelumnya. Dia sibuk mengurusi ibunya"


"Wah anak yang berbakti sekali"


"Iya. Aku bilang juga apa bi"


"Dia terlihat sabar sekali"

__ADS_1


"Benar"


Selanjutnya topik pembicaraan diisi oleh nama Claude. Sesekali diselingi candaan. Perbincangan yang menyenangkan.


__ADS_2