
Keesokan harinya, sesuai perkataan Tuan Shibe kemarin tidak perlu datang ke markas utama untuk menyampaikan keputusan, cukup beritahukan melalui pesan email kepada Tuan Astra.
Claire sengaja datang ke rumah Claude tanpa memberitahu Claude terlebih dahulu. Dia mengetahui lokasinya karena telah melihat data-data identitas Claude.
Ting...
Bel rumah Claude berbunyi. Entah kemana Claude tidak kunjung keluar dan membukakan pintu. Yang keluar justru ibundanya.
"Eh... saya kira teman laki-lakinya Claude"
"Selamat pagi tante. Maaf mengganggu. Apakah Claude ada di rumah?"
"Eh... hehehe~ Claude masih tidur. Kalau boleh tau ada perlu apa dengannya ya?"
"Saya teman kerja Claude tante. Saya kesini untuk menyampaikan beberapa informasi dari tempat kami bekerja"
"Apa tidak bisa menyampaikan lewat pesan email saja?"
"Masalahnya selain menyampaian informasi, kami juga diutus untuk melakukan laporan langsung dengan melakukan panggilan telepon tante"
"Oh begitu. Kalau begitu naiklah kelantai atas gadis cantik. Claude tidak akan mau bangun jika tante yang menyuruh. Tapi jika dia tau teman kerjanya datang mungkin dia akan langsung bangun"
"Baik, terimakasih tante"
Claire menaiki tangga menuju kelantai dua. Kamar Claude rupanya juga berada di lantai dua seperti kamar Claire berada. Tidak heran keduanya disatukan menjadi partner.
Claire langsung membuka pintu kamar Claude seperti ucapan ibundanya. Seketika saat Claire membuka pintu pemandangan yang tidak pernah dilihat Claire terlihat jelas.
Pria yang tidur dengan selimut berantakan dan kaos sedikit terangkat. Wajah damai Claude terlihat disana. Claire hampir tidak tega membangunkan Claude karena Claude terlihat tidur dengan nyenyak.
Awalnya Claire hanya menata bantal guling yang berantakan. Namun tangan Claude menarik tubuhnya hingga terjatuh ke atas ranjang.
Claude tanpa sadar memeluk Claire dengan posisi Claire memunggunginya. Claire sementara hanya diam. Menyingkirkan rasa terkejutnya dahulu.
"Claude, ini aku Claire"
Hanya mendengar empat kata itu, Claude langsung membuka matanya. Memundurkan tubuhnya beberapa sentimeter kebelakang. Menjauh dari Claire.
"Cla-Claire? benarkah itu kau?" Claude mengucek kedua matanya. Mungkin penglihatannya masih buram. Kesadarannya belum penuh.
"Iya ini aku, selamat pagi Claude. Segeralah bangun kita akan menghubungi Tuan Astra"
"Ah pagi-pagi sekali kau datang. Bagaimana kau bisa tau alamat rumahku?"
"Dari data para agen organisasi"
"Ohh..."
"Bersihkan badanmu dulu. Aku akan menunggu disini"
"Baik baik. Tunggu sebentar" Claude berlari keluar kamar meninggalkan Claire sendirian didalam ruangan yang tidak terlalu luas itu.
Claire menegakkan satu buah stand. Meletakkan ponselnya dijepitan diatas stand tersebut. Memasangkan headset di telinganya. Mencoba dengan memutar lagu-lagu.
Claude kembali kekamarnya setelah sepuluh menit. Dia bisa melihat Claire memejamkan mata dengan headset terpasang di telinganya. Dia bisa langsung menebak jika Claire sedang mendengarkan lagu.
__ADS_1
"Claire, Claire..."
"Oh, maaf, sudah siap?"
"Tentu saja. Bagaimana keputusanmu semalam?"
"Aku ikut denganmu saja"
Claire menekan layar ponselnya beberapa kali. Mencari nama kontak 'Tuan Astra' di penyimpanan ponselnya. Kemudian menekannya lagi. Claire menelepon Tuan Astra.
Satu headset terpasang di telinga Claire. Satunya lagi terpasang di telinga Claude. Mereka memakai headset agar ibunda Claude tidak bisa mendengar percakapan mereka.
"Selamat pagi Tuan" sapa Claire saat panggilan terhubung.
"Selamat pagi Claire, apa kau bersama Claude?"
"Iya Tuan"
"Baguslah. Jadi apa keputusan kalian? katakan"
"Keputusan kami mengubah peraturan larangan memiliki hubungan antar agen berbeda gender agar tidak lagi menjadi larangan melainkan hal yang diperbolehkan. Banyak agen yang akan memanfaatkan kesempatan ini, tetapi kami yakin para agen tetap akan memegang teguh pendirian terhadap organisasi rahasia. Kesetiaan mereka akan semakin membara. Ini untuk kepentingan bersama" Claude yang berbicara.
