Agen Polisi Rahasia

Agen Polisi Rahasia
Surat Ancaman


__ADS_3

Malam hari yang telah larut semua agen yang tidur di Rooftop gedung telah tertidur lelap. Namun Claire masih terjaga dari tidurnya. Matanya terbuka lebar. Tubuhnya telah diselimuti kain tebal.


Diam-diam Claire membuka amplop surat tersebut dengan hati-hati. Berusaha tidak membuat suara sekecil apapun. Perlahan amplop surat pun terbuka.


Ada secarik kertas yang dilipat rapi didalamnya. Dengan tangan sedikit bergetar, Claire mengeluarkan secarik kertas tersebut. Malam hari ini, suasana yang tenang dan damai didalam tenda membuatnya seolah merasa takut dengan marabahaya yang mengancam.


Surat itu bertuliskan :


Claire, berhentilah membongkar rahasia kami. Berhentilah membantu para agen polisi itu. Oh, atau kau sendiri bagian dari mereka?


Claire menelan ludah. Jangan sampai seseorang yang menulis surat ini mengetahui jabatannya. Ini demi keamanan bersama. Surat itu masih berlanjut.


Sebaiknya berdiam dirilah. Karena kami masih bisa melakukan hal yang lebih buruk dari ini. Jika kau berani melanggarnya, lindungi nyawamu.


Dan satu lagi. Sebagai hukuman ringan atas apa yang kau lakukan, bagaimana jika kau membantu kami melepaskan satu rekan kami dari tahanan? kami tidak menerima penolakan. Lakukan, BESOK.


Karena Claire merasa kesal, ia tanpa mengaja merenyukkan kertas itu dan menyiptakan sedikit suara. Untungnya teman yang tidur disebelahnya hanya menggeliat. Dia tidak bangun.


"Bagaimana ini? aku tidak mungkin membantu mereka. Mereka tidak menerima penolakan. Lalu apa yang harus kulakukan? tenang Claire, tenang. Cari jalan keluarnya dengan segera. Em... bagaimana ya?" ujar Claire dalam hatinya. Ia berdiskusi dengan diri sendiri mencari jalan keluar.


***


Keesokan harinya, rutinitas pagi yang mereka lakukan adalah melakukan jogging kecil-kecilan sebagai pemanasan sebelum memulai latihan rutin. Semuanya mengenakan jaket yang telah disiapkan pihak organisasi.


Semua agen berlari-lari kecil melintasi jalan raya yang kini tidak dilalui siapapun. Claire menatap lurus kearah depan. Dia berada dibarisan tengah. Para agen yang berada didepannya sangat bersemangat latihan pagi ini.


Seperti biasa, Claire memasang wajah tak berekspresinya. Tanpa ulasan senyum. Dan tanpa ada garis terbentuk dibawah matanya. Ekspresi wajah datar.


"Claire, ekspresimu datar sekali saat jogging pagi ini. Apa ada masalah yang membuatmu tidak bersemangat?" Selby menghampiri Claire setelah berganti pakaian latihan.


"Biasanya, bukankah aku juga begini?" Claire berdiri. Menyambar jaketnya, meninggalkan ruang ganti.


"Ada apa dengannya?" Selby menjadi bertanya-tanya dengan sikap yang Claire tunjukkan baru saja. Walaupun dia sosok yang selalu memasang wajah dingin dan tidak pedulinya, tetapi Selby bisa membedakan ekspresinya. Yang tadi itu jelas sekali Claire sedang murung. Mungkin ada masalah yang tidak bisa ia ceritakan sementara waktu.


Latihan rutin dimulai. Pertama-tama mereka melakukan pemanasan. Kemudian mulai berlatih kelincahan, kekuatan, dan semacamnya. Claire mengikuti latihan dengan baik. Selby terus memperhatikannya selama latihan.

__ADS_1


"Gerakanmu semakin lincah, Claire" puji Selby bermaksud membuka pembicaraan.


"Terima kasih" Claire membalas pujian itu. Kemudian pergi meninggalkan area latihan. Latihan selesai.


"Dia agak aneh pagi ini" ucap Selby di benaknya.


Diantara kerumunan agen yang hendak meninggalkan area latihan, ada seorang pria yang berlari melawan arah. Dia tampak tergesa-gesa. Menghampiri Selby.


"Apa kau melihat Claire?" tanya Claude


"Baru saja dia meninggalkan lapangan"


"Kemana arah dia pergi?"


