
Happy Reading❤
Di kamarnya Delena sudah bersiap untuk pergi dengan suaminya,membayangkan itu membuat senyum Lena mengembang. "Apa ini sudah bagus?"Lena bercermin di meja riasnya memastikan penampilannya tak memalukan.
"Pakaian ini juga ternyata masih bagus."gumamnya menatap dres yang menempel ditubuhnya,Delena memakai pakaian seadanya yang ia punya di dalam lemari walau kebanyakan sudah lusuh.Setelah siap Lena siap keluar kamar dan berjalan menuju ruang keluarga namun langkahnya terhenti,tersenyum saat melihat suaminya tampak rapi dengan kemeja dan celana kain. "Pasti mas Aldi udah nungguin."batinnya.
"Mas kamu udah siap?"Aldi menoleh begitu juga dengan Lena yang menatap Tari.Mereka bertiga berdiri di ruang keluarga dengan saling menatap satu sama lain.
Aldi merasa bingung dengan situasi ini,ia sejenak mengingat kembali janjinya pada Delena akan mengajaknya keluar namun di saat yang bersamaan ia juga harus menghadiri acara makan malam dengan keluarga istri keduanya.
"Mas kita udah telat loh ini,mama dari tadi nelfonin ."ucapan Tari membuyarkan lamuman Aldi begitupun Lena yang menatap suaminya.
"Eh mbak Lena mau keluar juga ya?"Tari tersenyum semanis mungkin.
Lena hanya tersenyum singkat lalu kembali menatap pada pria yang berdiri tak jauh dari mereka berdua.
"Mas...."
"Lena maaf aku harus pergi dengan Tari,lain kali kita pergi ya."Aldi memotong ucapan Lena dan memegang pundak istrinya,setelahnya Aldi menarik lengan Tari keluar tanpa menunggu jawaban Lena.
Lena menggenggam erat tali tasnya,sampai disini ia sudah bisa melihat begitu besar perbedaan antara dirinya dengan sang madu yang tampak jauh lebih baik dan menarik dari segi apapun.
"Kasian banget kamu,anak saya pasti gak mau lah ngajak kamu keluar pakaian kamu aja udah kaya upik abu tau gak."Lena memejamkan matanya saat kembali harus mendengar cacian ibu mertuanya.Delena masuk kekamar menumpahkan segala rasa sesak yang semakin menghimpit dadanya.
"Aku gak tau sampai sapan aku bisa bertahan mas,aku udah putusin akan kerja mulai besok dan gak bergantung sama kamu."sindiran yang selalu memagatinya sebagai parasit membuat Lena ingin menghasilkan uang dari hasil jerih payahnya sendiri.
Tak lama ponselnya berdering nyaring,Lena mengangkat dan ternyata itu dari teman lamanya yang mengatakan jika ia memiliki pekerjaan untuk Lena.
🍒🍒
Pagi-pagi sekali Lena sudah siap untuk ketempat dimana ia akan bekerja,meski belum tau persi jabatan atau pekerjaan yang akan di lakoni yang terpenting itu halal baginya sudah cukup.
Lena menyiapkan sarapan seadanya terbelih dahulu ,melewati ruang keluarga Lena melihat semuanya sudah duduk di sana,tumben.Pikirnya namun sesaat kemudian ia paham saat di atas meja terdapat beberapa amplop yang di duga gaji dari suaminya.
__ADS_1
"Lena kemarilah."Aldi menatap istrinya yang menurut berdiri di ujung meja.
"Ini jatah bulananmu,gunakan sebaik mungkin."menyodorkan amplop coklat pada istrinya,Lena menrimanya mengucapkan terima kasih pada suaminya.
"Heh dasar benalu,bisanya cuma morotin duit anak saya."ibu Ani berucap sinis pada Lena yang di bikan oleh wanita itu.
"Berani kamu ngabaikan saya,dasar mantu kurang ajar."hardiknya tam terima.
Lena tersenyum saja,ia malas juga pagi-pagi harus berdebat dengan ibu mertuanya.