"Kalian yakin mengubah peraturan larangan?"
"Yakin Tuan" jawab Claire dan Claude kompak.
"Baiklah jika itu keputusan kalian. Siang nanti kupastikan seluruh agen organisasi mengetahuinya"
"Baik Tuan, terima kasih" panggilan terputus.
Claire dan Claude reflek melakukan tos satu sama lain. Seolah berhasil menyelesaikan misi.
"Setelah ini apa yang ingin kau lakukan, Tuan Claude?" Claire menekuk stand.
"Tidak ada"
"Aku bisa membaca pikiranmu. Kau tidak bisa membohongiku"
"Ah, eh, bukan apa-apa"
"Baiklah jika kau tidak mau mengatakannya"
Ibunda Claude berteriak kencang dari lantai bawah. Suaranya super melengking sekali. Apakah dia sedang marah? tidak dia menyuruh Claude turun untuk sarapan.
"Ayo Claire, aku yakin kau belum sarapan"
"Kau benar, Tuan Claude. Tadi pagi sebelum datang kemari aku hanya meminum secangkir coklat hangat"
Keduanya turun dari lantai dua. Claire berjalan mengekor dibelakang Claude. Biarlah Claude yang pertama menemui ibundanya.
Ibunda Claude menyambut mereka berdua dengan hangat. Menyiapkan tiga porsi sekaligus makanan yang siap disantap. Hanya dari luarnya saja, sudah terlihat menggugah selera.
"Ayo silahkan dimakan nona" ibunda Claude menarik kursi dari bawah meja makan. Hendak duduk dan sarapan.
"Terima kasih sudah mau repot-repot menyiapkan tante"
__ADS_1
"Jangan panggil tante. Panggil bunda saja"
Claire bingung. Dia sejenak berhenti menyuapkan makanan ke mulutnya. Melirik Claude sekilas memberi kode untuk menjelaskan maksud ibundanya.
"Bundaku ini memang terkenal dengan sebutan bunda. Teman-temanku juga memanggilnya bunda. Jangan sungkan"
Claire tersenyum ramah, "Baik bunda"
"Nona siapa namanya?"
"Saya Claire bunda"
"Ohh, Nona Claire. Cantik lho ya"
"Terima kasih bunda. Bunda juga cantik"
"Hahaha~ wanita seperti bunda ini sudah berumur. Sudah saatnya menimang cucu. Tetapi anak bunda belum menikah. Kakaknya Claude bekerja di luar kota"
"Claude punya saudara bunda?"
"Iya. Bunda cuma punya dua anak. Keduanya laki-laki. Anak bunda yang pertama tinggal di luar kota bersama ayahnya Claude"
"Memangnya Claire tidak punya saudara?"
"Saya anak tunggal bunda"
"Wah. Hebat kamu jadi anak tunggal. Satu-satunya harapan keluarga. Bahumu harus tegar ya Claire"
"Iya bunda"
Kurang lebih begitulah percakapan dalam meja makan rumah Claude. Ibunda Claude banyak bercerita tentang keluarganya. Kakak Claude yang hidup diluar kota. Kehidupannya bersama anak bungsu. Dan masih banyak lagi.
Siang hari, matahari perlahan naik keatas. Sinar matahari yang terik menembus kaca jendela kamar Claude. Claire masih disana. Barangkali nanti Tuan Astra menghubungi mereka lagi.
Ponsel Claude dibanjiri pesan suara yang masuk dalam waktu tidak jauh berbeda. Berasal dari nomor yang tidak dikenal oleh Claude. Nomor asing. Siapa ini?
"Ada pesan masuk Claude?"
"Iya"
"Dari siapa? maksudku kedengarannya banyak"
"Dari nomor yang tidak kukenal. Kita dengarkan dulu pesan suaranya"
Claire mendekat kearah Claude. Duduk saling berhabadapan. Claude menekan volume tambah dalam ponselnya. Mereka berdua bersiap mendengarkan pesan suaranya.
"Saya Haran, bersumpah setia terhadap komandan C-C"
"Saya Zask, bersumpah setia terhadap komandan C-C"
"Saya Detta, bersumpah setia terhadap komandan C-C"
Begitu seterusnya isi pesan suara yang terkirim di ponsel Claude. Ada apa ini? apa mereka semua sedang bermimpi?
Pesan dari Tuan Astra masuk dalam ponsel Claire.
__ADS_1
^^^"Selamat, besok kalian akan mulai bekerja menjadi komandan. Teman-teman seangkatan kalian sangat menyukai perubahan aturan yang kalian buat. Mereka bersumpah setia terhadap kalian dan organisasi ini"^^^
Claire dan Claude menepukkan telapak tangan mereka. Agak keras. Senyum mengembang dalam bibir mereka. Itu tanda mereka senang. Sukses dalam mengambil keputusan pertama menjadi komandan.