"Mungkin ke Rooftop. Sifatnya pagi ini aneh sekali. Apa yang-"


"Baiklah, terima kasih" Claude memotong ucapan Selby.


"Eh, Claude, ada masalah apa?" Selby terlambat menanyakan itu. Claude sudah berlari cepat menaiki tangga.


Claude berlari menuju Rooftop gedung. Tenda-tenda yang terbuka kosong tak berpenghuni.


"Claire! dimana kau?!" seru Claude meneriaki namanya.


"Ada perlu apa mencariku?" Claire tiba-tiba muncul dibelakang Claude.


"Eh, Claire, ada hal yang ingin aku beritahukan kepadamu"


"Katakan"


"Para komplotan yang belum diketahui kejelasannya itu, mereka sepertinya akan bertindak lagi" Claire membelalakkan matanya. Sedikit terkejut dengan pernyataan itu.


"Lalu apakah Tuan Astra akan menindak lanjuti hal itu? apa rencananya?"


"Soal itu belum didiskusikan. Siang ini akan ada rapat untuk pimpinan. Pastinya dengan komisaris Hirofumi"

__ADS_1


"Baiklah. Hanya itu saja, kan? kalau begitu aku pergi dulu"


"Tunggu" Claude menarik lengan Claire yang hendak pergi.


"Ada apa lagi?"


"Selby bilang sifatmu pagi ini aneh. Apa kau memiliki masalah yang berkaitan dengan ini?"


"Claude... tidak ada masalah apapun. Lepaskan lenganku" Claude melepaskan cengkeraman dilengan Claire.


"Walaupun kau selalu memasang ekspresi dinginmu itu, tentu saja kami yang merupakan teman dekatmu bisa membedakan mana ekspresimu yang biasa dan mana ekspresimu yang murung"


"..." Claire terdiam. Tidak menyangka.


"Katakan saja jika kamu punya masalah"


"Aku sudah bilang bahwa aku tidak memiliki masalah apapun"


"Hm,... jika kamu belum bisa menceritakannya tidak apa-apa. Hingga saatnya aku akan menunggumu untuk bisa menceritakannya. Yang kuharap masalahmu tidak berkaitan dengan masalah di organisasi kita" Claude pergi setelah menyelesaikan kalimatnya.


Mendengar perkataan Claude, Claire menjadi semakin merasa bersalah. Claude bersedia menunggunya hingga mau menceritakan masalah ini. Namun jika Claire melakukan perintah si pengirim surat itu, berarti dia telah menghianati organisasinya sendiri. Claire menjadi bingung. Tidak tau apa yang harus dilakukannya.


Kadang berhianat adalah jalan terbaik untuk menyelamatkan nyawa orang-orang yang kita sayangi. Karena jika Claire tidak melakukan hal yang tertera dalam surat itu, bisa jadi mereka bertindak diluar dugaannya. Atau bisa jadi ada bom disekitar markas ini yang akan diledakkan saat ia tidak menyelamatkan rekannya.


Ini menjadi ancaman yang lebih buruk lagi. Claire memijat kepalanya yang terasa berdenyut. Mendadak dia terserang pusing. Claire masuk kedalam tendanya. Beristirahat sambil memikirkan langkah yang hendak ia lakukan selanjutnya.


"Kenapa kalian memperberat langkahku?" ucap Claire menatap langit-langit tenda. Dia membaringkan tubuhnya sebentar karena sepertinya kelelahan.


Yang dimaksud Claire adalah teman-temannya. Andaikan disaat seperti ini tidak ada yang bertanya-tanya ada apa dengannya hari ini ataupun mempedulikannya, mungkin Claire sudah melakukan permintaan si pengirim surat itu.


Tetapi teman-temannya berbuat sebaliknya. Ini membuat Claire merasa bersalah jika ia menghianati mereka. Harus bagaimana ia sekarang? kalau ia tidak menuruti permintaan si pengirim surat maka bisa jadi nyawa teman-temannya yang dia sayangi dalam bahaya.


"Kuharap kalian tau. Jika aku menghianati kalian dan organisasi kita, maka aku menyayangi kalian semua" ucap Claire lirih. Ia memejamkan matamya. Memegang renyukan kertas surat ancaman itu.


Hatinya tersentuh atas kebaikan temannya. Bagaimana dia akan menghianati mereka sekarang?

__ADS_1


__ADS_2