
Happy Readingā¤
Di depan pintu berdiri wanita paruh baya dengan raut wajah sinisnya menatap Lena yang juga tengah menatap ibu mertuanya.
"Heh..jam berapa ini kamu baru pulang? Atau jangan-jangan kamu ijin kerja tapi tau-taunya selingkuh ya dari anak saya."tuduh ibu Ani melotot tajam.
"Maaf bu,Lena capek dan tuduhan yang ibu ucapkan tadi gak bener! Lena keluar cari kerja buk."Lena menunduk dan berlalu dari hadapan ibu mertuanya yang kembali berteria memanggil namanya.
"Menantu sialan."umpat ibu Ani pada menantu yang di rasa mulai berani melawannya.
Saat melewati kamar tamu dimana letak kamar madunya Lena mendengar suara-suara yang tak asing lagi di telinganya,Lena menatap sekikas lalu melanjutkan langkah kakinya memasuki kamarnya yang terlihat kosong karna hanya ia seorang yang menghuni kamar itu.
Memgambil handuk Lena masuk kedalam kamar mandi ,mengguyur tubuhnya dan membiarkan air matanya tersapu air.
Membayangkan kegidupan rumah tangganya yang kini entah akan seperti apa juga sikap sang suami yang selama ini menjadi semangatnya tak lagi ia dapatkan kelembutan dan dukungan penyemangat itu.
Setelah puas menumpahkan air mata,Lena keluar dan mengganti baju namun saat akan membuka pintu ketukan terdengar dari luar dan terlihat Tari masuk kedalam kamar dan menatap sinis. Lena hendak menegur melihat madunya sekaan tak memiliki rasa sopan santun padanya.
"Ohh....Aku lupa mbak,kalo dalam waktu dekat ini kamar ini mulai aku tempati."ucap Tari dan dengan santai duduk di tepi ranjang.
Lena mengerutkan keningnya menatap madunya yang terlihat ingin memamerkan tanda merah di sekitar lehernya pada Lena.
"Duh panas ya,nanti aku minta mas Aldi buat pasang Ac di sini."ucap Tari menyibakkan rambutnya hingga tanda merah itu dapat terlihat dengan jelas.
"Tari aku gak mau,dari awal kamu udah setuju kamu tidur di kamar tamu dan...."
"Suttt....mbak gak bisa nolak karna ini juga atas izin mas Aldi ."Tari berjalan mendekat pada Lena yang terlihat geram dengan tingkah Tari yang mulai terlihat jika wanita itu ingin menyingkirkan dirinya.
Tari mendekatkan bibirnya membisikan sesuatu dekat telinga Lena. "Oh ya mbak,kayaknya mbak harus siap-siap kalo nantinya mas Aldi bakal tendang mbak keluar karna mungkin sebentar lagi aku akan memberikan penerus untuk mas Aldi."
__ADS_1
Puas menatap wajah Lena yang menegang Tari keluar dari sana membiarkan Lena mematung.Lena melupakan fakta bahwa selama ini ia masih belum bisa memberikan keturunan untuk suaminya,dan bagaimana jika sampai hal itu terjadi.
Malam hari di meja makan semuanya sudah berkumpul.
"Mas besok aku udah mulai kerja."Lena membuka pembicaraan menatap pada suaminya namun tanggapan Aldi hanya mengangguk ,melihat itu ibu Ani dan Tari tersenyum merasa sikap Aldi sudah tak sehangat dulu pada Lena.
"Heh....palingan juga jadi babu."Ibu Ani memakan makanannya namun tatapan matanya beradu pada menantu kesayangannya dan terlihat jika kedua wanita itu seakan mentertawakan Lena.
"Lena terima kok buk asal kerjaannya halal."balas Lena tersenyum membalas ucapan ibu mertuanya.
"Tari sayang kamu makan sayur yang banyak ya biar cepat isi."Bu Ani mengambilkan sayur di atas piring Tari yang menatap remeh pada istri pertama suaminya.
