Agen Polisi Rahasia

Agen Polisi Rahasia
Minota


__ADS_3

Claire menatap sejenak lalu-lalang kendaraan beroda empat dijalan raya. Kini jalanan tampak macet.


"Kau akan pergi kemana? sebenarnya kaulah yang terburu-buru kan? bukan aku" selidik Claire tanpa menoleh pada Claude sedikitpun.


"Eh, bundaku baru saja menghubungi katanya dia ada dikota ini"


"Bunda? kenapa dia ada disini? apa dia membuntuti kita?"


"Tidak tidak, tidak seperti itu. Dia kemari karena mendengar kabar kakakku sakit"


"Kakakmu? maksudmu saudara laki-lakimu itu?"


"Iya"


"Kau berencana untuk menjenguknya?"


"Sebenarnya tidak. Tapi bundaku menyuruhku datang karena dia tau aku berada dikota yang sama dengannya bersamamu"


"Kalau begitu pergilah. Aku akan menunggu disini"


"Tetapi, aku terlanjur bilang kau ada bersamaku. Bunda sangat senang dan menyuruhku mengajakmu pula" mata Claire seketika menyipit. Melirik tajam kearah Claude.


Claude tau dari tatapan itu mengartikan 'kenapa kau bilang-bilang hal seperti ini padanya?'.


"Ma-maaf. Aku keceplosan"


"Huh, baiklah... aku akan ikut denganmu Claude. Sekalian bertemu kakakmu"


"Terimakasih banyak!"


Perjalanan menuju rumah sakit tempat kakak Claude dirawat tidak membutuhkan waktu lama. Sesampainya disana dia langsung mendatangi ruangannya.


"Dengar, didalam ada bunda, kakak, dan ayahku" Claude memperingatkan.


"Baiklah, lalu kenapa?"


"Bundaku pasti sudah bercerita tentangmu pada ayahku. Entah dia memposisikanmu bagaimana. Tapi... bersiaplah!"


Claire


"Baiklah. Aku mengerti"


Claire dan Claude melangkah masuk. Claude langsung mencium punggung tangan kedua orang tuanya. Begitu juga Claire turut mngikuti gerakan Claude dalam ruangan.


"Selamat pagi bunda, ayah..."


"Eh sudah datang ya? selamat pagi Claude, Claire" jawab bunda Claude.


"Ayah apa kabar?"


"Baik. Siapa yang kau ajak?"


"Eh bunda belum menceritakannya pada ayah?"


"Tentu saja belum"


"Ah... dia..."


"Nanti saja, Claude. Apa kau tidak rindu pada kakakmu?"

__ADS_1


"Kakak...?"


"Tentu saja. Dia belum tidur. Sapalah dia"


Claude berjalan menuju ranjang rawat yang ditempati kakaknya Claude. Pria yang tidur diatas ranjang itu langsung membuka matanya seketika menyadari ada seseorang berdiri disamping ranjang tidurnya.


"Selamat pagi, kakak... apa kabarmu?" ucap Claude dingin. Claire hanya memperhatikan kakak Claude yang mulai membuka matanya. Dia hanya memejamkan mata namun tidak tidur.


Seketika mata itu terbuka, Claire seolah teringat pada salah satu kenalannya. Matanya, yah dari sanalah Claire mengenalnya. Mata adalah identitas seseorang. Tidak salah lagi.


"Claude. Aku baik-baik saja" dia melihat kearah Claire. Mulutnya hendak mengatakan sesuatu, tetapi tidak jadi.


"Siapa gadis yang kau bawa?"


"Teman"


"Dia... sangat cantik"


Claude menoleh kearah Claire. Menyuruh agar menanggapi pujian kakaknya. Sedangkan Claire masih termenung dan bergulat dengan pikirannya sendiri. Benarkah ini orang yang dia kenal?


"Eh, terima kasih" sahutnya setelah sadar.


Kakak Claude tersenyum kepada Claire. Wajahnya putih pucat. Tentu saja karena dia sedang sakit.


Ayah dan ibu Claude memanggil Claire dan putra bungsunya untuk duduk bersama sembari mengobrol.


"Kemarilah, Claude, Claire" ucap bunda Claude menggerakkan kelima jarinya yang dirapatkan keatas dan kebawah beberapa kali.


Claire dan Claude duduk berdampingan. Mereka sudah terbiasa. Karena mereka sering ditempatkan pada satu misi. Satu-satunya alasan untuk hal itu adalah karena mereka partner.


"Lama tidak bertemu, Claude. Kau tidak ingin memeluk ayahmu?" ucap ayah Claude merentangkan tangannya.


"Ekh..."


Claire tidak menanggapi. Dia memasang wajah datar.


"Oh iya jadi siapa dia?"


"Maksud ayah Claire?" tanya Claude memastikan.


