Air Mata Delena

Air Mata Delena
14


__ADS_3

Happy Reading❤


Tak terasa sudah dua minggu lamanya Delena bekerja sebagai nani untuk tuan muda Alex dan selama itu pula ia semakin merasakan perubahan sikap suaminya yang terlihat terang-terangn lebih mengutamakan istri keduanya terlebih setelah berita kehamilan Tari yang membuat Aldi bagahia dan semakin memanjakan madunya itu.


Bahkan untuk uang bukanannya Lena harus mengelus dada saat suaminya berkata memangkas bahkan hampir setengahnya membuat Lena pontang-panting dan menggunakan uang gajinya yang ia minta di muka agar dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga.


Jika di tanya sikap Aldi? Pria itu seolah tak perduli dan fokusnya hanya tertuju pada Tari yang di ratukan di rumah itu.


Air mata Delena selalu tumpah tiap tengah malam, menangisi nasib pernikahannya bahkan sejak awal pernikahan perlakuan ibu mertuanya yang selalu semena-mena membuat sakit terlebih setelah kedatangan istri kedua semakin membuat wanita malang itu menderita hidup seatap dengan wanita lain dari suaminya.


"Sudah cukup Lena! Mereka gak bisa lagi nindas kamu."Lena mengusap kasar air mata yang mengalir di wajahnya. Kata-kata kasar yang keluar dari mulut suaminya bagaikan belatih tajam yang menembus relung jantungnya.


Sangat jelas diingatannya akan semua perlakuan dan perkataan suaminya yang memaki juga selalu memojokannya.


"Aku menyesesal mempertahankan wanita mandul sepertimu, bahkan kau tak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan Tari."Bentak Aldi pada Lena yang sudah mengelurkan cairan beningnya.Wanita itu menatap tak percaya pada sosok yang dulunya selalu bertutur lembut namun kini suaminya dengan keras membentaknya juga mengatainya mandul.Sakit sekali rasanya.


"Aku juga gak ingin ini semua terjadi mas, aku juga ingin memiliki keturunan."ucap Lena pada Aldi yang semakin memggelap.


"Mas aku udah sempet periksa kedokter dan dokter mengatakan jika kamdunganku baik-baik aja ."Lena menggenggam tangan kiri suaminya.


Raut wajah Aldi memerah dan menyentak kasar tangan Lena hingga tangan mungil itu terlepas. "Jadi maksud kamu aku yang mandul begitu?"Bentak Aldi lagi.


Delena menggelengkan kepalanya,bukan maksdunya ia ingin mengatakan itu. Lena ingin melanjutkan ucapannya, tapi suaminya sudah lebih dulu terpancing emosi.


Tari yang melihat itu semua tersenyum senang dengan tangan mengelus lembut perutnya yang sudah nampak menyembul.


"Shhh mas udahlah aku mau istirahat."Tari meringis seolah tengah kesakitan sambil memegangi perutnya.


"Kamu lihat akibat ulah kamu! Kalo saja sampai terjadi hal buruk sama calon anak aku kamu akan tau sendiri akibatnya!"Ancam Aldi menatap tajam Lena.

__ADS_1


Selesai membersihkan dirinya Lena kini berdiri di depan meja riasnya,menyapu seisi ruangan kamarnya yang kini sudah berpindah di kamar tamu dengn perlengkapan apa adanya.


"Kamu terlihat sangat menyedihkan Len."Lena tersenyum miris ,mata sembab dan hidung merah memperlihatkan jika wanita itu habis menangis.


"Aku udah capek mas,aku harus segera mengamankan sertivikat rumah miliku."Lena memejamkan matanya memikirkan bagaimana caranya ia bisa mengambil kembali sertivikatnya yang saat ini di sembunyikan oleh ibu mertuanya. Ibu Ani yang memang tau jika rumah yang mereka tempati adakah milik menantunya membuatnya mengambil tindakan dengan menyembunyikan sertivikat rumah itu agar menantunya tak bisa mengusirnya dan berniat untuk mengusai.


