
Happy Reading❤
"Mas aku mau ngomong sama kamu."Delena yang melihat suaminya tengah bersantai di ruang keluarga dengan koran di tangannya mendongak menatap istrinya.
"Duduklah Del,apa yang mau kamu omongin?"Aldi melipat dan menyimpan koran di atas meja. Akhir pekan ini ibu dan istri keduanya tengah keluar jadi rumah terlihat lebih sepi terlebih Lilis tengah berada di luar kota untuk menuntut ilmu.
"Mas aku mau minta izin sama kamu,aku mau kerja mas."ucap Delena to the poin setelah mendudukan dirinya di samping suaminya.Aldi terdiam sejenak.
"Untuk apa kamu kerja,aku sudah memenuhi kebutuhan kamu kan selama ini."Aldi berbicara dengan menaikan alisnya menatap Delena yang hanya menghela nafas, Delena sebelumnya pernah mengungkapkan jika uang bulanan itu sangat pas-pasan terlebih dengan ibu mertuanya yang meminta dengan alasan beli obat untuk bapak dan banyak lagi alasan lainnya.
"Maaf mas aku sebelumnya pernah bilang jika uang itu emang ngepas terus...."
"Kamu mau bilang kalo ibu minta uang lagi, Del kamu tau kan kalo kebutuhan juga banyak jadi aku pikir kamu bisa kelola uang itu dengan baik,Tari aja gak pernah ngeluh bahkan dia kadang nawarin aku untuk pakai uangnya."Aldi berucap panjang lebar,tanpa sadar ucapan itu menggores hati istrinya yang hanya bisa menunduk.
"Aku gak maksud ngomong gitu mas."Delena hendak menggenggam jemari suaminya sebelum Aldi menepisnya.
"Aku rasa kamu mulai berubah Del,kamu jangan kekanakan kayak gini,sekarang Tari juga tanggungjawab aku jadi aku juga harus memberikan dia nafkah, bukannya kamu juga izinin aku untuk nikah lagi."
Delena menatap suaminya yang terlihat kesal. "Tapi disini aku yang merasa kamu berubah dan gak adil mas,kamu memberikan dia uang bulanan tanpa harus memikirkan masalah keuangan keluarga sedang aku dengan uang pas-pasan itu harus mengatur segalanya."batin Delena miris.
"Iya mas,aku minta maaf kalo sikapku kekanakan,aku gak bakal ulangin lagi."Aldi masih menatap kedepan tanpa mau bersitatap dengan istrinya. "Soal kerjaan itu...."
__ADS_1
"Itu hak kamu asal kamu bisa bagi waktu dengan urusan rumah."Sesak sekali rasanya hati Delena saat memdengar ucapan suaminya yang dengan mudah memberi izin sedang dulu ia sama sekali tak di izinkan jika harus ikut bekerja membantu keuangan keluarga ,Aldi mengatakan tak akan membiarkan Delena turun tangan mencari uang.
"Baiklah mas ,makasi udah kasi izin."Delena pergi kekamarnya ,sekuat tenaga ia harus bisa menahan buliran kristal yang akan tumpah dari wadahnya.
Aldi menatap punggung istrinya yang mulai menjauh,di lubuk hatinya ia measa sakit melihat wajah itu terlihat sedih namun ia juga tak tau harus apa,memiliki dua orang istri membuatnya harus bersikap adil. Sudahkah Aldi melakukannya?Entahlah otak Aldi rasanya mulai eror saat terus-menerus mendapatkan hasutan tak kasap mata dari ibunya.
"Huftttt...."Aldi mengacak rambutnya frustasi ,sesaat kemudian ponselnya berdering dan nama Tari tertera di layar ponselnya.
"Halo mas,kamu lagi ngapaian?"Suara di sebrang sana terdengar lembut dan manja.
"Mas lagi duduk baca koran,kamu gimana jalan-jalannya? Apa memyenangkan?"Aldi tersenyum mendengarkan cerita istri keduanya yang mengatakan jika mereka sangat bersenang-senang bahkan Tari mengatakan jika ibu Ani sangat baik mengajahknya membelikan barang-barang bagus.
"Yaudah kamu lanjutin jalan-jalannya."
"Tapi Tari...."
"Udah pokoknya kamu harus pergi,ini permintaan mertua kamu loh nak masa kamu gak bisa."suara ibunya yang terdengar di sebrang sana mau tak mau membuat Aldi mengiyakan ajakan Tari.
"Yey kamu baik baget si sayang,nanti malam aku kasi servis yang terbaik deh."ucap Tari manja,Aldi tersenyum saat mengingat kembali malam panasnya dengan Tari yang menurutnya sangat pandai terlebih dengan tubuh terawatnya semakin membuat Aldi kecanduan.Kerap kali Aldi membandingkan Tari dengan istri pertamanya Delena yang lebih terlihat kusam tak terawat dengan gaya monoton yang terkesan membosankan menurutnya.
"Iya aku akan menagih janjimu itu."ucap Aldi.
__ADS_1
Setelah cukup berbincang-bincang ,Aldi memutuskan sambungan telefon saat merasakn perutnya berbunyi.
Aldi berlajalan menuju meja makan dengan senyum membayangkan perutkan akan terisi dengan makanan enak buatan istrinya. Membuka tudung saji,Aldi terkejut saat hanya melihat nasi putih dengan lauk seadanya.
"Hah...."Aldi kembali menutup tudung saji dan hendak berjalan menuju kamar istri pertamanya namun belum ia melangkah Delena muncul membuka kulkas dan mengambil air dingin.
"Sejak kapan istrinya berada di dapur."pikirnya.
Aldi menatap istrinya yang terlihat raut wajahnya berbeda,namun ia tak memperdulikan itu.
"Del hari ini kamu cuma masak ini?"Delena menatap suaminya yang tengah menunjuk meja dengan satu tangannya mengelus perutnya menandakan jika suaminya saat ini tengah kelaparan.
Tersenyum manis Delena mengangguk. "Iya mas,uangnya hanya cukup untuk itu,ini kan akhir bulan jadi uangnya menipis."jelas Delena yang langsung berlalu dari dapur.Aldi melihat Delena pergi ,melihat makanan itu Aldi menghela nafas dan mulai memakannya mengisi perutnya yang sudah berontak sedari tadi.
"Apa aku tidak adil pada kedua istriku,bahkan bulan lalu aku memberikan uang bulanan lebih banyak pada Tari."Aldi memejamkan matanya ,pantas saja jika istrinya meminta izin untuk kembali bekerja.
Aldi menatap jemari manisnya yang terpasang cincin nikah dan itu merupakan cincin nikahnya dengan Tari ,tatapan Aldi beralih paa kalung yang di kenakannya di mana cincin pernikahannya dengan Delena bersemayam.
....
Typo bertebaran harap bijak dalam membaca!
__ADS_1
Tungguin kelanjutannya ya guys😃 be smile😊