"Iya buk makasi,ini kami lagi berusaha biar cucu ibu cepet hadir."Tari tersenyum malu menatap suaminya yang membalas dengan mengelus lembut punggung tangan Tari.
"Kalian ini ya bikin ibu iri tau gak."Bu Ani kembali memanas-manasi Delena berharap wanita itu akan menunjukan amarahnya dan ia akan menggunakan itu untuk semakin menjatuhkan Lena di mata putranya.Tapi bu Ani harus menahan kesal saat melihat Lena tampak santai dan fokus dengan makananya.
"Udah ngapain kamu liatin perempuan itu,gak sopan banget.Untung aja kamu dapetin istri kaya Tari yang asal usulnya jelas gak kaya si Lena itu."ucap Bu Ani membuat Aldi tersdar dari lamunan sesaatnya.
"Mas kamu mikirin apa?"Tari bertanya saat melihat raut wajah suaminya yang terlihat masam.
Aldi menatap wanita yang duduk di sampingnya dan tersenyum tipis. "Gak ada sayang,aku cuma mikirin kerjaan aja yang akhir-akhir ini lagi numpuk."Aldi mengelus kepala Tari.
"Oh ya sayang kamu kalo gak salah bulan ini kan naik jabatan ,jadi boleh dong uang belanja aku di tambahin."Tari mengelus lengan suaminya dengan menyandarkan kepalnya di bahu Aldi.
Aldi menyergitkan keningnya mendengar permintaan Tari. "Emang uang bulanan kemarin kurang?"Aldi merasa sudah memberikan uang bulanan bahkan berkali lipat lebih banyak dari istri pertamanya.
"Ish sayang aku juga kan butuh baju baru ,tas dan lainnya."Tari mengerucutkan bibirnya menatap suaminya.
"Al udah deh,gak ada salahnya juga kamu lebihin uang belanja Tari,emang kamu gak suka kalo liat istrimu itu cantik dan terawat."bu Ani menyela pembicaraan antara anak dan menantunya.
__ADS_1
Deg
Aldi seolah merasa terhantam dengan ucapan ibunya,selama ini ia bahkan tak pernah melihat istri pertamanya meminta ini dan itu bahkan baju pun Aldi tak pernah memikirkan itu,ia hanya tau Lena menerima uangan dan menggunakannya untuk kebutuhan rumah tangga mereka , sangat berbeda dengan istri keduanya.
"Tuh,ibu aja ngerti."Aldi tak menjawab ,fikirannya saat ini tertuju pada Lenanya,istrinya yang entah apa yang sedang di lakukannya.
"Oh ya nak,ibu juga mau minta uang buat bayar biaya rumah sakit bapakmu."Aldi menatap ibunya.
"Bukannya biaya rumah sakit baru kemarin dibayar buk?"Aldi merasa aneh karna ibunya sering meminta uang namun untuk biaya rumah sakit selalu ia yang membayarnya,lalu di kemanakan uang itu?
"Kamu gak percaya ya sma ibu, Aldi! ibu ini yang ngelahirin kamu yang ngerawat kamu masa kamu perhitungan sih sama ibu kamu sendiri."
Aldi hanya bisa mngehela nafas tak bisa membantah ucapan ibunya yang mulai terlihat kesal. "Tapi buk,uang Aldi belum ada lagin uangnya juga buat bayar cicilan mobil."
"Yaudah kamu pangkas aja uang bulanan Lena,jadi mulai bulan depan uang buat bayar rumah sakit bapakmu kamu kasi keibuk."Ib Ani pergi dari ruang makan setelah mengatakan keinginannya.
Aldi hanya menatap tak menjawab,kepalanya serasa mau pecah setiap hari mendapati situasi seperti ini.
"Mas."Tari hendak kembali bersuara.
"Plis Tar,mas mau sendiri."
Tari menatap tak suka namun wanita itu mengiyakan dan pergi meninggalkan suaminya sendiri.
"Lihat aja mas,aku akan mengikatmu dan membuatmu menendang wanita itu."batin Tari penuh tekad.
....
Typo bertebaran harap bijak dalam membaca!
__ADS_1