
Bom terus diledakkan para mafia. Seluruh lantai 2 terbakar hangus. Nyala api belum juga padam. Beberapa agen kehabisan udara untuk bernafas. Mereka gugur dan tubuhnya terbakar dalam api.
Claire masih terus bertahan bersama sisa-sisa agen organisasi rahasia. Selby sebenarnya sudah sesak nafas sedari tadi, tetapi Claire memaksanya berjalan agar dia bisa terbebas dari bakaran api ini.
Asap membumbung tinggi di langit-langit ruangan. Gedung ini tidak roboh, melainkan hanya terbakar. Haran, entah dimana dia sekarang. Claire hanya bersama Selby dan beberapa orang saja di belakangnya yang masih sanggup bertahan hidup.
"Claire, aku sudah tidak kuat lagi" Selby terduduk lemas. Dia terus memegangi dadanya yang terasa sesak.
"Kau tidak bisa berjalan lagi?"
"Tidak bisa, nafasku, nafasku hampir habis. Kau boleh meninggalkanku disini" ucapan Selby menunjukkan jika dia sudah menyerah.
"Apa maksudmu?!!"
"Aku tidak kuat berjalan lagi. Tidak bisa pergi dari sini. Tinggalkan aku"
"Tidak akan. Ayo, aku akan menggendongmu"
"Itu pasti berat, Claire. Kenapa kau tidak memilih meninggalkan aku saja?"
"Sudah banyak agen yang gugur karena sesak nafas. Jangan kau juga! ayo naiklah kepunggungku"
Selby naik ke punggung Claire. Dengan tangguh Claire melanjutkan berjalan dengan membawa beban baru yang setara dengan berat badannya.
Untungnya para mafia itu tidak membakar lantai satu. Sehingga dibawah udara masih terasa segar. Perlahan-lahan tenaga Selby mulai pulih. Dia sudah bisa berjalan sendiri. Begitu juga dengan Claire. Ketangguhannya sungguh luar biasa.
Claire, Selby, dan beberapa anggota tim yang tersisa meninggalkan gedung itu. Mereka akan kembali ke tempat pertama kali memulai pertempuran dengan mafia ini.
Saat sudah hampir sampai di tujuan mereka, hati mereka seperti ditusuk ratusan bahkan ribuan jarum yang lancip. Tempat itu terbakar juga.
Mobil-mobil yang terparkir diantara pepohonan juga terbakar habis. Lalu bagaimana dengan pria tadi dan Senno?
Selby berlari mendekati area yang terbakar habis. Api masih menyala besar.
"Senno, Senno, kau ada dimana? Senno!!!!" seru Selby mengerahkan suaranya.
Claire dan Selby mencari tempat yang mereka gunakan bersembunyi sebelum melakukan serangan balasan.
Disana, terbaring mayat-mayat para mafia. Mungkinkah pria tadi melakukan perlawanan sendirian?
Diantara api yang menyala, Claire dan Selby bisa melihat pria tadi juga telah tiada. Dia mengorbankan nyawanya. Tidak jauh dari posisinya, Senno entah tidak sadarkan diri atau apa terkulai lemas bersandar pada batu besar.
"Itu Senno, Senno kau baik-baik saja??? SENNO, KAU DENGAR AKU??? SENNO!!! SENNO!!!" Selby terduduk. Seolah kehilangan hal paling berharga dalam hidupnya.
__ADS_1
"Claire, katakan kepadaku, apa Senno telah meninggalkanku?" ucap Selby lemas.
"Selby, sejak awal dia tidak sadarkan diri. Luka di punggungnya juga parah. Tidak ada tim medis yang bisa menyembuhkannya saat itu"
"Tega sekali para mafia itu membakar area ini. Area dimana Senno yang tidak sadarkan diri berada" Selby mulai meneteskan air matanya. Dia menangis keras diantara suara percikan api.
"Mereka melakukan pembantaian besar, Selby. Banyak dari kita yang telah gugur bahkan sejak serangan pertama" Claire berusaha menenangkannya. Tapi kata-katanya kurang tepat.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan, Claire? aku ingin membalas kematian Senno"
Claire dan Selby kini berdiri tegak. Selby sudah mulai bangkit. Tapi dia masih sedih.
"Claire!!" seruan orang dari kejauhan menuju kearah mereka berada.
"Claude? itukah kau?" diantara asap yang menyelimuti area itu, Claire bisa melihat samar-samar bayangan pria.
"Iya ini aku, apa kalian baik-baik saja?" wajahnya yang dipenuhi luka mulai terlihat.
"Aku baik, tapi aku tidak yakin dengan Selby" ucap Claire ragu.
...****************...