Setelah cukup lama duduk di depan meja riasnya,tak lama terdengar ponselnya berdering menampilkan nama majikannya yang tengah memanggil.


"Tuan Reymon...gumam Lena dan segera menggeser ikon berwarna hijo di ponselnya.


"......"


"Saya akan segera kesana tuan."ucap Lena saat mendengar perintah majikannya di sebrang sana.


Bergegas Lena bersiap lalu keluar dari kamarnya ,saat akan melewati ruang tamu Lena berpapasan dengan suaminya yang baru saja memasuki rumah dengan plastik di tangannya.


"Mau kemana kamu?" tanya Aldi dengan nada datar menatap istrinya.


"Aku mau kerumah majikanku mas ,tadi majikanku telfon...."


"Ck pergilah! Apa majikanmu itu laki-laki?"nada bicara Aldi terdengar sinis dengan mata memincing.


Lena ingin sekali menangis rasanya melihat sikap suaminya namun ia sudah bertekad jika ia tak ingin lagi menagisi suaminya yang mungkin saja nantinya akan menendangnya setelah mendapatkan apa yang diinginkannya.


"Iya mas ,ana...."


"Bagus sekali ,apa kau ingin mengakui jika kau bermain dengan majikanmu itu, atau kau sudah menjadi simpanan dari pria itu?"cecaran Aldi sungguh sangat menyayat hati ,tanpa sadar air mata yang coba ia tahan tumpah atas tuduhan tak beralasan yang suaminya ucapkan.


"Mas aku gak seperti yang mas pikirkan, Aku disana bekerja...."

__ADS_1


"Semua bukti ini gak akan bisa kamu sangkal kan."Aldi menujukan beberapa foto saat Lena dan tuan Rey turun dari mobil dan saat mereka makan di restoran sederhana bersama bocah laki-laki.


Lena teringat saat dirinya yang dipaksa ikut makan bersama Alex dan mau tak mau ia harus menuruti keinginan bocah laki-laki itu dan dalam fikirnya, dari mana suamina ini mendapatkan foto-foto itu?


Melihat raut wajah suaminya yang terlihat dingin membuat Lena urung untuk menyangkalnya lagian belakangan ini suaminya tak lagi ingin mendengarkan setiap apa yang ingin di ucapkannya.


"Mas Aku pamit pergi dulu."Lena melewati tubuh suaminya,melihat itu Aldi mengepalkan kedua tangannya melihat sikap istri pertamanya yang terlihat acuh dan seperti tak berniat untuk menjelaskan apapun soal tuduhannya.


Hingga punggung itu mwnghilang Aldi masih menatap kerah pintu masuk dengan perasaan campur aduk.


"Mas kamu dapet kan apa yang aku pengen?"Tari muncul menghampiri Aldi yang langsung tersadar dan memberikan senyum lebar pada bumil itu.


"Dapet sayang tapi maaf,mangga mudanya mas gak dapet soalnya lagi gak musim."ucap Aldi membuat senyum Tari menyurut saat mendengar satu permintaannya yang tak terturuti.


"Ck mas ,pokoknha kamu harus dapetin! Kamu gak kasian ya sama calon anak kita."nada bicara Tari terdengar memelas membuat Aldi merasa bersalah pada istrinya itu.


Aldi memeluk Tari da memberikan kecupan di kepalanya lalu Aldi berjongkok tepat di depan perut istrinya dan memberikan kecupan di sana.


"Maaf nak, papa anak mencarikannya umtukmu, kamu jangan bandel ya disana."ucap Aldi seraya mengelus perut buncit itu.


"Kamu akan jadi papa untuk calon anak aku mas dan selamanya kamu akan menjadi papanya."batin Tari tersenyum samar.Tari tersenyum saat sedah mendapatkan senjata agar suaminya cepat-cepat menendang istri pertama Aldi keluar dari rumah dan kehidupan mereka.


....


Typo bertebaran harap bijak dalam membaca!


Komennya dong biar lebih semangat gitu up nya. Likenya jangan ketinggalan ya.Salam manis salam cinta.


Love you All❤

__ADS_1


__ADS_2