Agen Polisi Rahasia

Agen Polisi Rahasia
Sosok Misterius


__ADS_3

Tanpa sadar Claire memejamkan matanya. Bukan karena mengantuk tetapi melamun. Semua anggota junior berada pada tendanya masing-masing. Hanya Claire yang berada di luar.


"Dulu... aku pernah merasakan hembusan angin seperti ini" Claire termenung. Angin berhembus lebih kencang, menerbangkan anak rambut Claire.


Alam dibawah sadarnya membawanya pada ingatan dimasa lalu. Disana ada dua gadis kecil yang sedang bermain di pinggir sungai. Salah satunya bersurai putih seperti Claire. Atau mungkin dia memang Claire.


Satunya lagi adalah gadis periang. Terlihat dari ekspresinya. Dia tertawa gembira menikmati permainan yang sedang dilakukannya dengan gadis bersurai putih itu. Mereka saling mengejar satu sama lain. Sebuah permainan anak-anak.


Si gadis kecil bersurai putih itu tersandung batu berukuran sedang. Dia jatuh tersungkur. Dagunya lecet karena gesekan dengan rumput yang tumbuh diatas tanah pinggiran sungai itu.


"Kau baik-baik saja?" gadis periang berlari kearah gadis yang terjatuh.


"Ti-tidak apa-apa" walaupun si gadis bersurai putih itu berkata demikian, tetapi sebenarnya dia merasa kesakitan dengan luka lecet di dagunya.


"Mari aku bantu" gadis periang itu mengulurkan tangannya. Tersenyum ramah dengan mata terpejam.


"Kau..."


Si gadis bersurai putih menerima uluran tangannya. Disaat itu pula, angin berhembus menerpa wajah-wajah dua gadis kecil itu. Surai mereka diterpa angin. Angin disaat itu... tidak pernah dilupakan oleh Claire.


Ditengah masih mengingat masa lalunya, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk bahu Claire.


"Eh?" ucap Claire reflek.


"Apa yang sedang kau lakukan disini?" rupanya itu adalah Claude. Sepertinya dia juga bosan mengobrol dengan teman-teman seangkatannya.


"Tidak ada. Hanya mengingat kenangan yang hilang"


"Oh ya? benarkah? kau punya masa kelam?" Claude menyandarkan punggungnya pada pembatas Rooftop. Tubuhnya berhadap terbalik dengan Claire.


"Tentu saja. Seharusnya setiap orang punya itu"


"Ah... kau memang benar"


Tidak lama mereka mengobrol, alarm darurat berbunyi.


Wiu, wiu....


Semua agen baik wanita maupun pria yang berada didalam tenda bergegas keluar. Mereka masih mengenakan seragam latihan hitam-hitam yang sore tadi digunakan untuk latihan.


"Ada apa dengan alarm itu komandan?" para agen pria menatap Claire dan Claude secara bersamaan.


"Segera turun kebawah! tidak mungkin alarm berbunyi jika tidak ada sesuatu terjadi" perintah Claude barusan mendapat balasan anggukan dari para agen pria. Para agen pria turun lebih dulu. Sedangkan para agen wanita menyusul.

__ADS_1


"Ayo cepat! kita harus bergegas!" Claire menyuruh para agen wanita bergegas. Mereka bersiap dengan masker wajah berteknologi memberikan oksigen, juga dengan senjata pistol masing-masing.


Sekelompok para agen polisi wanita segera turun menyusul para agen pria yang sudah turun lebih dulu.


Dilantai bawah, lebih tepatnya dilantai satu atau lantai terbawah, seluruh lampu pecah. Tidak ada pencahayaan disana.


Serpihan pecahan kaca berada dimana-mana. Saat dilantai atas seolah semua normal. Lampu-lampu masih menyala. Aliran listrik juga berjalan normal. Tidak seperti disini.


"Apa yang telah terjadi?" Selby mengecek serpihan kaca dengan antusias.


"Entahlah" Claire masih ragu. Kemudian terlintas dikepalanya untuk pergi ke penjara bawah tanah. Mungkin terjadi sesuatu disana.


***


Penjara Bawah Tanah.


Kerusuhan yang terjadi memang menyebabkan beberapa blok penjara rusak. Tapi untunglah angkatan senior segera menyadari ada gerakan tidak terduga seperti ini. Sehingga para tahanan telah dipindahkan lebih dulu ke tempat lain beberapa detik sebelum kerusuhan terjadi.


