Air Mata Delena

Air Mata Delena
33 Tari si biang kerok


__ADS_3

Happy Readingā¤


Aldi menggertakan giginya melihat kertas bertuliskan pemberitahuan jika Delena telah sah bercerai dengannya.Mata pria itu memerah tak terima dengan kejutan menyakitkan ini.


"Aku tak merasa pernah menceraikanmu Lena, ini semua hanya omong kosong."Aldi menggebrak meja dengan keras hingga barang-barang jatuh berserakan.


Dalam benaknya tak pernah terpikirkan olehnya akan hari di mana ia dan Lena berpisah walau ia menyadari jika selama ini Lena tertekan namun Aldi seakan buta dan tuli akan tekanan yang terjadi pada istrinya.


Di ambang pintu Aldi berpapasan dengan Tari yang baru saja pulang dengan banyak paper bag di tangannya.Wanita hamil itu tersenyum senang.


"Dari mana saja kamu?"


Tari terjingkat mendengar suara dingin itu.


"Habis belanja mas,bosen dirumah terus."jawab Tari santai hendak melanjutkan langkahnya memasuki rumah.


Aldi mengeram,sungguh Tari seperti hilang rasa hormat padanya. "Tari ! mas tidak mengijinkanmu untuk keluar lagi !ingat kandungamu sudah besar seperti itu."


Tari menoleh sekilas. "Kamu apa-apaan sih mas, akutu capek.Dahlah aku mau tidur."Tari melanjutkan langkahnya memasuki kamar tanpa menghiraukan Aldi.


.....


Di depan sebuah butik yang terlihat ramai, Aldi berdiri menunggu berharap bisa bertemu lagi dengan Lena yang ia kira bekerja sebagai pegawai di butik itu.Cukup lama Aldi menunggu namun yang di harapkan tak kunjung terlihat.


"Apa hari ini Lena gak masuk ya."gumamnya karena sudah sekitar lima jam Aldi menunggu bahkan satpam sampai menegur dirinya.


Saat akan menaiki mobilnya Aldi tak sengaja melihat istri keduanya yany terlihat memasuki butik, merasa penasaran Aldi mengikuti hingga ia mendengar pertikaian antara Tari dan pegawai di butik itu.


"Maaf mbak tolong jangan di hamburin gitu bajunya."tampak pegawai menegur saat Tari dengan seenaknya mengambil pakaian lalu menaruhnya asal hingga berserakan di lantai.

__ADS_1


"Eh mbak, baru jadi pelayan aja belagu, lagian ya satu butik ini juga kalo mau bisa tuh saya borong."ucap Tari dengan senyum sinis menatap pegawai wanita di depannya.


Para pengunjung juga mengelilingi mereka karena merasa penasaran.


Tari tak memperdulikan banyaknya pengunjung yang menonton, wanita hamil itu merasa harga dirinya di injak saat pegawai wanita itu menegur dirinya tadi.


"Ada apa ini ribut-ribut."Sinta yang mendengar keributan segera keluar menghampiri dan saat sampai Sinta melihat salah satu pegawai wanta tengah di maki-maki oleh seorang wanita.


Tari menoleh. "Eh mbak gak usah iku campur."sembur Tari masih dengan kekesalannya.


"Maya ada apa ini?"Sinta bertanya pada pegawai wanita yang masih menundukan kepalanya.


Maya mendongak menatap Sinta dan mulai menjelaskan kronologi hingga selesai, para pengunjung tampak menatap sinis pada Tari juga cibiran-cibiran .


"Lagian belagu sih."


"Usir aja sih, ganggu banget."


Semakin geram Tari dengan kasar merobek kasar baju yang tengah di pegangnya.


"Bilang apa kalian hah?"Bentak Tari tak terima.


Aldi berusaha membelah kerumunan dan menarik paksa Tari dari sana setelah sebelumnya Aldi mengganti rugi pada pegawai butik.


"Mas lepasin!"


Aldi tak mendengarkan dan tetap berjalan tanpa mau melepaskan cekalan tangannya hingga di luar butik Tari menyentak tangannya.


"Kamu bikin aku malu tau gak , lepasin."ucap Tari berusaha menyentak kasar tangannya namun tak bisa.

__ADS_1


Di saat yang bersamaan sebuah sedan mewah berpapasan dengan Aldi dan Tari.


"Mas Aldi."gumam Lena saat tak sengaja melihat mantan suaminya tengah menyeret Tari.


Rey yang duduk di sampingnya mentap sengit saat mendengar gumaman Lena.


"Siapa yang kau sebut barusan?tanya Rey pada Lena.


"Eh ...."Lena tersenyum canggung karena sedari perjalanan tadi Rey banyak mengajak berbicara namun pikiran Lena entah berkelanan kemana.


"Mantanmu itu, jadi dari tadi kau tak mendengar apa yang ku katakan?"Rey mendengus kesal , entah mengapa ia merasa tak suka dengan itu.


"Huh terserah , Ingatlah tugasmu! nanti siang kita akan menjemput mama dan papaku di bandara."


Lena mengangguk dan bersiap untuk turun dari mobil.


"Apa begini caramu, tidakkah kau bersalaman padaku."Rey bertanya dengan menyodorkan tangannya.


Lena menatap tangan yang terulur lalu menyalaminya dan pergi dengan senyum tipis tanpa banyak bicara.


Rey masih berada di dalam mobil hingga punggung Lena menghilang di balik pintu.


Saat akan melajukan mobilnya Rey di buat berdecak saat untuk kesekian kalinya Nadia menghubingi nomornya.Kesal Rey pun memblokir nomor itu dan menaruh ponselnya.


"Semua wanita sama saja."gumam Rey sinis.


...


Typo bertebaran harap bijak dalam membaca!

__ADS_1


__ADS_2