"Buk udah ,gak baik pagi-pagi ribut."ucap Aldi yang merasa pusing dengan ibunya yang selalu saja mengucilkan Delena.
"Mas aku beli baju boleh kan."Tari menatap suaminya dengan memegang amplop namun jika diliht amplop milik Tari jauh lebih tebal dari milik Lena.
Tak perlu di tanya,Lena sudah tau.
"Itu uang kamu jadi kamu bisa gunakan sesukamu hmm."Aldi mengelus lembut lengan istri mudanya yang semakin menempelkan dirinya bak cicak di dinding.
Lupa ingatan kali ya si Aldi.
"Aku udah bilang sebelumnya sama mas,hari ini aku udah mulai kerja."jawabnya singkat.
"Mbak ,kenapa kerja?mbak kan udah dapet uang bulanan dari mas Aldi."Tari bertanya lembut namun tatapannya terlihat mengejek Lena dan tak ada yang menyadari itu kecuali Lena.
"Sembako naik harga,mbak gak jamin uang itu akan cukup samapi akhir bulan."Lena mengambil punggung tangan suaminya dan kedua mertuanya namun seperti biasa hanya ayah mertuanya yang menerimanya ,setelahnya Lena keluar dari rumah.
"Hahh."Aldi menatap punggung Lena namun itu tak lama karena Tari segera mengambil perhatian suaminya dan mengajak mereka ke meja makan untuk sarapan.
"Ibu dah laper banget nih."Mereka sudah duduk di kursi masing-masing dengan tudung saji yang masih menutupi menu sarapan pagi ini.
"Hah....makanan apaan ini?" Ibu Ani berdecak kesal saat membuka tudung saji dan hanya melihat nasi,ikan asin,sayur bening dan sambal terasi di meja makan.
"Buk,ini udah enak kok kenapa mesti marah."Pak sufyan menegur istrinya.
__ADS_1
"Tapi pak,ih mantu bapak itu emang benerbener ya.Ibu mau makan di luar aja males banget."Ibu Ani meninggalkan meja makan begitu saja.
"Udah kita makan saja."ucap pak Sufyan yang di angguki oleh Aldi namun Tari terlihat enggan.
"Tari kamu kenapa?"Aldi menatap istrinya yang langsung merubah raut wajahnya.
"Gak papa kok mas,ini keliatannya enak,aku ambilin ya mas."Tari dengan cekatan mengambilkan makanan untuk Aldi.
"Kamu gak makan?"
"Ehem nanti aja mas aku lagi belum laper."ucap Tari.
"Tari lain kali kamu juga harus membantu Lena unuk mengurus rumah,dan urusan dapur."pak Sufyan berbicara di sela-sela makannya.
"iya pak."jawabnya lirih menatap sebal ayah mertuanya. "Ini tua bangka ngapain sih ,idih males banget beres-beres rumah,udah ada upik abu juga di sini."batinnya.
Sarapan berjalan dengan lancar hingga Aldi dan pak Sufyan menyelesaikan sarapannya.
"Aldi bapak mau bicara berdua sama kamu."ucap pak sufyan saat mereka telah selesai sarapan. Aldi menatap Tari dan memintanya untuk duluan masuk kekamar.
"Ada apa pak?"
Pak Sufyan menghela nafas menatap putranya yang menunggu apa yang akan ia katakan. "Bapak minta kamu sebagai suami harus adil pada kedua istrumu nak,bapak gak mau kamu menyakiti salah satu dari mereka."ucap pak Sufyan pada intinya.
"Aldi merasa udah berbuat adil pak,lagian keduanya juga baik-baik aja."
"Bapak cuma mau bilang bijak dalam mengambil keputusan,jangan sampai kamu kehilangan hal berharga dalam hidup kamu."
"Bapak mau ketaman dulu."Aldi mengangguk namun pikirannya berkelanan.
....
Typo bertebaran harap bijak dalam membaca!
__ADS_1