"Tuan Matsumoto, tidak ada tanda-tanda keberadaan penyerang"


"Hm, kita harus tetap waspada"


"Dimengerti"


Penjara bawah tanah dipenuhi dengan abu ledakan. Ada sebuah bom yang diledakkan disana sebelumnya.


Claire dan para agen wanita sampai di penjara bawah tanah.


"Tuan Matsumoto!" Claire berlari kearah komandan seniornya.


"Claire? kau disini?"


"Tentus aja. Alarm berdering sangat keras tadi. Apa yang terjadi?" nafas Claire tersengal. Menderu didadanya.


"Ada bom berukuran sedang diledakkan disini. Sepertinya ada penyusup yang lolos dari petugas keamanan dan memasang bom itu. Mereka ingin membebaskan rekannya, sepertinya begitu"


"Membebaskan rekannya?"


"Tapi tidak tau lagi. Karena yang ditahan disini tidak hanya para mafia"


"Ini berbahaya" batin Claire.


Seolah ada gempa bumi, tanah yang dijadikan pijakan oleh Claire bergerak. Siapapun yang berada didalamnya diguncang oleh tanah itu.

__ADS_1


"Cepat masuk ke dalam lift!" pinta Tuan Matsumoto. Sebagian agen wanita telah masuk kedalam lift. Pintu lift tertutup. Tetapi sepertinya lift berjalan naik keatas.


Claire, Matsumoto dan sebagian agen wanita lain masih berada di penjara bawah tanah.


Beberapa detik kemudian tanah berhenti bergerak. Tetapi Claire sudah jatuh bergelimpangan, jauh dari teman-temannya. Kepalanya pusing. Saat tidak ada lagi hal yang dihipotesiskan gempa bumi, Claire masih tersandar di salah satu dinding blok penjara.


Tiba-tiba seseorang menyergap Claire. Menariknya ketempat lain. Entah dimana itu.


Samar-samar Claire bisa melihat beberapa sosok pria berpakaian gelap sedang berbincang satu sama lain. Suaranya tidak jelas. Mereka berbicara hampir seperti berbisik. Mereka membelakangi Claire. Tidak terlihat wajahnya.


"Pergilah, sepertinya dia sudah siuman" ucap salah seorang pria dengan tetap membelakangi Claire. Beberapa pria itu pergi dari tempat itu. Menyisakan Claire dan satu pria saja.


"Siapa kau?!!" ucap Claire dengan nada membentak.


Pria itu hanya menyeringai. Matanya tidak terlihat tertutupi oleh tudung dari pakaian hitam-hitam yang dikenakannya. Dia sudah berbalik menghadap Claire.


"Kau tau siapa aku"


Suara itu, Claire langsung mengingat suara itu. Itu adalah suara pria yang kemarin mengancamnya. Pria yang merupakan saudara dari partnernya, Minota.


"Minota?!!"


"Benar, kau cerdas sekali. Ingatanmu tajam" perlahan Minota membuka tudungnya. Wajahnya mulai terlihat.


"Bukankah kau sakit? bagaimana, bagaimana bisa kau ada disini?"


"Kau pikir aku benar-benar sakit saat itu?"


Claire menggertakkan giginya. Dia tau maksud Minota. Dia hanya berpura-pura. Entah apa rencanya. Dan entah dia ini siapa.


"Mengapa kau ada disini? apa rencanamu dan siapa kau sebenarnya?"


"Kenapa kau bertanya? sudah tentu aku tidak akan memberitahumu"


"Cih" Claire menunjukkan ekspresi marahnya. Otot-otot diwajahnya terlihat. Claire terlalu menggertakkan giginya.


"Tapi... jika kau penasaran tentang itu, aku bisa memberitahumu. Dengan satu syarat"


"Satu syarat? jangan-jangan..."


"Jika kau tertarik datanglah ke alamat ini" Minota melempar selembar kertas bertuliskan sebuah alamat.


"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Sampai jumpa" dia berbalik, pergi. Claire masih menebak-nebak maksud Minota.

__ADS_1


Hari ini, malam ini, Claire tau jika Minota bukan sosok pria biasa. Dimatanya dia adalah pria dengan aura misterius yang sulit ditebak. Setiap sikap dan perilakunya... mungkin hanya akting.


__ADS_2