"Yah, mungkin itu namanya"


"Dia ini... teman kerjaku"


"Oh ya? dimana kau bekerja sekarang? dan apakah kalian menjalin hubungan tertentu hingga terlihat begiru akrab?"


"Soal itu... aku bekerja di..."


"Perusahaan Central U" Claire masuk dalam pembicaraan. Membantu Claude mencari jawaban.


"Perusahaan Central U? bukankah itu perusahaan maju dari kota kalian?"


"Itu benar"


"Berarti putra kita hebat bisa diterima disana, hahaha" ayah Claude kembali mengajukan pembicaraannya pada bunda Claude.


"Benar sekali. Apalagi dia bisa menemukan teman gadis sebaik dan secantik Claire" bunda Claude menambahkan. Walau mendapat banyak pujian dari keluarga Claude, Claire tetap merasa biasa saja.


"Oh iya, ayah hampir lupa. Hari ini ayah ada janji dengan seseorang"

__ADS_1


"Apakah bunda boleh ikut?"


"Tentu saja. Kalau begitu kalian berdua tetap disini. Jaga dia"


"Em... kalau boleh bertanya, siapa nama kakaknya Claude?" Claire memotong pembicaraan.


"Nama kakaknya Claude? Minota" bunda Claude sempat terkejut sejenak. Namun tanpa berpikir panjang dia langsung menjawab pertanyaan Claire.


"Jadi itu namanya. Baiklah. Aku membutuhkannya untuk nama panggilan saja"


"Biasanya dia dipanggil Mino" tambah ayah Claude.


"Begitu ya? baiklah paman. Paman dan bunda hati-hati dijalan"


"Yah, sampai jumpa Claire" ayah dan bunda Claude meninggalkan ruangan.


Tinggallah mereka bertiga didalam ruangan itu. Tetapi sepertinya Mino, kakaknya Claude sedang tidur. Atau dia hanya memejamkan matanya? entahlah.


"Aku akan membeli makanan untuk sarapan dulu. Aku yakin kau lelah semalaman mengemudikan mobil. Beristirahatlah" Claude berkata dengan wajah datar.


Sebelum dia pergi, dia sempat membisikkan sebuah kalimat ditelinga Claire.


"Hati-hati dengannya" ucap Claude berbisik kemudian pergi.


Claire tidak berpikir panjang. Dia menyandarkan punggungnya di sofa panjang. Sesaat dia menatap wajah Mino. Matanya terpejam. Kemudian tanpa terasa Claire terlelap. Dia jatuh kesamping. Posisi tidurnya setengah duduk.


***


Beberapa saat Claire merasakan ada nafas berhembus didekat wajahnya. Itu jelas adalah orang lain. Claire bergegas terbangun dari tidurnya.


Pemandangan pertama yang dilihatnya adalah mata milik Mino. Dia sudah seperti penguntit saja. Claire tersentak kaget. Tubuhnya sedikit berjingkat.


"Apa yang...?!!" Claire belum genap menyelesaikan kalimatnya, Mino sudah menyuruhnya untuk diam. Membungkam mulutnya.


"Diamlah" ucap Mino dengan nada dingin.


Claire segera bersikap tenang kembali. Dia mahir melakukannya. Mengganti ekspresi. Kini Claire bisa melihat Mino duduk berjongkok didepannya.


"Apa kau perlu minuman atau semacamnya?" tawar Claire dengan nada dingin. Tatapannya terlihat kosong namun berarti.


"Ti..dak" Mino berjalan santai kembali keranjangnya.


"Lalu apa yang kau butuhkan?"


"Tidak ada"


"Kenapa kau... menatapku saat tidur?"


"Karena kau menarik. Dan cantik"


"Itu bukan jawaban yang masuk akal"


"Oh ya? kalau begitu kemarilah. Aku akan memberitahu jawabannya"


Claire berjalan mendekati ranjang tempat Mino berbaring. Ini aneh sekali. Mino sedang sakit namun dia berjalan normal tanpa kendala. Biasanya orang yang sakit akan merasa kepalanya pusing atau semacamnya saat berjalan. Tetapi Claire yakin Mino tidak merasakannya karena barusan dia berjalan dengan santai.


"Apa jawabannya?" pertanyaan Claire menunjukkan seolah dia gadis yang polos.


"Sebelum itu... katakan lebih dulu" Mino menarik lengan Claire agar lebih dekat dengannya. Wajah mereka berdekatan sekarang. Jaraknya hanya beberapa inci saja.

__ADS_1


"Apa rencana kalian sebenarnya?" bisik Mino. Tunggu apa maksudnya ini? pertanyaan itu jelas bukan pertanyaan biasa.


Claire mulai mengeluarkan hipotesisnya. Pertanyaan itu seperti ancaman. Siapa Minota sebenarnya?


__ADS_2