Claire, Claude, Selby, dan sisa anggota yang ada kini berdiri di tempat yang tidak terbakar. Bisa dibilang aman.
"Terima kasih" Selby menyeka air matanya yang terus menetes.
"Dari kejauhan aku melihat anggota kita yang berada di depan melakukan perlawakan pada sekelompok mafia. Banyak dari mafia itu yang ikut gugur karena anggota kita memilih mengaktifkan bom secara langsung,"
Mereka yang ada di hadapan Claude menyimak serta mendengarkan cerita mengenai hal yang tidak diketahui oleh mereka.
"Termasuk ditempat Senno ditemukan tiada, aku melihat seorang pria menghadapi sekaligus lima mafia. Dia langsung menggunakan granat terkuat dan terampuh untuk diledakkan. Otomatis setelah para mafia tiada dia juga tiada"
"Lalu apakah kau diam saja?" tanya Claire mengangkat alis kanannya.
"Aku membantu mereka dengan Shotgun"
Hening sejenak. Tidak ada yang mengeluarkan pertanyaan ataupun pendapatnya masing-masing. Mereka sekua masih tenggelam dalam pikiran mereka.
"Ehm, lalu apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya seorang anggota tim lain. Claire menatapnya sekilas. Ekspresinya menunjukkan jika Claire memiliki pertanyaan yang sama kepada Claude.
"Terakhir aku melihat para mafia itu lari kearah selatan. Aku yakin mereka masih belum jauh dari sini"
"Lalu?"
__ADS_1
"Para mafia licik itu pasti belum jauh dari sini. Serangan balasan kita digagalkan total oleh mereka. Berkat sisa-sisa agen yang mengorbankan nyawa di area luar, para mafia telah banyak terbunuh. Jumlah mereka semakin sedikit. Inilah saatnya melakukan serangan balasan yang sesungguhnya" Claude membulatkan tekadnya.
Para agen yang berada di hadapan Claude, sejenak berpikir. Menimbang-nimbang resiko yang mungkin terjadi. Jika mereka menolak, maka mereka akan terjatuh dalam lubang penyesalan dan kesalahan.
Teman-teman mereka yang merupakan sesama agen organisasi rahasia telah mengorbankan nyawanya demi melancarkan misi serangan balasan. Sudah saatnya membalas kematian mereka semua.
"Aku setuju" ucap Claire dengan tatapan yakin.
"Aku juga" Selby mengikuti keputusan teman gadisnya.
Agen lainnya pun segera mengikuti keputusan Claire. Tidak akan ada lagi waktu untuk membalaskan nyawa agen yang telah tiada.
...****************...
Saat Claude beserta pengikutnya hendak pergi masuk kedalam hutan lebat, sepuluh orang berlari kearah mereka dengan membawa pistol. Wajah mereka tertutup dengan pelindung kepala sehingga tidak terlihat.
Claude, Claire, dan yang lainnya reflek mengangkat senjatanya. Bersiap dengan segala kemungkinan yang mengancam.
Tiba-tiba salah seorang dari sepuluh orang tersebut mengangkat tangannya. Diikuti oleh yang lainnya. Ditengah-tengah itu dia berkata
"Hei hei, ini aku. Jangan tembak aku" suara itu jelas dikenal oleh Claire maupun Selby.
Claude tetap waspada. Tidak menurunkan senjatanya walau sedetik. Tatapan matanya tajam kearah sepuluh orang itu.
"Siapa kalian?!!" seru Claude dengan tegas.
Haran, membuka pelindung kepalanya. Wajahnya yang kotor dengan abu pembakaran terlihat walau dalam kegelapan. Dia tersenyum ramah. Raut wajahnya begitu bersahabat.
Claude sedikit tenang setelah melihat wajahnya. Ia pun segera menurunkan senjatanya.
"Sepertinya anda belum mengenal saya. Nama saya Haran. Nona Claire dan Selby mengenal saya. Dan saya juga mengenal anda, Tuan Claude. Kita berada dalam satu kendaraan saat datang kemari" Haran mengangkat tangannya untuk berjabat dengan Claude. Claude pun menerima jabatan tangannya.
"Tidak kusangka seseorang mengenaliku tanpa sepengetahuanku. Namamu Haran ya? akan kuingat"
"Anda banyak dikenal para agen Tuan Claude. Termasuk saya. Terima kasih telah bersedia mengingat nama saya"
"Sudahlah. Ayo kita berangkat sekarang juga"
"Kemana Tuan?"
"Akan kujelaskan di jalan"
Sepuluh orang yang datang bersama Haran ikut bergabung dengan Claude dan pengikutnya yang lain. Ini akan menambah anggota dari serangan balasan yang sesungguhnya. Penebusan nyawa dari para pembantai besar.
__ADS_1